16

1829 Kata
“Mas, geser ke kiri sedikit ya mejanya! Itu kurang pas posisinya, jadi kayak ngehalangin jalan masuk. Coba dirapiin lagi ya, Mas!” “Vas yang gede itu jangan mepet-mepet naruhnya, Mas. Bunganya takut rusak, tempatnya juga masih luas kok.” “Oh ya, yang di pojok itu kok catnya rada nggak sama sih warnanya, coba di cat ulang lagi ya. Cuma yang itu aja, Mas. Sedikit nggak sama dengan sampingnya.” “Mbak… band akustiknya udah ditelephone lagi kan? Takut mereka lupa kalau besok ada jadwal disini.” “Mah, cateringnya juga udah oke kan?” Kayana terlihat begitu menikmati kesibukannya. Persiapan untuk grand opening besok menjadi saat-saat yang paling ditunggu oleh Kayana. Hari pertama ia resmi membuka floristnya. Dion terang-terangan mengamati Kayana yang tengah sibuk mengatur para pekerja, mengarahkan benda ini dan itu untuk diletakkan di tempat yang tepat dan yang diatur pun segera melakukan tugasnya. Belum berkomentar, ia hanya ingin bebas melihat garis senyum dari wajahnya yang ayu. Dari kejuuhan, Dion bisa dengan puas memandang wajah itu, wajah yang dulu sempat sayu kini terlihat merekah manis dan meneduhkan. Tersenyum simpul melihat Kayana yang begitu antusias dan semangat. Kali ini Kayana mengenakan celana panjang berwarna cream dan kaos santai berlengan pendek. Kesana kesini memastikan sesempurna mungkin persiapan untuk grand opening besok. Kayana pernah jatuh, terpuruk dan kehilangan. Namun kali ini adalah waktunya ia untuk bangkit. Menatap masa depan yang indah setelah berbagai peristiwa penuh ujian datang pada perjalanan hidupnya. “Are you happy, kay?” Dion menghampiri Kayana, membawakan ia sebotol air mineral. “Of course, terima kasih karena Mas Dion sudah banyak membantu aku mewujudkan mimpi-mimpi besarku.” “Sama-sama, semoga kamu bahagia dengan Red Flo ya, Kay. Semoga lewat florist ini, kamu semakin sukses, nggak mudah ngelamun lagi dan yang terpenting kamu tetap semangat jalani hari-harimu!” botol air mineral yang ia bawa tadi ia sodorkan pada Kayana, mengangguk dan tersenyum lebar penuh dengan arti. “Thanks, Mas. Aku nggak pernah menyangka bakalan berani untuk memulai hal yang baru ini, dulu jangankan untuk bermimpi punya Red Flo, berdiri pun aku takut banget, Mas.” “Itu kan Kayana yang dulu, bukan yang kita tahu sekarang. Karena Kayana yang sekarang sudah jauh lebih baik dari yang dulu. Menjadi srikandi yang hebat dan tidak mudah menyerah. Yang optimis bisa melakukan sesuatu.” “Iya ya, Mas. Dulu mana berani aku mempunyai mimpi, ternyata nggak ada yang nggak mungkin kalau kita mau mencoba dan berusaha. Yang dulu aku hanya bisa takut akan bayang-bayang rencana ke depan, bakalan ngapain, gimana dan pikiran-pikiran yang belum pasti. Sekarang aku bisa mulai melewatinya.” “Dan sekarang kamu sadar kan, pertolongan Tuhan itu nyata, Kay. Ketika kamu hampir menyerah, Tuhan kirimkan cara untuk tetap bertahan dan itu membuat kamu semakin kuat berdiri.” “Bener banget, aku sadar akan itu dan Tuhan kirimkan pertolongan lewat orang-orang di sekelilingku, Mas. Mas Dion terutama yang udah banyak bantu aku, nggak tahu bakal punya ide apa kalau nggak ada Mas Dion dan juga Riyu,” “Aku hanya sebatas menyampaikan saran aja, Kay selebihnya kamu sendiri yang memutuskan. Aku Cuma bisa berusaha ada saat kamu butuhkan. Berusaha bantu kamu sebisaku. Sekarang aku bersyukur banget lihat kamu sehappy ini. Aku pengen kamu kayak gini terus, kay.” “Dan aku juga bersyukur dengan kalian yang selalu ada saat aku linglung dalam segala hal, Mas. Aku bisa bahagia begini berkat kalian juga.” Dari sisi yang berbeda namun dalam tempat yang sama, Riyu dan Anandita memperhatikan kedekatan mereka. Nampak menyenangkan dilihat, cocok satu sama lain. Pun ketika Dion tengah membukakan tutup botol air mineral yang bagi Kayana sulit untuk ia lakukan sendiri. Itu bukan sebuah sikap yang manja, memang sepertinya tutup itu terlalu kencang tersegel. Riyu yakin, bermanja-manja seperti dulu dengan seseorang bukan lagi sifatnya. Apalagi kalau hanya membuka botol, sereceh itu tidak mungkin Kayana lakukan demi mencari perhatian. Namun perhatian Dion pada Kayana membuat orang yang melihatnya pasti ikut tersipu malu. “Terima kasih untuk yang ke sekian kalinya, Mas. Terlihat sekali kan gimana lemahnya aku, bahkan membuka botol aja aku nggak kuat,” Kayana tersenyum sebelum meneguk airnya. “Ha ha ha, bukan kamu yang nggak kuat, Kay. Botolnya aja kali yang lagi sensi sama kamu. Sampai harus aku yang bukain.” “Tuh kan, Mas Dion emang bisa sih bikin ketawa. Tapi nggak lucu sih, ha ha ha.” “Sengaja, biar kamu happy terus. Nggak lucu tapi kamu ketawa gitu.” Kayana tersenyum untuk yang ke berapa kalinya. Hari ini ia terlihat begitu bahagia. Dan ia ingin menikmati hari-hari spesialnya. Melupakan sejenak beban di pundaknya “Mas, aku deg-degan kalau ingat besok.” “Nggak usah deg-degan, Kay. Berdoa aja, semoga besok lancar ya grand openingnya, pasti bisa sukses. Semua persiapan sudah sangat maksimal kan? Kamu pasti bisa, Kay.” “Hm… bisa-bisa, pasti bisa ya, Mas. Rasanya jadi inget jaman sidang skripsi dulu.” “Ha ha ha, nggak seserem itu juga kali Kay. Besok nggak ada sesi sidang, tenang aja.” “Iya juga sih, Mas. Nggak sabar banget nunggu besok, bakalan ramai nggak ya kira-kira?” “Tuh kan, kamu udah mulai overthinking lagi. Yakin aja deh kalau Tuhan punya sesuatu yang indah buat acara kamu besok. Sekarang berpikir positif, yang baik-baik, yang indah-indah biar mood juga naik. Berusaha dulu, urusan hasil biar Tuhan yang siapin. Oke Kay!” “Iyah… semangat!!!” Kayana mengepalkan ke dua tangannya tanda semangat, “Oh iya Mas, em… om sama tante besok diajak ya ke sini, biar ikut makan-makan juga. Biar makin ramai, aku juga udah lama banget nggak ketemu sama mereka. Om sama tante sehat kan, Mas?” “Alhamdulillah mereka semua sehat, Kay. Pasti, pasti aku ajak mama dan papa. Mereka pasti seneng tahu kamu punya usaha baru, apalagi mama juga suka banget sama bunga kayak kamu.” “Sampaikan salamku pada mereka ya, Mas. Maaf nggak ada undangan resmi. Maklum masih usaha kecil-kecilan.” “It’s oke, kayak sama siapa aja pakai undangan resmi segala. Besok Barra juga mau datang sama keluarga besarnya. Yang pasti bareng-bareng sama team rengganis.” “Oh ya, wahh… aku jadi makin deg-degan. Jadi nggak PD, Mas.” “Lho, nggak PD kenapa Kay?” “Aku masih belum PD bertemu dan berhadapan dengan orang-orang hebat di luar sana. Gimana caranya membaur, menyapa dan tampil elegant. I can’t do anything. Mas, bantu aku ya.” “Pelan-pelan, Kay. Harus PD, kamu pasti bisa. Kita bareng-bareng besok. Pasti rada susah di awal, tapi nanti lama-lama kamu juga pasti akan terbiasa.” “Gitu ya, Mas? Membaur dengan banyak orang memang aku sama sekali belum terbiasa, apalagi ini di dunia bisnis. Aku bener-bener butuh banyak belajar, Mas.” “Belajar bisa sambil jalan, apalagi besok kamu bakalan berhadapan dengan banyak pengusaha. Pokoknya harus PD, jangan mudah minder, kalau ada yang belum bisa dilakuin kamu wajib cari tahu. Jadi jangan mudah nyerah.” “Baik lah, tapi tetep lho Mas, aku minta tolong dibantu yah!” “Iya, Kay. Tenang aja, orang di sekeliling kamu semua siap bantu.” “Bismillah ya, Mas. Semoga acara besok lancar dan suskes.” “Aamiin, semangat ya!” Kayana mengangguk, entah kenapa botol minuman yang tadinya ingin ia minum malah jatuh dari genggaman ke lantai. Dengan sigap Dion berniat untuk mengambilnya, namun sudah kayana pegang lebih dulu, sampai akhirnya Dion memegang punggung tangan Kayana. Untuk pertama kalinya tangan itu saling bersentuhan. Bukan malah memindahkan tangannya, Dion justru menatap Kayana dengan jarak yang amat dekat. Lagi-lagi desiran dadanya berlomba untuk saling menggangu. ‘Perasaan apa sih ini? Please Kay, jangan deg-degan, tenang, santai, jangan gugup. Ini Cuma nggak sengaja, Mas Dion nggak benar-benar pegang tangan kamu, Kay. Please tetep biasa aja ya! Ya Tuhan, ini kenapa jadi kayak drama kisah ABG lagi tabrakan di depan kelas sih, terus bukunya pada jatuh, abis itu saling bertatapan yang niatya mau ambil buku tapi malah pegangan tangan. Kay… please jangan menghayal’ Kayana sibuk menenangkan dirinya sendiri. Dengan spontan Kayana menarik tangan yang tertindih tangan Dion, berusaha menyembunyikan perasaannya yang sedang tidak menentu saat itu. Semakin senangnya Riyu melihat pemandangan romantis di depan matanya itu, terlihat sekali mereka berdua yang salah tingkah. “Ma… maaf, Kay!” “Cieeee… yang lagi berduan sampai nggak lihat ada banyak orang di sini. Asyik banget sih?” Riyu tiba-tiba datang sambil menyenggol bahu Kayana, dengan wajah usilnya, menaik turunkan ke dua alis tipisnya. “Ihhh… Riyu ngagetin aja,” Kayana yang saat itu ingin meneguk air minumnya jadi tertunda. “Iya kan, saking asyiknya jadi kaget, padahal kalian udah tak perhatiin dari tadi lho. Ini aku disitu dari tadi, tuh!” tunjuk Riyu ke arah pojok ruangan, membenahi lukisan yang terpasang kurang rapi. “Ya maaf deh, siapa suruh sibuk sendiri disitu. Makanya sini dong gabung sama kita!” “Cieee… kita nih sekarang. Eheemm… jadi serak nih, pengen minum juga,” mata Riyu melirik ke arah botol minum yang Kayana pegang. “Eh, bentar Ri, aku ambilin dulu ya!” Dion gelagapan, merasa tidak enak. “Ha ha ha, nggak nggak usah, Mas. Serius banget sih?” Riyu terkekeh, melihat Kayana dan Dion jadi salah tingkah, “ini lagi persiapan buat acara besok, apa lagi pacaran sih? romantis banget sampai ngambil botol aja malah salah tangan yang di pegang?” “Riyu, apaan sih?” Kayana menggerutu, mulutnya yang manyun terlihat begitu malu sahabatnya mengatakan seperti itu. “Emang ya, Red Flo itu pas banget tempatnya untuk saling mengungkapkan perasaannya, ditambah wewangian bunga-bunga yang menambah suasana hati semakin berwarna,” bak membacakan sebuah judul puisi pada kesempatan lomba, Riyu begitu apik melakukannya dengan gerakan tangan yang diayun-ayunkan ke depan dan ke belakang, ”duhai hati yang berirama, menyampaikan gejolak cinta dan rindu yang terpendam setelah sekian purnama.” “Riyu please deh!” Wajah Kayana memerah, sedangkan Dion justru menikmati aksi Riyu, menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. “Kenapa sih, Kay? jadi salah tingkah gitu, biasa aja dong! Apa emang perasaan kamu juga begitu ya sekarang? Hayo ngaku, Kay!” lagi-lagi Riyu terang-terangan bertanya pada Kayana di depan Dion. “Udah deh Ri, jangan kayak bocah gitu. Udah tua ah, malu tuh sama Erland.” “Ha ha ha, emang udah tua? Mas Dion belum kan?” Riyu lalu gantian memandang Dion, menaikkan alisnya tanda minta pembelaan, Dion otomatis menggeleng. Semakin bersemangat perempuan itu dan merasa mendapat poin dari perdebatannya dengan Kayana. “Kita Cuma ngobrol biasa aja dari tadi, ah kamu Ri. Udah yuk, lanjut lagi tuh beres-beresnya.” Kayana membalikkan badan melangkah pergi. “Tuh kan….. Kay! Jangan pergi dulu dong, nggak asyik ih! Lagi diajak ngobrol juga, Kay!” teriak Riyu sambil terkekeh. Kayana bergegas, berpindah tempat ke sisi lain. Mengecek satu per satu bunga dalam vas yang bermacam-macam bentuk juga ukurannya. Berada berlama-lama di sini sama sekali tidak membosankan baginya. Mengamati setiap keindahan bunga yang ada di ruangan ini. Bunga seperti membawa energi positif bagi Kayana. Menyejukkan dan mampu membuatnya nyaman, merasa terhipnotis pada hal-hal yang indah. Hingga ia berani untuk bermimpi dan berharap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN