17

1966 Kata
Perfect! Sekian meter dari rumah bernuansa putih milik Kayana, berdiri kokoh sebuah bangunan berukuran enam kali delapan. Dengan design bangunan yang cantik, tidak begitu tinggi juga tidak begitu rendah, dinding full kaca pada bagian depan. Di halaman yang tidak begitu luas sudah berjejer beberapa rangkaian bunga papan yang ditujukan untuk Kayana. Yang salah satunya kiriman dari Dion, juga dari rengganis dengan pesan selamat atas grand opening floristnya. Vas vas besar dengan bermacam bunga sudah berjejer di teras samping pintu masuk. Balon yang di hias dengan pita-pita besar juga sudah ikut mempercantik tempat itu. Di sisi kiri halaman sudah terpasang panggung kecil, salah satu band akustik sudah beraksi dengan alat musik dan microfonnya. Mengawali pagi dengan alunan musik jazz. Sisi yang lain juga sudah ada stand makanan, dengan beberapa pelayan yang sudah siap dengan hidangannya. Dalam sebuah ruangan yang satu sisinya diberi cat merah maron sudah terpasang papan nama akrilik timbul dengan font bradley bertuliskan RED FLO. Sisi-sisi lainnya berdinding warna putih bernuansa klasik. Meja, rak, dan vas-vas bunga sudah berjejer rapi. Di salah satu pojok ruangan sudah ada sofa untuk para tamu bersantai, juga meja kasir yang berada di depan pintu keluar masuk. Periapan yang sempurna bagi pemula seperti Kayana. Para tamu juga sudah berdatangan memenuhi undangan Kayana di acara grand opening red flo hari ini. Tamu yang di undang memang tidak banyak, hanya beberapa tetangga, saudara, sahabat dan rekan-rekan bisnis floristnya yang baru saja ia ajak bekerjasama. Di hari yang spesial, Kayana juga ingin tampil spesial di depan tamu undangannya. Dress merah maron selutut, tatanan rambut dibuat sedikit blonde dengan jepit gold di sebelah kiri membuat Kayana tampil begitu memesona. Make up tipis dengan lipstik bernuansa pink membuat Kayana tampak lebih lebih muda dari umurnya. Seperti yang sudah ia utarakan kemarin dengan Dion, menyambut hari ini sudah pasti rasanya gugup dan deg-degan, namun Kayana begitu apik menyembunyikan rasa itu. Dengan senyum lebar dan anggukan kepala setiap menyambut tamu yang datang, itu sudah menandakan bahwa ia siap melewati hari ini. Mempersilahkan para tamu untuk masuk melihat-lihat floristnya, menikmati musik dan hidangan yang sudah tersedia. Sesekali ia pun menemani para tamu dan menghampiri mereka untuk sekedar bertanya kabar dan mengucapkan terima kasih. Dengan jiwa penyayangnya, Erland juga terlihat mengekor kemana pun Kayana pergi, digandeng dengan eratnya. Memperkenalkan putra semata wayang kebanggannya dengan Julio pada semua orang. Tampak Anandita, Dion dan Riyu yang begitu setia membantu berjalannya acara hari ini. Dengan kompak memakai dresscode bernuansa meran maron. Dion juga terlihat begitu perhatiannya terhadap Kayana. Diam-diam mengambil gambarnya di setiap moment melalui camera digital juga ponselnya. “Kay, senyum dong!” pinta Dion pada Kayana yang tengah mengobrol dengan Erland, tangannya tengah fokus dengan kamera ponselnya. Kemudian tersenyum ketika melihat hasilnya yang begitu indah. “Coba lihat hasilnya, Mas!” Kayana begitu penasaran melihat Dion yang tersenyum dengan ponselnya. Mereka bertiga kemudian saling tertawa, menikmati kamera depan ponselnya. Foto bertiga layaknya keluarga harmonis. Erland yang begitu nyaman dengan Dion menikmati kedekatan itu. Sedangkan Kayana mulai merasakan perasaan yang aneh saat berada di dekat Dion. “Mas Dion udah makan?” Kayana mencoba menetralisir rasa gugupnya dengan menanyakan hal itu pada Dion, Dion mengangkat bahu tanda belum, “kita ambil makan yuk!” Berjalan bertiga menuju stand makanan di depan. Terlihat begitu serasi sekali, tidak disadari ternyata beberapa pasang mata memperhatikan kedekatan mereka. Terutama orang tua Dion yang merasakan hubungan anak laki-lakinya dengan Kayana terlihat tidak biasa. “Pa, lihat deh anak kita. Kayak ada sesuatu yang aneh dengan dia,” Tukas Mei, ibu dari Dion pada Candra suaminya. “Aneh gimana sih, Ma?” Candra berdiri di sampingnya dengan memegang gelas di tangan kirinya menikmati alunan musik. “Itu, coba deh lihat,” sedikit menggerakan mata pada Dion yang tengah mengambil makanan dengan Kayana dan Erland, “Dion kayak perhatian banget sama Kayana dan Erland, mama jadi curiga deh, Pa.” “Hush… jangan punya pikiran jelek, Ma. Ya wajar lah kalau Dion perhatian sama ponakannya, biarin aja kenapa sih?” “Papa, kalau perhatiannya Cuma sama Erland sih nggak masalah, tapi ini ke Kayana juga. Gimana kalau ternyata mereka berdua pacaran?” “Lho, memangnya kenapa? Sah-sah aja kan, Ma?” “Sah gimana coba, Pa? Dion dan Julio itu sepupunan, masa sih Dion pacaran sama istri almarhum sepupunya.” “Nggak ada yang salah dan itu nggak jadi masalah seandainya mereka benar-benar pacaran, Ma. Saudara kandung aja banyak kok yang naik atau turun ranjang. Dan mereka kan Cuma sepupuan? Jadi nggak masalah.” “Iya tapi kan nggak mungkin banget, Pa.” “Kenapa nggak mungkin, Ma? Mereka justru sudah saling tahu sifat masing-masing karena mereka sudah lama kenal. Ma, pahala Dion besar lho kalau mau menikah dengan Kayana apalagi dia ikut berperan penting dalam membesarkan Erland.” “Tapi mama nggak setuju, Pa.” “Kalau papa sih setuju banget. Kayana baik, dia sopan dan mama lihat sekarang juga dia udah mandiri, punya usaha sendiri. Kenapa sih, Ma?” “Pa, lihat deh. Dion itu kan anak kita satu-satunya, mama mau yang terbaik buat dia. Perempuan yang nantinya akan jadi pendamping Dion harus benar-benar yang setara dengan dia. Setidaknya yang masih single lah, jangan yang udah janda gitu.” “Ya Tuhan, Ma. Kok jadi sampai situ sih ngomongnya? Mama tahu kan Kayana itu siapa? Kalaupun dia sekarang berstatus janda tapi karena takdir, Ma. Kayana dan Julio terpisah karena sudah nggak ada umur, bukan karena kesalahan dari keduanya. Papa yakin Dion tahu yang terbaik dan punya alasan sendiri.” “Tapi mama pengennya Dion dapat pasangan yang masih single, yang belum punya tanggungan anak kayak Kayana.” ”Ma, kita udah lama juga kan pengen Dion bisa segera menikah, kalau memang Kayana jodohnya kenapa nggak. Buang jauh-jauh perasaan buruk itu, Ma.” “Bukan buruk, justru mama berpikir yang baik-baik buat masa depan Dion. Dia harus bahagia, Pa.” “Ya udah, kita tanya Dion besok. Nggak enak dilihat banyak orang kalau debat kayak gini.” Mei terlihat sinis mendengar tanggapan suaminya, membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu dan bermaksud untuk pamit pulang. Candra pun meletakkan gelasnya di meja dan menyusul Mei yang berjalan tergesa, dipanggilnya dengan tujuan agar Mei berhenti. “Ma, mau kemana sih? kok jadi kayak anak kecil gini?” “Mama mau pulang, ngapain juga mau lama-lama disini kalau Cuma bikin mama nggak mood.” “Ma, tahan dulu dong emosinya. Nggak enak sama Kayana, sama Dion juga. Acara belum selesai tapi malah udah pulang duluan. Please, Ma. Jangan kayak gini ah.” “Nggak, pokoknya Mama mau pulang. Terserah kalau Papa dan Dion masih mau di sini, tapi mama mau pulang. Titik!” “Ya Tuhan, ya udah oke kita pulang. Tapi kita pamit dulu lah, ayok masuk dulu bentar.”’ Mei pun menurut, mengikuti Candra berjalan menghampiri Dion. “Dion, Kayana… eh Erland, cucu opa Candra makan apa ini?” sapa Candra ketika sudah berada di tengah-tengah mereka. “Salad opa,” Erland dengan polosnya menunjukkan cup saladnya pada lelaki yang menyebut dirinya sebagai opa. Mereka saling berpandangan dan tersenyum menunduk. “Wah.. enak ya?” tanyanya lagi pada Erland, yang ditanya hanya mengangguk dan melanjutkan makannya, “Kayana… Om dan Tante mohon pamit pulang dulu ya!” “Lho, Om Tante, acaranya kan belum selesai. Makan-makan dulu ya!” “Kita udah makan kok, Kay. Ini tantemu mendadak nggak enak badan.”’ “Mama kenapa? Bukannya tadi baik-baik aja?” Dion bertanya heran dan cemas, mendekati Mei dan memegang tangannya, “Ma… mama kenapa? Mau masuk dulu, Dion periksa sebentar.” “Nggak usah, mama nggak apa-apa. Cuma pengen istirahat aja, ayo Pa!” Mei terlihat ketus, melepas tangan anaknya dan langsun beranjak pergi tanpa mengucap kata pamit pada tuan rumah. Dion semakin tidak mengerti, menatap papanya yang tengah mengisyaratkan seuatu. Dion hanya bisa diam, ia yakin mamanya ingin pulang bukan karena tidak enak badan. Tapi karena ada sesuatu hal yang terjadi. “Dion antar ya, Pa!” “Udah nggak usah, Di. Kita tadi bawa mobil sendiri-sendiri kan? kamu disini aja temani Kayana, mama nggak apa-apa kok, tenang aja mama aman sama Papa.” Dion mengangguk seolah mengerti, sebenarnya dilema sekali. Ingin rasanya tahu apa yang sebenarnya terjadi namun ia tidak ingin meninggalkan Kayana dan merusak acara hari ini. “Kayana… Om pamit ya, sekali lagi selamat atas pembukaan resminya Red Flo. Semoga sukses dan berkah selalu untuk kalian ya, Kay.” “Terima kasih atas kedatangannya Om dan Tante, juga doa terbaik untuk Kayana. Mohon maaf juga untuk penyambutan Kayana hari ini. Hati-hati di jalan ya, Om. Sampaikan ucapan terimakasih dan maaf Kayana pada Tante.” Kayana mencium tangan Candra dengan hormat, kemudian membirakan ke dua orang tua Dion untuk pulang lebih dulu. Candra dengan berat hati pun menyusul istrinya yang sudah berada di samping mobilnya, mengajaknya pulang demi menjaga perasaan semuanya. Kayana melihat raut wajah Dion yang mendadak kecewa, berbeda dengannya yang lebih tepatnya sedih. “Mas Dion kenapa?” “Eh, nggak kenapa-napa Kay! Maafin mereka ya yang nggak bisa disini sampai selesai.” “Iya, mungkin emang tante lagi nggak enak badan beneran, Mas. Mas Dion jangan kecewa gitu ya. Aku nggak apa-apa, atau kalau Mas Dion mau nyusul pulang, ya nggak apa-apa. Siapa tahu tante butuh Mas Dion saat ini.” “Nggak, Kay. udah sama papa kok. Kamu juga jangan jadi sedih gitu ya… ini hari spesial kamu kan? Harus happy pokoknya dilihat semua tamu.” “Iyah, Mas. Makasih ya.” Lagi-lagi Dion tidak ingin merusak suasana hati Kayana. Ia lalu mengajak Erland duduk menikmati musik dengan mengambilkan satu cup es krim cokelat pada anak laki-laki yang manis itu. Dan ketika ia tengah duduk, matanya tertuju pada dua mobil yang datang bersamaan, yang salah satu dari mobil itu sudah sangat ia hafal siapa pemilikya. Dion pun tersenyum sambil menunjukkan sesuatu pada Kayana. “Kay, coba deh tuh lihat siapa yang datang!” Kayana pun melihat baik-baik di luar sana, ada seseorang yang ia kenal yaitu Surya owner dari rengganis. Senyumnya melebar, menyambut Surya yang tengah datang dengan rombongannya. “Selamat ya Mba Kayana, wah benar-benar bagus floristnya. Bakalan ramai dan sukses ini sepertinya,” Surya menjabat tangan Kayana dengan mantap penuh doa terbaik. “Aamiin aamiin, terima kasih sudah berkenan datang ke red flo Pak.” “Sama-sama. Dion apa kabar?” “Baik sekali, Abah. Terima kasih sudah datang dan mau bekerja sama dengan Kayana. Semoga kelak rengganis dan red flo bisa bekerja sama dengan baik ya, Bah.” Dion kemudian memeluk Surya. “Pasti-pasti… oh iya, Mba Kayana, ini perkenalkan istri saya, anak, menantu dan cucu saya. Semua saya ajak karena saya pengen memenuhi janji saya kemarin sama kalian, Mba Kay dan Dion.” “Wah… selamat datang di red flo,” Mereka saling berjabat dan berkenalan. Saling memberikan senyuman terbaik dan sapaan salam kenal. Terlihat begitu bahagia sekali raut wajah Kayana, Dion lagi-lagi memperhatikannya. Juga Barra yang tampak tidak sabar ingin menagih janjinya pada Dion. Yaitu segera menikahi Kayana. “Mba Kay, floristnya nyaman sekali ya. Pintar pilih konsep-konsepnya.” “Terima kasih banyak Pak Surya, ini juga berkat sahabat saya itu dan juga mas Dion yang sudah bantu semuanya.” “Ya.. ya.. ya, kalian sama-sama pintar. Udah cocok banget pokoknya,” imbuh Surya sambil melirik Dion yang tengah salah tingkah. “Nah… gue bilang apa, bro. Udah ayo, lanjut pelaminan segera. Udah pas banget lho ini, yang laki dokter yang perempuan pengusaha. Kurang apa lagi?” Pipi Kayana memerah terasa hangat, dibarengi dengan hati yang berdesir. Dion tersenyum menahan malu, sebenarnya apa yang dikatakan Dion dan Surya memang ingin ia iyakan dan aminkan. Namun lagi-lagi takut dan ragu pada Kayana, takut kalau saja Kayana justru tidak nyaman dengan perkataan mereka. “Pak Surya sama Mas Barra ini bisa aja. Mari-mari silahkan masuk, makan dulu dan lihat-lihat ke dalam toko. Semoga senang disini…” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN