18

1565 Kata
Pikiran Dion masih dihinggapi dengan rasa penasaran sejak orang tuanya terpaksa pulang lebih awal di acara Kayana tadi. Membuatnya harus segera datang ke rumah mereka, mengesampingkan rasa kantuk dan inginnya kembali ke apartemen. Menembus angin malam kota bandung yang masih ramai dengan para pengendara jalan. Meski sudah mencoba berkali-kali berpikir keras, mencari apa kesalahan dirinya tadi atau apa yang terjadi sampai-sampai mamanya bersikap ketus seperti tadi. Entah apa yang mereka sembunyikan pada Dion. Lampu ruang tamu terlihat masih menyala dari luar ketika Dion sudah sampai di halaman. Dan memang waktu belum larut malam. Khawatir, takut, was-was sampai d**a berdebar, itu lah yang Dion rasakan saat ini. Bergegas berlari masuk ke dalam rumah. Mencari-cari orang tuanya di setiap sudut rumah. Ia mengendap ketika tahu mereka tengah berada di balkon belakang. Seperti sedang terjadi sesuatu yang dingin di antara mereka. Mei yang tengah berdiri dengan menyilangkan tangannya ke d**a dan Candra yang tampak sedang menjelaskan sesuatu berada di belakangnya. Dion rasa, belum tepat waktu jika saat itu juga tiba-tiba hadir di sana. Tapi apa yang mereka bahas, Dion pun merasa tidak paham karena suara mereka yang tidak begitu jelas terdengar. Saking penasarannya Dion akhirnya memilih untuk menghampiri mereka. Berjalan dengan sedikit menggesekkan sepatunya agar mereka mendengar ada seseorang yang datang. Dan benar, mereka pun menoleh ke bekalang hampir bersamaan. “Dion… “ Papa Candra terlihat kaget ketika melihat Dion sudah ada di belakang mereka, ada rasa khawatir jika anak semata wayangnya itu sudah mendengar semua perdebatan mereka, “kamu sejak kapan disitu, Di?” “Baru aja Pa, Ma. Ini sebenarnya ada apa sih?” “Nggak ada apa-apa, Di,” dengan spontan Candra merangkul pundak istrinya, mengusap-usap lengan dan mencoba mencairkan suasana. Mei masih dengan mimik wajah yang sama dengan siang tadi. Ketus, sadis dan kesal. “Jujur aja, Pa, Ma… jangan bikin Dion jadi bingung kayak gini. Dan kejadian kayak tadi siang itu bikin Dion kecewa. Sikap mama juga kelihatan banget jadi kayak orang yang nggak suka. Ada apa sih? Sebenarnya apa yang bikin mama jadi berubah sikap kayak tadi siang?” ”Harusnya kamu juga udah paham tanpa harus mama yang jelasin,” ketus mama Mei masih belum mau memandang Dion. “Mama please, kasih Dion penjelasan Ma! Dion benar-benar nggak paham sama semua ini.” “Udah lah Ma, Dion baru datang. Kita masuk ke dalam makan dulu atau biarin dia istirahat dulu.” “Pa, kita harus tahu, Dion harus jelasin ini semua sama kita!” “Baik, Dion pasti bakalan jelasin semuanya. Tapi please, mama dan papa bilang dulu apa yang harus Dion jelasin.” “Sebenarnya sampai mana hubungan kamu dan ka-“ “Mama… udah lah!” tiba-tiba Candra memotong pembicaraan istrinya, seakan belum waktunya untuk membahas masalah ini. “Nggak apa-apa, Pa. Biar Dion tahu apa yang mama inginkan. Dion nggak apa-apa, Pa.” “Pa, Dion harus menjelaskan ini semua dan kita juga berhak tahu. Jadi papa nggak usah menunda-nunda untuk bertanya.” “Ma, Pa… udah, nggak usah berlama-lama. Jelasin ke Dion ada apa?” “Mama mau tahu, ada apa sebenarnya antara kamu dan Kayana?” “Maksud Mama?” “Iya, kenapa kemarin kamu kelihatan perhatian banget sama Kayana dan Erland? Ada hubungan apa kalian berdua selama ini?” “Ya Tuhan, jadi ini yang bikin sikap mama berubah tadi?” “Iya bener, coba kamu jelasin ke mama dan papa sedetail-detailnya.” “Oke ma, oke. Dion jelasin semuanya ke mama dan papa. Awalnya Dion memang nggak punya perasaan apa-apa terhadap kayana. Dion Cuma pengen bantu mereka, karena mereka butuh suport. Dion kasihan lihat keadaan Kayana yang nyaris stres kehilangan Julio, dia sering sakit, sering melamun sampai-sampai dia nggak pernah peduli dengan Erland. Karena Dion dokter, Dion merasa punya empati buat menyembuhkan dia, Ma, Pa. Tapi setelah Dion sering bareng dan ketemu sama dia, perasaan Dion berubah, Dion memiliki perasaan yang beda bukan hanya sekedar rasa empati. Perasaan itu menjadi cinta. Dion pengen jadi pelindung mereka, jadi orang yang bertanggung jawab di hidup mereka. Dion nggak tega lihat mereka menanggung beban sendiri.”’ “Itu artinya kamu ingin menikahinya?” “Ya, jika Tuhan mengijinkan dan dengan restu mama papa.” “Tapi kamu tahu kan Di, Kayana itu istri siapa?” “Sangat sangat tahu, Ma. Lalu apa masalahnya?” “Ini nggak pantas, Di.” “Ma… bukannya ini sudah kita bahas kemarin kan? redam egomu ma, papa mohon,” papa Candra mencoba meredakan emosi Mei yang bersungut-sungut. “Tapi Dion belum paham tentang ini, Pa. Dia harus tahu.” “Ma, apa yang menurut mama tidak pantas dari ini semua?” “Kayana adalah istri almarhum sepupu kamu. Apa pantas dia jadi istri kamu?” “Agama kita nggak melarang tentang itu kan, Ma?” “Tapi mama nggak suka Dion, apa nggak ada perempuan lain selain Kayana di luar sana?” “Bukan masalah ada atau tidak ada, Ma. Dion sudah jatuh hati sama Kayana, selama ini belum ada perempuan lain yang bisa membuat Dion merasa cocok.” “Tapi dia janda Di, sedangkan kamu masih single. Apa kamu nggak bisa cari perempuan yang juga masih single, yang dengan latar belakang lebih baik dari dia?” “Ya Tuhan mama, apa yang salah dari perempuan yang berstatus janda, Ma? Mereka juga punya hak bahagia dan dibahagiakan oleh laki-laki. Nggak ada yang beda dari status mereka ma, mereka sama-sama seorang calon istri. Bukannya mama juga udah tahu betul latar belakang Kayana selama ini. Dia perempuan baik-baik, Ma. Mama juga ingat kan betapa Julio sangat mencintai dan memuliakan Kayana. Itu berarti Kayana memang pantas dicintai kan Ma?” “Ternyata hanya karena perempuan, kamu jadi berani membantah mama ya, Di. Mama kecewa sama kamu.” “Ma, bukan maksud Dion mau membantah mama. Tapi Dion Cuma mau Mama tahu apa yang pantas Dion perjuangkan. Apa yang Mama pandang tentang status itu sebenarnya yang nggak pantas. “ “Jadi kamu menyalahkan sudut pandang mama?” “Mama, tolong berhenti mempunyai pikiran buruk perihal status sosial,” papa pun menyambung, “Harusnya mama bangga sama Dion yang tidak mempermasalahkan itu. Yang Dion pilih adalah perempuan yang baik menurutnya, dan papa yakin, Dion pasti sudah mempertimbangkan itu semua.” “Papa diam dulu dong, biar Dion yang jelasin itu semua. Jujur sama mama, sudah berapa lama kalian menjalin hubungan ini?” “Sebenarnya Dion memang belum ada hubungan apa-apa selain sama Kayana. Tadinya Dion baru akan menanyakan tentang hal ini sama mama dan papa, tapi justru malah nggak sesuai rencana Dion. Mama papa malah sudah tahu lebih dulu.” “Gimana mama nggak tahu dan curiga lihat kedekatan kalian kemarin di acara Kayana? Jadi mana mungkin kalau kalian belum punya hubungan apa-apa?” “Demi Tuhan, Ma, Pa. selama ini kami baru dekat sebatas ini aja, kami belum ada ikatan apa-apa. Dan kami juga belum tahu perasaan kami masing-masing.” “Bagus lah kalau memang begitu dan lebih baik jangan lagi kamu lanjutkan ke jenjang yang lebih serius lagi.” “Nggak, Ma. Dion tetap akan mengutarakan perasaan Dion entah apapun jawaban Kayana. Dion dulu pernah janji pada Julio bakalan jaga Kayana dan Erland, Ma, Pa. Jadi mohon restui langkah Dion dan beri kebebasan untuk Dion memilih teman hidup.” “Papa merestui kalian Di, papa salut dengan kamu. Papa yakin kamu sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang terbaik. Beri mama kamu waktu, mama pasti nanti juga akan merestui kalian.” “Tapi mama nggak mau, mama nggak suka.”’ “Ma, bukannya kita sudah lama menginginkan Dion untuk segera menikah.” “Iya, tapi nggak harus dengan Kayana juga kan Pa? Apa perlu mama yang carikan calon istri buat kamu?” “Untuk saat ini Cuma Kayana yang tepat jadi calon istri Dion, Ma. Dia perempuan baik yang pantas buat Dion. Jangan hanya karena status sosial, mama jadi mendiskriminasi semuanya. Restu mama dan papa sangat berarti buat Dion.” “Tapi mama nggak bisa merestui kalian Di, kamu lebih pantas menikah dengan perempuan single yang selevel dengan kamu.” “Ma, dalam benak Dion sama sekali nggak pernah mempermasalahkan status sosisal apa pun. Dion nggak pernah merasa menjadi laki-laki level atas yang mendambakan perempuan dengan level yang sama. Selama ini yang Dion tahu dari beberapa perempuan yang suka sama Dion hanya karena siapa diri Dion. Bukan karena mereka tulus mencintai Dion. Yang mereka lihat hanya dari sisi luarnya saja. Beda dengan kayana Ma, dia yang selalu menolak bantuan Dion, materi terutama. Dia selalu ingin berusaha bangkit dengan kemapuannya yang selalu merasa takut merepotkan orang banyak. Itu yang membuat Dion salut. Dion yakin kalau mama dan papa pasti sudah paham jatuh bangunnya Kayana selama ini, dia sudah cukup merasakan sakitnya kehilangan, sudah sering merasakan keterpurukan. Dan Dion pengen mengobati lukanya, Dion pengen dia bahagia Ma, Pa. Dion tulus mencintai Kayana. Dan mama papa harus tahu, betapa sakitnya hati Dion melihat anak sekecil Erland yang harus kehilangan kasih sayang papanya. Dan selama ini dia terlihat bahagia sekali tiap kali Dion datang kesana. Dion merasakan kerinduan yang luar biasa ketika Dion memeluknya. Saat itu juga Dion bertekad untuk memperjuangkan mereka, Dion mau menjadi papa untuk Erland. Dion mohon, Ma… restui Dion.” “Mama, nggak… cukup Dion, cukup, terlalu sulit buat mama menerima ini semua,” Mama berlari ke kamar dengan deraian air mata kekesalan. Dion sempat ingin mengejar, namun tangan papa menghalanginya. Dan mendekap anak laki-lakinya itu demi membuatnya lebih tenang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN