“Sayang, kayaknya aku nggak akan sanggup kalau hidup tanpa kamu,” ucap Julio setiap malam menjelang tidur. Dengan mengusap-usap kepala Kayana yang tengah menindih lengan kirinya, “Jadi biar aku duluan saja ya nanti yang pergi.”
“Mas ngomong apa, sih? Aku juga nggak mau lah kalau harus hidup tanpa ada Mas, kita bakalan sama-sama terus dampingi Erland sampai dewasa. Jadi kakek nenek, menua bersama. Ngomongnya jangan gitu, ah!”
Kayana berdiri mematung di depan jendela kaca kamarnya. Melihat tetesan deras hujan yang turun di luar sana. Ia dan Julio selalu merindukan hujan. Suara hujan adalah iringan syahdu pengantar tidur bagi mereka.
Kenangan demi kenangan datang menyerang pikirannya. Tanpa sadar matanya sudah sembab, pipinya sudah basah. Mulutnya berulang mengambil dan membuang napas sebab hidungnya kesulitan untuk melakukannya. Beberapa detik kemudian tangannya sibuk memijit-mijit pelan sisi kepala yang mulai nyeri, berharap akan sedikit reda dengan caranya itu. Namun semakin lama semakin tidak tertahankan.
“Nggak akan ada yang tahu tentang umur, Kay. Tetapi Mas Cuma nggak bisa membayangkan kalau harus berpisah denganmu.”
Suara itu. Sungguh terdengar memilukan bagi Kayana. Sampai ia harus mengingat berita kecelakaan maut yang menimpa suaminya. Menambah sakit kepala yang ia rasa. Dengan berjalan pelan, tangan satunya memegang kepala dan satunya lagi meraba-raba benda di depannya. Ia ingin merebahkan badan di ranjang, sakitnya bukan main.
Kayana pun dengan hati-hati berebahkan tubuhnya, sambil meraih telepon genggam yang berada di meja samping ranjangnya. Dengan susah payah ia mengusap gawai dan mencari-cari nomor seseorang disana. Dion, ya hanya Dion yang bisa menolongnya saat ini.
Tidak membutuhkan detik yang lama untuk dapat tersambung dengan laki-laki yang beberapa waktu ini selalu menawarkan diri akan selalu ada untuknya.
“Halo, Kay,” suara tegas laki-laki di seberang sana.
“Mas, Mas Dion…” suara Kayana terdengar sangat berat, di tambah suara hujan yang deras membuat suaranya semakin lirih.
“Iya, Kay… ada apa? Kamu kenapa?” sepertinya Dion sudah merasakan khawatir dengan Kayana yang tidak biasanya menelpon terlebih dulu.
“Mas, kepalaku sakit. Tolong ke ru…” belum selesai berbicara, dawainya sudah terlepas dari tangannya. Ia pingsan.
“Kay… Kayana! Kamu dengar aku?” Dion terlihat gusar.
Di tempat yang berbeda, Dion tampak begitu khawatir. Dengan cepat ia menyambar tas berisi alat-alat medis dan obatnya. Berlari keluar dari apartementnya. Melaju secepat mungkin menerobos jalanan yang basah karena hujan deres. Pikirannya sudah berada disana, di rumah Kayana.
***
Hujan deras masih berpihak pada sore ini, membuat Dion datang lebih lama dari biasanya. Di dalam sebuah kamar, Kayana sudah ditemani semua orang rumah termasuk Erland yang sedari tadi mengusap-usap tangan mamanya. Kayana masih menahan rasa sakitnya, beberapa menit lalu ia sempat pingsan. Dengan sigap Dion segera memeriksa Kayana. Kemudian menyuntikkan obat di lengan kirinya.
“Tahan sebentar ya, Kay. Ngilu memang efek dari obat yang aku suntikkan tapi nanti bakalan enakan,” Dion begitu paham penyebab sakit yang Kayana rasakan. Sebagian besar dari pasiennya yang pernah punya riwayat sakit seperti ini adalah karena stres yang berkepanjangan, pikiran berat yang ia rasakan terus menerus akan menyebabkan kepala seperti ditekan dan diikat.
“Untung saja kamu segera kesini, Dion. Tante tadi nggak tahu kalau Kayana pingsan, niatnya tadi cuma mau manggil dia buat minum teh ke ruang tamu. Begitu dipanggil-panggil nggak ada jawaban, tante masuk kamar dia sudah pingsan,” Anandita, ibu Kayana menjelaskan kronologi kejadian tadi.
“Iya, Tante… tadi kayana sempat telepon Dion bilang kalau kepalanya sakit. Lalu tiba-tiba nggak ada suara lagi padahal dia belum selesai ngomong, mungkin saat itu Kayana mulai pingsan, Tante.”
“Oh, pantesan kamu datang kesini. Kay, akhir-akhir ini Mama sering lihat kamu pijit-pijit kepala itu ternyata kamu udah ngerasa sakit? Kamu nggak pernah ngomong sama Mama, Kay… jangan menyembunyikan sesuatu dari Mama, nak!”
“Kay emang sering ngerasa sakit kepala tapi nggak sesakit ini, Ma. Biasanya kalau sakit juga cuma Kay buat istirahat bentar terus sembuh. Tapi nggak tahu ini kenapa sakit banget.”
“Gimana sekarang, Kay? Masih sakit banget?”
“Masih, Mas.”
“Kita bawa ke rumah sakit aja, Di. Tante khawatir.”
“Kita tunggu sebentar lagi aja, Tante. Obatnya sebentar lagi reaksi kok, nanti kalau belum reda juga Dion kasih obat ke dua. Tante tenang aja.”
Anandita hanya mengangguk, saking khawatirnya mungkin ia lupa bahwa Dion adalah dokter yang juga sering menangani pasien dengan penyakit yang sama.
Dion menepuk-nepuk kening Kayana dengan ke dua jari telunjuknya agar dapat sedikit meredakan rasa sakit perempuan yang akhir-akhir ini memenuhi ruang hatinya. Ada rasa takut dan khawatir melebihi dari apa yang dirasakan Anandita terhadap anaknya.
Setelah beberapa menit, kening Kayana tidak lagi mengerut pertanda nyeri sepertinya sudah semakin reda.
“Udah enakan, Kay?” Dion memastikan, Kayana mengangguk. Laki-laki ini mengembuskan napas amat lega. Itu tandanya obat kedua tidak perlu dia suntikkan, “Coba pikirannya dibuat relaks dulu ya sekarang biar nggak tegang, Kay.”
“Cuma masuk angin deh kayaknya, Mas. Tadi aku kehujanan,” Kayana mencoba mengelak, memberikan alasan klasik yang membuat Dion tersenyum masam.
“Kay… kay… kamu nggak bisa bohong dari aku. Aku lebih paham penyakitmu. Jangan bohongi aku dengan alasan-alasan yang hanya akan membuatku tertawa. Bahkan tanpa kamu jujur pun aku sudah bisa menebaknya. Semakin emosimu memuncak, tertekan atau stres itu semua bakalan memicu rasa nyeri di dahi, sisi kepala, maupun kepala bagian belakangmu. Berpikir yang berlebihan secara berkepanjangan bakalan bikin kamu sakit kayak gini berulang-ulang, Kay. Please, kelola stres kamu kalau perlu banyak-banyaklah cerita dengan orang yang kamu anggap bisa dipercaya. Berulang kali aku udah bilang kan?”
Kali ini Kayana hanya diam tanpa memberikan alasan. Matanya menerawang jauh sambil sesekali menggigit bibir bawahnya. Merasakan nyeri di d**a yang lebih sakit dari kepalanya.
“Aku tahu kamu butuh waktu untuk mengikhlaskan semuanya, jangan buat pikiranmu sibuk membayangkan hal yang membuatmu semakin sakit. Jangan suka menyendiri, Kay karena kamu bakalan ngelamun terus. Sakit kepala yang disebabkan oleh stres itu bukanlah penyakit yang main-main, Kay. Ayolah semangat, kamu lihat Erland!” Dion menatap dalam-dalam mata Kayana, memerah, banjir dan lelah, “Ikhlas dan sabar kuncinya, Kay.”
“Jangan menyuruhku untuk ikhlas apalagi sabar, Mas. Semua itu tidak mudah. Bahkan aku tidak tahu apa arti keduanya. Setiap sudut, setiap detik bayangan Mas Julio tidak pernah lepas. Sakit, Mas,” pecah tangisnya, Kayana memejamkan mata sambil menempelkan telapak tangan di keningnya. Dion menghela napas, sedikit menyesal dengan ucapannya. Takut membuatnya semakin down.
“Maafkan aku, Kay. Bukan maksudku untuk membuatmu semakin terpuruk. Aku mau kamu sembuh, ceria lagi kayak dulu. Meskipun aku tahu ini tidak mudah, pelan-pelan Kay. Aku memang nggak bisa berbuat apa-apa selain kasih suport, cuma kamu sendiri yang bisa tentukan arah hidupmu.”
“Aku bisa apa, Mas? Kalau boleh memilih aku nggak mau seperti ini. Aku ingin hidupku normal dan baik-baik saja.”
“Semua pasti akan baik-baik saja kalau kamu juga berpikir yang baik-baik untuk masa depanmu, Kay. Sibukkan dirimu dengan hal yang positif, sesederhana saja dulu. Misalnya menemani Erland bermain, jangan sampai lengah apalagi melamun. Mengingat kenangan itu boleh dan harus malah, tapi kalau berujung penyakit juga nggak baik kan?” kali ini Dion lebih berhati-hati dalam berbicara, matanya sedikit berair dan lebih tepatnya berlinangan.
Kayana memilih diam, memang ada benarnya semua yang dikatakan Dion. Keadaan yang harus memaksanya untuk tangguh. Keadaan yang berubah dengan tiba-tiba yang akan menjadi pelajaran hidup terbaik.
“Maafkan aku, Kay. Mungkin aku lancang menasehati kamu, tetapi itu tugasku sebagai dokter untuk memberikan yang terbaik demi pasiennya. Terlepas dari itu, aku sangat peduli denganmu dan Erland. kalian adalah orang paling berharga untuk Julio dan Julio sangat berharga pula buatku. Sudah otomatis kalian juga harus aku pastikan baik-baik saja. Sembuh, semangat untuk kami. Erland butuh kamu yang sehat, ceria dan mama yang kuat.”
Hanya linangan air mata yang menjawab semuanya. Melihat Kayana dengan keadaan seperti itu, Erland pun memeluknya erat.
“Mama jangan nangis, Erland sedih,” benar saja kerapuhan Kayana hanya akan membuat Erland sedih.
“Erland, Tante… kita keluar dulu aja ya, biar Kayana istirahat,” mereka saling bertatapan, Erland sangat mengerti. Ia lepas pelukannya dan bibi bersiap menggendong anak laki-laki itu, “Kay, tidurlah. Sehari ini sudah cukup membuatmu lelah. Cepat sembuh, ya. Besok pagi aku jemput kalian.”
“Jemput buat apa, Mas?”
“Aku pengen ajak kalian ke suatu tempat, kamu perlu refreshing Kay. Semoga besok pagi dah enakan ya!”
“Aku Cuma butuh istirahat aja kok, Mas. Jangan berlebihan, nanti mengganggu perkerjaan Mas Dion lho!”
“Aku masih ambil cuti, Kay. Besok hari terakhir, aku ada janji sama Erland. Kamu tenang aja, get well soon. Sekarang istirahat ya, sekalian aku pamit.”
“Makasih, Mas. Hati-hati!”
Dion melangkah menyusul keluar, memberikan waktu untuk Kayana mengistirahatkan hati dan pikirannya. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan menghadapi keadaan yang baginya sangat berat, apalagi bagi perempuan istimewa yang Julio tinggal.
“Tante, maafkan Dion tadi sempat bersikap keras pada Kayana. Tapi bukan maksud Dion bikin dia tertekan,” ucapnya sambari duduk di ruang tamu mendekati Anandita. Selang beberapa menit, bibi datang menyuguhkan teh hangat untuknya. Dion memang terlihat sangat khawatir, ada bekas keringat yang basah di pelipisnya. Meski hanya mengenakan kaos navy dan celana kasualnya, Dion tetap terlihat begitu rapi dan memesona. Rambut tersisir rapi yang selalu terlihat fresh.
“Nggak ada yang salah, Di. Kita semua khawatir dengan Kayana, tapi mungkin saat ini dia sedang tidak butuh nasehat. Dia hanya butuh didampingi dan ditemani. Tante juga sudah sering kasih tahu dia, Di. Tapi memang sungguh butuh waktu untuk keluar dari rasa keterpurukan. Dion… terimakasih untuk semuanya ya. Kamu selalu ada untuk kami,” Anandita menepuk pundak Dion dan tersenyum sebagai tanda terimakasihnya. Dion mengangguk dan bernapas lega, “Di… Tante melihat ketulusan darimu, Tante mendukungmu.”
“Maksud Tante?” Dion mengangkat kepalanya yang tadi tengah menunduk. Sedikit tidak mengerti dengan pernyataan Ibu setengah baya itu.
“Di… apa artinya perhatian seorang laki-laki dewasa pada lawan jenisnya kalau bukan rasa cinta? Sikap khawatirmu saat melihat Kayana sakit, anak kecil pun bisa melihat kalau kamu menaruh rasa, Di.”
“Maaf tante, mungkin ini terlalu cepat tapi…”
“Tante paham, Di. Kayana juga tante rasa belum siap, saat ini dia tengah sibuk memikirkan bagaimana dia bangkit. Tetapi jangan lelah ya, Tante mendoakan yang terbaik.”
“Dion merasa belum pantas, Tan. Dion nggak ada apa-apanya jauh dari Julio, saat ini Dion nggak mau berharap banyak. Yang Dio mau Kayana bisa tersenyum bahagia kayak dulu aja, Tante. Dion nggak berani berharap.”
“Siapa bilang kamu nggak pantas buat Kayana? Kamu laki-laki baik, sangat baik. Tante rasa Julio disana pasti senang melihat kalian bisa bersama. Sekali lagi terimakasih ya, Di.”
Dion tersenyum, seperti mendapatkan banyak kekuatan dari Anandita namun meskipun begitu bagi Dion tetap masih belum berani untuk benar-benar berharap. Melihat dalamnya rasa cinta Kayana pada Julio sepertinya sangat tidak mudah bagi perempuan itu membuka hati untuk orang lain. Yang dia mau sekarang hanyalah bagaimana dapat membuat Kayana berani membuka mata, menata kembali hidupnya demi Erland.
***