5

1750 Kata
Pov Dion Entah rasa apa yang kini hinggap di hatiku ketika aku memikirkan Kayana dan Erland. Nama mereka yang tengah menari-nari di otakku. Aku mengenal Kayana cukup baik, pantas saja Julio sangat menyayangi dia. Julio yang selalu membanggakan istrinya dan sekarang akupun percaya itu. Senyum Kayana yang manis begitu damai aku rasakan, wajahnya yang cantik tidak membosankan, suaranya yang manja namun tetap berusaha tegar, juga sifatnya yang ramah pada semua orang. Ya, Julio memang senang membicarakan kebaikan-kebaikan Kayana. Dan itu memang benar sekali. Mereka sama-sama beruntung saling memilki. Namun satu yang Julio belum pernah ceritakan padaku, tentang rapuh dan sensitifnya perasaan Kayana. Dan sekarang aku yang lebih tahu tentang hal itu. Bagaimana keadaan ia saat ini, aku yang lebih tahu. Hampir setiap hari Julio menceritakan betapa sempurnanya rumah tangga mereka. Suasana rumah yang tiap saat selalu hangat, sedikitnya pertengkaran kecil, anaknya yang sangat lucu dan perekonomian keluarga yang lebih dari cukup. Itu semua membuatku kelak ingin memiliki keluarga yang seperti itu pula. Mereka menginspirasiku. Aku sering memuji mereka dan aku ikut bahagia melihat kehidupan mereka. Aku ingat betul setiap kali Julio menasihatiku, dia bilang kalau ingin rumah tangganya bahagia maka yang harus dilakukan adalah bahagiakan istri dulu. Istri yang bahagia pasti akan membuat suasana rumah menjadi nyaman dan damai. Setiap suami pasti punya cara sendiri untuk membahagiakan istrinya dan Julio memang laki-laki yang memiliki cara unik dalam memperlakukan Kayana. Cara yang saat ini justru membuat Kayana menjadi sangat rapuh karena Julio membuatnya sangat tergantung padanya. Hingga saat ini dia sudah tidak ada di dunia, Kayana tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Karena itu aku bertekad ingin membuatnya lebih kuat dan mandiri setelah ini. Julio sudah seperti adik kandung bagiku dan kita sangat dekat. Sampai pada suatu saat, dia pernah berpesan, “Kayana dan Erland itu ibarat jantungku, Mas. Entah apa yang terjadi seandainya aku hidup tanpa mereka berdua. Kalau suatu saat nanti aku jauh, tolong kamu jaga mereka ya, Mas! Demi aku.” Entah apa yang ada dalam pikiran Julio waktu itu. Dan itu hanya aku anggap seperti angin lalu. Tidak berpikir panjang dan hanya ku balas dengan sebuah candaan. Dulu yang aku tahu mereka benar-benar tidak bisa saling berjauhan, mana mungkin Julio akan pergi jauh. Tapi sekarang aku tahu, ini yang Julio maksud. Saat ini mereka benar-benar berjauhan dengan arti yang sesungguhnya. Dan ketika Julio pergi, pesan itu seakan-akan terdengar jelas di telingaku. Membuat aku mendadak ingat. Saat itu juga aku berjanji ingin menjaga mereka entah bagaimana caraku. Sebab aku tidak ingin mengkhianati janjiku pada Julio. Julio, kini aku tahu kenapa kamu begitu menganggap Kayana seperti ratu. Dia memang perempuan yang pantas kamu perlakukan seperti itu. Jul… apa kamu tahu ratumu saat ini tengah berusaha bangkit demi Erland, jantung hatimu? Merangkak bagai seorang bayi yang tidak punya kemampuan apapun. Ku rasa aku jatuh cinta pada ratumu, Jul. Salahkah aku jika aku ingin melindunginya dan memilikinya, menjadi seseorang yang menemani mereka secara utuh? Seseorang yang akan mengambil alih semua tanggung jawabnya. Aku ingin sepertimu, menjaga dan mencintainya dengan cara yang spesial, meskipun dengan cara yang berbeda denganmu. Mungkin untuk saat ini belum pantas untukku mengungkapkan rasa cintaku, aku memilih untuk menjaga hati dan membantu mereka melewati masa-masa sulit setelah kepergianmu. Jika nanti Tuhan mengijinkan, aku ingin menjadi laki-laki yang bisa diandalkan, Jul. Menjadi obat dari rasa sakitnya, aku tidak ingin menjanjikan sesuatu agar dia bahagia hidup denganku. Namun aku ingin melengkapi kekurangannya, agar ia mampu bahagia dengan caranya. Julio, anak laki-lakimu sungguh baik. Aku juga jatuh hati padanya. Anak laki-laki yang aku yakini kelak pasti jadi orang yang hebat. Aku bahagia saat ini bisa dekat dengannya, celotehnya membuatku candu. Bisa menjadi teman bermainnya saja aku sudah bangga, Jul. Beruntungnya aku sudah akrab dan kenal lama dengan Erland, jadi tidak sulit bagiku mendekatinya. Aku memang tidak ingin berharap banyak dapat memiliki mereka, tapi setidaknya aku bisa sedikit mengobati rasa rindunya padamu, Jul. Julio Digda Sasongko, kalau saat ini kamu tahu, apa kamu rela melihat kedekatanku dengan Erland? Aku harap kerelaanmu ya, Jul. Aku kasihan dengan Erland yang harus kehilangan sosok ayah sepertimu. Sebisa mungkin aku memperlakukannya seperti anakku sendiri. Meskipun tidak bisa setiap saat aku menemaninya namun dari jauh aku tetap mendoakan kebaikannya. Jul, jika Tuhan mengijinkan aku bisa memiliki mereka, aku ingin menjadikannya ratu dengan caraku. Tidak akan aku sia-siakan mereka. Namun aku tahu, luka Kayana masih belum kering. Biarlah waktu yang membantuku mengobati luka itu. Jika nanti waktunya sudah siap, akan aku suguhkan cinta terbaik untuknya. Jul, aku memang bukan siapa-siapa, bukan lelaki hebat sepertimu dan aku juga sadar bahwa hati Kayana sudah sangat dipenuhi rasa cinta untukmu, namun betapa besar rasa simpatiku untuknya. Memang tidak mudah baginya menggantikan posisimu dihati. Aku paham itu. Kayana, aku paham betapa remuknya hatimu. Aku ingin sekali menjadi obat dari semua sakit yang kamu rasakan. Melihatmu menangis sedih dan terlihat begitu lemas, membuatku ingin menawarkan pundak untuk kami sekedar bersandar. Namun aku merasa tidak pantas dan jauh dari kategori laki-laki baik seperti Julio. Andai kamu tahu betapa sakitnya aku melihatmu seperti ini, Kay. Aku yang dulu selalu melihat keceriaanmu dengan Julio, melihat senyum-senyum indahmu, gaya tubuhmu yang manja pada Julio dan kebahagianmu yang nyaris sempurna. Aku sakit melihat lukamu. Luka yang harus kamu obati sendiri dengan susah payah dengan pikiran yang bercabang. Selain menyembuhkan sakitmu sendiri, kamu masih harus memperjuangkan Erland. Berpikir keras bagaimana melanjutkan hidup. Aku tahu itu, Kay. Melihat kamu yang begitu tergesa-gesa ingin segera keluar dari zona nyaman, berusaha melihat dan mencari cara untuk dapat mandiri membuatku merasa kasihan. Maaf jika aku sempat mematahkan semangatmu kemarin. Aku hanya tidak tega melihatmu bekerja dengan kondisi mental yang belum siap. Aku tidak tega membiarkanmu semakin menambah beban yang harus kamu hadapi. Kamu sudah cukup hebat, Kay. Mampu berdiri dan kembali tersenyum, meski senyum itu masih terlihat pedih hanya karena ingin menyembunyikan perasaanmu yang sesungguhnya. Aku ingin membantumu keluar dari kondisi terpurukmu, Kay. Ijinkan aku! Senang sekali seharian ini aku bisa menemani mereka berdua. Melihat Erland berlari, melompat, berteriak-teriak bahagia. Sengaja aku ajak mereka untuk mampir ke restoran hotel yang tidak begitu jauh dari Rumah Sakit tempatku bekerja. Dengan taman yang luasnya sekitar 20 x 20 m itu sudah cukup leluasa untuk Erland bermain-main. Memainkan gelembung-gelembung sabun yang tadi sempat aku belikan, sambil menikmati es krim kesukaannya. Dulu Julio sering bercerita, Kayana sangat suka diajak keluar menikmati alam. Mungkin aku belum begitu pintar mencari tempat yang Julio maksud, namun di tempat ini semoga saja mereka suka. Ada taman yang cukup nyaman dinikmati dengan makan siang. Di pojok kiri taman ada sebuah kolam yang di tata begitu apik, dengan air mancur terbuat dari semen yang disulap seperti bambu. Seperti suasana sebuah sungai di pedesaan. Tenang, nyaman dan damai rasanya mendengar gemercik air yang mengalir dari sana. Ku lihat senyum Kayana yang manis, lega rasanya bisa melihat senyum itu lagi. Hal yang sesederhana ini mampu membuat mereka terhibur. Lagi-lagi aku mengerti betapa bersyukurnya Julio memiliki mereka. “Erland kelihatan senang banget ya, Kay. Lari-larian, ketawa lepas banget kayak gitu.” “Iya, Mas. Sudah lama aku nggak lihat dia sebahagia ini. Makasih, ya!” Kayana memandangku sepintas, membuat dadaku berdesir tak beraturan. “Sama-sama, kay. Aku juga seneng lihat kalian bisa tersenyum, ketawa kayak gini. Aku pengen kalian bisa seneng-seneng terus, saling sayang dan saling menguatkan.” Gantian aku beri senyum lega terbaikku, dengan harapan Kayana tahu bahwa aku tulus membuat mereka bahagia saat ini. “Doakan aku ya, Mas. Semoga aku bisa jadi ibu yang kuat buat Erland dan bisa diandalkan.” “Pasti aku doakan untuk kebaikan kalian, Kay. Aku yakin kamu pasti kuat. Dulu Julio sering cerita, kalian seneng banget kan bisa keluar main sambil jagain Erland ke taman. Aku Cuma pengen bikin kalian seneng tanpa menghilangkan kenangan dengan Julio, Kay.” “Mas Julio memang selalu tahu apa keinginanku, menyenangkanku meski dengan hal-hal yang sederhana. Mengajakku ke taman, beli makanan dan makan di pinggir jalan atau sekedar muter-muter keluar rumah pas hujan turun, Mas.” “Maaf ya, jadi mengingatkanmu lagi.” “Semua kenangan dengan Mas Julio tidak ingin aku lupakan, Mas. Mas Dion nggak usah minta maaf, justru Mas sudah sangat baik bisa bikin Erland seneng lagi.” “Aku menyayangi Erland, kay. Cuma itu caraku untuk menepati janjiku dengan Julio. Aku harap kamu nggak keberatan ya kalau aku sering main ke rumah atau ajak Erland main keluar kayak gini.” “Silahkan, Mas. Erland juga keponakan Mas Dion juga. Dia juga kelihatan enjoy banget kalau ada Mas Dion. Setidaknya rasa rindu untuk papanya bisa sedikit terobati. Erland masih terlalu kecil untuk merasakan apa itu arti kehilangan yang sebenarnya, Mas. Jadi tidak masalaha kalau mas ingin main ke rumah untuk bertemu dengan erland. Silahkan.” Dan aku ingin lebih dari itu, Kay. Aku ingin Erland menjadi anakku, bukan lagi keponakan. Betapa bahagianya kalau kamu mengijinkan. Ku pandangi wajah Kayana yang tengah fokus memperhatikan Erland, mata cokelatnya sungguh indah. Dengan dres lengan pendek berwarna putih bemotif garis-garis biru laut, ia terlihat begitu anggun. “Terimakasih ya, Kay. Dulu Julio pernah berpesan padaku, dia minta aku menjaga kalian kalau dia harus jauh dari kalian.” “Benarkah, Mas?” Kayana setengah tak percaya dengan pernyataan Dion dan kemudia dilanjutkan dengan anggukan. “Kadang orang yang mau pergi ninggalin kita memang sering melakukan hal-hal di luar sadar ya, Mas. Dulu aku juga sering banget nanya ke Mas Julio, kenapa dia selalu memanjakan aku dengan menuruti semua mauku. Dia bilang, selama dia masih bernafas di dunia dia pengen melihatku tersenyum terus. Dia selalu takut melihatku menangis, Mas. Dia bilang takut kalau nanti tiba-tiba dia jauh dari aku dan Erland.” “Iya, Kay… kepergian Julio memang sangat mengagetkan, bahkan sampai saat ini aku masih sering ngerasa dia ada.” “Kita kenang yang baik-baik tentang dia ya, Mas! Merasa baik-baik saja setelah kehilangan seseorang yang kita sayang memang sulit. Namun nanti kita pasti bakalan lebih kuat dan mampu memaknai kata perpisahan.” Kayana, aku tahu betul bahwa tidak mudah bagimu untuk menjadi kuat, menjadi orang tua tunggal untuk Erland. Kamu yang manja dan selalu tergantung pada Julio, harus berusaha mandiri demi Erland. kamu yang tidak tahu apa-apa dengan dunia luar, kini harus dipaksa untuk berani terjun kesana. Aku sakit memikirkan bagaimana rasamu, Kay. Bagaimana kalau aku sendiri yang mengalaminya, belum pasti aku kuat. Kay, ingin sekali aku menggantikan bebanmu, mengambil alih semua kepahitan atas rasa tanggung jawabmu yang harus kau pikul sendiri. Namun aku takut kamu tersinggung. Aku takut kamu mengira aku hanya berbelas kasihan padamu, padahal rasa cinta ini tulus, Kay. Aku ingin seberuntung Julio, memiliki perempuan hebat sepertimu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN