Embun selalu memberikan kesejukan di setiap pagi, mengawali hari setelah sepanjang malam telah dikuasi rembulan. Hari dimana semua mulai beraktifitas, melakukan serangkaian tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Hari-hari Kayana masih sama seperti sebelumnya. Namun perasaannya sudah jauh lebih baik. Memang ia masih sering menangis tetapi masih bisa ia kendalikan ketika tengah menemani Erland, anak laki-lakinya yang baru berusia enam tahun. Ia memilih untuk menjaga perasaan dan mental putranya lebih penting ketimbang harus terus menerus menangisi keadaan.
Kayana tengah menyiram tanaman di samping halaman ketika Erland keluar dari pintu rumah dan memanggilnya. Ceria sekali anak kecil itu dengan memakai kaos dan celana setelan bergambar cars warna merah. Lesung pipinya membuat ia menggemaskan sekali. Ia berlari setelah mengetahui mamanya.
“Mama… Erland sudah mandi lho, Ma,” ucapnya seraya memeluk Kayana dari belakang.
“Wah… iyakah? Coba Mama cium sini wanginya kayak apa?” Kayana mulai memposisikan diri berjongkok agar tubuhnya sejajar dengan Erland. Mencium pipi dan menghirup bau rambut lurus milik anak laki lakinya itu. Aroma wangi minyak rambut kesukaan Kayana, yang dulu juga menjadi pujian Julio. “Mama memang pintar pilih aroma wewangian buat kamu, Er. Hm…. Wanginya,” setiap ucapan yang keluar dari mulut Julio masih hafal dan jelas terdengar sampai saat ini. “Hm… wangi, ganteng anak Mama.”
“Anak Papa juga dong, Ma,” jari kecil Erland menyentil lembut hidung mamanya.
“Iya dong, jagoan mama papa, anak baik, anak pintar, anak ganteng,” puji Kayana.
“Udah ganteng kayak papa?” Erland tersenyum seraya memasukkan kedua tangan ke saku celananya, hal itu yang sering juga dilakukan Julio. Tanpa sadar, banyak sekali sifat dan tabiat Erland yang sama persis seperti papanya.
“Udah, malah lebih ganteng deh!”
“Ah… Erland mau seganteng papa aja, nggak mau lebih-lebih.”
“Ha ha ha … iya deh iya, anak ganteng kayak Papa. Besok Erland pasti jadi orang hebat kayak Papa.”
“Orang hebat itu yang gimana sih, Ma?”
Kayana menghela nafas panjang, menengadahkan wajahnya ke atas, matanya memerah hampir meneteskan air mata. Ia tahan dalam-dalam, menyiapkan jawaban yang tepat untuk Erland tanpa harus menangis. Sambil membayangkan dan mengingat hal-hal baik yang ada pada Julio.
“Orang hebat itu yang selalu sayang sama keluarganya, yang baik dan bertanggung jawab kayak Papa.”
“Erland juga selalu sayang sama semuanya, sama mama, papa, oma juga.”
“Iya, Erland pinter kok. Kayak Papa, kan? Papa akan selalu sayang sama Erland dan mama meskipun papa sudah nggak disini. Tapi papa pasti lihat Erland dari sana, makanya Erland harus jadi anak yang hebat.”
“Tapi Erland kadang sedih banget, Ma.”
“Sedih kenapa? Erland nggak boleh sedih. Kemarin Erland bilang sama mama kalau mama nggak boleh sedih kan? Biar papa juga nggak sedih.”
“Erland sedih kalau kangen sama papa, apalagi kalau lihat teman-teman sama mama papanya.”
“Erland sayang, anak kuatnya papa. Papa memang sudah nggak bisa terus nemenin kita tapi papa selalu di hati Erland dan mama,” Kayana memegang d**a Erland, “disini, nak. Di hati Erland selamanya. Erland kangen sekarang sama papa?”
Erland menggangguk, sesegera mungkin tubuh mungil itu ia peluk, erat sekali. Ada hujan tangis yang memaksa keluar dari sumbernya, namun sekuat tenaga ia tahan sebisa mungkin. Memeluk Erland adalah hal ternyaman untuk saat ini. Menjadi pengganti dekapan Julio, terasa tenang dan damai.
“Hari ini kita ke rumah papa yuk, nanti Erland sampaikan kangennya sama papa.”
“Beneran, Ma?”
“Iya, sekarang siap-siap dulu ya!”
Kayana melepaskan dekapannya, mengecup kening anak laki-laki hebat itu dan tersenyum manis sekali. Ia menarik napas panjang dan ia hembuskan berkali-kali, berharap perasaannya akan sedikit tenang. Baru ingin bergegas masuk, sebuah mobil Accord putih memasuki halaman rumah Kayana. Sepertinya Erland sudah begitu hafal dengan pemilik mobil itu.
“Ma, itu mobil Om Dion kan? Yeeey… Om Dion datang!” Erland berteriak sambil meloncat-loncat kegirangan. Dan benar juga dari balik pintu yang dibuka, laki-laki berpakaian rapi dengan kemeja denim dan celana warna cream keluar dari mobil. Rambutnya yang selalu tampak fresh dengan minyak rambut ditambah dengan cara bersisirannya yang begitu rapi. Kulit sawo matang dan tingginya tidak jauh dari Julio. Mereka memang ada sedikit kemiripan meskipun hanya saudara sepupu.
“Om Dion… “ panggilnya lagi dan berlari menghampiri Dion, yang disana sigap menangkap. Dipeluk, digendong dan diciuminya. “Erland kangen sama Om.”
“Om juga kangen banget sama Erland, kok sama sih?” Dion masih enggan melepas pelukannya, damai sekali merasakan pelukan dari anak kecil ini. Serasa sedang bertemu dengan almarhum sepupunya. Erland memang anak yang lucu, anak yang tidak mudah dekat dengan orang asing namun sangat periang jika sudah bertemu dengan orang-orang terdekatnya. Bagi Dion, Erland adalah satu-satunya obat saat ia teringat dengan Julio.
“Om kenapa lama nggak kesini, sih?”
“Maaf ya, Er. Om pulang malam terus soalnya jadi nggak sempat main ke rumah Erland.”
“Pasien Om banyak ya, apa pasiennya nakal-nakal?”
“Ha ha ha, tuh Erland pinter banget. Jadi pasien Om lagi minta di temenin terus, nah ini sekarang Om lagi minta cuti makanya Om mau main sama Erland.”
“Beneran Om? Seharian om mau main?”
“Iya, serius deh.”’
“Tapi Erland mau pergi sama mama,” anak lucu itu lalu melihat mamanya yang sedari tadi hanya senyum-senyum sendiri memperhatikan mereka saling melepas rindu.
“Oh, Erland mau pergi kemana?”
“Ke rumah papa, Erland kangen sama papa, Om.”
“Wah, mau ke rumah papa ya? Om boleh ikut?”
“Om mau ikut? Boleh ayo, Om!”
“Oke, kalau gitu Erland siap-siap dulu ya! Om mau bicara sama mama dulu.”
Erland berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil omanya. Dia terlihat sangat ceria sekali. Erland yang masih begitu kecil namun ujian yang tengah ia alami sudah cukup berat, kehilangan sosok ayah dengan mendadak memang menyakitkan. Ditambah kondisi mamanya yang sempat down menerima kenyataan pahit ini. Tetapi karena Erland, Kayana bisa kembali bangkit dan mulai metata hidupnya. Anak kecil lucu itu adalah satu-satunya alasan bagi Kayana.
“Kay, kamu masih sering nangis?” Dion mendekati Kayana yang tengah membereskan selang dan kran, terlihat telapak tangannya mengusap pipi yang basah. Namun perempuan itu mengelak, menggelengkan kepala dan mencoba memberikan senyum terbaiknya, “Jangan bohong, Kay. Matamu masih kelihatan sembab dan lelah banget.”
Kayana, kulit putihnya dengan rambut seleher yang dicat warna sedikit kecokelatan membuat ia terlihat selalu fresh. Namun mungkin akhir-akhir ini ia tak lagi peduli dengan penampilannya. Lingkar mata yang tampak sedikit hitam dari sebelumnya menandakan betapa lelah ia dalam memikirkan hidupnya.
“Aku sudah lebih baik dan jarang banget nangis kok, Mas.”
“Bohong, isyarat matamu sudah sangat meyakinkan aku Kay. Kamu harus kuat demi Erland. Jangan perlihatkan wajah sedihmu. Kuat, kamu pasti bisa.”
“Tiap malam aku masih susah untuk tidur, Mas. Mas Julio tiap malam datang di mimpiku dan itu yang bikin aku takut untuk bangun. Tiap pagi aku selalu kecewa, Mas. Ternyata pertemuan itu cuma mimpi.”
“Sabar ya, ada masanya nanti kamu bakalan bahagia lagi. Kita semua ada buat kamu, Kay.”
“Makasih banyak, Mas. Mas Dion sudah banyak banget bantu aku, sudah bantu jaga Erland dan buat dia seneng. Oh iya, Mas Dion beneran mau ikut ke makam?”
“Sama-sama, Kay. Udahlah, harus berapa kali kamu bilang terimakasih sama aku. Nggak usah ngerasa gimana-gimana Kay. Iya, aku anter kalian pakai mobilku aja ya!”
“Nggak usah, Mas. Kita bawa mobil sendiri-sendiri aja. Takut nanti Mas ada acara.”
“Aku kan tadi sudah bilang, aku ambil cuti beberapa hari ke depan, Kay. Santai kok, lagian aku tadi sudah janji mau ajak main Erland.”
“Baiklah, aku siap-siap dulu ya. Biar bibi buatin minum sambil nunggu kami siap.”
Dion berjalan di belakang menyusul Kayana masuk rumah, rumah yang Julio dapat dengan jerih payahnya. Rumah yang begitu penuh dengan kenangan.
***
Suasana makam memang selalu berhasil membuat hati menjadi pilu. Ngilu terasa sampai ke ulu hati, membayangkan bagaimana keadaan orang-orang terkasih di dalam sana. Kepergian seseorang yang berperan dalam hidup sudah tentu merubah segalanya. Namun menyesali keadaan dan menyalahkan takdir tidak akan bisa mengembalikan keadaaan seperti sebelumnya. Sebab hidup harus tetap berjalan ada ataupun tidak ada kehadirannya. Susah atau mudah dalam melewatinya itu memang harus dihadapi.
Langkah kaki bergerak mendekati sebuah nisan marmer hitam bertuliskan “Julio Digda Sasongko”, sebuah tanda keabadian cinta yang ia bawa. Cinta tulus untuk orang-orang yang rela ia tinggalkan.
Anak laki-laki yang entah bagaimana dia memaknai sebuah kepergian, terlihat tengah mengusap-usap nisan itu. Mengucapkan salam dan mulai bercerita.
“Papa, Erland kangen Papa. Semalam Erland mimpi beli es krim sama Papa. Enak banget rasanya, Pa. Pa… kata mama, mama mau kerja. Erland boleh kok kalau mama kerja, kan ada oma sama bibi. Nanti Erland kalau ditinggal kerja nggak nakal kok. Sekarang mama juga sudah nggak sedih-sedih lagi, mama seneng main-main sama Erland. Oh iya, ada Om Dion lho Pa. Om Dion hari ini mau main seharian sama Erland. Papa… Erland doain Papa terus, kata mama biar Papa boboknya nyenyak. Erland sayang sama Papa.”
Erland terlihat begitu senang bercerita, Kayana dan Dion hanya bisa diam menahan sesak di d**a. Pipi perempuan itu mulai basah, hidungnya pun mulai susah untuk bernafas. Erland selalu menjadi alasan utama bagaimana hatinya berkecamuk. Karena Erland, Kayana bisa dengan mudah menangis, entah karena bahagia, sedih ataupun sakit karena paham bagaimana yang anak lelakinya itu rasakan. Erland pula yang bisa membuatnya tersenyum, bahagia, kuat dan semangat. Itu semua hanya karena Erland.
“Mas, aku datang. Tidak ada yang beda dari hari-hariku sebelumnya, Mas. Rasaku masih sama, rinduku, perasaanku, pertanyaanku dan sakitku kehilangan kamu. Tapi kali ini sudah lebih baik untukku menerima kenyataan. Karena Erland begitu luar biasa menjadi alasanku untuk mampu berdiri. Anakmu ini sangat hebat, Mas… dia tidak pernah membuatku menangis karena kerewelannya, tidak seperti waktu ada kamu dulu. Sejak kamu pergi, dia menjadi anak yang mandiri, yang kuat dan tegar. Dia bilang dia ingin jadi orang hebat seperti kamu, makanya dia sekarang sangat berbeda dari dulu. Hebat ya anak kita, Mas. Mas, temani hatiku selalu agar aku tidak sering kesepian, ya. Terimakasih sudah selalu datang meski dalam mimpi. Meskipun setiap pagi aku harus meratapi kepergianmu dan hanya bisa kupeluk bayang-bayangmu, Mas.”
“Julio, ini aku Dion. Jangan khawatir ya, Kayana dan Erland baik-baik saja disini. Aku ingat pesan kamu dan bakalan aku buktikan ke kamu, mereka akan aku jaga semampuku. Sekarang tidak ada lagi cerita-cerita indah yang kudengar tentang keluargamu, Jul. Cerita kebersamaan kalian harus berakhir. Sekarang dan nanti aku yang akan menceritakan kehidupan Kayana dan Erland padamu. Istirahatlah disana, Jul! Kami semua rindu padamu.”
Bagaimana hati tidak tergetar mendengar ucapan Erland yang seakan-akan bercerita kepada Papanya yang masih hidup? Erland memang belum sepenuhnya paham dengan keadaan ini. Pergi kemana, apa yang dilakukan atau dengan siapa. Anak sekecil itu masih belum paham makna meninggal dunia. Yang ia tahu papanya tengah tidur nyenyak disana, tidur yang tidak akan bisa terbangun.
***