Sejak kejadian Erland sakit, Kayana terlihat begitu stabil menata hati dan hidupnya. Tiada saat-saat yang ia lewatkan tanpa Erland. Dia tidak mau lagi membuat anak laki-lakinya kehilangan kasih sayangnya. Erland sudah cukup sakit kehilangan papanya, tidak adil jika Kayana juga harus mengabaikannya. Meskipun belum banyak yang bisa dia lakukan selain melakukan aktifitasnya di rumah sambari menjaga Erland. Belum ada juga ide yang muncul untuk menambah pemasukan keluarga.
Sebenarnya tabungan peninggalan Julio bisa dibilang cukup untuk keperluannya dan Erland beberapa tahun ke depan. Namun jika hanya mengandalkan tabungan lama-lama juga pasti habis. Mungkin jika harus melamar kerja di kantor-kantor luar sana bisa dia lakukan dengan ijazah S1 yang dia miliki. Tapi pengalamannya sangatlah minim, mengingat dulu baru sebentar dia bekerja sebelum menikah. Dan itupun sudah sangat lama.
Kayana juga mulai kasihan dengan pengasuh Erland, karena semenjak Julio tidak ada gaji yang dia dapat darinya menjadi berkurang. Kali ini dia bermaksud untuk membebaskan pengasuhnya, dia takut akan mengurangi hak yang semestinya dia dapat. Berat tentunya bagi Kayana, karena keberadaan pengasuh sangat-sangat dia butuhkan. Tetapi karena keterbatasannya menjadikan semuanya harus dia pilih.
Kayana, Erland, Ibu Anandita dan pengasuhnya sengaja berkumpul di ruang tamu. Itu Kayana lakukan agar semuanya tahu maksudnya.
“Bibi… saya mau bicara meskipun ini berat buat saya. Bi… terimakasih ya selama ini sudah banyak membantu saya dan Mas Julio, sudah menemani kami dari Erland masih bayi. Semua yang Bibi lakukan, semua perjuangan Bibi di keluarga saya sangat banyak. Tapi keadaannya sekarang sudah lain, Bi. Mas Julio sudah nggak ada sekarang, satu-satunya tulang punggung dan penopang keluarga. Saya sudah nggak sanggup membayar Bibi sama seperti waktu Mas Julio ada. Saya takut merampas hak Bibi dengan mengurangi gaji Bibi hampir 4 bulanan ini. Karena itu, sekarang saya bebaskan Bibi kalau Bibi mau pindah tempat kerja. Tetapi jangan putus silaturahmi kita ya, Bi.”
“Ya Tuhan, Bu Kay… tidak ada niatan saya untuk pindah dari keluarga ini. Almarhum bapak dan Ibu sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Dulu sewaktu saya kebingungan dan pasrah cari pekerjaan, cuma bapak yang kasih saya tempat, Bu. Saya nggak pernah merasa dirampas haknya. Saya sudah sangat jatuh cinta sama Erland, Bu. Saya juga sangat berhutang budi dengan keluarga ini. Saat ini Bu Kay sedang dalam masa berkabung, sangat tidak pantas kalau saya pergi, Bu. Jangan berpikir tentang gaji, saya ikhlas.”
“Bibi… baik sekali kamu. Bi. Tidak salah dulu Mas Julio mengajak kesini. Terima kasih ya, Bi. Tapi saya nggak mau memaksa Bibi untuk mengerti keadaan saya. Saya nggak mau hanya karena kasihan dengan saya, Bibi jadi mengorbankan kehidupan Bibi.”
“Sama sekali nggak, Bu. Keluarga ini sudah sangat baik sama saya. Bu Kay, Bu Anandita dan tentunya Erland adalah orang-orang baik. Sudah sepantasnya saya balas kebaikan keluarga ini.”
“Iya Mama... Erland juga nggak mau kalau Bibi pindah dari sini. Erland sudah biasa sama Bibi, Ma.”
“Erland anak baik… Erland sayang nggak akan pisah sama Bibi. Bibi disini temani Erland, tentunya kalau Mama dan Oma nggak keberatan.”
“Ya Tuhan…. Bibi terima kasih, kami senang dengan ketulusan Bibi. Doakan saya ya, Bi. Semoga ada jalan untuk keluarga ini, ada jalan rejeki untuk kita.”
“Aamiin, Bu. Tuhan pasti beri jalan terbaik untuk orang-orang baik di keluraga ini. Terima kasih sudah mengijinkan saya tetap jadi pengasuh Erland. Akan saya jaga semampunya, Bu.”
Mereka saling memeluk, menangis dengan kelegaan. Bibi memang sudah lama bekerja di kelurga Julio. Dari masalalu bibi yang di usir dari majikannya dulu dan waktu itu Julio yang mendapati bibi tengah jalan kaki padahal sudah malam sekali.
Ternyata kebaikan yang dilakukannya dulu berbalas baik di masa kini dan masa depan. Bersyukur sekali bagi Kayana yang telah dikelilingi orang-orang baik. Orang-orang yang siap membantunya saat masa terpuruk. Entah apa jadinya jika orang-orang tidak mendukungnya.
***
Kayana meraih ponsel yang berdering di atas meja, Mas Dion memanggil.
“Iya, halo Mas.”
“Kay… sibuk?”
“Nggak sih, Mas. Gimana?”
“Tadi aku di telepon sama Ardi, katanya kamu masukin CV ke kantornya, bener?”
“Iya, Mas. Kenapa?”
“Kamu sudah tahu sistem kerjanya gimana, 6 hari kerja lho, Kay.”
“Iya sih, Mas. Aku dah bayangin sibuknya dan tentang target kerjanya.”
“Bukannya apa-apa, Kay. Aku cuma mikirin gimana kamu bagi waktu buat Erland, lagian kantornya juga cukup jauh lho. Kamu dah siap kalau tiap hari nggak ketemu sama Erland?”
“Mau gimana lagi, Mas? Aku butuh kerja, aku nggak bisa juga kan berdiam diri di rumah terus. Aku harus mulai memikirkan masa depan Erland kan, Mas? Biaya sekolahnya juga harus aku pikirkan.”
“Aku tahu, Kay. Tapi Erland masih sangat dini kalau kamu tinggal sampai seharian gitu.”
“Tapi selain cari kerja aku belum ada ide usaha, Mas. Sebenarnya berat buat aku, tapi nggak ada jalan lain.”
“Kay… coba kamu sabar dulu, deh. Setidaknya tunggu satu atau dua tahun lagi kalau mau mutusin buat cari kerja. Aku nggak tega lihat Erland kurang waktu main sama kamu, nggak baik buat perkembangan anak. Masalah biaya hidup, nanti aku bisa bantu.”
“Mas Dion jangan repot-repot gitu, aku nggak mau banyak tergantung sama orang lain lagi, Mas. Perlakuan Mas Julio dulu sudah cukup bikin aku sadar kalau seharusnya aku bisa jadi perempuan mandiri.”
“Iya… aku tahu dan bukan maksud aku mau memperlakukanmu sama seperti yang Julio lakukan. Aku tulus membantu, setidaknya sampai keadaan dan kondisi kamu lebih siap buat kerja. Tapi tolong pikirkan baik-baik, Kay. Sabar dulu sampai Erland benar-benar siap untuk kamu tinggal kerja.”
“Terus aku mau ngapain selama satu dua tahun nanti, Mas?”
“Pasti ada jalan, Kay. Kita pikirkan sama-sama. Coba deh kamu browsing di internet, cari peluang usaha yang kira-kira cocok dengan passion kamu. Usaha rumahan kecil-kecilan gitu misalnya. Yang bisa kamu lakukan dengan santai sambil jagain Erland dan yang bisa nambah penghasilan kamu.”
“Hm…. Boleh dicoba kayaknya, Mas. Tapi nanti kalau aku dapat panggilan interview di kantor Mas Ardi gimana? Kan nggak enak kalau dibatalin, Mas.”
“Urusan Ardi itu biar aku yang bilang, tadi kita sebenarnya sudah ngobrol banyak tentang kamu. Yang jelas kamu nggak usah khawatir. Aku, Julio dan Ardi itu sahabat baik, Kay. Kami juga memikirkan hal yang terbaik buat masa depan istri dan anak Julio.”
“Ya Tuhan… segitu baiknya kalian sama aku dan Erland, Mas. Sampaikan permintaan maafku pada Mas Ardi ya, Mas. Baiklah… nanti aku browsing, semoga aku dapat ide ya. Makasih ya, Mas.”
“Sama-sama, Kay… itu kami lakukan karena Julio juga sudah sangat baik sama kami selama bareng-bareng dulu. Oh iya… salam buat Erland dan Tante, ya.”’
“Iya nanti aku sampaikan, Mas. Kemarin juga Erland nanyain, kok Om Dion lama nggak kesini.”
“Iya ya… sudah semingguan aku nggak main ke rumah, lusa mungkin aku kesitu. Bilangin ke Erland ya, Kay. Ya udah segitu dulu ya.”
“Oke, Mas. Makasih ya.”
Telepon terputus dan Kayana mulai sedikit lega setelah mendapat saran dari Dion.
***