Dimanakah akhir dari sebuah rasa sakit karena kehilangan? Pada keterpurukan ataukah keikhlasan? Mustahil jika kita mudah mengucah kata ikhlas, sedangkan hati belum sanggup menerima kenyataan. Saat ini Kayana sedang dalam fase terpuruk, jatuh dan belum berani untuk bangun.
Bagaimana satu kakinya mampu melangkah dan menjadi penopang jika kaki yang lain cedera. Bagaimana sayapnya akan terbang jika satu sayapnya patah? Hanya waktu yang mampu menjawab.
Dalam sebuah kamar berukuran 5 x 6, dengan dua sisi tembok berwarna cream dan sisi-sisi lainya berwallpaper senada, dua bulan sudah Kayana menghabiskan waktunya disana. Tanpa melakukan apapun. Banyak orang-orang terdekat yang menemani dan memberi suport untuknya. Orang tua, anaknya, saudara, sahabat-sabatnya bahkan tetangga masih sering datang ke rumah untuk memastikan keadaan Kayana.
Semua orang terdekatnya merasa sangat prihatin dan ikut bersedih dengan keadaan Kayana. Ibu satu anak yang biasanya sangat periang, banyak bicara dan antusias jika ada yang datang ke rumahnya, kini berubah menjadi pemurung, sering tidak fokus dan pandangannya kosong.
Apa yang terjadi pada Kayana berdampak pula dengan Erland anaknya, dia sudah dua hari demam. Tapi Kayana masih saja belum sadar bahwa Erland juga butuh ia dampingi. Akhirnya Ibu mengajak bicara dari hati ke hati dengannya. Ibu Anandita memeluk erat tubuh anaknya yang mulai begitu kurus dan mengusap-usap punggungnya.
“Kayana anakku, Mama paham dan ikut pilu dengan beban hidup yang kamu rasakan saat ini. Mama sangat paham sakitnya kehilangan Julio, karena Mama juga pernah merasakan waktu Papa pergi lebih dulu. Memang nggak mudah jadi kamu, Kay. Berat tentunya. Tapi hidup harus tetap berjalan, apalagi Erland yang sangat lucu membutuhkan kamu. Sudah cukup lama kamu berdiam diri meratapi rasa kehilanganmu, nak. Bangkit, ya… pelan-pelan. Kasihan tubuhmu sekarang kurus. Mama sedih, bingung bagaimana caranya supaya bisa membuat kamu lebih kuat, Kay. Mama sayang kamu, Erland juga sangat rindu sama kamu.”
Tidak ada ucapan satu katapun dari mulut Kayana, cukup tangisnya yang deras sudah mewakili semua perasaanya untuk merespon ibu, “Kay… kita lihat Erland ke kamar, ya. Erland sakit, dua hari ini demam dan dia nggak mau makan. Erland bilang pengen kamu yang nyuapin, Mama minta tolong, Kay… sekali ini saja, kasihan Erland, Nak.” Kayana hanya mampu menatap dalam-dalam wajah Mamanya dan mengangguk.
Dengan lemas Kayana menghampiri Erland ke kamarnya, ada rasa bersalah sudah mengabaikannya selama ini. Tangis Kayana semakin deras saat melihat Erland terbaring dengan dahi yang diberi kompres, di samping ranjang ada Dion dan pengasuhnya. Dion adalah saudara sepupu almarhum suaminya yang berprofesi menjadi dokter. Dia juga yang selama dua hari ini memantau dan merawat Erland.
“Mama….” Teriak Erland, Kayana lalu memeluk anak semata wayangnya itu, “Maafin Mama ya, Er. Nggak seharusnya Mama begini, karena Mama kamu jadi sakit, Nak.”
“Erland sudah sembuh kok, Ma. Mama jangan sedih lagi ya, nanti Papa disana ikut sedih.”
Pecah tangisan semua orang yang berada di kamar Erland. Pelukan Kayana semakin erat. Dia benar-benar sadar, ada yang harus dia jaga dan perjuangkan daripada hanya larut dalam kesedihan.
“Iya, sayang… Mama sudah nggak sedih lagi, kok. Biar Erland juga cepat sehat dan Papa juga bahagia disana, ya. Erland anak baik, anak kesayangan Mama. Yang bikin Mama kuat, makasih ya… karena Erland sudah bikin Mama tersenyum,” Erland mengangguk dan terlihat begitu mengerti keadaan.
Kayana lalu melihat Dion dan tersenyum ,”Mas Dion… aku mau bicara.”
Mereka kemudian keluar kamar dan duduk di ruang tamu. Lagi-lagi air matanya menetes melihat bingkai foto keluarganya yang terpasang di dinding. Dan hanya mampu ia lihat, tanpa ia rasakan kehadirannya.
“Secepat itu ya Mas, perpisahanku dengan Mas Julio terjadi. Rasanya baru kemarin kita menikah dan baru hangat-hangatnya merasakan hidup berumah tangga. Entah bagaimana hidupku selanjutnya tanpa dia, Mas.”
“Iya, Kay… aku juga merasakan kehilangan yang sangat sakit. Apalagi aku dan Julio sangat dekat meskipun dia bukan saudara kandungku. Dia orang baik, Kay. Aku yakin Tuhan pasti memberikan tempat yang indah disana.”
“Aamiin… iya, Mas Julio laki-laki yang sangat baik, satu-satunya laki-laki yang mengganggapku paling istimewa dihidupnya. Yang selalu menyuguhkan apapun kebutuhanku, Mas. Dan sekarang dia nggak ada lagi, aku sama sekali nggak punya ide apapun ke depan. Aku nggak tahu harus melakukan apa, kerja apa. Aku belum bisa memikirkan itu, Mas.”
“Pelan-pelan ya, Kay. Tuhan pasti kasih kamu jalan, dengan ujian yang Tuhan beri pasti megajarkanmu menjadi kuat. Asal kamu yakin bahwa kamu pasti mampu melewati ini semua. Lihat Erland dan Mama kamu yang butuh kamu, Kay. Kamu harus semangat, buat Julio bangga punya istri hebat seperti kamu, Kay.”
“Hebat… apanya yang hebat, Mas? Aku bahkan tidak punya keterampilan apa-apa.”
“Nanti pasti ada masanya, Kay. Sekarang yang terpenting, kamu harus bangkit melihat ke depan. Aku paham pasti sulit, nggak semua orang diberi ujian seperti kamu, Kay. Dan kenapa Tuhan memilih kamu karena kamu orang yang dianggap mampu. Ketika kamu ngerasa sedih, sakit dan kangen sama Julio… coba kamu lihat Erland. Dia sudah cukup mampu mengobati semuanya, wajahnya, senyumnya dan perhatiannya. Apa yang kita rindukan dari Julio semua ada pada diri Erland, Kay. Dia anak yang tegar, kuat dan Tuhan menganugerahi dia pemahaman tentang keadaan dia sekarang.”
“Ya Tuhan maafin aku… aku sudah banyak salah sama Erland, Mas. Sudah terlalu lama aku tidak memperhatikannya. Aku terlalu sibuk dengan perasaanku, aku egois Mas.”
“Kamu nggak salah, Kay. Aku paham bagaimana rasanya. Semua memang butuh waktu dan sekarang waktunya kamu mulai menata hidupmu lagi. Perpisahan dan pertemuan itu sudah pasti, mau cepat atau lambat semua orang pasti merasakannya. Aku akan ada buat kalian, Kay. Karena aku sudah janji pada Julio dan diriku sendiri bahwa sebisanya aku akan selalu ada saat kalian butuhkan.”
“Terimakasih, Mas. Tuhan begitu baik mempertemukan orang-orang yang peduli sama aku.”
“Itu juga karena Julio orang baik, Kay. Banyak teman-teman Julio yang menitipkan salam juga doa untuk kalian. Hampir setiap hari aku selalu mendapat pesan w******p dari mereka, semua menanyakan keadaan kamu dan Erland, Kay.”
“Baik, Mas. Aku akan mulai menata kembali hidupku demi Erland. Masa depan Erland masih panjang dan harus aku upayakan yang terbaik. Bantu aku ya, Mas… doakan aku agar aku mampu melewati ini semua. Karena aku merasa menjadi bayi yang baru lahir, tidak bisa apa-apa dan tidak tahu apa-apa.”
“Sebisanya, Kay… aku siap membantu. Sekarang fokus ke kesembuhan Erland dulu ya, baru nanti memikirkan apa rencana berikutnya. Perhatian dan bahagiamu kunci obat untuk dia saat ini, bukan yang lain. Karena dari kemarin hanya aku kasih vitamin dan penurun panas saja. Kay, aku pamit dulu ya. Aku harus ke rumah sakit ada jadwal poli siang. Nanti jangan sungkan telepon kalau ada apa-apa.”
Kayana hanya mengganguk, dia semakin sadar ternyata begitu banyak orang-orang yang peduli padanya. Mendadak ia merasakan ada energi positif yang membuatnya harus benar-benar bangkit demi Erland. Tidak seharusnya ia berlama-lama larut dalam kesedihan. Lukanya memang tidak mudah disembuhkan dan hanya dirinya sendiri yang tahu obatnya.
***