10

1979 Kata
“Nggak ada yang ketinggalan kan, Kay?” Riyu mulai menghidupkan mobilnya, bersiap untuk jalan. Hari ini rencananya ia dan Kayana ingin berangkat ke rengganis, suplier bunga. Seperti ucapannya tempo hari, ia akan siaga menemani Kayana kemana pun. “Kayaknya nggak ada deh,” ucap Kayana menggeleng. Make up tipis, rambut terurai, dress denim selutut dan sepatu flat menjadi style andalan Kayana, begitu feminine. Berbeda dengan Riyu, memakai celana jeans dan blouse lengan pendek dan sepatu kets senada dengan blousenya. “Ada yang kamu pikirin lagi, Kay?” Riyu menatap Kayana yang duduk di samping kemudi, wajahnya yang kelihatan tidak sedang santai dan sesekali mengusap keningnya. Pasti ada sesuatu yang tidak biasa, duganya. “Ada, Ri tapi bingung mulai ceritanya mau dari mana dulu ya?” “Kenapa sih? Mulai dari yang dekat dulu lah, Kay. He he he… jangan tiba-tiba dari jepang ceritanya, ntar belum-belum udah capek duluan.” Riyu terbahak menatap Kayana. “Mulai deh ngelawaknya, serius ni Ri,” memanyunkan bibir karena ulah Riyu. Yang ngelawak pun terkekeh namun tetap fokus pada kemudinya. “Iya ya deh… sok atuh nyoyah ceritanya, pelan-pelan, satu-satu, dua-dua juga sayang ayah,” lanjutnya ngelawak, ia sempatkan melirik Kayana yang masih manyun, “diiih.. masih manyun aja nyah? Kenapa, kenapa Kay? Iya, udah serius banget ini dengerinnya.” “Aku jadi bingung gimana baiknya aku bersikap sama Mas Dion, Ri. Pikiranku jadi kemana-mana, jadi serba salah.” “Emang kenapa sama dia? Dia ngomong apa ke kamu atau dia melakukan hal-hal yang aneh sama kamu?” “Enggak ada Ri, masih sama kayak yang aku bilang kemarin. Cuma masalahnya banyak orang yang mengartikan lain dari kedekatan kami.” “Maksudnya gimana sih, aku makin nggak ngerti deh?” Riyu semakin penasaran, laju mobil menjadi diperlambat. “Kemarin ada emak-emak lagi ngomongin aku pas aku lagi main di taman sama Erland,” Kayana membenahi posisi duduknya, sedikit serong ke arah Riyu. “Ngomong gimana? Kamu kalau nggak dengar langsung jangan gampang percaya, Kay!” “Ya aku denger langsung lah Ri, jadi aku nguping pas mereka lagi ngobrol. Jadi ini langsung ke telingaku.” “Serius? Wah… emak-emak kurang uang belanja dari suaminya deh tuh kayaknya. Terus… terus gimana?” “Gimana aku nggak kesel Ri, telinga langsung panas, kepalaku juga langsung sakit tahu nggak? Rasanya pengen teriak di depan mereka langsung.” “Ya Tuhan Kay, emang ngomong apa sih tuh emak?” “Mereka heran katanya lihat kedekatan aku sama Mas Dion, bilang kalau aku udah terlalu cepat cari pengganti, gampang cepat move on padahal kuburan Mas Julio masih merah, bilang kalau aku jadi istri terlalu manja, apa-apa seenaknya tinggal minta, dan yang lebih parahnya lagi Ri, mereka bilang mana mungkin nggak tergoda sama dokter muda ganteng. Parah banget kan? Aku jadi ngerasa jelek banget di mata orang-orang, Ri.” “Gila tuh orang seenaknya aja kalau ngomong, kalau aku nih yang di omongin udah pasti tak kasih pelajaran tuh. Terus kamu diem aja gitu?” “Ya diem lah Ri, emang mau di apain? Tapi akhirnya mereka tahu kalau aku nguping.” “Terus reaksinya?” “Yang mereka kelihatan malu banget lah pas tahu aku muncul dari belakang mereka, langsung pada diem kaget gitu lihat aku, entah gimana setelah itu aku nggak tahu.” “Hiiih… jadi gemes aku jadinya. Mereka nggak tahu apa gimana sakitnya kamu sama keadaan ini, gimana susahnya bangkit, gimana rasa cintanya kamu ke Julio. Asal ngomong aja sih tuh emak. Jadi pengen ngajak ngerujak,” Kayana melotot memperhatikan Riyu bicara dengan bersungut-sungut, “Eh maaf, maksudnya pengen aku tampol aja gitu. Mereka jadi perempuan kok pada nggak punya hati sih? Gimana kalau mereka yang berada di posisi kamu?” “Aku jadi serba salah Ri, kok aku kesannya jadi kayak perempuan yang nggak ada harga dirinya ya? Di omongin yang kayak gitu. Aku sama Erland diajak jalan sama dia karena dia sebagai omnya Erland kan? salah?” “Nggak ada yang salah, toh kalau memang nanti tujuan Mas Dion mau nikahin kamu juga nggak salah. Ngeselin sih emang, Cuma kamu nggak usah terpengaruh sama hal-hal receh kayak gitu lah, Kay.” “Iya tapi aku jadi ngerasa kalau sebaiknya aku jaga jarak deh sama dia, Ri. Aku pengen mikir tenang sekarang. Keadaanku saat ini udah bikin aku rumit, di tambah dengan suara-suara sumbang kayak gitu.” “Kay, emang adanya Mas Dion bikin hidup kamu nggak tenang apa gimana sih?” “Bukan, bukan dia. Yang bikin aku nggak tenang tuh omongan mereka, Ri.” “Lah… kok jadi Mas Dion yang kena dampaknya, kalau masalahnya gara-gara emak julid mah udah nggak usah dipikirin, lupakan, abaikan, beres! Lama-lama cara berpikir kamu jadi cupet gini sih, Kay? Aku sih justru mikirnya malah ke Erland sekarang, kamu nggak mikirin gimana dia kalau kalian jaga jarak.” “Iya, tapi apa malah nanti nggak semakin menjadi-jadi omongan mereka tentang aku?” “Ya Tuhan, kenapa jadi masih mikirin mereka aja sih? Udah deh, toh mereka juga nggak mikirin kamu. Ya kalau kamu masih berpikiran kayak gitu ya terserah sih, masa depan kamu Cuma kamu yang berhak pilih, Kay. Mau baik, mau buruk Cuma kamu yang nentuin jalannya. Tapi kalau kamu masih terus aja terpengaruh sama suara sumbang di luaran sana, hidup kamu nggak bakalan bisa maju. Pusing muter aja gimana biar orang-orang menilai kamu baik menurut versi mereka.” “Riyu… kamu nggak paham sih sakitnya aku dikatain kayak gitu.” “Hm… aku ngomong gini karena aku peduli sama kamu, biar kamu juga nggak fokus sama penyakit-penyakit berwujud mamak julid itu. Nggak bakalan ada habisnya kalau terpengaruh sama mereka. Udah deh ah, jangan baperan Cuma gara-gara itu. Fokus, Kay… fokus! Kamu punya target dan tugas yang baru mau dimulai, jangan sampai ini terbengkalai Cuma gara-gara hal yang nggak penting ini. Soal Dion, hm… buka mata kamu deh, baiknya dia nggak ada tandingnya apalagi perlakuannya sama Erland. Jangan disia-siain ntar kamu bisa nyesel lho, Kay.” “Tapi dia udah aku anggap kayak kakak sendiri, Riyu. Ngerti nggak sih?” “Nanti juga kamu bakalan cinta kalau kamu mau kasih ruang buat dia. Kay… berpikir yang realistis, kamu bisa ngerasain kan kedekatan Erland sama Mas Dion. Klik nggak sih? Aku aja merinding lho lihat mereka udah kayak anak sama bapak. Kayak nggak ada batasnya, apalagi Erland bukan tipe anak yang mudah kenal sama orang lain.” “Ah… ngomonginnya kok jadi sampai sini, belum tentu juga dia punya perasaan kayak yang kamu bilang. Dan semoga aja nggak lah, biar kita nyaman kayak gini sebatas saudara aja.” “Susah sih ngasih tahu kamu, kalau masalahnya kamu terlalu cinta sama Julio dan nggak pengen ada pengganti sih aku ngalah ya. Tapi kalau masalahnya kamu Cuma anggap Dion kayak saudara dan nggak punya rasa apa pun, aku sih orang pertama yang paling kecewa, Kay.” “Kok jadi gitu sih, Ri? Kan keduanya itu alasanku semua.” “Jangan langsung punya keputusan kayak gitu ah, aku sih berdoa Kay buat kebaikan kamu, melihat dari cara Dion memperlakukan kamu udah kelihatan banget dia mencintai kamu dengan tulus. Doaku semoga suatu saat nanti kamu juga bakalan punya perasaan yang sama ke dia.” “Mas Dion terlalu perfect buat aku, Ri” “Ahhhh… alasan klasik apalagi sih ini? Udah ah… tuh, bentar lagi kita sampai di lokasi.” Kayana diam, sedangkan Riyu semakin gemas saja dengan sahabatnya yang kurang peka dengan perasaan. Sejurus kemudian, mobil merah Riyu melesat kencang sampai ke tujuan. Terparkir di halaman sebuah suplier bunga. Kayana mengemas handphone ke dalam tas berukuran sedang berwarna biru navy, melepas seatbeld dan membuka pintu. Tak selang berapa detik saja, Riyu menyusul keluar mobil. Melewati anak tangga menuju sebuah pendapa depan yang berukuran cukup besar, di setiap sisi lantai berjejer pot-pot tanaman hias yang cantik. Baru saja melangkah masuk, mereka berdua sudah disapa seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Laki-laki yang mengenakan celana jeans biru navy dan kaos kerah bergaris itu nampak lebih muda dari usianya. Masih enerjik dan berwajah tampan. “Selamat pagi, mba… mba ada yang bisa saya bantu?” sapanya dengan ramah sambil mempersilahkan masuk dengan aba-aba tangannya. “Iya Bapak, jadi kedatangan kami kesini mau survey suplier bunga untuk toko kami,” Kayana mengungkapkan maksud dan tujuannya. “Oh, jadi ini Mba Kayana?” tebak bapak itu, Kayana menoleh pada Riyu heran. Bagaimana dia bisa tahu namanya? “Iya, Pak. Kok bapak bisa ta-“ belum selesai bertanya, sudah dipotong saja oleh bapak yang perawakannya tinggi besar itu. “Oh iya, perkenalkan saya Surya owner dari rengganis, suplier tanaman hias dan bunga,” ia mengulurkan tangan mengajak berjabat. Dua perempuan itu pun menyambut dengan hangat, “jadi kemarin saya di telephone sama Mas Dion, yang katanya hari ini Mba Kayana mau datang untuk survey tempat saya. Mas Dion itu rekan anak saya yang sama-sama tugas di rumah sakit B, jadi saya tahu Mba Kayana dari Mas Dion,”jelasnya sambil tersenyum. “Oh…”’ “Begitu mba, Mba ini pacarnya Mas Dion kan?” Surya tampak yakin sekali dengan pertanyaannya. “Oh bu-“ Kayana menjawab dengan terbata-bata sambil menggeleng, pipinya memerah karena kaget dan malu. “Iya, Pak… calon istri lebih tepatnya,” dengan cepat Riyu menyahut, antusias banget ini orang. “Wah cantik sekali, cocok dengan Mas Dion yang tampan. Mari mari, Mba… kita ngobrol dulu atau mau lihat-lihat koleksi tanaman saya? Silahkan lho jangan sungkan, santai saja.” Kayana masih sedikit kesal dengan Riyu yang asal menjawab, “awas aja kamu Ri, nggak sopan. Yang ditanya siapa, yang jawab siapa. Dasar…” gerutunya dalam hati. “Jadi Mba Kayana ini mau buka florist ya?” “Betul, Pak. Rencananya mau sekalian sama tanaman hiasnya, tapi satu-satu dulu lah. Florist dulu.” “Iya iya iya, bagus itu mba, jadi fokus di floristnya dulu ya. Lalu rencananya mau mulai kapan bukanya?” “Setelah nanti siap tempatnya, ini masih dalam tahap pembangunan kok, Pak. Mohon doanya semoga segera selesai.” “Pasti mba, semoga berjalan lancar dan segera bisa terealisasikan. Semoga cocok dengan kami dan kita bisa kerjasama ya, Mba.” “Iya Pak,” Kayana begitu senang sekali berada disini, di Rengganis. Matanya serasa dimanjakan dengan berbagai tanaman berbunga ini. Sedangkan Riyu sibuk dengan kameranya, mengambil gambar demi gambar bak fotografer profesional. “Mas Dion kemarin juga sangat antusias mba, semangat sekali dia waktu tanya-tanya ke saya tentang rengganis. Harapan dia besar sekali Mba Kayana bisa sukses di florist yang akan Mba buka nanti. Semoga disegerakan ke pelaminannya ya mba, Mas Dion orangnya baik banget.” “aamiin…” Riyu yang pertama mengaminkan dengan keras, Kayana salah tingkah, melirik dengan kesal sahabatnya itu. “Ah, Bapak ini. Memangnya Mas Dion sering kesini ya, Pak?” “Oh enggak, Mba. Jadi Mas Dion baru sekali datang kesini. Awalnya dia Cuma dapat nomor telepon saya dari internet, karena alamatnya kok sama dengan alamat rumah Bara anak saya, akhirnya ngobrol lah mereka. Nggak tahunya rengganis ini milik bapaknya Bara, yaitu saya sendiri,” jelasnya dengan senyum, yang dijelaskan juga tampak mengerti sambil mengangguk-angguk. Dunia memang sempit. “Wah, bisa kebetulan gitu ya Pak?” “Betul mba, oh iya silahkan muter-muter dulu. Saya ke dalam sebentar. Nanti ngobrol lagi, saya tunggu di pendapa sana ya, Mba.” “Oh ya, baik pak. Makasih banyak lho, Pak!” “Sama-sama, Mba. Semoga suka di Rengganis ya!” Mereka saling mengangguk dan mempersilahkan. Surya lantas undur diri, beranjak meninggalkan tamunya. Kayana melanjutkan langkahnya, menghampiri Riyu yang ternyata sudah terlalu asyik dengan kameranya, potret sana potret sini. Berjalan cepat dan segera merangkul pundak Riyu dari belakang, mencubit kecil pipi sahabatnya,”Riyuuuuuu… ngeselin banget sih! Jawab pertanyaan orang sembarangan. Lama-lama ngeselin juga kamu ya! Awas aja…” “Ampun nyonyah ampun, lain kali lebih cepat dan tepat lagi deh jawabnya, biar makin diijabah sama Tuhan, “ jeritnya sambil mengusap-usap pipi dan terkekeh untuk yang kesekian kalinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN