11

1686 Kata
Drrrtt… drrrtt… Handphone Dion berbunyi, ada pesan masuk dari Kayana. (Mas, aku tadi udah habis survei ke Rengganis. Dan kita deal kerjasama, thanks ya udah bantu cari suplier) (Syukur lah, Kay. Iya sama sama) send Kayana. Dion menghela nafas lega, teringat kemarin sebelum datang ke rengganis. “Bar… lo tahu alamat ini nggak?” Dion menyodorkan handphonenya yang tengah tertera situs alamat dalam website yang ia buka tadi pada Bara, rekan sejawatnya. Mereka sedang berada di kantin rumah sakit pada jam istirahat berlangsung. Tentunya setelah jadwal polinya selesai, mengisi perut sebelum visite berlangsung setelah ini. Barra tidak segera menjawab, memilih menyelesaikan makannya. Merasa diabaikan, Dion menyeret piring rekan dokternya itu. “Eh eh, piring gue tuh!” ucapnya masih dengan mulut yang penuh makanan. “Ya lo ditanya bukannya jawab malah diem aja, nggak menghargai orang banget, tahu nggak?” “Makan tuh diem, nggak malah kebanyakan tanya. Lo gimana sih? Siniin piring gue!” acara tarik menarik piring pun di menangkan oleh Barra, melanjutkan menyendok makanannya sambil mendongak ke wajah kesel Dion, “biasa aja dong mukanya, iya ntar gue kasih tau tuh alamat.” Dion nyengir, menyeruput kopi panasnya. Menanti jawaban Bara yang masih sibuk menguyah. “Lo mau ngapain kesana?” Bara memulai obrolan setelah menghabiskan makan siangnya. “Gue lagi nyari suplier bunga buat Kayana, buat toko bunganya,” matanya masih sibuk memperhatikan gawainya, melihat slide demi slide gambar di website yang sedang mereka bicarakan. “Oh Kayana yang istri Julio, almarhum sepupu lo itu?” “Hu um, dia mau buka florist. Nah gue lagi bantu nyari suplier yang bisa diajak kerjasama, harga juga bisa di adu sama yang lain. Maklum lah bro, baru mau buka kan butuh referensi suplier yang murah pastinya. Kasihan gue lihat dia, Bro.” “Kenapa nggak lo nikahin aja sih, bro? Pahalanya gede tahu nggak, umur juga masih di bawah lo kan? Daripada diembat orang lain, ditambah daripada kelamaan jadi bujang lapuk.” “Sialan lo, nikah tuh nggak segampang itu lah bro. Bisa-bisanya bilang gue bujang lapuk.” “Lah terus apaan? Umur udah segitu masih aja betah pacaran sama jarum suntik. Pepetin lah bro, ajak nikah. Nih kalau lo kelamaan gue embat juga ntar.” “Sembarangan, jangan gila lo! Istri lo mau dikemanain?” Dion melotot, mukanya memerah. “Yah elah… hari gini poligami banyak bro yang bisa adil,” ucap Barra santai sambil menaikkan satu alisnya nakal. “Ck ck ck… jangan main-main lo ya!” kepalan tangan pun dia tujukan pada Barra dengan pasang muka sinis. “Ha ha ha, nggak rela kan lo? Buruan makanya!” Bara terkekeh menepuk pundak Dion. “Heh, ini malah jadi beda pembahasan sih. Gimana, lo ngerti nggak alamat ini?” “Ntar pulang visite gue antar sampai lokasi, bonus kopi segelas,” sedikit basa basi sambil mengangkat cangkir kopinya yang tinggal berisi setangah. “Seriusan lo bro?” wajahnya berubah kegirangan, wajahnya dia majukan ke arah Barra. “Tigarius malah, kurang bonusnya? Gue tambahin camilan satu toples kalau kurang.” “Ha ha ha, bukan masalah kopi atau camilannya bro, gue beli sendiri juga masih sanggup. Yang gue maksud nganterinnya.” “Lha iya lah, seriusan gue.” “Thanks ya bro.” “Hm… santai. Terus gimana, Kayana mau lo nikahin kapan?” “Ntar jam 10.” Dion ngeloyor ke arah kasir, sedangkan Barra mengekor di belakang dengan ketawanya yang tidak tertahan melihat tingkah rekannya. *** Dion melaju mengikuti Bara dari belakang sampai pada lokasi. Papan nama Rengganis telah terpampang terlihat jelas di sisi samping halaman. Setelah sama-sama berhenti disana, mereka keluar dari mobil masing-masing. Dion mendongak, melihat gambar dirinya dari balik kaca spion atas dalam mobilnya. Mengusap rambutnya, memastikan bahwa ia masih terlihat rapi. “Bener ini kan?” tanya Bara ketika melihat Dion sudah keluar dari pintu. Laki-laki berhidung mancung dan berkaca mata itu melipat tangannya di depan d**a sambil sedikit menyender di mobil depannya. “Yoi bro, emang deh lo itu bisa banget diandalkan,” tangannya mengepal, ia tinjukan kecil tepat di lengan Bara. Tanda bangga pada sahabatnya. “Kapan sih gue nggak jadi dewa penolong lo, Di. Lo mau gue bantu nikahin sama Kayana juga siap banget,” lagi-lagi topik pembahasan tentang Kayana masih menarik bagi Bara untuk membuat Dion semakin bersemangat. “Kalau masalah itu mah gue bisa sendiri, bro,” ucapnya meyakinkan. “Oke, oke, gue pegang omongan lo! Yuk ah, masuk. Udah gerah banget gue.” Dion pun berjalan mengekor Bara yang terlihat begitu hafal dengan tempat ini. Memasuki sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Dari dalam ruangan itu keluar seorang perempuan dengan memakai kaos berwarna merah maron yang bertuliskan Rengganis di d**a kirinya, menunduk dan menyapa Bara dengan hangat dan sopan. “Sore Den Bara, tumben kesini, Den?” “Sore Mba Mega, iya ada perlu. Stss…!” balas Bara dengan nada lirih, jari telunjuknya ia tempelkan di bibir tanda. “Oh… iya iya, Den. Sok masuk Den! Saya permisi dulu,” Mega berlalu meninggalkan laki-laki yang dipanggilnya Den Bara itu. “Oke Mbak.” “Bar, jadi lo sering kesini?” tanya Dion, keningnya mengerut tanda herannya pada Bara. Bara hanya mengangguk seraya menaik turunkan alisnya. Di dalam ruangan ada beberapa orang yang tengah sibuk dengan akifitasnya. Tiba-tiba sudah ada seseorang yang menyapa Bara kencang, kaget dan terlihat bahagia sekali ketika sadar ada Bara yang datang. “Waw… anak kesayangan abah datang,” sapa laki-laki itu sambil berjalan menghampiri Bara yang masih berada di depan pintu. “Hah… anak?” Dion bertanya-tanya dalam hati, tangannya menggaruk-garukkan kepala. “Abah… “ jawab Bara menyambut pelukan laki-laki yang sudah mulai beruban itu. “Tumben banget mampir, Bar? Padahal abah ini sudah mau pulang lho.” “Iya ni bah, kenalin ini teman Bara. Dan Bara, ini abah gue,” jelas Bara dengan senyum kebanggaan saling memperkenalkan. Bara melongo, mengulurkan tangan pada abah. Menundukkan kepala dan punggungnya. Ada tepukan hangat yang mendarat di punggung Dion dari abah. Abah tersenyum seraya memberi kode pada Bara untuk mengajaknya duduk di meja tamu. “Bar, lo emang kebangetan ya. Kenapa nggak bilang dari awal sih kalau rengganis ini milik abah lo?” ingin rasanya mengeroyok Bara yang berhasil membuatnya heran sore ini. Untuk kesekian kalinya Bara terkekeh merasa puas atas kelakuannya sendiri. “Ya lo kan cuma tanya alamat, nggak tanya siapa pemiliknya. Bukan salah gue dong! Ha ha ha,” “Bar, ajak Dion duduk sini,” abah yang sudah mendahului duduk di kursi tamu pun ikut tertawa, “Mbak, tolong buatin minum dulu ya, atau bilang ke bibi suruh buatin,” lanjutnya meminta tolong pada karyawannya yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dan yang yang disuruh hanya mengiyakan dan bergegas melakukan perintah itu. “Dion ini teman dokter Bara, Bah. Dia ini dokter spesialis ortopedi terbaik di rumah sakit kami. Banyak penggemarnya di kalangan dokter muda, perawat, karyawan bahkan dokter koas pun di pandangan pertama pada jatuh cinta. Sayangnya bah, dia masih betah jadi jomblo,” Bara menjelaskan panjang lebar tentang Dion pada abahnya di depan yang bersangkutan langsung. Lagi-lagi Bara kesal campur malu dengan semua ucapan Bara. “Oh jadi nak Dion ini belum menikah? Hm… nggak apa-apa nak, jodohmu sedang dipersiapkan sebaik mungkin sama Tuhan. Doa terus sambil ikhtiar dijemput,” nasihat abah sepertinya cukup membuat Dion lebih yakin. “Tuh dengerin, bro. Kayana butuh lo jemput tuh!” Setiap kali mendengar nama Kayana disebut, d**a Dion terasa lebih hangat. Sepertinya ruang di hatinya sudah cukup penuh dengan sosok perempuan menawan itu. “He he, iya bah,” Dion mengangguk pelan dan tersenyum lagi. Tidak ingin berlama-lama, Dion pun menyampaikan niatnya datang ke rengganis, “begini, Bah kedatangan saya kesini mau bincang-bincang tentang keinginan saya.” “Oh ya ya, silahkan nak! Apa ada yang bisa abah bantu buat kamu?” “Iya bah, jadi teman saya Kayana ma-“ “Calon istrinya maksud Dion, bah. Kayana itu tadi lho bah!” Bara memotong pembicaraan Dion. Dion yang merasa dijailin oleh Bara berniat untuk mencubit tangannya, namun segera dia menghindar, “eits… nggak kena!” “Bara… “ abah nampak tertawa melihat dua anak muda ini, “lalu gimana nak, kelanjutannya?” “Jadi Kayana mau buka florist bah, dan kami sedang mencari suplier. Kalau nanti harga-harganya cocok biar saya kabari dia untuk datang besok.” “Ya, sebagai abah dari sahabat Bara, tentunya abah memilih harga khusus. Tidak perlu memakai harga tawar menawar, abah pasti senang dapat bekerja sama dengan kamu dan perempuan spesialmu itu Nak.” “Ini serius bah? Wah… terima kasih banyak bah. Saya berharap banyak dengan rengganis semoga usaha yang baru akan Kayana mulai ini bisa lancar dan sukses ya bah, mohon doanya.” “Nak, sesuatu hal yang dilakukan dengan niat yang baik, tekun dan kerja keras pasti akan mendapatkan hasil yang maksimal. Semoga Allah memudahkan niat baikmu ya.” “Aamiin bah, kalau nggak besok pagi ya siangan mungkin Kayana datang kesini. Saya sudah kasih alamat rengganis ke dia bah.” “Nggak lo antar aja sih bro?” Bara mulai bersemangat. “Gue besok ada jadwal bedah bro, nggak bisa antar.” “Iya juga ya, ya udah lah nggak apa-apa. Yang penting lo udah ngobrol juga sama abah. Udah lo santai aja, yakin kita bisa kerja sama dengan baik bro.” “Iya gue percaya banget, bro. Semoga jadi awal yang baik lah buat Kayana, bisa bangkit dan semangat lagi. Yang gue mau sekarang dia bisa kuat dan mandiri udah cukup bikin gue seneng, bro.” “Wah, sepertinya perasaan sayangmu terhadap Kayana cukup dalam, Nak. Pesan abah, perjuangkan jika hatimu berkata demikian. Abah jadi penasaran dengannya.” “Perempuan yang jadi mengganggu pikiran Dion sudah pasti istimewa bah. Baru Kayana setahu Bara yang bisa bikin Dion begini. Sepanjang sejarah Bara kenal sama dia nih bah, belum pernah ada satu perempuan pun yang dia sebut namanya. Padahal Dion populer bah di rumah sakit B.” “Bar, lo mulai berlebihan kan? Terserah apa kata lo deh!” Abah dan Bara kompak terkekeh. Asyik ngobrol sana sini dengan menikmati kopi panas dan kudapan di atas meja. Dion merasa nyaman berada di antara mereka, hangat dan menyenangkan.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN