Selepas makan pagi, Kayana sudah tidak mau lagi berlama-lama di hotel. Wajah Erland sudah menari-nari di depan mata, tingkahnya selalu membuat rindu. Aksa yang tahu bahwa Kayana terlihat begitu cemas, akhirnya meminta sopir untuk lebih cepat melaju. "Kay, tenang lah, nggak usah terlalu khawatir begitu." "Iya, cuma nomor mama masih belum aktif sampai sekarang, Mas." "Ya mungkin lagi trouble koneksinya, Kay. Tenang dong!" "Ini juga nyoba buat tenang dari tadi, cuma tetap aja cemas begini. Nggak biasa-biasanya nomor mama nggak aktif sampai semalaman." "Berpikit positif lah, semua pasti baik-baik aja." "Iya semoga, Mas." "Nah gitu. Kay.." "Ya." Kayana menoleh pada laki-laki disampingnya. "Mulai besok kita pindah ke rumahku ya, Kay!" ajaknya sambil memegang tangannya, lalu menciumnya.

