Setelah semua rapi, Kayana berniat untuk pulang ke rumah. Ia sudah rindu dengan Erland, tidak mungkin ia bersenang-senang di hotel tanpa ada putra kesayangannya. Karena itu ia ingin segera pulang. Apalagi dari semalam ia menelpon mamanya tidak menyambung. Ia ambil tasnya di meja rias, memakai sepatu dan berjalan santai menuju pintu, namun belum sampai ia melewati pintu, Aksa sudah keluar dari kamar mandi. Tangannya langsung saja menarik Kayana, menahannya untuk tidak pergi. "Kamu udah rapi begini mau kemana, Kay?" "Bukan urusan kamu, Mas." "Nggak bisa gitu dong, Kayana sayang. Aku ini sekarang udah jadi suamimu, jadi apa pun itu bicaralah padaku." "Harus ya?" "Jelas harus lah, Kay." Semua nada ketus yang dilontarkan oleh Kayana selalu ditanggapi dengan santai dan tanpa emosi. "Aku

