“Ma, mumpung Dion libur kita jalan mau nggak?”
“Kemana, tumben?” Mei terlihat masih kesal dengan Dion karena kejadian kemarin. Sulit untuknya menerima kenyataan bahwa anak semata wayangnya itu memilih mempertahankan perasaannya ketimbang menuruti kemauan Mei.
Dion menghela nafas, membuka ponsel kemudian menunjukkan sesuatu pada Mei.
“Kesini, mau nggak? Makanannya enak-enak lho, tempatnya juga asri banget. Mama pasti suka deh!”
Mei melirik, belum menjawab apa pun tapi malah nampak melengos membuang muka. Bersedekap dan memandang entah apa di atas sana, bersikap jual mahal dengan Dion.
“Mama masih marah sama Dion? Ma, ayo lah kita udah lama kan nggak jalan bareng-bareng. Mumpung Dion libur nih.”
“Gimana mau jalan sama Mama kalau kamu aja ternyata sibuk sama Kayana selama ini. Sampai lupa sama Mama. Mama kan udah nggak penting buat kamu.”
“Oh jadi Mama cemburu nih ceritanya sama Kayana?” Dion mendekat, mencoba mencairkan suasana. Menatap Mei dengan wajah penuh harap, “Dion sambari nolong, Ma. Kayana selama ini kan nggak tahu arah sana sini, belum berani nyetir mobil jauh-jauh juga. Sebagai orang yang dekat dan peduli, nggak ada salahnya kan bantu dia, Ma?”
“Niat awal sih nolong ya, tapi lama kelamaan jadi suka kan? Mama tahu arah pembicaraan kamu.”
“Itu di luar dugaan kan, Ma? Dion nggak bisa merencanakan perasaan Dion nanti kayak gimana, Dion juga nggak bisa melarang perasaan ini ketika datang. Bukankah cinta itu anugerah ya Ma?”
“Tapi kalau kamu awalnya bilang sama Mama, pasti nggak bakal kejadian yang kayak gini?”
“Maksudnya bilang sama Mama gimana? Kemarin kan udah Dion jelasin ke Mama.”
“Kalau kemarin kamu bilang mau antar, nemenin, bantuin atau apalah ke Kayana, Mama kan bisa ngelarang kamu.”
“Ya Tuhan Mama, anaknya mau bantu orang kok malah dilarang sih? Ma, coba bayangin kalau itu semua terjadi sama kita. Kayana udah kehilangan seseorang yang terpenting dalam hidup, dia nggak tahu harus gimana menjalani hidupnya di kemudian hari, sempat stres bahkan, ada anak yang harus dia perhatikan, nggak punya pekerjaan, oke lah mungkin tabungan mereka ada tapi apa bakalan mengandalkan tabungan terus, Ma? Sedangkan kita yang jadi saudara bisa bantu, lalu kita mau diam aja gitu, Ma? Rasa kemanusiaan kita dimana?” sekuat tenaga Dion mencoba lebih sabar dan membicarakannya tanpa penekanan. Sedangkan Mei hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Dion, mencoba berpikir ulang.
“Setidaknya kamu harus bisa mengontrol perasaan kamu dong!”
“Ma, selama beberapa waktu Dion sering bareng sama Kayana, ada banyak hal yang membuat Dion bisa jatuh cinta sama dia, Ma.”
“Mama nggak tahu lagi sama pemikiran kamu Di. Mama tahu Kayana cantik, tapi di luar sana banyak yang lebih cantik. Bahkan dokter-dokter di tempat kamu kerja juga pasti banyak yang naksir kamu.”
“Bukan Cuma paras yang membuat Dion jatuh hati sama dia.”
“Lalu apa? Kasihan sama mereka? Nggak harus dengan menikahi dia kan kalau Cuma kasihan, kamu bisa kok kasih uang jajan setiap bulan untuk Erland, kalau kayak gitu caranya Mama malah setuju.”
“Justru itu, Ma. Awal-awal dulu Dion udah sering menawarkan itu ke Kay. Tapi dia selalu menolak, dia Cuma nggak mau merepotkan banyak orang. Dengan keadaan dia yang terpuruk, dia masih bisa lho berpikir takut merepotkan orang lain. Setelah ditinggal Dion, Kayana nggak mau tergantung sama orang lain lagi. Dia tetap ingin berdiri dan berusaha dengan kemampuannya sendiri. Kalau dia mau pasti dari dulu dia nggak usah capek-capek cari kerja atau pun buka usaha, Ma. Dia tinggal menerima tawaranku udah cukup untuk keperluan mereka sehari-hari. Tapi nggak untuk Kayana, Ma. Itu yang bikin Dion salut dengannya. Dia yang dulu nggak bisa apa-apa sekarang dia mampu menunjukkan pada banyak orang bahwa dia bisa lebih mandiri.”
“Jadi selama ini dia nggak manfaatin kamu?”
“Ya Tuhan, sama sekali nggak pernah Ma. Kayana selama ini nggak pernah yang namanya manfaatin Dion. Kalau pun kemana-mana Dion antar, itu karena Dion yang nawarin. Dia buka florist juga pakai uang dia sendiri, Ma. Dion mau bantu tapi dia nggak mau.”
“Dia juga suka sama kamu?”
“Dion belum tahu, Ma. Selama ini Dion juga masih menjaga perasaannya, hatinya masih berkabung. Mana mungkin Dion langsung mau mengungkapkan perasaan. Yang Dion mau selama ini lihat Kayana semangat lagi, bangkit lagi, bahagia dengan Erland. itu dulu udah cukup, Ma. Tentang perasaan memiliki dia, Dion belum berani. Takut kalau saja Kayana beum siap dan jadi salah paham.”
“Tapi kalau mama lihat, kayaknya dia udah suka sama kamu. Mama perhatiin kemarin dia kayak nyaman banget sama kamu. Tapi mama nggak suka.”
“Dion nggak bisa maksain kalau mama belum bisa suka sama Kay, tapi untuk menuruti kemauan mama, Dion tetap nggak bisa, Ma. Dion tetap ingin mencintainya. Suatu saat nanti, kalau mama kenal betul dengan dia, mama bakal tahu gimana baiknya Kayana.”
“Entah lah, mama belum bisa berpikir ke arah situ juga.”
“Ya udah, kalau Mama belum bisa. Dion harap suatu saat nanti Mama tahu bahwa Kayana adalah orang baik.”
“Mama nggak janji.”
“Iya, nggak apa-apa Dion maklum deh. Terus gimana yang tadi?”
“Apa?”
“Jalan-jalannya.”
“Ya udah kalau kamu maksa Mama, mau berangkat kapan?”
“Sekarang dong!”
“Mama ganti baju dulu.”
Dion tersenyum bahagia melihat Mei mengiyakan permintaannya. Butuh cara yang cantik untuk bisa mengambil hati orang tuanya. Berdebat atau sampai berbiacara keras dengan mereka, bukanlah sifat Dion. Memilih memakai cara yang halus tetapi menyentuh, daripada membangkang dan harus menyakiti hati mereka.
Rencana Dion ingin mengajak Mamanya makan siang ke resto, kemudian ke florist milik kayana. Mencoba mencairkan hati Mei.
Sepulang dari resto, Dion mengambil arah berlawanan dengan jalan pulang. Mei masih terlihat biasa dan belum curiga. Namun setelah beberapa kilo meter berjalan, ia baru menyadari bahwa ini berbeda dengan jalan menuju rumahnya.
“Ini kita mau kemana lagi, Di?”
“Kita ke Red Flo dulu ya, Ma. Sekalian antar mainan ini ke Erland,” ucapnya sambil menunjuk mainan yang ada di kursi belakang, “Siapa tahu nanti mama mau beli bunga juga.”
Mei tidak menjawab, tidak mengiyakan atau pun menolak ajakan Dion. Ekspresi wajahnya datar sekali. Bahkan hanya menjawab O pun tidak. Dan baginya mau atau tidak, mobil Dion tetap akan jalan ke sana. Jadi percuma saja jika ingin menolak.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai disana. Di florist, usaha yang tengah hangat-hangatnya ditekuni oleh kayana. Sudah ada dua mobil dan beberapa kendaraan roda dua berjejer di halaman.
Dion mengangguk memandang Mei di sampingnya, memberi isyarat agar mamanya ikut masuk ke dalam florist. Mematikan mesin mobilnya dan meraih mainan yang tempo hari ia beli untuk Erland. Ia kemudian menekan tombol kunci mobilnya setelah ia pastikan Mei sudah turun dari sana. Berjalan beriringan menuju florist milik Kayana.
Dan benar saja, sudah ada beberapa pengunjung di sana. Kayana tengah berbincang-bincang dengan salah satu calon pembeli dan Shasy yang sibuk merangkai buket bunganya. Dengan mantap Dion masuk ke dalam disusul Mei di belakang. Raut wajah perempuan yang adalah mama dari Dion itu masih dingin, senyumnya yang tipis dan sifat keangkuhan darinya nampak dari cari pandang dan jalannya.
“Selamat siang, selamat datang di Fed Flo. Mari silahkan masuk!” sapa Shasy dengan ramah ketika tahu ada pengunjung yang masuk. Dion dan Mei tersenyum mendengar suara itu, “Oh, Pak Dion… silahkan Pak. Cari Bu Kay ya, Pak?”
Dion mengangguk, sambil menggandeng tangan mamanya.
“Silahkan duduk dulu Pak, saya panggilkan Bu Kay dulu.” Shasy mempersilahkan duduk di sofa pojok depan meja kasir. Sofa empuk berwarna merah maron kesukaan Kayana.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Kayana menemui tamu itu. Ia kelihatan begitu cantik dengan dres bawah lutut berwarna wardah yang ia kenakan. Tersenyum manis menghampiri Dion dan Mei.
“Wah wah, ada tamu agung ternyata.” Kayana pun duduk di sofa dekat Mei menunggu, “Mas Dion kok ngga ngabarin kalau mau datang?”
“Iya Kay, tadi kebetulan abis jalan sama mama jadi sekalian kesini.”
“Oh itu ya, Mas? Tante Mei apa kabar? Sudah sembuh?”
“Sudah, sudah sehat kok.” Mei sedikit melengos namun tidak seperti tadi pagi.
“Syukur lah, Tante. Tante mau minum apa?”
“Nggak usah repot-repot, tante abis minum tadi.”
“Nggak apa-apa, Tante. Sebentar ya. Shas, tolong ambilkan minum, ya!” ucapnya pada Shasy, yang dimintai tolong langsung mengangguk dan pergi.
“Erland ada kan, Kay?” Erland adalah orang pertama yang Dion tanyakan setiap kali bertemu. Anak itu telah membuat hidupnya penuh warna.
“Ada kok di rumah, Mas. Aku panggilin ya?”
“Nggak usah, Kay. Biar aku aja yang kesana, sekalian mau bawain ini.” Dion menunjukkan mainan baru untuk Erland pada Kayana. Sebuah mobil remot warna merah.
“Mas, jangan keseringan lah beliin mainan, mainan Erland udah banyak. Jadi ngrepotin Mas Dion terus kan.”
“Nggak sering juga sih perasaan, kemarin pas lihat Kay, nggak sengaja nyari juga. Cuma mainan juga nggak bikin repot lah.”
“Iya, Mas. Biar nggak kebanyakan, udah ya. Makasih banget, pasti Erland seneng. Tapi takutnya jadi kebiasaan.”
“Tenang aja, Kay. Erland nggak kayak gitu kok. Ya udah aku tinggal dulu ya, Mama mau ikut ke rumah atau mau di sini aja?”
“Mama di sini aja, jangan lama-lama!”
“Baik, sebentar kok.”
Dion berlalu. Tinggal Kayana dan Mei berdua di sofa.
“Seberapa dekat hubungan kalian berdua, kay?” Mei memulai obrolan dinginnya, menatap Kayana dengan penuh kecurigaan. Sengit lebih tepatnya.
“Maksud tante Mei apa ya? Saya nggak ngerti, Tan.”
“Nggak usah sok polos, tante nggak suka kalian terlalu dekat. Apalagi kalau kalian sampai saling suka dan berniat untuk menikah.”
“Ya Tuhan, saya belum ada niatan untuk menikah. Kami tidak ada hubungan apa-apa, Tan.”
“Syukur lah kalau memang belum ada. Dan tante harap kalian nggak akan ada hubungan apa-apa sampai kapan pun. Dion adalah anak kesayangan Tante, anak semata wayang Tante, dia berhak bahagia untuk mendapatkan perempuan yang lebih segalanya daripada kamu, Kay. Dia masih single, pasti terlalu mudah untuk dia mendapatkan perempuan yang setara dengannya.”
“Baik, Tante. Saya juga sadar diri kok siapa saya dan siapa Mas Dion. Lagi pula menurut saya, tidak mungkin Mas Dion suka dengan saya. Jadi Tante tenang aja.”
“Oke, syukur lah kalau kamu sadar diri, jadi Tante nggak perlu lagi mengingatkan kamu. Tante pegang kata-kata kamu, Kay. Yang jelas, karena saking sayangnya Dion sama kamu dia sampai berani melawan kemauan Tante.”
“Demi Tuhan, saya nggak tahu apa-apa tentang hal ini, Tan. Tetapi jika memang benar begitu, saya minta maaf. Ini semua bukan saya yang minta.”
“Ya, Tante bakalan kasih kamu maaf kalau kamu benar-benar bisa di percaya. Ingat, tante nggak suka kalian terlalu dekat. Kamu masih ingat juga kan, Julio dan Dion itu sepupuan. Jadi nggak pantas kalau kalian berdua saling menaruh perasaan ingin memiliki. Bagaimana perasaan Julio di sana kalau tahu tentang hal ini?”
Kayana terdiam, hatinya sangat teriris mendengar nama Julio disebut-sebut dalam obrolan ini. Matanya hangat, menandakan bahwa tidak lama lagi aliran air matanya akan segera muncul. Dan benar, ia menunduk memandang kakinya yang terlapis wedges warna mint. Tetesan air matanya lantas jatuh di dress yang ia pakai. Mei masih saja berbicara, namun entah apa yang ia bicarakan sudah tidak sanggup ia dengar lagi. Pikiran yang berkecamuk sudah mendominasi dirinya, sehingga mulut dan telinganya tidak lagi sinkron. Dengan kaki yang sulit sekali di gerakkan dan tubuh yang mulai lemas, Kayana mengatur nafas agar bisa berdiri.
Ia ingin segera meninggalkan Mei dan menumpahkan rasa sakitnya sendirian tanpa ada yang tahu.
“Tolong jangan bawa-bawa nama Mas Julio, Tan. Dia sudah tenang disana. Maaf tante, saya permisi dulu. Terima kasih sudah berkunjung kesini.”
Kayana berdiri meninggalkan mei, sementara Mei tidak menjawab hanya membuang muka melihat Kayana yang tengah pergi membelakanginya.
“Shas, saya ke dalam dulu. Tolong nanti siapa pun yang mencari saya, bilang saya sedang tidak ingin diganggu.”