21

1849 Kata
Kebersamaan Dion dan Erland bisa membuat siapa saja yang melihatnya menjadi terharu biru. Ketika sedang bersama, anak laki-laki kecil itu bisa dengan lepasnya tertawa riang, tanpa beban dan masalah. Seperti seorang ayah dengan anaknya, merasa aman dan nyaman. Dion memang tidak bisa berlama-lama di sana, mengingat ada mamanya yang menunggu di florist. Sebenarnya belum puas mereka bermain, tapi Dion harus pamit untuk pulang. “Mainnya besok lagi ya, Om Dion mau pulang dulu, sudah ditunggu oma Mei di toko mama.” Erland mendadak cemberut, kecewa. Merasa baru sebentar sudah harus berpisah. Menggeleng dan berhenti bermain. “Kok cemberut? Janji deh besok kalau libur, om kesini lagi. Kita main, jalan-jalan, beli es krim lagi. Erland mau?” Seketika Erland tersenyum dan mengangguk. “Janji ya, Om,” ucapnya sambil menunjukkan jari kelingkingnya, tanda membuat janji. Dion mengerti, ia pun menyambut dengan jari yang sama. Saling menangkupkannya. “Janji deh, jangan cemberut lagi ya. Om Dion pulang dulu, oke!” “Oke om.” “Inget pesan Om, Erland harus bisa jaga Mama.” “Siap, Om.” Akhir dari pertemuan, Dion dan Erland saling berpelukan, “Anak Papa Julio emang hebat. Udah ya, da da!” “Da da Om. Hati-hati ya!” Sampai detik ini, Dion masih sering sibuk memikirkan bagaimana seharusnya yang ia lakukan setelah ini. Ingin sekali menyampaikan perasaannya pada Kayana, namun ia ragu hal ini justru akan merusak hubungan baiknya selama ini, kalau seandainya Kayana tidak memiliki perasaan yang sama. Apalagi ketika melihat Erland begitu berat tiap kali berpisah dengannya. Rasanya tidak tega melihat Erland kecewa. Sekarang, ditambah lagi dengan Mei yang terang-terangan tidak merestui hubungan mereka. Berkecamuk rasa di hati. Andai saja ada sebuah keajaiban. Mungkin membuat Kayana dan Erland bahagia akan terasa lebih mudah. Pria tampan yang selalu tampak rapi itu melenggang menuju florist. Berharap Mamanya bisa semakin dekat dengan Kayana. Memberikan waktu agar mereka mau saling bercerita. Namun harapannya meleset, hanya tinggal Mei yang duduk sendiri di sofa. “Kay mana, Ma?” “Masuk ke dalam, udah yuk kita pulang aja.” “Ya udah ditunggu dulu, sekalian pamit.” “Nggak usah, tadi mama udah pamit. Lagian Kayana juga sedang nggak mau diganggu.” “Maksud mama?” “Udah deh, Di. Mama bilang pulang ya pulang, yuk!” Dion merasa ada yang aneh, Kayana tidak mungkin meninggalkan tamunya ke dalam jika tidak ada apa-apa. Matanya melirik ke ruang pojok paling belakang. Pintu tertutup dan tidak ada tanda akan keluar dari sana. “Ya udah, Mama duluan masuk mobil nanti Dion nyusul.” Mei menurut, tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Sedangkan Dion berniat untuk menghampiri Kayana di ruangan sana. Namun seketika ditahan oleh Shasy. “Pak Dion mau ke ruangan Bu Kay?” Dion hanya mengangguk dan berhenti tepat di depan Shasy. “Maaf, tadi Bu Kay titip pesan kalau sedang tidak mau diganggu.” “Kok tiba-tiba, kamu tau nggak kenapa?” “Saya nggak tahu, Pak. Tapi tadi pas bilang kayak gitu, Bu Kay lagi nangis nggak tahu kenapa.” “Nangis?” tanyanya menekankan, yang ditanya hanya mengangguk, “Shas, kamu tolong nanti lihat keadaan Bu Kay ya. Takut kalau sakit kepalanya kambuh, nanti tolong kabarin saya. Sampaikan permintaan maaf saya yang nggak bisa pamit langsung.” “Baik, Pak.” “Ingat ya, hubungi saya kalau ada apa-apa.” “Siap, pak.” Dion tampak begitu cemas, takut terjadi sesuatu pada Kayana. Karena biasanya, penyakitnya bakalan kambuh kalau sudah memikirkan hal yang berat sampai menangis. Setelah kepergian Dion dan juga Mei, Shasy pun memberanikan diri mengetuk pintu Kayana. Ingat pesan Dion tadi, ia sendiri juga cemas dan takut kalau penyakit atasannya itu justru kambuh. Tok tok tok “Bu Kay, ini Shasy. Saya boleh masuk nggak?” Tok tok tok “Ya Shas, buka aja.” Ceklek Mata Shasy memandang jeli tiap sudut dan ruang, Kayana duduk di kursinya namun ia hadapkan ke jendela. Tempat sampah kecil di bawah kursi sudah penuh dengan sampah tisu. Dengan sedikit ragu, Shasy mendekati Kayana, memandang keluar jendela. “Bu Kay kenapa?” “Nggak kenapa-napa, Shas. Gimana? Ada sesuatu di depan?” “Nggak kok, Bu. Depan aman, pas lagi sepi. Justru saya yang khawatir, Bu Kay sakit?” “Nggak, saya baik-baik aja. Cuma capek aja Shas. Oh ya, Pak Dion udah pulang?” “Baru aja, tadinya mau pamit sama Bu Kay tapi saya bilang kalau lagi nggak mau diganggu. Tapi tadi Pak Dion titip pesan, minta maaf karena nggak bisa pamit langsung.” “Ya udah nggak apa-apa.” “Bu Kay, mau saya bikinin teh hangat? Atau cokelat panas?” “Nggak usah Shas, makasih. Kayaknya saya Cuma capek aja.” “Kalau gitu Bu Kay istirahat dulu.” “Kamu nggak apa-apa saya tinggal pulang?” “Nggak apa-apa, Bu. Tapi Bu Kay sehat kan?” “Sehat Shas, seger gini kok. Nanti biar mama kesini temenin kamu dulu. Kalau butuh sesuatu kamu bilang aja nanti, ya!” “Baik, saya antar pulang?” “Mau naik mobil? Atau motor?” Kayana meledek. “He he he,” Shasy menggaruk-garuk kepalanya malu, “naik pesawat kayaknya lebih asyik, Bu.” Mereka terkekeh, lumayan lah bisa membuat kayana tersenyum padahal matanya begitu sembab. Sebelum akhirnya pulang ke rumah, Kayana mencuci muka di wastafel agar dapat sedikit mengurangi kemerahan di mata. “Kay, bilang sama aku, kamu kenapa?” ucapnya di seberang sana dengan jarak yang entah berapa kilo meter jauhnya. Headset menempel di telinga, sedangkan ponselnya tergeletak di ranjang, samping tubuhnya yang tengah terbaring. Kayana baik-baik saja, sebelum sakit kepalanya kambuh, ia antisipasi dengan meminum satu tablet obatnya. “Aku baik-baik aja, Mas. Emang terlihat kenapa sih?” ia masih berusaha menutup-nutupi apa yang terjadi. Nada suaranya juga ia perlihatkan biasa-biasa saja. “Tadi siang kamu udah masuk aja ke ruangan, aku mau pamit tapi Shasy bilang kamu lagi nggak mau diganggu, nangis pula. Aku Khawatir, Kay. Nggak biasanya kamu kayak gini.” “Serius Mas, aku nggak kenapa-napa.” “Kenapa nangis?” “Inget aja sama mas Julio.” “Kay, kamu nggak bisa bohong. Ada yang salah dengan aku?” “Nggak Mas, Mas Dion nggak ada salah sama aku. Cuma tadi mungkin lagi capek aja kok, jadi bikin melow.” “Nggak mungkin, Kay. Secapek-capeknya kamu, kamu nggak mungkin ninggalin tamu kamu gitu aja.” “Maaf Mas, tadi Tante Mei jadi sendirian nunggu Mas Dion.” “Iya kan, jadi pasti ada apa-apa. Jujur, Kay.” “Mas, untuk sementara waktu kita nggak usah ketemu dulu ya, maaf aku sudah banyak merepotkan Mas Dion selama ini.” “Maksud kamu apa sih, Kay? Nggak usah ketemu gimana, aku salah apa? Bahkan aku udah janji sama Erland bakalan sering ke rumah. Aku nggak pernah ngerasa kamu repotin kok.” “Nggak bermaksud apa-apa, Mas Dion juga lagi sibuk kan? Kasihan kalau musti sering-sering kesini, jadi nggak punya waktu buat istirahat.” “Sibuk sewajarnya, Kay. Dari kemarin-kemarin juga ngalir kayak gini. Masih ada waktu luang buat nemenin Erland main. Nggak biasanya kamu bersikap kayak gini, apa mama tadi ngomong sesuatu ke kamu?” “Bukan, Mas. Ini nggak ada hubungannya sama Tante Mei. Sama sekali nggak. Intinya aku Cuma nggak pengen waktu mas Dion banyak tersita Cuma buat aku dan Erland. Aku ngerasa nggak enak, Mas. Nggak pantas buat aku sampai harus Mas yang bela-belain ke rumah.” “Kay stop! Sekarang bilang sama aku, mama tadi bilang apa sama kamu sampai kamu bersikap kayak gini. Sampai kamu mau ngelarang aku ketemu kamu dan Erland.” Kayana terdiam, merasakan hatinya yang sakit jika ingat kata-kata Tante Mei tadi siang. Seketika dadanya terasa panas dan sesak. “Halo, kamu dengar aku Kay?” sejenak Dion melihat ponselnya, menatap layar ponsel apakah telephone terputus, sampai suara Kayana mendadak tidak ada. Namun sambungan masih berlangsung. “Kay..” “I i iya, Mas.” “Jawab, Kay. Aku mohon.” “Mas, setelah aku pikir-pikir apa yang Tante Mei bilang itu benar.” “Mama bilang apa, Kay?” “Mas Dion orang baik, sangat baik. Apalagi denganku dan Erland. Sedangkan aku ini siapa, Mas? Rasanya kami nggak pantas selalu mengikutsertakan Mas Dion di setiap kesulitanku. Maafkan aku, Mas. Benar kata Tante Mei, Mas Dion berhak bahagia dengan kehidupan Mas yang sangat-sangat sempurna. Aku hanya akan merepotkan saja, selama ini aku sadar. Kalau saja aku nggak sering melibatkan Mas Dion, mungkin Mas Dion lebih leluasa dalam bergerak tanpa harus repot-repot kesini hanya untuk Erland. Aku banyak salah sama Mas Dion, terutama Tante Mei.” “Kay, aku nggak punya pikiran kayak gitu. Aku tulus ada untuk kalian, bukan kalian yang mau, tapi aku. Soal Mama, jangan ditelan mentah-mentah apa yang ia ucapkan. Mama Cuma belum paham posisi kamu.” “Posisi aku yang bagaimana, itu tidak penting untuk banyak orang, Mas. Apalagi untuk Tante Mei. Yang terpenting sekarang adalah aku mengerti maksud Tante Mei apa, aku mengerti posisi aku sekarang baiknya gimana. Dan aku paham bagaimana seorang ibu harus bersikap demi masa depan dan kebahagiaan anaknya. Anak semata wayangnya. Jadi Mas, jangan bantah apa yang sudah beliau ucapkan, itu pasti yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya salah dalam memilih. Dan buatku, ini wajar Mas. Biar ini aku jadikan peringatan. Hm, aku menghargai kemauan Tante Mei. Dan aku sudah mengiyakannya, jadi kerja sama lah dengan aku. Kita sama-sama saling menjauh, demi masa depanmu, Mas.” “Aku sama sekali nggak tahu apa yang kamu bicarakan, Kay. Aku mohon kasih aku waktu untuk bertemu, menjelaskan satu per satu apa yang menjadi beban di hati dan pikiran kita masing-masing. Semuanya perlu diluruskan. Dan aku minta kamu nggak usah terlalu memikirkan apa kata mama, itu nggak akan merubah niatku. Aku bakalan ingat sampai kapan pun janjiku pada Dion. Aku bakalan jaga kalian. Berat buatku untuk mengingkari janjiku sendiri.” “Sekarang sudah tidak perlu lagi, Mas. Aku ikhlaskan janji itu, aku pun nggak akan menagihnya. Aku rasa, Mas Julio juga tahu tentang ini. Aku nggak mau gara-gara janji itu, Mas Dion jadi mengesampingkan urusan yang lebih penting. Tentang keluarga, pekerjaan dan mimpi-mimpi Mas Dion selama ini. Aku juga nggak mau gara-gara aku, masa depan Mas Dion menjadi tidak layak. Terima kasih untuk semuanya selama ini, Mas. Tanpa Mas Dion aku pasti nggak bakalan bisa berdiri seperti saat ini. Tapi demi Tuhan, bukan karena aku sudah mampu berdiri lalu aku melupakan kebaikan Mas Dion. Bukan. Tapi aku sadar diri sudah banyak merepotkan Mas Dion. Nanti aku pasti pelan-pelan kasih pemahaman pada Erland, Mas. Nggak selamanya dia bisa dengan bebas meminta mas Dion untuk menemaninya.” “Kay, kumohon. Jangan kamu korbankan kebahagiaan Erland. Baru saja dia bisa banyak tertawa setelah kehilangan papanya, sekarang kamu mau kasih jarak sama aku? Kay, tolong aku demi Erland.” “Tapi ini semua demi Mas Dion juga, aku nggak mau egois, Mas.” “Kay, dengerin aku. Stop, kita perlu bicara baik-baik dengan pikiran yang jernih. Aku mohon, aku temui kamu besok. Malam ini jangan kamu tambahi beban pikiranmu tentang hal ini. Istirahat lah. Besok sore sepulang dari rumah sakit, aku langsung kesana.” Tut tut tut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN