Mobil accord putih sudah terparkir di depan florist, tentu si empunya juga sudah berada di dalam. Berada di dalam ruangan milik Kayana. Duduk berhadapan dengan meja berukuran sedang menjadi pemisah.
“Mas, maafkan aku. Apa harus aku ulangi penjelasanku kemarin?”
“Kayana, dengarkan aku dulu. Aku harus menyampaikan apa yang selama ini aku rasakan. Kay, maaf sekali lagi aku mohon maaf. Selama ini, semenjak aku menghabiskan banyak waktu denganmu dan Erland, aku baru sadar ternyata aku memiliki perasaan sayang pada kalian. Rasa sayang yang tidak biasa, rasa yang bukan lagi seperti seorang kakak pada adiknya, juga bukan seperti om pada keponakannya. Mungkin terlihat lancang, kay. Namun aku tulus sayang kalian, aku ingin menjadi pedamping hidupmu. Menjadi obat dari lukamu. Juga menjadi ayah untuk anakmu.”’
“Mas, tapi mamamu nggak suka sama aku.”
“Ini perasaan kita, aku butuh tahu bagaimana perasaanmu, Kay. Untuk saat ini, kamu nggak usah memikirkan apa pun tentang mamaku. Aku menyayangi kalian, aku mau jadi teman hidupmu dan aku mau menghabiskan waktu dengan kalian selamanya.”
“Tapi tetap restu orang tua adalah kunci utama, Mas.”
“Aku butuh tahu perasaanmu saat ini, Kayana Evelin. Ada kah perasaan yang sama untukku?”
Kayana memejamkan mata, memainkan jari-jari tangannya. Terasa dingin namun berkeringat. Masih terdiam, menyusun kata untuk menjawab pertanyaan Dion. Di hadapkan dengan pilihan yang membingungkan, jujur atau tidak.
“Maaf, Mas. Aku rasa Mas Dion nggak perlu tahu perasaankku.” Kayana menangis, membohongi diri dan Dion.
“Alasannya?” Dion menatap dalam-dalam perempuan di depannya yang kali ini tengah menangis, “Maaf telah membuatmu menangis, jelaskan padaku Kay, apa yang bikin kamu menangis saat ini?”
“Mas Dion tahu atau tidak tentang perasaanku itu nggak akan merubah keadaan, percuma Mas. orang tuamu tidak suka denganku.”
“Kay, apa kamu tidak memiliki perasaan apa pun ke aku? Jawab, Kay.”
“Mas, aku nggak pantas buat kamu.”
“Jawab dulu pertanyaanku, Kay. Apa sedikitpun kamu nggak punya perasaan ke aku?”
“Aku,”’
“Kay, jawab!”
“Jujur saja Mas, akhir-akhir ini aku sering banget merasakan hal yang aneh saat bertemu dengan Mas Dion. Perasaan yang nyaman dan tenang bisa dekat. Aku rasa aku mulai nyaman, Mas.”
“Terima kasih, Kay. Itu berarti kamu juga memiliki perasaan yang sama. Ku mohon, beri aku kesempatan untuk memperjuangkanmu.”
“Mas, aku sadar diri, aku nggak pantas untuk Mas Dion. Mas Dion pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari pada aku.”
“Kamu terbaik buat aku, Kay. Aku jatuh hati padamu.”’
“Tapi aku nggak bisa, apa yang Tante Mei bilang kemarin sudah cukup membuatku ingin melupakan perasaanku, Mas. Tante Mei benar, tidak seharusnya kita memiliki perasaan kayak gini. Maafin aku, Mas. Sudah cukup Mas tahu isi hatiku. Selebihnya, kita lupakan saja semuanya ya. Aku nggak akan sanggup kalau harus melawan restu orang tuamu, Mas. Lebih baik aku yang mundur.”
“Aku mau memperjuangkanmu, aku mohon kamu mau bersabar ya. Aku yakin hati mama pasti akan luluh.”
“Mas, aku nggak mau menjadikan Mas Dion anak durhaka dengan lebih memilih aku. Orang tua Mas Dion lebih berhak atas semua yang ada di diri Mas, bukan aku.”
“Aku juga nggak mau jadi anak durhaka, Kay. Aku ingin berjuang untuk kalian, agar mama juga merestui. Kasih aku waktu untuk membuat semuanya menjadi lunak. Demi apa pun, Kay. Aku sangat serius menyayangi kamu dan Erland. Hatiku sudah terlanjur jatuh cinta pada anak manis itu, Kay. Ijinkan aku untuk menjadikan dia anakku.”
“Aku tahu, bagaimana istimewanya Mas Dion memperlakukan Erland. Tapi Mas, jujur hancur sekali rasanya mendengar perkataan tante Mei kemarin. Dan aku rasa, tidak mudah bahkan mustahil kalau mereka akan merestui kita.”
“Kay, mama karena belum sebegitu dekatnya dengan kamu. Aku yakin mama akan luluh.”
“Sebegitu yakinnya Mas Dion, sedangkan Mas nggak tahu persis kan bagaimana penolakan Tante Mei kemarin? Sakit, Mas.”
Kayana semakin terisak, merasakan sakit atas obrolan kemarin. Ingin rasanya Dion merengkuh, membawa perempuan itu ke dekapannya. Namun ia tidak mampu, dengan perasaan ragu tangan itu ia genggam, erat sekali. Sejujurnya Dion benar-benar tidak tega melihat perempuan di depannya tersakiti. Sudah cukup waktu lalu ia terpuruk. Cukup. Tapi sepertinya hati itu kini luka kembali, dengan tempat yang sama namun alasan yang beda. Apa yang harus ia lakukan untuk meyakinkan bahwa perasaannya luar biasa.
“Mas, aku lelah. Ku kira jatuh cinta lagi akan membuat hidupku lebih baik, nyatanya lukaku kembali tergores. Apa memang aku tidak pantas untuk jatuh hati lagi? Benar kata Tante Mei, kita seperti bumi dan langit, berjarak ribuan mil dan tidak pantas saling memiliki. Harusnya dari awal aku sadar diri, Mas. Nggak sepantasnya aku mengartikan ini semua menjadi rasa cinta.”
“Cukup Kay, aku ikut sakit mendengarnya. Aku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya. Kamu tahu, Kay? Cuma kamu yang bisa membuatku merasa kembali jatuh cinta. Aku bahagia kita sama sama saling mencintai. Urusan mama biar jadi tanggung jawabku, Kay. Aku hanya minta suport kamu, agar aku bisa mengambil hati mama. Kamu perempuan spesial, kamu pantas untuk diperjuangkan."
"Mas, lihat aku sekarang! Apa yang bisa dibanggakan dari diriku, apa yang bisa buat mas bisa membelaku di depan mereka? Aku hanya perempuan lemah dengan satu anak, perempuan yang tidak setara dengan Mas. Aku malu, Mas. Aku sakit. Mulai sekarang fokuslah dengan hal yang penting, tentang pekerjaan dan masa depanmu. Aku yakin, di luar sana banyak perempuan yang pantas dan selevel dengan Mas. Tidak seperti aku."
"Kamu sudah hafal dengan aku kan, Kay? Sudah cukup mengenalku dengan baik, kan? Pernah kah selama ini aku mempermasalahkan tentang status sosial? Tidak hanya dengan kamu tapi siapa pun itu. Masihkah ada ragu di hatimu, Kay? Belum cukupkah semua penjelasanku ini? Sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu, menjagamu jauh atau pun dekat. Itu janjiku padamu, Erland dan khususnya pada Julio. Tidak mudah bagiku melupakan janjiku, Kay. Akan aku buktikan padamu. Kay, mohon jangan paksa aku untuk berhenti mencintaimu, apa pun keadaannya. Aku yakin kamu nggak akan tega pada Erland. Pikirkan baik-baik, Kay. Demi kebahagiaan Erland."