23

1048 Kata
Sepanjang waktu ini, Kayana memilih lebih fokus pada floristnya. Mempersibuk diri, lebih rajin menggugah info, foto dan lainnya di beberapa media sosial. Juga rajin menyebar fliyer Red Flo di berbagai tempat, menitipkan pada tempat-tempat pelayanan umum, rumah makan, salon, hotel juga pada teman-temannya. Kayana juga lebih percaya diri sekarang, berani tampil di depan umum untuk mempromosikan floristnya. Hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Dari usahanya itu, ia mulai kebanjiran orderan, mulai dari bouquet bunga, hingga bunga papan dan bunga-bunga untuk event-event penting. Semenjak kejadian dengan Mei di waktu lalu, Kayana bertekad untuk sebisa mungkin menghindar dari Dion. Ia hanya tidak mau membuat hubungan persaudaraannya menjadi keruh. Bagaimana pun Mei adalah tante dari almarhum suaminya yang harus ia hormati. Ia hanya tidak ingin memutus silaturahmi dan hubungan baiknya selama ini. Dari pihak mertuanya dan tante Mei khususnya. Tiap kali Dion datang menemuinya, pasti ia tolak dengan berbagai alasan. Namun jika ia datang untuk Erland, Kayana tidak bisa menolaknya. Mereka berdua sering sekali bertemu tanpa Kayana. Dan untuk Erland, ia belum tega untuk benar-benar melarangnya bertemu dengan Dion. Seperti kali ini, ketika Dion datang ke florist, Kayana memilih langsung masuk ke ruangannya. Menitip pesan pada Shasy, agar tidak menemui Kayana. Seperti itu yang terjadi setiap kali Dion ingin menemuinya. Rasanya memang sakit, namun bagi Kayana akan lebih sakit lagi jika ia membiarkan rasa cinta untuk Dion semakin tumbuh. Sebab pada akhirnya juga akan lebih menyakitkan. Kayana kemudian keluar menghampiri Shasy saat tahu bahwa Dion sudah benar-benar pergi. “Udah pergi, Shas?” tangannya memegang ponsel, membalas pesan costumernya sambil mendongak ke arah pintu. Memastikan bahwa mobil putih milik Dion sudah tidak terparkir disana. Shasy mengangguk dengan tangan yang terampil merangkai bouqet bunga dan beberapa lembar uang. “Bu Kay mau sampai kapan sih menghindar dari dokter ganteng itu? Kan kasihan, Pak Dion kelihatan frustasi banget tahu nggak Bu? Jadi jarang senyum juga ke saya.” “Masa sih, saya juga nggak tahu mau sampai kapan Shas. Mungkin sampai dia berhenti mengejar, atau sampai dia lelah dan bosan.” “Pak Dion kelihatan tulus banget lho, Bu. Saya inget banget waktu Pak Dion khawatir sama keadaan Bu Kay. Memangnya seberapa tidak yakinnya sih Bu kay sama dia? Padahal seisi dunia tahu lho seriusnya dia.” “Saya yakin seratus persen dengan keseriusannya, Shas. Cuma kamu tahu sendiri kan, gimana sakit hati saya waktu Tante Mei kesini. Kamu juga dengar sendiri dia bilang apa sama saya. Apa jadinya kalau sampai kami menjalin hubungan yang lebih serius lagi?” “Kaget banget saya waktu itu, nggak nyangka mamanya Pak Dion sikapya kayak gitu. Beda jauh ya sama anaknya, untung aja sifatnya nggak nurun ke anaknya. Memangnya restu orang tua itu lebih penting ya Bu?” “Ya, untungnya sih begitu, Mas Dion hatinya baik dan tulus. Memang kita udah lama kenal, tapi saya belum begitu hafal sama sifat Tante Mei. Jadi buat saya kejadian kemarin itu menyakitkan dan mengherankan. Restu orang tua itu penting banget, Shas. Restu orang tua adalah kunci utama sebuah pernikahan yang berkah. Gimana mau bahagia kalau orang tuanya nggak suka sama saya, yang ada malah jadi nahan sakit tiap hari kan?” “Ya Bu Kay jangan nyerah dong, siapa tahu nanti akhirnya Bu Mei luluh dan merestui. Kan belum dicoba, Bu.” “Shas, saya udah ngerasa jadi orang jahat di kehidupan mereka. Yang bisanya Cuma merepotkan, bikin hubungan anak dan mamanya jadi sering berdebat. Jahat banget kan kesannya? Saya jadi merasa bersalah.” “Iya juga sih, Bu. Tapi nih ya, Bu. Kalau Shasy yang jadi Bu Kay sih sayang banget orang kayak Pak Dion tidak dipertahankan, dia pantas jadi pendamping hidup Bu Kay.” “Alasannya? Dia sangat sangat pantas, Shas. Saya yang sama sekali nggak pantas buat dia.” “Ya kan Pak Dion udah deket banget sama Erland, dia menyayangi Erland seperti anak sendiri. Saya sih nggak tega lihatnya kalau seandainya Erland harus jauh dari omnya itu, Bu.” “Saya juga mikir sampai situ, tapi benar-benar sulit Shas untuk memilihnya.” “Jadi, Bu Kay tolak?” “Nggak ada pilihan lain, Shas. Sebenarnya Mas Dion masih pengen nunggu, minta waktu untuk meluluhkan hati Tante Mei tapi menurut saya ini hanya akan membuat kami saling tersakiti.” “Kan belum dicoba, Bu.” “Hubungan serius bukanlah uji coba, Shas.” “Hm, semoga ada seribu jalan buat Bu Kay dan Pak Dion bersatu ya, Bu.” “”Iya, aamiin. Apa pun yang terbaik. Sekarang kita fokus di red flo aja ya, Shas. Alhamdulillah orderan kita makin hari makin banyak. Minggu depan kita ada pesanan bunga dari event organizer, tugas kamu nanti sore menghubungi rengganis minta stok bunganya ya.” “Siap, Bu Kay. Kalau udah sibuk kayak gini, apa Bu Kay nggak pengen nambah karyawan lagi? Biar nanti nggak repot juga, toko juga uda ada yang nunggu.” “Iya juga ya, Shas. Repot juga nanti kalau kamu pas tak suruh keluar, dan toko jadi tutup. Sayang banget ya. Padahal rencana sya mau nambah tanaman hias juga. Kamu ada rekomendasi karyawan baru nggak? Temen atau saudar mungkin.” “Saya sih belum ada pandangan, Bu. tapi coba deh nanti saya infokan. Minggu depan itu CC event organizer bukan?” “Bukan, itu yang tempo hari kesini dua orang. Suami istri.” “Bentar Bu, saya cek dulu.” Shasy membuka lembar demi lembar bukunya, mencari-cari catatannya. “Oh, Ya Tuhan maaf ya Bu. Saya sampai lupa kalau ada yang pesan buat minggu depan juga, jadi saya belum bilang ya, Bu?” “Belum lah, buat hari apa?” “Hari kamis, minta dengan budged sekian, temanya ini,” Sambil menunjukkan tulisannya pada Kayana, ia mengangguk dan memahami. “Oke, Shas. Lain kali jangan lupa ya, langsung bilang. Untungnya tadi saya ngomong kalau ada pesanan, jadi kamu juga ingat. Dan untungnya lagi masih ada waktu juga. Coba kalau tinggal nanti malam, gimana jadinya?” ”Maaf ya, Bu. Kok saya jadi pelupa gini ya?” “Makanya jangan pacaran terus, jadi lupa kan sama yang lebih penting,” Kayana terkekeh melihat Shasy yang tiba-tiba cemberut. “Bu Kay,” pipi Shasy memerah mendengar kata-kata pacaran, membuatnya mendadak ingat dengan pacarnya. Bagi Kayana, setidaknya masih banyak hal yang bisa membuatnya tersenyum. Red flo adalah lembar baru yang bisa membuat hidup Kayana berwarna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN