Ma, Erland pengen jalan-jalan.” Ucap Erland keluar dari kamarnya, dengan piyama lengan pendek yang baru saja dipakaikan oleh Bibi Ana.
“Boleh, emang mau jalan-jalan kemana anak mama ini?” Kayana menyambut anak kesayangannya dengan memeluknya, merasakan betapa hangat tubuhnya.
“Kemana aja, yang penting bisa jalan bareng-bareng, Ma. Sama oma, Bi ana juga.”
“Iya sayang, besok kita jalan-jalan ya.”
“Yeee! Beneran ya, Ma. Erland sayang sama mama,” Erland kegirangan, memeluk mama dan mencium pipinya.
“Mama juga sayang sama Erland. Uhhh, anak mama sayang, anak ganteng, anak pintar.” Diunyel-unyel gemasnya pipi Erland.
“Ma, Erland boleh pinjam hp mama nggak? Erland mau telephone Om Dion.”
“Mau ngapain Er? Om Dion sibuk lho.”
“Sebentar aja, Mama. Kan ini udah sore, pasti Om Dion juga udah nggak kerja. Boleh ya, Ma.”
“Sayang, nanti kalau Om Dion pas lagi sibuk gimana?”
Kayana sengaja mencari alasan agar Erland tidak jadi menghubungi Dion.
“Om Dion biasanya kalau sore nggak sibuk kok, pinjam ya, Ma.”
“Tapi janji ya, sebentar aja.”
“Siap, Mama.”
Meski ragu, Kayana pun memanggil Dion. Memberikan ponsel pada Erland dan mengangguk. Yang diberi kegirangan sekali. Menunggu seseorang mengangkat panggilannya.
“Halo, Kay.”
“Om, om Dion, ini Erland.”
“Halo, anak ganteng, Om kira tadi mama yang telephone. Om kangen sama Erland.”
“Erland juga kangen sama Om Dion. Om kenapa nggak main ke rumah sih?”
“Maaf ya Erland sayang, Om Dion ada kerjaan banyak. Jadi nggak bisa main. Kapan-kapan ya!”
“Besok kan hari minggu, Om. Om nggak libur?”
“Libur, om libur kok.”
“Asyik, kalau gitu besok Om Dion ikut jalan-jalan ya sama Erland.”
Kayana mengerutkan dahi, benar-benar tidak menduga ternyata Erland telephone Dion karena ingin mengajaknya ikut jalan-jalan.
“Erland, omnya lagi sibuk tuh, nak.” Kayana mencoba menyahut. Tapi Erland tak menghiraukan mamanya.
“Om Dion mau kan ikut Erland?”
“Emh, tapi,”
“Mau ya, Om. Erland pengen banget jalan-jalan, Erland kangen om. Pengen main-main sama om terus beli es krim.”
“Emangnya Erland mau main kemana?”
“Ya kemana aja, Om. Ramai-ramai semuanya diajak.”
“Baik lah, besok om antar ya.”
“Yey, besok pagi Erland tunggu ya, Om.”
Telephone terputus, ponsel itu kemudian ia berikan pada mamanya. Erland kegirangan, melompat-lompat sambil berteriak gembira sekali. Kayana belum pernah melihat Erland segembira ini setelah kepergian Julio.
Ya Tuhan, begitu pentingkah posisi Mas Dion di hatinya? Seberapa spesialnya laki-laki itu di mata anakku. Sampai-sampai Erland terlihat sangat bahagia. Mana tega Mas Dion menolak permintaan Erland. Mana bisa Mas Dion membuatnya kecewa. Aku tahu dan sadar betul bahwa mereka saling menyayangi. Kasih sayang yang tulus dan penuh arti. Sedangkan aku tega sengaja memberi jarak pada mereka.
Bagaimana mungkin aku tega melukai perasaan mereka. Lalu bagaimana nanti jika mereka benar-benar jauh. Erland baru saja merasakan kasih sayang Dion, namun mau tidak mau harus aku batasi.
Hati Kayana bergemuruh merasakan kepedihan ini. Pilihan yang sangat sulit. Dimana ia harus mengorbankan hati beberapa orang dengan apa pun yang nanti ia pilih. Menerima cinta ini demi anaknya atau melepaskan demi yang lebih berhak atas laki-laki tampan itu.
“Erland sayang, kok ngajakin Om Dion?” Kayana mengelus kepala Erland, anak kecil itu lalu mengangkat kepalanya. Memandang Kayana dengan penuh arti.
“Biasanya kan juga sama Om Dion,Ma. Kalau ada Om Dion kan asyik, ada yang gendong Erland. Terus juga ada yang beliin es krim. Nanti kalau ada yang nakal, pasti Om Dion jagain Erland.”
Anak polos ini memang selalu jujur. Kayana paham bagaimana nyamannya Erland saat bisa bersama dengan Dion.
“Sayang, nggak selamanya Om Dion bisa nemenin Erland. Jadi Erland nggak boleh gitu. Kan bisa mama yang gendong, bisa mama yang beliin es krim juga.”
“Tapi Om Dion udah janji sama Erland kalau mau jagain Erland terus, Ma. Om Dion mau bohong sama Erland?”
“Nggak sayang, bukan begitu. Kan Om Dion kerja, sibuk, kerjaannya banyak. Jadi nggak bisa sewaktu-waktu ada buat Erland. Kalau omnya ga kesini berarti sibuk ya, Erland jangan minta biar kesini terus.”
“Om Dion nggak gitu kok, Ma. Om Dion pernah bilang kok sama Erland kalau butuh om, Erland tinggal bilang.”
Skak. Mas Dion memang punya tempat yang spesial di hati Erland. Dan Kayana belum punya alasan yang jitu untuk membuatnya tidak tergantung pada Dion. Yang pasti agar Erland tidak berharap lebih dan akan kecewa nantinya.
Hanya dekapan nyaman yang bisa Kayana berikan saat ini. Belum waktunya jika Kayana harus jujur dengan kenyataan. Erland pasti belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Di saat obrolan mereka, Anandita datang membawakan botol s**u milik Erland. Berjalan perlahan menghampiri anak dan cucunya itu.
“Erland sayang, coba tebak oma bawa apa ini?” tebak Anandita dengan kedua tangan di belakang.
“Apa oma?”
“Coba tebak hayo, ini kesukaan Erland.”
“s**u madu, iya kan Oma?”
“Wow, benar, seratus buat cucu Oma. Kok pinter banget sih?”
Yang dipuji tidak menjawab, sibuk mengambil alih boto s**u di tangan Anandita.
“Minumnya sambil bobok sini!” Kayana pun ikut nimbrung. Hal yang paling ia dambakan, melihat Erland tersenyum indah juga bahgaia.
“Apa mau ke kamar aja sama bi Ana?”
Erland mengangguk dalam tegukannya. Dipanggilnya Bi Ana untuk menemani Erland ke kamar.
"Kay, ada apa kamu dengan Dion? Mama rasa ada beda dengan kalian, hampir dua minggu Dion nggak kesini." Anandita memberanikan diri untuk bertanya pada Kayana.
"Nggak ada apa-apa kok ma. Baik-baik aja."
"Jangan bohong, Kay. Mama hafal kamu, nggak mungkin juga Dion sampai lama gini nggak main ke rumah. Bilang sama Mama,"
"Kay mau menghindar dari Mas Dion, Ma. Kay mau menjauh sebelum semuanya semakin mengakitkan."
"Kamu ngomong apa sih Kay? Menyakitkan yang bagaimana?"
"Semakin kami dekat, semakin sulit untuk bersatu, Ma. Tante Mei nggak setuju dengan hubungan kami."
"Kapan Tante Mei bilang gitu, Kay?"
"Tempo hari, Ma. Beberapa hari setelah Grand opening red flo kemarin."
"Tante Mei bilang apa?"
Kayana lalu menceritakan apa yang sempat terjadi tempo hari lalu dengan Mei, tanpa terkecuali. Menggebu, penuh emosi dan berujung pada air mata. Tidak ada seorang ibu yang tidak pula merasakan sakit ketika anaknya terluka. Begitu juga dengan Anandita. Dion, laki-laki yang sudah ia restui, yang sudah ia percayai bisa menjaga Kayana, nyatanya terhalang restu orang tuanya.