“Mama percaya dengan Dion, Kay. Dia benar-benar serius menyayangi kamu dan Erland. Erland juga padahal udah kelihatan cocok dengan omnya. Mama nggak nyangka Tante Mei bisa bersikap kayak gitu.”
“Kay juga nggak habis pikir, Ma. Selama ini kita memang nggak kenal dekat sama orang tua Mas Dion, jadi kita juga baru tahu sifatnya sekarang. Ma, susah payah Kay bangun pertahanan ini, Kay bangkit dari keterpurukan ini. Dan itu juga berkat Mas Dion, dia yang selalu kasih suport apa pun. Sampai pada saat ini Kay benar-benar percaya dan nyaman dengannya. Tapi ma, hanya karena sikap dan perlakuan Tante Mei, rasanya untuk sekedar bertemu sama Mas Dion aja Kay nggak sanggup. Kay takut perasaan ini semakin dalam.”
“Ya Tuhan Kay, semua memang di luar dugaan ya. Padahal mama udah seneng banget ada Dion yang selalu siaga dengan tulus. Mama juga udah merestua kalian.”
“Mas Dion orang baik, Ma. Baik banget. Sebenarnya Kay nggak tega menghindar dari dia, tapi Kay bingung, Ma. Inget pesan Tante Mei bikin makin sakit hati. Kay harus gimana, Ma?”
“Pilihan yang sulit, Kay. Cuma Dion yang selama ini jadi pengobat rindu Erland pada papanya. Dion orang yang tulus, Kay. Tapi masih bisa kamu coba, ya siapa tahu nanti Tante Mei bisa luluh dan merestui kalian.”
“Apa bisa, Ma? Sedangkan Tante Mei udah kelihatan nggak suka sama Kay. Padahal kemarin, Mas Dion belum bilang apa-apa sama Kay tentang perasaannya. Tapi Tante Mei justru udah tahu tujuan Mas Dion.”
“Mama Cuma takut nanti Erland kecewa, Kay.”
“Iya, Ma. Yang Kay pikirkan sekarang Cuma kebahagiaan Erland. Makanya tadi waktu Erland minta Mas Dion buat ikut jalan-jalan besok, Kay nggak bisa berbuat apa-apa, Ma. Dari sikapnya, Kay tahu dia kangen sama omnya.”
“Anak sekecil itu belum mengerti, Kay. Dan mama rasa, Dion pasti sangat paham dengan apa mau Erland.”
“Kayana bingung, Ma. Kenapa malah jadi begini. Maju salah, mundur juga salah.”
“Kalau dari hatimu sendiri gimana, Kay? Kamu juga sayang kan sama Dion?”
“Akhir-akhir ini Kay baru sadar, Ma. Ternyata Mas Dion luar biasa baiknya, dia benar-benar bisa mengerti keadaan Kay. Dia suport Kay jadi lebih kuat, perlakuan dia beda dengan Mas Julio yang dulu selalu memanjakan Kay, Ma. Kay ngerasa lebih baik sekarang, lebih siap untuk menghadapi semua sendiri. Kebaikan Mas Dion sudah merubah hidup Kay jadi lebih berarti, Ma. Mungkin Kay bisa menerima ini semua tapi bagaimana dengan Erland kalau suatu saat nanti mereka benar-benar harus terpisah.”
“Mama juga nggak tega Kay. Baru aja dia mau seneng-seneng, ada Dion yang bikin dia bahagia. Sekarang malah jadi berubah gini ya, Kay.”
“Iya, Ma.”
“Tapi menurut mama, Dion tetep keukeuh pada pendiriannya Kay. Dia bakalan tetep perjuangin kamu.”
“Entahlah, Ma. Kay bingung.”
Kayana merebahkan kepalanya ke sisi sofa, matanya menerawang ke langit-langit rumah. Merasakan getirnya hidup. Jatuh cinta pada keadaan yang salah. Pada cinta yang terhalang restu.
Esoknya, Erland pagi-pagi sekali sudah bangun. Semangat sekali anak kecil itu, ingatannya terlalu baik. Mengingat pagi ini Dion akan mengantarnya jalan-jalan, hal yang sangat ia tunggu. Bisa menghabiskan waktu dengan mama dan juga omnya.
Kayana sudah mempercayai Shasy untuk menghandle floristnya hari ini. Ia ingin menemani Erland penuh waktu seharian nanti. Pergi dengan Dion. Laki-laki yang beberapa hari ini ia hindari. Intensitas bertemunya sungguh sedikit. Bahkan bertegur sapa pun sangat terbatas. Mungkin pertemuan mereka nanti bisa saja menjadi canggung.
Dan benar saja, Dion sudah siap menjemput ketika semua orang rumah belum siap apa-apa. Erland pun juga tengah mandi, mendengar suara Dion dari depan, bocah laki-laki itu langsung meminta bibinya mempercepat mandinya. Karena sudah tidak sabar ingin bertemu.
“Om Dion!” teriaknya kegirangan. Terburu-buru berlari dan memeluk Dion, bahkan bibinya masih mengejar dengan membawa sisir.
“Waaw,” Dion menyambut pelukan Erland dengan sangat erat, ia bisa merasakan betapa rindunya anak laki-laki itu. Ia mencium kepalanya, mengusap-usap punggungnya kemudian menggendongnya. “Erland sehat nak?”
Ada rasa haru melihat pertemuan itu. Apalagi Kayana, sempat meneteskan air mata. Melihat anaknya begitu merindukan sosok ayah, dan pada Dion ia mendapatkan hal itu.
“Sehat, Erland udah mau sekolah, Om.” Ucapnya masih dalam gendongan.
“Iya? Pinter, Nak. Erland udah pengen belajar ya? Mau jadi anak hebat?”
“Iya dong, emang besok mau jadi apa kalau gede?”
“Jadi dokter kayak om.”
“Hebat, Erland anak hebat. Yang rajin sekolahnya, jadi anak hebat. Biar bisa jadi?”
“Dokter hebat.”
“Pinter, Erland mau main kemana sih?”
“Kemana aja, ikut Om Dion, yang penting Erland perginya sama Om.”
“Oh gitu, oke deh. Ke mall aja mau?”
“Mau.”
Erland mengangguk dengan mantapnya. Mengiyakan apa yang Dion katakan. Kayana menangis semakin deras dari balik pintu kamarnya, melihat keakraban mereka.
Ingin rasanya menjadi bagian disana, saling memeluk satu sama lain. Menunjukkan kasih sayang masing-masing. Namun apa, ia hanya mampu mematung menahan haru. Menikmati tiap tetes air mata yang jatuh. Bebannya kali ini cukup berat, memiliki sebuah rasa sayang namun tak bisa saling bebas mengutarakan. Getir hati Kayana melihat mereka.
Ia beranikan diri untuk keluar, menghampiri mereka yang semakin betah berdua. Melangkah pelan dengan senyum meski matanya tak bisa dibohongi, masih sembab dan merah. Menjauh dari Dion bukanlah kemauannya, yang pada akhirnya ia terluka karena itu. Yang sebenarnya dia inginkan yaitu melihat Erland dan Dion yang tidak ada pembatas. Hingga Erland bisa bahagia dengan apa yang ia manu. Dengan begitu, obat hatinya akan sempurna yang menjadikan luka itu sembuh berubah menjadi tawa.
Menatap dengan sembuh dan menyapa laki-laki dewasa itu, ingin ia tunjukkan pada Erland bahwa di antara mereka memang baik-baik saja, tidak ada apa-apa. Sehingga Erland tidak bertanya segala macam nantinya.
Tepat di depan keduanya, Kayana menyilangkan tangan di d**a. Belum bicara, ia berikan kesempatan yang cukup untuk Erland mengungkapkan perasaannya pada Dion. Tanpa memberinya kode untuk menghentikan atau pun melanjutkan obrolannya, biar lah anak kecil itu menikmati tiap detik rindunya yang terobati. Sebab bagaimana rasa yang ia punya, hanya ia sendiri yang tahu persis.