Di sebuah arena bermain yang cukup ramai di Bandung, Erland begitu senangnya bermain disana, didampingi oma dan bibi. Sedangkan Kayana dan Dion duduk di jarak yang cukup jauh, namun masih bisa mengawasi Erland dari sana. Sesekali melambaikan tangan pada anak laki-laki kesayangannya dan tersenyum.
“Kay, aku masih selalu menunggu jawaban kamu.”
“Untuk apa lagi, Mas? Apa jawabanku tempo hari itu kurang jelas?” ucap Kayana dengan lirih, terasa sangat sia-sia penjelasannya jika Dion tetap bersikukuh untuk tetap pada pendiriannya.
“Aku akan tetap menunggumu, mencintaimu dan menjagamu sampai kamu percaya bahwa aku bisa memperjuangkanmu.”
“Itu hak Mas Dion, aku nggak bisa melarang atau pun meminta untuk berhenti. Tapi apakah ada jaminannya itu bisa bikin Tante Mei suka denganku dan memberikan kita restu, Mas? Jika dipaksakan untuk tetap bertahan, aku takut semakin jadi orang yang buruk di mata keluarga Mas Dion, terutama Tante Mei, Mas. Posisiku sudah tidak tepat disini.”
“Ada restu atau pun tidak, aku tetap akan menunggumu, Kay. hatiku sudah terpatri denganmu dan Erland. Kay, apa kamu nggak percaya dengan aku? Aku bisa memperjuangkanmu, aku yakin aku bisa membuatmu menjadi seseorang yang diidamkan mama. Asal kita saling dukung dan tetap bersama, mereka nanti pasti tahu betapa kuatnya kita.”
“Jangan begitu, Mas. Hanya karena aku, Mas Dion mau jadi anak pembangkang. Itu justru akan membuat keluarga besar Mas semakin membenciku.”
“Kay, aku sudah dewasa tahu mana yang terbaik. Dan aku mau kamu yang jadi pendampingku. Apa kemauanku itu salah? Berpikirlah positif, Kay.”
Dion menatap dalam-dalam mata Kayana yang mulai berair. Ingin rasanya ia miliki sepenuhnya mata indah itu. Sejujurnya ia tidak mau lagi melihat air matanya jatuh untuk kesekian kalinya.
“Tidak ada yang salah denganmu, Mas. Aku yang salah karena sudah hadir dan mengganggu hidup Mas. Mas Dion begitu sempurna, mampu merubah hidupku menjadi lebih kuat. Aku selalu bahagia ketika ada Mas, membuatku aman dan nyaman. Tetapi karena Mas juga aku harus kebingungan untuk menentukan pilihan, Mas. Aku menghormati Tante Mei, karena itu aku nggak punya nyali untuk tidak mengiyakan keinginannya. Yaitu menjauh dari Mas Dion.”
“Tapi nggak berarti juga kamu punya nyali untuk membuat Erland kecewa kan? Kami saling menyayangi dan saling rindu, Kay. Aku merasakan gimana kangennya dia dengan aku waktu kita saling bertemu. Apa kamu tega?”
“Aku nggak punya pilihan lain, Mas. Selain pelan-pelan memberi pengertian pada Erland.”
“Aku nggak akan tega, Kay. Melihat Erland jadi sering murung lagi, hatiku bener-bener nggak kuat membayangkannya.”
“Aku juga nggak akan sampai hati menjauhkan kalian secara langsung, Mas. kalian bisa tetap saling bertemu, hanya saja sebatas om dan ponakan.” Kali ini ia sudah terisak.
“Kay, jangan memaksa untuk kuat.”
“Dan Mas Dion jangan memaksa diri untuk tetap bertahan, aku yang paling tersakiti disini, Mas.”
“Kay, jangan dikira aku nggak sakit. Semenjak kamu menghindariku dengan berbagai alasan sampai melarangku ke rumah, aku seperti kehilangan semangatku. Yang ada di dalam pikiranku Cuma Erland, Kay. Bahkan hanya untuk mendengar suaranya saja aku nggak bisa. Kay, kasih aku kesempatan.”
“Aku hanya takut akan semakin hancur, Mas. Aku bisa saja memberi Mas kesempatan, tapi bagaimana jika ujungnya sia-sia? Bukankah aku akan semakin hancur? Lalu Erland? Akan jadi apa perasaannya?”
“Kamu nggak usah takut, Kay. Bagaimana pun ujungnya, rasaku terhadap kamu akan tetap sama, demi apa pun itu. Jadi jangan khawatir, apa pun keadaannya aku akan tetap berada di samping kalian, menjaga, memperjuangkan dan melindungi kalian. Akan aku buktikan itu, Kay.”
“Mas, aku ini siapa? Lancang bagiku sampai membuat Mas lebih memilih aku daripada restu orang tua. Hanya itu yang aku takuti, Mas.”
“Ku mohon,tak usah lagi takut akan hal-hal yang belum pasti terjadi, Kay. Kecuali kamu memang nggak punya perasaan apa pun sama aku.”
“Perasaanku udah nggak lagi penting buatku, Mas. Aku benar-benar sudah takut untuk berharap. Bagai bumi dan langit, jauh sekali untuk aku gapai. Aku hanya akan bisa memandangmu dari bawah jauh.”
“Justru aku yang sering berpikiran seperti itu, Kay. Nyaliku sempat menciut, sangat mudah untukku bisa mencintai perempuan hebat seperti kamu. Tapi entah kenapa begitu sulit untuk bisa berani mengatakannya langsung padamu, dan nanti aku benar-benar tidak tahu bagaimana reaksi hatiku jika harus jauh dan kehilangan kamu. Kay, selama ini kita hanya saling mengandai-andai dan saling mengagumi. Tapi ketika kita sama-sama tahu perasaan masing-masing, kenapa kamu masih ragu?”
“Karena rasa kagum dan cintaku ini sudah kalah dengan rasa takut pada orang tuamu, Mas.”
”Jadi sekarang aku harus bagaimana?”
“Jauhi aku, Mas. Lupakan keinginan kita masing-masing. Dan untuk Erland, sayangi ia seperti waktu dulu. Layaknya om dan keponakannya.”
“Tidak semudah itu, Kay.”
Entah harus berapa alasan lagi yang harus mereka cari untuk saling bertaha pada pendiriannya. Yang satu ingin berhenti, satunya ingin bertahan lalu berjalan bersama. Semua menjdai pilhan yang sulit. Ternyata sebuah rasa cinta tidak selalu berjalan dengan mulus.
Erland merengek menghampiri mereka berdua. Mengajak untuk makan dan istirahat. Menarik lengan kiri Dion dan lengan kanan Kayana, sehingga mereka bertiga bergandengan tampak begitu bahagia.
Anandita dan Ana tersenyum melihatnya, berjalan mengekor di belakang dan menurut kemana pu mereka pergi. Sesekali Erland menengadah, melihat wajah mama dan omnya bergantian. Ada harapan dan pandangan yang berbeda dari biasanya. Anak kecil itu terlihat sangat bahagia, maklum sudah lumayan lama ia tidak merasakan moment ini. Semenjak red flo buka, Kayana jadi lebih sibuk dan tidak setiap hari ada waktu untuk mengajak Erland bermain.
“Ma, Om, Erland seneng banget hari ini.” Ucapnya ketika sudah berada di sebuah resto. Menunggu hidangan dari seorang pelayannya.
“Iya? Alhamdulillah ya, abis ini kita pulang.
“Iya, mama. Nanti main lagi sama Om Dionnya di rumah aja.”
“Sayang, omnya capek, mau pulang dulu istirahat, mainnya kapan-kapan lagi ya!” Kayana mencoba memberikan pengertian pada Erland, sambil mengelap kening anak laki-lakinya itu menggunakan tisu.
“Om Dion mau kan? Erland masih kangen sama Om.” Sejurus kemudian, Erland menggelayut di pundak dion. Memeluk om kesayangannya itu. Dion mana bisa menolak.
“Iya, nanti main lagi ya!”
‘”Asyik, nanti main dokter-dokteran ya, om.”
“Oke, tapi makannya yang banyak ya biar nanti makin semangat.”
“Siap, Om.”
Selalu begitu, Dion tidak bisa memberi jawaban tidak pada Erland selama itu baik. Toh ia juga sebenarnya masih sangat rindu dengan Erland. Membuat Erland bahagia adalah niatnya selama ini, jadi permintaan Erland kali ini tidaklah sulit baginya.
“Om, makasih ya, Erland sayang sama Om. Kalau main sama Om, Erland jadi ingat sama papa. Erland jadi nggak sedih lagi kalau kangen sama papa. Andai aja om Dion bisa jadi papanya Erland, pasti Erland seneng banget. Setiap hari bisa ketemu sama om, bisa main terus, beli es krim terus. Pokoknya Erland seneng banget deh.”
Uhuk, uhuk!
Kayana tiba-tiba tersedak mendengar curahan hati Erland, dengan cepat Dion meraih air putih di depannya dan diberikan pada Kayana.
“Pelan-pelan, Kay. Minum dulu ini!”
Kayana menurut, meneguk air putih dan sedikit lega.
“Terima kasih ya, Mas.”
“Mama batuk? Mama minta obat aja sama Om Dion, asik ya ma punya om dokter. Semuanya om Dion bisa.”
Kayana hanya berdehem melihat Dion yang tersipu malu.
“Emang Om Dion bisa apa?”tanyanya pada Erland, Dion semakin penasaran seperti apakah sosoknya di hati Erland.
“Iya, Om Dion hebat banget kayak mama. Mama juga bisa apa aja, Om Dion juga semuanya bisa. Yang beda kalau Mama pintar bikin bunga, Om Dion pintar kasih obat. Jadi mama sama om bisa tukeran, kalau om Dion mau bunga tinggal minta sama mama. Nanti kalau mama mau obat juga tinggal panggil Om Dion.” Jelas Erland dengan begitu pintarnya membangga-banggakan kedua orang yang ia sayang.
“Om Dion Cuma bisa kasih obat tuh, nggak banyak. Kok Erland bisa bilang bisa semuanya?”
“Ya pokoknya banyak, kalau disebutin nanti Erland capek.”
“Oh gitu, coba disebutin yang lainnya apa, benar apa nggak ya? Erland nggak usah sebutin semuanya.” goda Dion.
Akhirnya hidangan pun datang, pelayan resto pun mulai meletakkan beberapa piring dan mangkok di atas meja. Saat tengah menurunkan piring kosong beserta isinya dari nampan, ada satu sendok yang hampir jatuh tepat di atas kepala Erland. Untung saja Dion dengan sigap menangkap sendok itu, sehhingga Erland tidak jadi kejatuhan sendok.
“Tuh kan, Om Dion emang serba bisa, bisa jadi pahlawan Erland. Yey, makasih ya om! Nanti kalau Erland udah gede, om Dion ajarin Erland biar bisa jadi orang yang hebat ya.”
“Ha ha ha, baik Erland. Nanti kita belajar bareng-bareng ya!”
“Asik, pokoknya Om Dion hebat, bisa jadi kayak papa buat Erland, pintar main perang-perangan juga terus tadi bisa jadi penangkap sendok.”
Ha ha ha, semua tertawa melihat tingkah lucu Erland. Di bagian depan tadi, tampaknya semua kaget dengan ucapan Erland yang mengatakan kalau Dion bisa seperti papanya. Jadi memang benar, ada keinginan untuk menjadikannya papa.
“Om, Om Dion mau nggak jadi papanya Erland?”
“Erland!” pipi Kayana makin memerah saja, tidak menyangka Erland akan mengucapkan hal itu. Entah apa maksud bocah laki-laki itu.
“Om Dion udah menganggap Erland seperti anak Om sendiri, jadi Erland boleh kok anggap Om seperti papa Erland.”
“Beneran, om?”
“Iya.”
Dion mengangguk dengan mantap tanpa menghiraukan bagaimana reaksi Kayana. Bukan karena mengambil kesempatan agar Erland semakin sayang padanya, tapi kenyataannya memang seperti itu. Dion menyayangi Erland sudah seperti anak sendiri.
“Erland sayang, jangan aneh-aneh ya nak!” perintah Kayana agar Erland tidak semakin jauh berpikir.
“Erland nggak aneh-aneh, Mama. Memangnya Mama nggak suka ya kalau Om Dion jadi papanya Erland? Om Dion kan baik banget kayak papa, Ma.”
“Sayang, ngobrolnya nanti lagi ya! Sekarang makan dulu, omnya juga kan mau makan. Erland mau disuapin bibi apa makan sendiri?” Oma seakan paham bagaimana tingkah Kayana yang serba salah. Yang semua pertanyaan Erland harus ia jawab dengan yang sebeenarnya. Karena itu, oma mencoba mengalihkan pembahasan. Erland pun dengan spontan lalu fokus pada makanannya, menggeser piringnya ke arah bibi. Bibi pun tahu maksudnya, diraihnya piring itu kemudian menyuapi Erland dengan telaten.
“Dihabisin ya Er makannya, abis ini kita pulang.”