27

2360 Kata
Kesibukan Kayana di florist sudah cukup membuatnya bahagia. Kini ia sudah memiliki tiga orang karyawan, dua perempuan dan satu laki-laki. Meskipun Kayana adalah owner namun ia tetap rendah hati. Menganggap karyawannya sebagai teman kerja dalam team. Suka bercanda dan siap menerima saran yang membangun demi kemajuan red flo. Berkat kerja kerasnya, kini Kayana menambah tanaman hias juga. Setelah mencari referensi dari beberapa suplier tanaman hias, ia akhirnya bekerjasama dengan salah satu dari mereka. Dan yang mengagetkan, setelah menambah jenis jualannya, sudah ada beberapa pengusaha jasa pembuat taman, para pemborong, juga para kolektor tanaman hias yang sudah menjalin kerjasama dengannya. Di depan halaman florist ia juga membuat coffe shop kecil, sengaja ia buat agar lebih menarik para pengunjung. Dan rata-rata para pembeli bunga senang sekali singgah disana. Untuk sekedar duduk santai menunggu pesanan buket, atau memang dari awal tujuannya untuk menikmati kopi di sana. Red Flo coffe shop, dengan tema klasik dan nuansa bunga-bunga menambah daya tarik kios milik Kayana itu. Dengan desain yang cantik pula dari Riyu. Mentari merekah, cahaya hangat masuk ke dalam ruang melewati setiap celah-celah, cendela kaca dan pintu yang terbuka. Hari yang begitu cerah, secerah harapan yang indah di setiap pagi mengawali rutinitas. Kayana tengah begitu sibuk mempersiapkan rangkaian pesanan bunga hari ini, ada pesanan dari dua team event organizer. Berkat rajin iklan, red flo kini mulai dikenal di lingkungan masyarakat, juga di luaran. Pelayanan yang ramah, cepat dan terhitung lebih murah adalah ciri khas dari red flo. Pada karyawan-karyawatinya, Kayana selalu menjunjung tinggi kekompakan dan keramahan, agar para pengunjung merasa nyaman dan mau datang lagi ke red flo. Saat sedang mengecek pesanan yang akan segera diambil oleh pelanggan, Kayana terkejut oleh seorang yang datang. Seseorang yang ia kenali betul. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak tenang, dan mood baiknya pun mulai turun. Dahinya mengkerut melihat seseorang itu masuk ke dalam. Ia adalah Tante Mei, perempuan yang membuat hatinya tercabik. Kayana membuang nafas lewat mulutnya untuk mengurangi rasa was-was. “Selamat pagi, selamat datang di red flo. Ada yang bisa kami bantu, Bu?” Shasy sudah siap menyapa dengan ramah di meja kasir ketika Mei melewatinya. “Nggak usah basa basi, saya mau ketemu sama bos kamu.” dengan muka sinis, membuka kacamata hitamnya dan memasukkan ke dalam tas jinjing warna merah nyala. Netranya sudah tertuju pada sofa pojok dimana Kayana duduk. “Oh, baik ibu sila..” belum juga selesai menjawab, Mei sudah langsung berjalan ke arah Kayana berada. “Tante Mei,” Kayana pun berdiri, tersenyum manis menyambut kedatangan mama dari Dion itu. “Harus berapa kali lagi aku menjelaskan padamu, Kay. Jauhi Dion!” tanpa basa basi apa pun. “Duduk dulu, Tan. Kita bicarakan baik-baik,” Kayana masih dengan raut wajah yang ramah, bagaimana pun ia adalah orang tua yang sudah sepantasnya untuk dihormati. “Halah, baik-baik katamu? Kamu ini sebenarnya paham nggak sih arti dari obrolan kita tempo hari itu?” “Mohon maaf, Tante. Demi Tuhan saya sudah menjauhi Mas Dion. Saya paham, saya juga sadar diri siapa saya.” “Bohong, kenyataannya Dion masih sering kesini kan? Apa itu namanya? Beberapa hari yang lalu, aku lihat mobil Dion terparkir disini, di halaman rumah kamu. Itu tandanya kalian masih berhubungan dekat kan? Kayana, jangan coba-coba kamu bohongi aku ya!” “Tante, saya nggak bohong. Saya nggak tahu kalau Mas Dion datang ke rumah, karena saya fokus di florist. Mungkin Mas Dion bertemu dengan Erland tanpa sepengetahuan saya, Tante. Maaf!” “Jangan kamu jadikan Erland sebagai alat dan alasanmu, Kay. Anak kecil nggak tahu apa-apa kok dibawa-bawa. Mana mungkin kamu sampai nggak tahu kalau Dion kesini.” “Demi Tuhan, Tante. Saya nggak tahu.” “Masih berani bawa nama Tuhan, kamu emang nggak tahu malu ya. Harus pakai cara apa lagi agar kamu paham, Kay?” “Baik, Tante. Nanti saya yang akan bicara sama Mas Dion, agar dia nggak datang kesini lagi. Tapi beneran, Demi Tuhan saya nggak tahu kalau beberapa hari yang lalu Mas Dion ke rumah saya. Karena Erland atau pun mama saya nggak cerita tentang hal itu.” “Dan ya, kalian sempat jalan-jalan kan waktu itu? Saya sempat lihat galeri berisi foto-fotonya dengan Erland di handphone Dion. Setelah saya peringatkan ternyata itu nggak ada pengaruhnya ya ke kamu? Padahal saya sudah bilang bahwa saya nggak suka kalian dekat, karena kamu tidak satu level dengan Dion. Tapi justru kamu malah semakin menjadi-jadi.” “Maaf Tante. Itu Erland yang meminta langsung ke Mas Dion, Tan. Saya juga sudah mencoba memberikan pengertian pada Erland supaya nggak bertemu dengan Dion, tapi namanya juga anak-anak, Tante. Mas Dion juga nggak enak untuk menolak permintaan Erland.” “Maaf, maaf, maaf, nggak ada gunanya kamu meminta maaf tapi masih melakukan kesalahan yang sama. Ajari anakmu yang baik-baik, Kay. Mana mungkin anak punya inisiatif mengajak Dion kalau bukan kamu yang ngajarin.” “Erland hanya rindu pada papanya dan dengan Mas Dion rindu itu bisa sedikit terobati, Tan. Cuma itu. Soal diajari, semampu saya Erland sudah saya ajari dengan hal yang baik-baik. Mungkin naluri anak-anak yang sangat peka, lihat Mas Dion yang begitu baik membuat Erland menjadi sayang padanya dan ingin sekali bisa bertemu dengan Mas Dion, Tante.” “Halah, itu Cuma akal-akalanmu aja. Aku ingatkan sekali lagi, tolong jauhi Dion kalau kamu paham. Aku rasa kamu cukup berpendidikan untuk sekedar memahami apa yang aku katakan.” Kayana hanya terdiam, menahan emosi di dadanya. Menurutnya diam akan lebih baik ketimbang harus meluapkan perasaannya. Ia takut malah tidak bisa mengontrol emosi dan membuatnya menjadi perempuan tak beretika. Ia tahan betul-betul agar tidak sampai menangis. Percuma menangisi hal ini, hanya akan membuat Mei merasa menang. Lebih baik merendah saja, daripada membela diri agar terlihat baik. “Terima kasih sudah menghina harga diri saya, Tante. Tapi sebagai istri dari Mas Julio, saya sangat menghormati Tante. Karena dari itu semenjak Tante bilang begitu, saya langsung menjaga jarak dengan Mas Dion. Kalau pun Mas Dion tetap menemui saya, itu sudah di luar batas kemampuan saya. Sekuat apa pun saya melarang, jika pada akhirnya Mas Dion tetap dengan pendiriannya, saya bisa apa Tante?” “Lama-lama kamu ngelunjak ya, Kay. udah lah, malas ngomong sama kamu. Ada aja alasannya. Pokoknya saya nggak mau tahu ya, Kay. Jauhi Dion, jangan lagi kamu buat dia semakin menyukai kamu juga Erland. Anak kecil kalau perhatiannya dialihkan juga pasti akan lupa sama kemauannya yang konyol itu. Udah, gerah lama-lama disini, saya mau pulang.” “Oh, silahkan Tante, hati-hati,” Dengan gaya berjalannya yang dibuat-buat agar terlihat menawan, keluar dari florist dan memakai lagi kacamata hitamnya tadi. Kayana melihat hingga ia melesat dengan mobilnya. Sedangkan Shasy melihat tanpa berkedip, tampak melongo seperti tidak percaya ada makhluk sepedas itu masuk ke dalam florist. Untung saja, pagi ini belum ada pelanggan yang datang, jadi tidak ada orang yang mendengar perdebatan itu selain karyawan-karyawannya. “Bu Kay, kenapa sih orang kayak gitu masih aja disabarin?” Shasy tampak bersungut-sungut terlihat jengkel dan sedikit emosi, tidak terima kalau bosnya diperlakukan seperti itu. Selama ini ia sudah mengenal baik siapa Kayana, jadi baginya tidak adil jika seorang Kayana mendapat perlakuan yang tidak baik. “Dia orang tua, Shas. Sedangkan saya masih jauh dibawahnya, nggak pantas kalau mau bersikap nggak baik. Nanti malah saya yang tidak kelihatan elegan. Iya kan? Nggak selamanya perdebatan ditanggapi dengan emosi. Padahal dalam hati ini juga udah panas banget Shas, tapi saya coba buat sabar. Malu juga lah kalau tiba-tiba ada pengunjung masuk terus dengar ada huru-hara begini. Yang ada malah pada kabur ntar.” Memang benar, sesuatu yang diungkapkan di saat sedang emosi pasti akan menimbulkan penyesalan. “Tapi bener-bener bikin emosi, Bu. Rasanya pengen banget saya tampol pake buket ini,” ucapnya dengan gigi yang dirapatkan, sehingga terdengar lebih menyeramkan sambil memegang buket yang baru selesai ia rangkai. “Eh eh eh, kok pake buket, ya sayang buketnya dong! Kamu bikinnya aja penuh dengan cinta, masa iya mau kamu rusak sendiri.” Kayana lalu terkekeh. “Eh iya, Maaf. Lagian itu orang kok sembarangan banget. Yang cinta mati-matian kan anaknya, yang ngejar-ngejar kan anaknya, harusnya anaknya dong yang dikerasin, bukan malah Bu Kay begini.” “Hush, siapa juga yang mati-matian cinta?” “Ya pak dokter tampan itu lah, dia kan kelihatan banget cinta matinya sama Bu Kay.” “Bisa aja kamu, Shas.” Kayana lalu memegang buket yang hampir Shasy timpuk tadi, melihat-lihat apakah ada yang kurang rapi. “Bu Kay sih, orang kayak gitu kok dibiarin menang. Sekali-kali perlu dikasih pelajaran, bisanya menghina orang lain aja. Nggak tahu apa yang dihina itu gimana? Kejam! Besok nih kalau kesini lagi biar Shasy yang ngadepin, Bu Kay masuk aja ke dalam nggak usah ditemuin. Emosi ini jadinya.” “Sabar, udah ah, jadi emosi kan? Saya nggak apa-apa Shas, sakit sih rasanya dihina begini tapi nggak masalah, saya jadikan motivasi agar lebih sukses lagi. Jujur, saya sih bisa mengontrol emosi, meredam perasaan, tapi untuk Erland? butuh waktu buat dia mengerti keadaan ini. Yang sedang saya pikirkan ini, Shas. Hm, jadi bingung.” “Tuh kan, bener yang saya bilang tadi. Saya aja nggak terima kok kalau Bu Kay dihina begitu.” “Ya tapi nggak apa-apa, Shas. Anggap aja ngurangin dosa. Setidaknya, saya tahu bagaimana menghargai orang lain apa pun keadaannya.” “Iya sih, Bu. Bu Mei malah jadi menampakkan jati dirinya. Ah, jadi kesel gini.” “Udah, nggak usah kesel. Kamu minta tolong sama Briyan aja sana, buatin caramel bean buat saya ya.” Kayana mencoba menenangkan diri, untuk mengalihkan pembahasan lebih baik menikmati coffe di pagi ini. Shasy pun menurut, melangkah ke coffe shop untuk memesankan apa yang bosnya inginkan tadi. Di dalam ruangan kecil berukuran dua kali dua meter itu, Shasy menghampiri Briyan, si barista Red Flo coffe shop. “Bri, buatin caramel bean ya, buat Bu Kay.” ucapnya mendongak lewat pintu pada Briyan yang saat itu tengah meracik kopinya. “Oke, mbak. Siap! Kamu nggak sekalian dibuatin mbak?” Briyan tersenyum sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf o yang tandanya oke. “Nggak ah, lagi nggak pengen ngopi.” Jawabnya dengan cuek, sambil memainkan gawainya. Duduk di bangku tamu di luar tepi coffe shop. “Kenapa mukanya ditekuk gitu Mbak?” di dalam ruangan sana, Briyan masih tetap bisa melihat jelas wajah Shasy yang diam-diam ia sukai. “Kesel aku, abis ketemu nenek lampir.” “Ha ha ha, nenek lampir kok pagi-pagi udah nampak sih Mbak?” “Wah, nenek lampir yang ini sih mau pagi, siang apa malam juga berani aja menampakkan diri.” “Jangan cemberut lah Mbak, ntar cantiknya ilang lho.” “Kamu mah nggak tahu Bri, coba tadi kamu lihat itu mak lampir keluar dari florist. Hm, pasti kamu juga bakalan ikut kesel.” “Nggak minat ah, Mbak. Mending lihat Mbak Shasy aja yang cantik, kan aku jadi semangat bikin kopinya.” “Ah kamu Bri, bisa aja.” “Bisa dong, kalau lihat Mbak cantik ini mah bikin hari-hariku berwarna.” “Pelangi dong?” “Ha ha ha, pelangi di matamu mbak.” Mereka berdua terkekeh, sambari menunggu minuman spesial itu jadi. “Mbak, aku buatin vanila late mau nggak? Dijamin ilang keselnya deh, ntar jadi ketawa-ketawa terus gara-gara inget yang bikin.” Rayunya pada perempuan berponi itu. Shasy menaikkan alis tanda tak percaya, “Mau nggak? Spesial lho, aku buat dengan cinta.” “Emang bisa ya bikin minuman pake cinta? Nggak pake air gitu?” kali ini ia mengabaikan gawainya, melihat Briyan di sana. “Tuh kan, malah ganti ngelawak. Mau nggak?” “Ya udah deh, karena kamu maksa jadi ya mau aja deh.” “Nah, gitu dong Mbak. Bentar ya, aku kumpulin cintaku dulu biar nanti penuh buat Mbak. Hi hi hi,” “Dih, emang cintanya udah dibagi-bagiin? Sampai mau dikumpulin segala, sombong banget sih?” “Bukan dibagi-bagi sih mbak, Cuma tadi abis jatuh gara-gara lihat Mbak.” “Kok jatuh gara-gara ku sih?” “Iya lah, Mbak. Kan cintaku jatuh ke hatimu mbak.” “Dasar ya bocah tengil, bisa aja sih?” “Suka nggak mbak?” “Suka apa?” “Sama aku.” “Dih kepedean,” “He he he, suka dong mbak, please.” Sengaja Briyan memperlambat cara membuat kopinya, agar semakin lama ngobrol dengan Shasy. “Ogah ya.” “Mbak, malam minggu jalan yuk!” “Jalan kemana?” “Ke hatimu Mbak.” “Briyaaannnnnn, ih ngeselin deh bener-bener bocah.” “Iya deh iya, serius nih. Kamu mau nggak jalan-jalan sama aku, Mbak?” “Ya jalan kemana dulu?” “Ke mall kek, atau kemana gitu. Touring naik motorku asik lho mbak.” Briyan lalu melirik motor ninja merahnya itu, Shasy pun ikut melirik. “Emh, mau nggak ya?” “Ayo lah mbak, apa jangan-jangan kamu udah punya pacar ya mbak?” “Dijawab nggak ya..” “Hm, balas dendam. Nggak asik ah,” “Ya udah kalau nggak asik, kenapa ngajak jalan aku?” “Asikin aja, Mbak, yuk! Habis kerja langsung gas ya, Mbak!” “Emh,” “Kalau jawabnya lama berarti mau.” “Ih, ngeselin banget sih? Sukanya mutusin sepihak.” “Siapa yang mutusin Mbak? Jadian aja belum kok udah mau putus. Mbak ni aneh.” “Ya Tuhan ada ya bocah tengil kayak kamu? buruan ah kopinya, ditungguin Bu Kay tuh? Kamu mau dipecat gara-gara kelamaan buatin kopi?” “Ha ha ha, ampun Mbak. Jangan dong, ntar aku nggak bisa jagain kamu dong Mbak, kalau aku dipecat.” Renyah sekali ketawa Briyan, sambil menyodorkan dua cup kopinya, “Silahkan kopi spesial penuh cintanya, tuan putri. Selamat menikmati!” “Makanya buruan, kamu sih kebanyakan ngajak ngobrol jadi lama. By the way makasih ya!” “Sama-sama Mbak cantik,” Obrolan mereka terjeda saat mobil sport warna hitam berhenti di halaman kios. Tak beberapa lama, turun seorang laki-laki berkemeja abu-abu muda dari pintu belakang. Ia tampak begitu menawan, dengan style eksekutif, sepatu hitam mengkilap dan kacamata hitam mewah. Tubuhnya tinggi, tidak gemuk, juga tidak kurus, tapi juga tidak kekar. Biasa saja. Berjalan santai menuju florist. Shasy pun cepat-cepat berlari ke dalam, jangan sampai calon pengunjung itu lebh dulu sampai dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN