28

2131 Kata
“Mbak, jangan lupa kopinya dihabisin ya! Biar nggak sia-sia aku bikinnya udah penuh cinta.” Teriak Briyan saat melihat Shasy sedikt berlari membawa dua cup kopi. Tertawa kecil ketika Shasy hanya menoleh tanpa menjawab. “Dasar bocah tengil.” gerutunya lirih setelah sampai depan pintu. Shasy berhasil sampai lebih dulu daripada laki-laki tadi, merapikan penampilannya dan bersiap untuk memasang wajah ramah pada pengunjung yang akan datang. Oh ya, dia sampai lupa dengan caramel bean pesanan Kayana. Akhirnya Shasy terburu-buru lagi mengantarkan satu cup kopi ke pemiliknya. “Bu Kay, ini pesanannya. Maaf tadi Briyan usil banget, ngajakin ngobrol terus jadi kelamaan bikinnya.” “Iya, nggak apa-apa, lagian saya juga udah hafal sama kalian kalau ketemu ada aja yang bikin ketawa. Makasih ya, Shas.” Kayana nampak santai duduk disana, di rungan pojok miliknya, lalu menyeruput kopi panasnya. Shasy pun bergegas kembali ke meja kasir dan tepat sekali, laki-laki berbaju abu muda tadi sudah sampai di pintu masuk. Berjalan dengan pelan namun yakin, pandangannya mulai ia layangkan ke dalam ruangan yang di penuhi dengan bunga dan aroma semerbaknya. “Selamat pagi, selamat datang di Red Flo, Bapak. Florist yang penuh cinta dan aneka bunga,” Seperti itu lah biasanya Shasy menyambut pengunjung Red flo yang baru datang, sangat manis. “Selamat pagi, bisa saya bertemu dengan owner florist ini? Sampaikan, saya Aksa dari Hotel Noe yang kemarin sempat tanya-tanya di media sosial.” Jelasnya sambil tersenyum manis, ke dua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Shasy hampir tidak berkedip melihat lelaki yang usianya kira-kira tiga puluh lima tahunan itu nampak begitu tampan dengan kancing kemeja paling atas yang terbuka. Membuat gadis itu terpana sebentar. “Baik, silahkan tunggu sebentar Bapak, saya panggilkan atasan saya dulu. Silahkan duduk pak,” Shasy mempersilahkan Aksa duduk di sofa pojok. Kemudian sesegera mungkin menuju ruangan Kayana. “Bu Kay,” panggilnya setelah mengetok pintu dan membukanya. “Iya Shas, kenapa?” Kayana belum menoleh, masih sibuk dengan laptop yang menyala. “Bu, ada tamu di luar.” “Siapa, Shas?” Kali ini konsentrasi Kayana sedikit terganggu, memikirkan siapa yang tengah bertamu. “Namanya Pak Aksa dari hotel Noe. Yang katanya kemarin sudah sempat tanya-tanya sama Bu Kay di media sosial gitu? Bu Kay ingat?” “Oh iya, saya ingat. Kamu pesanin minum dulu sama Briyan sana, Shas. Bentar lagi aku kesana, suruh tunggu sebentar ya!” “Siap Bu Kay yang cantik.” Ucapnya genit sambil keluar ruangan. Kayana tersenyum melihat tingkah Shasy. Menutup laptop dan bersiap untuk menemui tamunya. Merapikan penampilannya dan sepintas melihat wajahnya di cermin yang tertempel di dinding. Tersenyum manis, sejenak melupakan beban hatinya. Keluar ruangan dengan penuh semangat dan harapan ada kabar baik hari ini. Baru saja keluar dari balik pintu, laki-laki berbaju abu-abu terlihat dari belakang. Duduk di sofa dengan sedikit menunduk menghadap ke arah depan halaman. Kayana tampak lebih percaya diri, itu karena sudah hampir terbiasa berhadapan dengan beberapa rekan kerjasamanya. Dengan mengenakan drees kuning berikat pinggang kecil berwana senada di bawah lutut, rambut yang tergerai indah serta sepatu flat ciri khasnya, Kayana terlihat begitu cantik meskipun dengan style yang simpel. Dengan tangan kiri yang memegang ponsel, ia sesekali menekan tombol power untuk melihat notifikasi apakah ada pesan yang masuk. “Selamat pagi, Bapak.” Sapanya dengan kepala yang menunduk ketika sudah berada di depan Aksa. Laki-laki itu pun menengadahkan kepala melihat sumber suara itu, ke dua pasang mata itu saling bertatapan, diam sebentar kemudian dengan kaget saling mengalihkan pandang. Malu. “Pa.. pa.. pagi, perkenalkan saya Aksa, Aksa Abraham.” Aksa memperkenalkan diri, mengulurkan tangan pada Kayana saat mereka sudah berdiri dengan salig berhadapan. “Saya Kayana, pemilik red flo. Silahkan duduk kembali, Pak Aksa.” Kayana mendahului duduk untuk menyamakan posisi. “Baik, Bu Kayana. Kedatangan saya kesini ingin melihat-lihat tanaman di red flo, kebetulan hotel yang saya bangun sedang tahap finishing sembilan puluh persen. Dan kami akan melanjutkan di pertamanan, kalau nanti saya cocok maka kita deal bisa bekerja sama. Bagaimana Bu Kayana?” jelas Aksa tanpa basa-basi terlebih dahulu, bicaranya memang cukup cerdas dan berpengalaman di bidangnya. “Bisa, Pak. Kebetulan sekarang red flo sudah menyediakan bermacam-macam tanaman hias, bukan hanya bunga saja. Untuk harga-harga dan macam-macamnya sudah tertera di galeri media sosial kami ya, Pak. Jadi nanti Bapak sudah bisa melihat barang aslinya disini. Tentunya untuk borongan ada harga spesial dari kami.” “Ya.. ya.. saya paham. Kalau begitu bagaimana? Bisa saya lihat-lihat sekarang?” “Oh tentu, silahkan Bapak!” Baru saja ingin berdiri, Briyan datang dengan membawa satu cup kopi beraroma mocca dan ia letakkan di atas meja. “Silahkan kopinya, Pak!” Briyan mempersilahkan tamunya untuk menikmati kopi panas itu. “Terima kasih,” “Karena minumnya sudah datang, silahkan diminum dulu mumpung masih hangat.” “Wah, malah jadi merepotkan saja ini saya. Baik lah, saya minum ya Bu Kayana.” Kayana mengangguk sambil melihat aksa tanpa fokus, hanya sepintas namun hati kayana terasa canggung. Laki-laki itu berjenggot tipis, kulit kuning dan gigi yang rapi. “Kopinya enak, sangat berkelas.” Puji Aksa untuk kesan pertama kali mencicipi kopinya. “Terima kasih, Pak. Itu coffe shop baru saya buka sekitar dua mingguan. Syukurlah kalau Bapak suka.” “Oh ya? Pintar sekali Bu Kayana mencari peluang usaha. Baik, bisa saya lihat sekarang?” “Bisa, Pak. Mari saya antar.” Kayana berdiri, disusul Aksa keluar menuju ke samping kios. Disana sudah ada beberapa papan yang tingginya hampir satu meter, berjejer dengan banyak polibag-polibag berbagai ukuran yang terdapat juga tanamannya. Mereka berjalan pelan, melihat-lihat dan mengamati tanaman-tanaman hias itu. “Jadi Bu Kayana ini tadinya hanya buka florist aja ya? Jadi untuk tanaman hiasnya belum lama?” “Belum, Pak. Jadi red flo memang belum lama saya buka, baru beberapa bulan ini. Nah, karena ada beberapa pengunjung yang setiap datang kesini kok tanya tanaman hias. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan mulailah saya tambah dengan tanamannya.” “Hm, bagus. Ini usaha dibuka bareng-bareng dengan suami ya?” Kayana terdiam sejenak, ini yang membuatnya selalu sedih ketika bertemu dengan orang-orang baru. Dan menjelaskan kembali perlihal hidupnya pada orang yang baru ia kenal adalah sesuatu yang membuatnya malas. Sebab rasa kehilangan yang ia obati dengan pelan-pelan, harus ia buka dan ceritakan kembali. “Suami saya sudah meninggal, Pak.” Suara yang tadi terdengar biasa kini lirih. “Ya Tuhan, maafkan saya jadi membuat Bu Kayana sedih. Saya sudah lancang, mohon maaf sekali. Saya ikut berbela sungkawa ya, Bu Kayana.” “Nggak apa-apa, Pak. Terima kasih banyak.” “Saya jadi nggak enak. Baik lah kita kembali pada tujuan awal saya, jadi nanti kalau ada tanaman yang kami butuhkan dan disini nggak ada bagaimana?” “Saya siap mencarikan, Pak. Dan untuk jumlahnya banyak atau sedikit kamu juga bisa mengusahakan.” “Oke, Bu Kayana. Oh iya, sepertinya umur kita tidak terpaut jauh. Untuk memperakrab Bu Kayana bisa memanggil saya Aksa saja.” “Wah, saya nggak berani Pak. Saya menghormati semua pengunjung dan pelanggan florist saya. Nggak apa-apa saya panggil Bapak saja.” “Jangan, saya juga jadi kelihatan tua sekali. Bagaimana kalau mas saja?” “Hm, baik, Pak.” “Eh, masih Pak saja.” “Oh iya, Mas Aksa.” “Nah, begitu kan lebih baik.” “Baik, Mas Aksa.” “Terima kasih, Kayana. Oke, setelah saya lihat-lihat harga dan lihat tanamannya langsung, saya merasa cocok. Nanti saya hubungi lagi untuk nama-nama tanaman yang saya butuhkan beserta perkiraan jumlahnya.” “Benar begitu, Mas? Jadi kita deal?” “Yah, kita bisa mulai bekerjasama sekarang.” “Terima kasih sudah berkenan untuk kerja sama dengan red flo. Akan kami berikan yang terbaik untuk hotel Noe.” “Sama-sama, semoga bisa terjalin dengan baik. Saya kira sudah cukup untuk hari ini Kayana, saya mohon pamit.” “Lho Mas, kopinya masih utuh, nggak mau di habiskan?” “Mohon maaf, saya buru-buru sekali ada acara setelah ini. Lain kali saya kesini dengan waktu yang cukup santai.” “Baik lah, terima kasih sekali lagi. Saya tunggu kabarnya.” “Ya, secepatnya Kayana.” “Kalau begitu saya pamit.” “Baik, Mas, hat-hati.” “Ya, permisi.” Laki-laki pengusaha muda itu pun melesat dengan mobil sport hitam yang dikendari oleh sopir pribadinya. Kayana dengan hati yang gembira langsung menghampiri Shasy di dalam. “Shas, ada kabar bagus.” “Kabar bagus apa Bu Kay? Bu Kay dilamar?” “Ya Tuhan Shasy, ngaco kamu.” “He he he, maaf keceplosan, abisnya lihat Bu Kay seseneng itu pikiran saya jadi traveling.” “Kamu ini. Dengerin dulu makanya.” “Iya deh Ibu bossku yang cantik.” “Tadi Pak Aksa yang datang tadi, dia owner dari Hotel Noe, hotel yang baru dia bangun. Dan dia mau ambil tanaman dari red flo untuk penataan taman hotelnya. Bisa dibayangkan berapa banyak tanaman yang dibutuhkan untuk taman hotel kan, Shas? Saya kaget dan seneng banget.” “Oh ya, Bu? Wah, mantap. Keren banget, jadi semakin semangat upload dan iklan-iklan lagi nih, Bu.” “Iya, bener banget. Nggak nyangka ya, Shas?” “Wah, hebat. Semoga jadi awal yang baik ya, Bu? bisa untuk referensi pemilik hotel-hotel lain.” “Pokoknya, Shas, kita harus memberikan yang terbaik karena ini orderan pertama kita dengan jumlah yang banyak.” “Pasti Bu Kay, semangat. Harus semangat dari sekarang.” “Tapi ini kayaknya dia minta tanaman yang mahal, Shas. Kayaknya Cuma beberapa yang kita punya, soalnya tadi dia kelihatan hanya melirik sedikit.” “Nggak masalah Bu Kay, besok kita tinggal menghubungi suplier-suplier kita, minta mereka yang mencarikan.” “Iya, kalau itu sih jelas, Shas.” “Hm, seneng banget saya Bu bisa kerja di red flo.” “Sama, Shas, saya juga seneng punya karyawan kayak kamu. Energik banget dan bisa diandalkan.” Selalu ada pelangi setelah hujan yang deras. Begitu yang tengah Kayana rasakan. Berawal dari pelakuan yang tidak baik dari Mei tadi pagi, seketika Tuhan mengganti kesedihan dengan kebahagiaan. Rencana Tuhan memang tidak bisa ditebak bagaimana alurnya. Di tempat yang beda, Aksa pun merasakan kebahagiaan yang tidak hanya satu alasan. Dapat bekerjasama dengan red flo sudah pasti saling menguntungkan, namun alasan yang lain ada pada perempuan single parent yang baru saja ia temua. Perempuan itu berhasil membuatnya berdesir dengan kilat. Baru bertemu beberapa menit saja, Aksa sudah merasakan ada yang lain di hatinya. Rasa yang sudah cukup lama hilang setelah perpisahannya dengan istrinya. Kini rasa itu tiba-tiba berdenyut, merasakan kagum pada perempuan tangguh itu. Pribadinya yang mandiri dengan usaha yang ia rintis. “Ck, gila!” laki-laki itu berdecak sambil mengingat pertemuan tadi. “Ada apa Pak?” sopir yang tengah mengemudi pun ikut penasaran dengan kata-kata yang diucapkan oleh bosnya itu. “Tadi saya habis ketemu sama bidadari, Pak.” “Hi hi hi, bidadari Pak?” “Iya, cantik, anggun, memesona, tangguh, mandiri dan senyumnya manis.” “Wah, sepertinya bapak jatuh cinta.” “Mungkin, Pak. Baru pertama kali ketemu tapi udah begini amat ya efeknya?” “Yang tadi sama Bapak itu ya?” “Iya lah, siapa lagi Mang?” Aksa mendongak maju ke seat kemudi, agar Mang Asep sopir pribadinya itu tahu bagaimana ia kagum pada perempuan tadi. “Kalau yang itu tadi mah Mang Asep setuju banget.” “Cantik kayak bidadari kan Mang?” Mang Asep mengangguk dengan yakinnya, fokus pada jalanan yang sedikit padat. “Pokoknya dia harus jadi milik saya, Mang.” “Memangnya dia masih single Pak?” “Iya, single parent, tapi saya belum tahu dia sudah punya anak atau belum.” “Bapak nggak tanya-tanya?” “Nggak enak, Mang, kalau mau tanya lebih lanjut. Tadi aja dia bilang kalau suaminya meninggal udah kelihatan sedih kok. Ya kan saya jadi mengalihkan pembicaraan biar dia nggak terlarut.” “Hm, kasihan ya Pak?” “Iya, apa nggak namanya pucuk dicinta ulam pun tiba Mang? Jodoh kayaknya, Mang!” “Aamiin… semoga ya Pak, biar nggak kelamaan menduda, udah ketinggalan jauh juga sama mantan,” Mang Asep tertawa di balik telapak tangan yang ia tutupkan di mulutnya. “Kadang-kadang nih ya, Pak, untuk mendapatkan yang terbaik kita harus berani dan siap kehilangan sesuatu yang ternyata kurang baik. Jadi saya bersyukur aja sudah dipisahkan dengan orang yang salah.” “Iya ya, Pak. Cantikan juga perempuan yang tadi, kelihatan masih muda sekali.” “Mang Asep mulai besok harus siap-siap hafal dengan jalan ini ya! Karena bakalan sering saya kesini.” “Gampang itu, Pak. Kapan pun disuruh kesini saya siap.” Aksa tersenyum sendiri mengingat Kayana, membayangkan wajahnya yang ayu. Kemudian teringat dengan sebuah nama di media sosial yang tempo hari sempat ia lihat, yaitu si pemilik red flo. Ia berniat untuk kembali berselancar di dunia maya dengan ponselnya. Mencari lagi nama itu, berharap ada informasi lain tentang Kayana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN