29

1087 Kata
POV KAYANA Seperti baru pertama kali kembali menghirup udara dengan nikmatnya, setelah sekian lama terkurung dalam perasaan penat dan pekat. Ini lah yang aku rasakan ketika bisa keluar dari zona nyamanku selama ini. Perlahan bangun, membuka mata dan mulai berjalan lagi. Setelah menyadari bahwa akan ada pelangi setelah hujan badai, ketika mendapatkan banyak hal yang berharga ketika aku mulai menyerah. Red flo, akan menjadi tempat bersejarahku. Dimana aku menemukan semangat baru, mendapatkan banyak pelajaran penting dalam hidup. Ketika aku harus berusaha membuang jauh-jauh prasangka burukku tentang keadilan Tuhan. Yang mana ternyata Tuhan sudah memberikan solusi dalam setiap masalah yang aku hadapi. Tuhan baik, masih memberikan aku kesempatan untuk bangkit. Kali ini ada yang ingin aku utarakan. Tentang perasaanku akhir-akhir ini yang sedikit aneh. Rasa nyaman dan aman ketika aku berada di dekatmu. Dimana aku tidak lagi merasa khawatir ketika melepaskan Erland bermain berdua hanya denganmu. Aku yang tidak banyak memberi ultimatum pada Erland ketika membiarkannya pergi berdua saja denganmu. Rasa yang aman saat melihat kalian asyik bercanda. Dan aku yang lebih banyak berkata ‘ya’ ketika kamu menawarkan sesuatu padaku. Entah lah, perasaan apa ini namanya. Aku sudah tidak bisa lagi membedakan antara nyaman, aman atau sayang. Tetapi ini jelas masih beda dengan perasaanku pada Mas Julio. Aku sudah mengadu pada Tuhanku tentang rasa ini tanpa ada yang aku sembunyikan lagi. Meski aku tahu bahwa Tuhan sudah pasti tahu apa yang aku rasakan, sekali pun aku tidak mengucapkan pada-Nya. Biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu persis apa yang aku rasakan. Jika ada yang tahu mungkin itu terlihat dari sikapku. Aku belum benar-benar berani mengangkat pandanganku, apalagi memandang wajahmu. Kamu seperti embun yang membasahi daunku, menjadi penyegar ketika semalaman tidak menemukan setetes harapan. Sikap baikmu padaku, perhatianmu, dukunganmu membuatku mendapatkan hati yang baru. Hati yang dulu hancur dan patah. Kita menjadi lebih kuat. Namun untuk saat ini aku tidak ingin berharap lebih dari rasaku ini. Kamu yang selalu ada ketika aku butuhkan, yang tidak pernah mengenal lelah demi menjadi orang yang pertama menopang ketika aku jatuh. Banyak sekali perbedaan yang aku rasakan setelah ada kamu. Kamu yang merubah takutku menjadi berani, merubah ketidak mampuanku menjadi mampu. Kamu yang membuatku tidak lagi banyak tergantung pada orang lain, meyakinkanku bahwa aku bisa berdiri dengan ke dua kakiku seperti yang banyak orang lain lakukan. Aku yang kini lebih percaya diri dan mau belajar. Menjadi wanita mandiri dari sebelumnya. Kamu, itu karena kamu. Orang baik yang peduli denganku dengan caramu sendiri. Seorang laki-laki yang mengajariku bagaimana berdiri dengan kedua kaki dan kemampuanku sendiri. Dan kamu berhasil membantuku menjadi seperti itu, Mas Ardiansyah Dion. Mas Dion, terima kasih untukmu yang sudah membantuku menjadi lebih kuat. Yang tidak lagi banyak mengeluh, namun lebih banyak mempersibuk diri. Red flo, tempat ini ada juga karena kamu. Kamu yang pertama kali memberikan saran untuk ini. Mas, jika dulu aku hanya menganggapmu sebagai kakak apakah salah jika sekarang rasa itu berubah? Rasa yang bukan lagi untuk kakaknya. Namun untuk seseorang yang sudah berhasil mengganggu pikiran dan hatiku. Namun semuanya lain saat ini, Mas. Keadaan memaksaku untuk membuang jauh-jauh perasaanku padamu. Mas, andai kamu tahu, memilih untuk menjauhimu dan tidak lagi ada hadirmu di keluargaku itu bukan mauku. Dan perlu kamu tahu, rasa sakit yang ada ketika dengan sadarnya aku mengabaikanmu. Mungkin, harus aku ulangi lagi rasaku yang dulu, rasa tanpa cinta, hanya ada rasa yang biasa saja seperti seorang adik pada kakaknya. Harusnya aku sadar diri lebih awal, sehingga aku tidak terluka terlalu dalam. Aku masih belum tahu apa tujuan akhir yang Tuhan takdirkan untukku besok, yang aku tahu apa pun itu nanti pastilah yang terbaik. Lukaku karena kehilangan Mas Julio perlahan sudah mulai sembuh, aku mencoba untuk berdamai dengan takdir. Mengikhlaskan dia yang kini sudah dalam peristirahatan yang tenang. Dengan gantinya, aku tidak ingin kehilangan waktuku bersama Erland. Cahaya hatiku yang nantinya akan menjadi orang pertama yang menjagaku. Lalu aku mulai bangkit dengan uluran tanganmu. Dengan ketulusan dan keikhlasanmu. Katamu agar aku bisa menjadi mama yang tangguh dan hebat untuk Erland, menjadi mama yang tidak hanya bisa diam saja demi masadepannya. Hingga aku sadar akan rasa ini, senang, menggebu-gebu, nyaman dan bahagia bila di dekatmu. Rasa itu semua bisa aku pastikan adalah cinta dan ingin memiliki. Namun ternyata, menyatukan cinta tidak semudah yang aku bayangkan. Juga menikmati cinta yang indah nyatanya terasa sulit, ada saja luka yang kemudian tergores kembali. Karenanya aku berhenti, berbalik kanan untuk melupakanmu. Takut untuk berlari dan menggapainya. Terkadang aku sering berpikir, apakah untuk saat ini perempuan dengan status sepertiku tidak pantas mencintai dan dicintai? Hingga alasan ini menjadi fatal, yang tidak ada toleransinya sedikit pun. Mutlak tidak diberi kesempatan untuk sekedar berbalas cinta. Dalam derasnya hujan sore ini, ingin rasanya aku keluar untuk merasakan guruyan air yang jatuh itu. Membasahi dinginnya hatiku, agar ia semakin dingin dan tak lagi dengan mudah mencintai. Dulu, aku selalu merindukan hujan. Merasakan ketenangan ketika melihat hujan yang dengan ikhlas jatuh demi makhluk Tuhan seperti aku. Memberikan kesejukan setelah beberapa waktu lalu kering tak berair. Ku ambil ponselku, mencari nama Riyu disana. Aku butuh dia untuk berbagi cerita. “Halo, Kay.” jawabnya nyari sekali diseberang sana. Telingaku hampir saja bergetar. “Halo, Riy. Sibuk kah?” “Enggak Kay, kenapa?” “Aku suntuk.” “Nggak lagi kambuh kan kepalanya?” “Hampir.” “Kenapa? Ada masalah di red flo?” “Nggak ada, red flo semakin rame malah. Gaduh kayak hatiku.” “Hm, kenapa sih? Karena Dokter ganteng?” “Tentu.” “Cukup di telphone atau mau ketemu?” “Besok kalau kamu ada waktu kita jalan yuk, Ri.” “Siap cantik, tapi sorean ya nunggu ayahnya anak-anak pulang kerja.” “Iya sebisa kamu aja.” “Cerita sedikit dong, biar nggak ke bawa mimpi nanti gara-gara penasaran.” “Mamanya Mas Dion makin nggak setuju kalau anaknya deket sama aku.” “Jadi, kamu udah bisa terima cintanya? Kamu udah punya perasaan yang sama?” “Itu lah, Ri, yang bikin aku bingung sekarang.” “Oke, tenang dulu, sabar dulu. Nanti kita cari solusinya bareng-bareng ya.” “Makasih banyak ya, Ri. Nggak tahu lagi apa yang musti aku jalani sekarang. Serba salah jadinya.” “Iya, ya udah pokoknya sekarang tenang, istirahat dulu gih!” “Iya, mataku udah lelah banget, capek rasanya. Tapi susah tidur. Oke Ri, aku tunggu besok ya. Maaf ganggu kamu.” Telephone terputus, mataku masih kulayangkan keluar jendela. Melihat hujan yang semakin deras, enggan rasanya untuk berpaling darinya. Dan ku pilih menghabiskan malamku untuk menikmati riuhnya air yang jatuh disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN