[Mas, bentar lagi aku mau jalan sama Kay. Dia mau cerita banyak, nanti aku shareloc ya tempatnya. Kita cari solusinya sama-sama] send to Dion.
[Oke, Ri, makasih banyak sebelumnya. Tolong tenangin Kayana ya!]
Ternyata tanpa sepengetahuan Kayana, Riyu sudah tahu permasalahan apa yang dihadapinya dengan Dion. Diam-diam Dion dan Riyu sudah sering membahas tentang ketidak setujuan Mei. Di mata Riyu, Dion adalah laki-laki baik yang tepat untuk mendampingi Kayana. Pun sebaliknya, Kayana akan lebih baik jika mendapatkan laki-laki yang bisa juga menerima dan menyayangi Erland.
Riyu tidak habis pikir bahwa sahabatnya akan sering mendapat ujian seperti ini. Dari mulai kehilangan Julio, sempat berbulan-bulan tidak mau melakukan aktifiktas apa pun, sampai sekarang hampir bahagia mendapatkan gantinya, ternyata diberi ujian lagi. Tidak direstui oleh orang tua adalah hal yang menyakitkan, meskipun nantinya hanya Kayana dan Dion yang menjalaninya, namun orang tua adalah komponen terpenting yang akan mempengaruhi semuanya. Jadi memang begitu berat bagi mereka berdua untuk melawannya.
Bukannya ingin ikut masuk terlalu dalam ke permasalahan mereka, namun rasanya lega jika bisa membantu mencarikan solusi untuk kebahagiaan sabahatnya. Dan ini adalah saat-saat yang ditunggu Riyu yaitu, Kayana akhirnya mau berbagi cerita tentang hal ini. Yang sebelumnya sudah lebih dulu ia ketahui lewat Dion.
Riyu sudah sampai di red flo, siap menjemput Kayana untuk pergi. Sengaja ia hanya menyembunyikan klaksonnya, tanpa keluar lebih dulu untuk mempersingkan waktu. Kayana yang sudah cukup lama menunggu kedatangan sahabatnya lalu mengerti. Memberi pesan pada Shasy untuk menghandle semua pekerjaan lalu keluar menuju mobil.
Dua sahabat itu melaju menyusuri jalanan yang sedikit sepi. Riyu sengaja memutar musik cukup kencang, agar Kayana menikmatinya dan sejenak melupakan masalahnya. Dan berhasil, Kayana pun ikut bernyanyi tanpa beban. Menggeleng-gelengkan kepalanya dan mulut yang mengikuti lirik lagu. Sesekali melihat dua sahabat itu saling pandang dan tertawa.
Dulu sewaktu masih sama-sama gadis, mereka bisa dengan betahnya menghabiskan waktu berdua hanya untuk mendengarkan musik, ngemil dan bertukar cerita. Hingga saat ini persahabatan mereka masih terjalin. Tidak ada yang membuat mereka bersyukur melebihi awetnya persahabatan itu.
Kayana meminta Riyu untuk berhenti di sebuah resto yang dulu pernah ia singgahi dengan Dion. Kalpa tree resto yang bernuansa kayu dan kaca. Ia suka sekali dengan resto ini. Dan entah mengapa, hatinya berdesir mengingat beberapa waktu lalu saat makan malam dengan Dion disana.
Riyu pun segera membagikan lokasi di aplikasi hijaunya pada Dion. Kemudian mengiriminya pesan.
[Mas, sekitar empat puluh menitan lagi Mas Dion boleh nyusul kesini. Udah aku kirim lokasinya ya.]
[Makasih, Ri. Aku tahu tempat itu, tempat pertama kali aku mengajaknya makan malam. Siapa yang ngajak kesitu, kamu atau Kayana sendiri?]
[Kayana yang pilih, kayaknya sengaja biar inget sama kamu, Mas. Ehem!]
[Semoga, Ri.]
Setelah selesai berbalas pesan, Riyu menyusul Kayana yang sudah duluan masuk. Mengikuti sahabatnya yang selalu feminine dengan dres-dresnya. Dari kejauhan, Kayana nampak memperhatikan Riyu yang berjalan ke arahnya sambil masih sibuk dengan ponselnya. Tapi tidak heran, Riyu memang tipe orang yang nggak bisa lepas dari ponsel. Lebih dari tujuh puluh persen pekerjaannya bersumber dari benda pipihnya itu.
Lagi-lagi Kayana memilih tempat di lantai dua, duduk persis di bangku yang sama dengan waktu itu. Kebetulan memang bangku itu masih kosong.
“Kay, kayaknya kamu udah hafal banget sama tempat ini. Udah pernah kesini ya sebelumnya?” Riyu penasaran, akan diberi jawaban apa oleh Kayana. Mereka duduk saling berhadapan.
“Hafal sih enggak, tapi kesini memang udah pernah.”
“Hm, pantesan udah ngerti ada ruangan kayak gini. Udah lama kesininya?”
“Baru sih, tiga bulanan mungkin.”
“Kok nggak ngajakin sih? Sama siapa kesini?”
“Hu, kepo.”
“Ya Tuhan, pelit banget Cuma pengen tahu aja.”
“Sama Mas Dion,”
“Ow, sama mas ganteng ya? Pantesan aja kecanduan pengen kesini lagi, ternyata biar inget? Mau nostalgia?”
“Riyu, apaan sih?”
“Ya apa coba kalau nggak gitu?”
“Ya seneng aja sama nuansa disini, bikin mood jadi naik, biar nafsu makannya juga nambah.”
“Ha ha ha, bisa aja alasannya tuh! Terus gimana? Udah naik moodnya?”
“Malah enggak, aku jadi keinget Mas Dion.”
“Bagus dong, kan lagi jatuh cinta.”
“Ri, gara-gara kamu nyuruh aku buat buka hati buat Mas Dion, aku jadi jatuh hati beneran sama dia.”
“Gara-gara aku nih? Ya maaf deh, Kay. Tapi awalnya kan maksudku baik. Kalian cocok, sama-sama orang yang baik.”
“Ternyata menahan perasaan sebelum sempat diungkapkan itu sakit ya?”
“Maksud kamu? Kalian belum sempat mengungkapkan? Terus gimana Tante Mei tahu?”
“Tante Mei datang lebih dulu, menyampaikan ketidak setujuannya berhubungan denganku, sebelum Mas Dion mengungkapkan perasaannya.”
“Jadi sampai detik ini Mas Dion belum ngomong apa-apa ke kamu?”
“Udah, Ri. Waktu Tante Mei bilang kalau nggak suka sama aku, malamnya aku bilang ke Mas Dion kalau lebih baik kita jaga jarak. Saat itu aku juga udah punya perasaan yang sama. Sedangkan Tante Mei sudah menghalanginya. Tadinya aku sempat mengelak saat Mas Dion menyampaikan perasaannya, tapi aku nggak bisa bohong, Ri. Aku kagum dan sayang sama dia.”
“Ya Tuhan, apa alasannya Tante Mei nggak suka sama kamu? Bukannya kalian juga udah kenal baik selama ini? Tante Mei juga udah tahu gimana kamu kan?”
“Justru karena Tante Mei udah kenal aku cukup lama mungkin, Ri. Status sosialku yang jadi alasan utama nggak pantas untuk Mas Dion. Aku akui memang benar, bagaikan langit dan bumi. Mas Dion terlalu tinggi untuk aku gapai.”
“Kayaknya alasan itu nggak adil deh, Kay.”
“Aku tadinya juga mikir gitu, Ri. Tapi aku sadar diri kok, poinku Cuma satu untuk Mas Dion yang punya sepuluh. Nggak imbang, Ri.”
“Kay, semua manusia itu sama aja di mata Tuhan.”
“Itu kalau Tuhan yang memandang, Ri. Dan Tante Mei bukan Tuhan, ia berhak punya pandangan lain tentang hal ini. Aku tahu arah pembicaraannya mau kemana. Karena itu aku memilih untuk menghindar, meskipun itu sangat menyakitkan.”
“Hari gini masih aja mempermasalahkan status sosial.”
“Coba kamu bandingkan, Ri, keadaanku dengan Mas Dion bagaimana. Aku Cuma seorang single parent penjual bunga, tidak berpendidikan tinggi. Ijazah sarjanaku saja nggak terpakai. Sedangkan Mas Dion? Tampan, muda, sukses, dokter, single. Sepuluh poin sudah dia kantongi, Ri.”
“Kay, cukup! Tuhan nggak suka dengan orang yang nggak mau bersyukur. Kamu orang baik, Kay. Kamu sekarang jauh lebih mandiri dari dulu, justru sekarang kamu lebih berwawasan ketimbang dulu. Harusnya tante Mei melihat ini.”
Riyu masih meyakinkan Kayana untuk tetap berpikir positif. Menenangkan hati sahabatnya yang luka.