“Harusnya aku sadar diri lebih awal ya, Ri. Sebelum rasa cintaku ini tumbuh. Tapi yang namanya perasaan itu kan datangnya nggak bisa diatur ya, Ri?”
“Iya lah, Kay. Padahal Mas Dion itu sayang banget sama kalian. Apalagi ke Erland, mereka kayak udah cocok banget.”
“Itulah, Ri, aku mau cari cara gimana biar Erland nggak selalu nanyain Mas Dion. Dia suka nanya-nanya kalau sehari aja nggak ada kabarnya, entah itu nggak di telephone atau nggak datang kerumah. Kemarin aja nih, Ri, Erland abis ngajakin jalan ke mall sama Mas Dion.”
“Erland udah paham banget ya mana yang tulus sayang sama dia. Kasihan dia, Kay.”
“Iya, makanya gimana dong, Ri.”
“Ya gimana ya, kalau aku yang jadi kamu sih aku bakalan bertahan.”
“Aku nggak yakin, Ri. Saking protektifnya sama Mas Dion, Tante Mei udah kasih peringatan ke aku dua kali lho di red flo. Untung pas nggak ada pengunjung yang datang. Pasti udah malu banget kalau rame. Mana dia kalau bicara nyaring banget tahu, Ri?”
“Hm, serba salah ya jadinya? Kay, nggak gampang dapat laki-laki setulus Mas Dion. Apa lagi yang bisa terima kamu dan Erland apa adanya.”
“Aku tahu, Ri. Tapi gimana mungkin kita lanjutkan hubungan ini tanpa restu dari orang tua?”
“Di luar sana banyak yang begitu, awalnya bertentangan tapi lama kelamaan juga luluh.”
“Mungkin iya, banyak di luar sana yang tetap nekat tanpa restu mereka tapi tidak mudah melupakan rasa sakitku, dihina dan direndahkan seperti itu. Di mata Tante Mei, aku sama sekali nggak ada baiknya. Bahkan saat aku bilang kalau Mas Dion datang yang dicari adalah Erland pun dia bilang aku Cuma alasan, Ri. Dia pikir aku memperalat Erland demi mendapatkan perhatian Mas Dion.”
“Sakit pasti jadi kamu ya, Kay. Aku juga nggak bisa bayangin rasanya jadi kamu. Yang aku tahu, kalau kamu pasti kuat dan mampu melewati ujian ini. Kay, kamu percaya nggak sama keluatan doa dan cinta?”
Kayana menatap heran pada Riyu, diam ketika dua orang karyawan tengah membawakan pesanannya tadi. Mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Kemudian mencicipi minumannya dan mulai untuk makan.
“Kay, Tuhan baik kok, minta sama Tuhan didekatkan dan dimudahkan urusanmu. Mas Dion orang baik, kalian sama-sama pantas saling memperjuangkan dan diperjuangkan. Aku dukung kalian, Kay.”
“Mas Dion.” Kayana susah payah menelan minumannya ketika melihat laki-laki itu berada di tempat yang sama. Datang sendiri dan menghampirinya. Tersenyum manis, sangat manis. Namun senyum itu mengiris hati Kayana, sadar bahwa senyum itu sulit untuk ia miliki.
Riyu pun ikut tersenyum lega, melihat Dion yang tepat waktu untuk datang kesini. d**a Kayana tiba-tiba bergetar, gugup dan entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Sekedar untuk menyusun kata-kata pun ia tak mampu.
Kayana hampir tidak berkedip ketika melihat Dion pertama kali datang hingga saat ini duduk di sampingnya. Mengeluarkan benda dari saku bajunya, benda itu berbentuk kotak dan berwarna merah. Ketika dibuka ia melihat ada sebuah cincin bermata di dalam sana.
“Kayana Evelin, aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Tidak mudah untukku membuka hati dan mencintai perempuan. Dan hanya kamu yang bisa membuat hatiku terbuka. Tak pernah aku merasakan cinta sampai sedalam ini, Kay. Di depan Riyu, sahabatmu, aku ingin melamarmu. Biar dia menjadi saksi bahwa aku benar-benar mencintaimu, aku ingin memperjuangkanmu. Kayana, aku mau jadi pendampingmu. Apa kamu mau menerimaku?”
Tidak ada hal apa pun yang bisa Kayana lakukan. Hanya bisa terdiam, menunduk dan tidak punya keberanian untuk menatap laki-laki di depannya. Dengan kemeja yang lengannya dilipas sampai situ dan rambut yang tidak berubah style membuat Dion tidak kehilangan ketampanannya. Kayana hanya mematung, sesekali melirik ke arah Riyu. Riyu mengangguk dengan mantap, meyakinkan Kayana bahwa Dion begitu serius melamarnya.
“Mas Dion, aku..” Kayana menolak cincin yang disodorkan Dion, menampiknya dan menutup kotak itu sehingga cincin bermata itu tersembunyi lagi di dalam kotak. “Ini pilihan yang sulit, Mas. Aku nggak bisa menerima semua ini, aku nggak pantas bersanding denganmu.”
“Kay, aku bukan siapa-siapa. Apa yang meembuatmu berpikiran seperti itu? Aku malah yang mungkin tidak pantas untuk kamu. Tapi aku ingin menjadi orang baik versi diriku sendiri yang akan aku buktikan bahwa aku bisa membuatmu bahagia.”
“Aku percaya, Mas, aku tahu cinta yang kamu suguhkan untukku begitu besar, pengorbananmu, perjuanganmu dan bantuanmu itu semua sangat lah tulus. Mungkin kita bisa mas untuk melanjutkan hubungan ini, tapi apa kita bakalan kuat bertahan dengan sebuah pertentangan? Cuma itu yang aku takutkan. Sedangkan doa ibu sangatlah berperan penting dalam hidup anaknya.”
“Aku akan meminta restu itu , Kay. Percayalah, kita pasti bisa.”
Kayana sudah dihujani air mata, mengungkapkan apa yang terpaksa keluar dari mulutnya terasa menyakitkan. Hati, pikiran dan ucapannya sama sekali tidak cocok.
Drrt..drrrt..
Ponsel Kayana tiba-tiba berbunyi, sebuah nomor baru memanggil. Kayana terpaksa mengangkatnya.
“Halo,” ucapnya dengan suara yang lirih. Air matanya ia hapus dan menahannya lagi.
“Halo, Kayana?”
“Iya saya.” Ia mengingat-ingat suara siapa di seberang sana. “Dengan siapa ya?”
“Saya Aksa.”
“Oh, Mas Aksa? Gimana Mas?”
Riyu dan Dion saling berpandangan, merekaa merasa belum pernah mendengar nama itu selama ini.
“Saya sudah dapat contoh gambar tanamannya. Nanti saya kirim ke kamu beserta jumlah-jumlahnya ya, Kayana. Untuk DP nya nanti berapa persen, tolong kamu totalkan dan sekalian no rekening yang bisa saya transfer.”
"Oh baik, Mas."
"Untuk tanaman yang belum ada di red flo, nanti saya carikan dulu. Jadi nanti saya kabari harinya kalau sudah siap, tapi sesuai obrolan kemarin, kami akan memberikan yang terbaik dan kami usahakan secepatnya."
"Ya, saya percaya itu. Langsung dikirim ke hotel saja ya, nanti saya kirim alamatnya."
"Baik, Mas."
"Kalau begitu, sudah dulu ya. Terima kasih atas kerjasamanya."
"Saya yang harusnya berterima kasih banyak. Semoga awal yang baik ya, Mas untuk florist saya dan usaha Mas Aksa juga."
"Ya, aamiin."
Telephone terputus. Ada dua pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya dan dengan sengaja diam ikut mendengarkan obrolan via telephone itu. Sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah rekan bisnisnya. Dari percakapan mereka sudah bisa dilihat, Kayana mendapat pesanan tanaman oleh seseorang. Namun yang menjadi penasaran adalah cara memanggilnya, tidak biasanya Kayana memanggil dengan sebutan mas pada rekan bisnis. Itu lah yang ada di benak Dion. Ada perasaan yang aneh, sedikit cemburu menghampiri hatinya