“Siapa, Kay?” rasa penasaran Riyu mulai tidak bisa lagi ditahan. Mendengar nama yang begitu asing baginya namun terlihat sudah akrab dengan Kayana.
“Yang kemarin pesan tanaman hias, Ri.”
“Pengusaha apa?”
“Owner hotel, mau ambil tanaman buat tamannya.”
“Masih muda?”
“Ya lima tahun diatasku kayaknya.”
“Oh..”
Riyu mengangguk, lalu menyeruput minumannya. Menatap Dion dan Kayana dengan bergantian. Bisa dilihat bahwa mereka begitu canggung. Kayana yang tengah ditatap Dion pun hanya tertunduk dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.
“Kay..” Dion kembali lagi memanggil, melihat Kayana yang dengan ponselnya. Perempuan yang selalu tampil cantik meski dengan dandanan yang simple. Lisptik warna pink dan bedak tipis membuatnya tetap menarik dimata Dion.
Kayana pun memberanika diri menoleh menatap Dion ragu.
“Kemarin Tante Mei datang lagi ke florist menemui aku, Mas. Belum ada yang berubah, masih dengan sengit melihatku. Menganggapku sama sekali tidak pantas bersanding denganmu. Bagaimana aku bisa dengan tenang menerimamu, sedangkan Tante Mei jelas-jelas tidak ikhlas kalau kita bersama, Mas. Aku berada diposisi yang menyakitkan. Ada banyak hati yang harus aku jaga. Pertama Erland, dia mengharapkanmu, Mas. Dia seperti memiliki papa kembali saat denganmu. Kedua Tante Mei, jika aku melanjutkan hubungan kita ini, apa tidak akan menyakiti, mengecewakan bahkan melukainya? Semua sangat bertentangan, Mas. Maju salah, mundur pun kalah. Aku bisa apa?”
“Kita hadapi sama-sama, Kay. Biar mama jadi urusanku. Kebahagiaan Erland saat ini yang terpenting bagiku.”
“Bagaiamana bisa hanya jadi urusan Mas Dion? Kalau Tante Mei selalu menyerangku? Tidak banyak yang bisa aku bela, Mas. Semua ucapannya menyudutkan aku. Dan itu benar, aku tidak pantas untuk Mas Dion yang begitu sempurna.”
Perempuan itu memalingkan muka, membuang air matanya yang deras.
“Kayana sahabatku, aku disini nggak mau banyak ikut campur. Aku sayang sama kamu, Kay. Kamu bahagia, kamu seneng, aku ikut seneng. Sebaliknya, kalau kamu sedih aku ngerasa sedih juga. Jujur, melihat keseriusan Mas Dion ke kamu, aku terharu, Kay. Aku berharap kalian bisa bersatu meskipun keadaannya kayak gini. Aku tahu Mas Dion orang yang sangat bertanggung jawab, aku percaya dia bisa jadi papa yang baik buat Erland. Kalau boleh aku kasih saran, tidak ada salahnya mencoba Kay, berjuang bersama Mas Dion. Aku yakin, suatu saat nanti Tante Mei bakalan kasih restu. Aku ingin yang terbaik untuk kamu, Kay.” tidak ketinggalan, Riyu pun ikut meyakinkan Kayana.
“Jujur aku tertekan, Ri, Mas. Aku bingung, untuk saat ini aku belum bisa menerima lamaran Mas Dion.”
“Masih adakah kesempatan untukku, Kay?”
“Entah lah, Mas Aku serba salah..”
“Apa pun itu, aku tetap akan menunggumu, Kay.”
***
Kali ini Dion kembali lagi untuk membujuk Mei, meyakinkan bahwa Kayana adalah pilihan terbaik.
“Ma, selama ini kita juga sudah kenal baik dengan Kayana kan? Dia wanita baik-baik, alasan apa lagi yang bikin mama menghalangi hubungan mereka?” Papa Candra mengusap punggung Mama Mei dengan begitu pelan, mencoba menenangkan hati istrinya. Istri dan anaknya sama-sama berharga. Baru kali ini mereka berbeda pendapat hingga sebegini rumitnya.
“Papa pengen tahu apa alasannya?”
Candra mengangguk, lalu melihat Dion yang tertunduk lelah dipinggiran sofa.
“Karena status Kayana.” Singkatnya.
“Ma, nggak ada yang beda dari sebuah status. Semua sama dimata Tuhan. Lagipula mama juga tahu kan, apa alasan Kayana berpisah dengan Julio? Karena maut, Ma. Bukan perpisahan yang memalukan. Itu jelas lebih terhormat, dia perempuan yang hebat. Nyatanya dia bisa bangkit demi Erland. Papa yakin, Dion memilih Kayana pasti dia punya alasan yang masuk akal. Ma, Dion anak kita sekarang sudah cukup dewasa. Pastilah tahu yang baik dan buruk.”
“Benar kata papa, Ma. Banyak alasan kenapa Dion sangat ingin menjadikan Kayana sebagai istri Dion, salah satunya karena Dion sudah janji sama Julio waktu dulu. Bahwa Julio meminta Dion menjaganya.”
“Menjaga tidak berarti harus menjadikan dia istri kan? Kamu boleh mejaga dan memberikan bantuan materi atau yang lain, asalkan tidah menikah.”
“Ma, bukankah dulu kita juga pernah muda? Dulu kita saling jatuh cinta dan orang tua kita tidak ada yang menghalangi. Karena orang tua papa juga sudah tahu banyak tentang mama dan memberi kesebasan untuk memilih pasangan.”
“Ya itu kan dulu, orang tua kita belum berpengalaman. Kalau sekarang kita sudah tau mana yang terbaik. Jadi mama berhak ikut andil dalam hal ini, Pa. Dion adalah anak satu-satunya yang kita miliki, apa salah kalau Mama ingin yang terbaik dalam hal jodoh?”
“Nggak salah, Ma. Tapi yang akan menjalaninya nanti kan Dion sendiri, dia punya pilihan dan berhak atas pilihannya. Kebahagiaannya hanya dia sendiri yang menciptakan. Sebagai orang tua, kita wajib mendoakan. Kalau memang pilihannya baik, kenapa harus kita halangi?”
“Apa papa bisa jamin, dengan Kayana anak kita Dion akan bahagia?”
“Tuhan yang jamin, Ma. Tapi papa yakin, Kayana wanita baik-baik.”
“Ma, mama lihat Erland? Anak lucu, pintar dan masih sangat kecil. Dia sangat merindukan Julio dan mama tahu nggak, setiap kali Erland ketemu sama Dion, dia seneng banget, Ma. Dion yakin kalau nanti Mama kenal dekat dengan Erland, Mama pasti jatuh cinta dengannya. Dia sangat lucu, Ma.”
“Dion, kamu sama Kayana sengaja janjian ya, pakai alasan Erland untuk alat kalian? Dengan anak kecil yang suruh membujuk Mama?”
“Sama sekali tidak, Ma. Ini sangat serius, bahkan kemarin Erland sempat minta sendiri Dion untuk jadi papanya. Apa Mama tega mengecewakan Erland?”
“,Halah, paling juga Cuma akal-akalan kalian aja. Lagipula harusnya Kayana itu sabar dulu. Nggak habis pikir, suaminya baru pergi hampir satu tahun tapi udah gampang banget jatuh cinta.”
“Mama salah, butuh waktu lama untuk membuat Kayan jatuh cintà, Ma. Selama ini susah sekali Dion membuka hati dia. Karena dia sangat mencintai Julio. Jadi Kayana jatuh cinta karena aku yang lebih dulu memberi perhatian padanya. Dia buka wanita seperti yang Mama rasa. Please, Ma.. terima Kayana.”
Dion terus memohon dengan cara terbaik, namun Mei masih dengan pendiriannya. Entah terbuat dari apa hatinya. Sampai begitu kerasnya, tidak bisa menerima hanya karena status sosial. Ia tidak peduli dengan kebahagiaan anaknya sendiri.