33

1090 Kata
Pagi ini Kayana sedikit kesiangan, tadi malam ia pulang terlalu larut. Setelah siangnya sibuk mengurusi tanaman pesanan Aksa dan dilanjutkan menyelesaikan beberapa buket bunga. Karena terlihat nyenyak dan lelah, Anandita pun tidak enak jika membangunkannya seperti biasa. Sarapan sudah tersedia di meja makan dengan menu nasi goreng dan perkedel kentang buatan Bibi Ana. Erland juga sudah mandi dan rapi sekali. Ketika Anandita dan Erland sudah siap untuk sarapan, Kayana keluar dari kamar tentunya sudah mandi dan rapi juga. Rambut panjangnya ia ikat satu. “Mama!” seru Erland bahagia sekali, lesung pipinya yang hanya ada di pipi kiri membuat meleleh setiap orang yang diberi senyuman. Terutama Kayana, ia amat sangat candu dengan senyum Erland. “Pagi sayang anak Mama Kay. Emuuaah.” Mencium kening putra semata wayangnya dan duduk di samping kanan Erland. “Anak Mama wangi banget sih? Udah rapi juga.” “Iya dong, Mama. Erland kan udah mandi.” Katanya selesai menyuapkan sesendok chococrunch dan s**u putih. “Emh, pinternya. Maaf ya, Mama kesiangan pagi ini.” “Nggak apa-apa, Kay. Kamu pasti kecapekan.” Anandita kemudian menyimpulkan, ia lalu mengambilkan nasi goreng dan lauknya di piring Kayana. “Lumayan, Ma.” Kayana tersenyum, sangat bersyukur memiliki keluarga yang saling menyayangi. “Kemarin jadi antar tanaman ke hotel?” “Kay nggak ikut lah, Ma. Anak-anak yang ikut. Kay sama Shasy jaga florist sambil bikin pesanan buket.” “Alhamdulillah ya, Kay. Floristmu mulai ramai, banyak pengunjung dan pesanan. Harus banyak-banyak bersyukur ya.” “Iya, Ma. Kay bersyukur banget, keuntungan yang Kay dapat dari hotel Noe kemarin cukup banyak. Hampir tujuh ratus polibag lho, Ma. Dan yang diminta kebanyakan mahal harganya. Alhamdulillah jadi bisa kasih bonus buat anak-anak.” “Syukurlah, Kay. Mama seneng banget lihat kamu seperti ini. Terlihat kuat dan mandiri. Hebat kamu, Nak.” “Ma, bukan Kay yang hebat. Tapi karena Tuhan yang baik banget masih kasih Kay kesempatan untuk berkembang. Juga karena doa Mama, suport dan semua bantuan yang Mama beri. Peran Mas Dion dan Riyu nggak ada duanya, Ma. Kalau nggak ada mereka, nggak tau lagi deh Ma, Kayana bisa apa.” “Iya, Kay. Ternyata Tuhan sudah siapkan kejutan-kejutannya buat kamu setelah banyak kesabaran yang kamu lalui. Allah kirim orang-orang baik buat kamu yang selalu siap membantu.” “Iya, Ma. Berkat red flo, sekarang Kay bisa punya penghasilan. Juga kesibukan yang bikin Kay nggak sesedih dulu.” “Mama jadi inget dulu, Kay. Gimana terpuruknya kamu. Diam di kamar berbulan-bulan. Nggak melakukan apa pun, Erland juga jadi anak pemurung. Ya Tuhan, masa-masa itu menjadi masa tersulit buat kamu, Kay.” “Iya, Ma. Menyedihkan kalau inget waktu itu. Hm, udah ah, Ma jangan diingat-ingat. Sekarang keadaannya udah berbeda dan yang penting doa kita nggak pernah putus untuk Mas Julio. Semoga dia senang melihat Kay bisa bangkit dan berjuang untuk Erland.” “Pasti itu, Kay. Doa kita akan mengalir untuk Julio dan Mama yakin, dia sudah benar-benar tenang sekarang. Kay, terus gimana hubunganmu dengan Dion?” “Ya, begini aja, Ma. Kayana memilih berhenti mencintai Mas Dion daripada akhirnya nanti kita nggak mungkin bersatu.” “Mama masih selalu berdoa untuk kalian, Kay. Semoga suatu hari nanti kalian dipersatukan.” “Iya, Ma. Meskipun itu terasa mustahil.” “Berpikir positif, Kay. Tuhan pasti mengabulkan doa-doa yang tulus.” “Iya, Ma.” “Ma, Erland nanti boleh ikut ke toko?” tiba-tiba Erland menghentikan makannya. “Boleh dong sayang, kenapa kok tiba-tiba pengen ikut ke toko?” “Nggak apa-apa, Erland Cuma pengen ikut aja.” “Iya Erland anak baik. Selesai sarapannya terus habis ini kita ke toko ya!” “Iya, Mama.” Erland menurut, menghabiskan sarapannya dengan semangat. Lalu mengekor mamanya ke toko. Karena sudah siang, florist sudah nampak ramai. Sudah ada tiga mobil dan beberapa sepeda motor terparkir disana. Kayana menggandeng tangan Erland penuh cinta, mengayunkannya sambil bernyanyi. Lalu sebentar-sebentar menatap Erland dan tersenyum. Baru saja sampai di halaman, suara Shasy sudah melengking memanggil Erland. “Erland, wah.. Erland ikut mama ke toko ya? Peluk tante sini! Tante kangen deh sama Erland.” Shasy berlari ke depan pintu, menyambut Erland dan menggendongnya. Di dalam toko sudah ada beberapa pengunjung yang tengah memilih-milih bunga, sedang ada juga yang melihat-lihat tanaman hias. “Erland juga kangen sama Tante Shasy. Tante nggak mau main sih ke rumah.” “He he he, iya ya, Tante langsung pulang ke rumah soalnya. Kapan-kapan kita main ya.” “Oke tante.” “Kita masuk yuk, main di dalam.” “Ayo tante.” Shasy menggendong dan membawanya ke dalam, anak laki-laki menggemaskan itu menenteng mainan mobilnya. Ia lalu mendudukkan Erland di sofa. Mengambil toples snak di meja kasirnya dan meletakkannya di meja sofa. “Erland, tante Shasy tinggal dulu ya. Tante mau bikin buket. Erland mainnya sama tante nanti ya. Erland suka keju kan? Tante punya snak keju nih buat Erland.” “Oke tante, makasih ya tan.” Erland ditemani Kayana duduk di sofa, bermain-main dengan mobil kecilnya. Kali ini Kayana berniat untuk kembali menggunggah foto dan info floristnya, karena ia harus sambil menjaga Erland. Disela-sela aktifitasnya, Kayana kedatangan tamu. Dua orang perempuan dengan kaos warna hitam seragam. Setelah bertanya-tanya dengan Shasy di depan, mereka lalu menghampiri Kayana dan Erland di sofa pojok. “Selamat pagi, Mbak Kayana ya?” Sapa salah seorang dengan name tag di dadanya, tertulis Ferda. “Iya selamat pagi.” “Perkenalkan kami dari Delisya Event Organizer, saya Ferda dan teman saya Ocha.” “Oke, Ferda dan Ocha silahkan duduk.” “Terima kasih, Mbak. Jadi kedatangan kami kesini ingin mengajak Mbak Kayana kerja sama dengan kami. Tempo hari kami sudah ambil bunga dari sini dan kami cukup puas, Mbak. Kostumer kami juga memuji bunga-bunga yang kami hias. Jadi kami akan mengontrak red flo selama tiga bulan agar menyediakan bunga untuk segala event kami. Bagaimana, Mbak?” “Oh, begitu, syukurlah event organizer kalian puas dengan bunga-bunga dari kami. Karena memang kami selalu menyediakan bunga yang fresh. Baik, saya akan sangat senang bisa menjadi bagian dari kerja keras kalian. Saya mau dan menyetujui kontrak ini.” “Syukurlah, kalau begitu ini surat kerjasamanya, Mbak Kayana bisa menandatanganinya disini, nanti setiap event kami akan memberikan DP lima belas persen dan untuk pelunasannya akan kami beri waktu pengambilan bunganya.” Kayana mengangguk, membaca baris demi baris tulisan di satu lembar kertas itu. Kemudian setelah mengerti, ia pun menandatanganinya. Dengan senyuman mereka saling berjabat tangan tanda bahwa sepakat. Ada senyum kebahagiaan dalam hati Kayana bisa diterima baik oleh kalangan para pengusaha dan pecinta bunga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN