Kayana mengantarkan kedua tamunya ke depan pintu hingga akhirnya melihat mobil yang mereka kendarai bergegas pergi dari floristnya. Erland ada dalam gendongannya, ia memeluk dan menimang-nimang bocah yang sebenarnya sudah tidak kecil lagi untuk ditimang.
Tubuh kecil itu ia kelitik hingga keluarlah tawa renyahnya, membuat yang melihat jadi ikut tertawa. Shasy yang sedang berada di depan mereka pun ikut dalam candaan itu. Bergaantian menggendong Erland. Sebagian besar yang kenal dengan Erland bisa dikatakan menyayanginya, ingit dekat dengannya dan pasti meliliki rasa iba.
Pengunjung berdatangan, keluar masuk florist. Shasy dan kedua temannya terlihat sibuk sekali, namun Kayana kali ini tidak ingin ikut dalam kesibukan mereka. Ia memilih untuk sekedar mengawasi beberapa karyawannya yang memang sudah bisa diandalkan. Menjaga Erland dan sesekali menanggapi teman-teman dunia mayanya di beberapa media sosial. Kayana kemudian terkejut melihat ada seseorang yang datang, ia tersenyum begitu melihat Kayana. Seorang laki-laki yang tempo hari sudah datang kesini, membeli tanaman hias untuk hotelnya. Aksa, owner dari Noe hotel yang ternyata tertarik dengan Kayana.
“Selamat pagi Pak Aksa, silahkan masuk, enjoy di red flo.” Begitulah Shasy biasa menyapa para tamu. Dua kali datang ke red flo, membuat gadis berponi itu mudah menghafalnya.
“Terima kasih, boleh saya bertemu Bu Kayana?”
“Silahkan, Pak Aksa.”
Aksa tersenyum, mengangguk dan menghampiri Kayana. Berdebar hatinya melihat wajah ayu perempuan itu, namun sebisa mungkin ia sembunyikan agar tidak terlihat gugup.
Kayana berdiri dan mempersilahkan duduk begitu Aksa sudah berada dekat dengannya.
“Silahkan duduk, Mas Aksa.”
“Terima kasih, Kayana.” Aksa duduk berhadapan dengan Kayana, menatap Erland penuh tanda tanya.
“Bagaimana, Mas? Apa ada yang kurang dengan tanaman-tanaman yang kami kirim kemarin?”
“Oh, tidak ada kok, Kay. Sa-“
“Mama, Erland mau pulang.” Tiba-tiba Erland merengek pada mamanya. Menyembunyikan dirinya di samping Kayana. Dengan ketakutan ketika Aksa melihatnya, padahal Aksa sudah memberikannya senyuman, namun entah kenapa Erland merasa ketakutan.
“Erland sayang, kenapa?” Kayana mencoba mengangkat badan Erland, namun Erland menolak dan memilih tetap bersembunyi di sampingnya.
“Ma, Erland mau pulang.”
“Iya sayang, tapi kenapa? Erland ngantuk?” bocah kecil itu hanya menggeleng, “mau makan?” menggeleng lagi, “apa mau dibuatin s**u?” lagi-lagi hanya menggeleng tanpa ada jawaban lain.
“Pulang, Ma.”
“Iya, sebentar. Ini mama ada tamu, sabar ya. Sebentar aja.”
“Pokoknya pulang, Ma.”
“Tapi ini mama ada tamu lho, Er. Sebentar ya, atau Erland pulang diantar Tante Shasy, mau?”
“Nggak mau, sama mama aja.” Kali ini Erland hampir menangis, matanya sudah mulai berwarna merah.
“Oke, sayang, oke. Kita pulang sekarang ya. Tapi Erland diam dulu nggak boleh sambil nangis, nanti Oma kebingungan lihat Erland nangis.”
Dan Erland berhenti menangis seketika itu juga, Kayana menggendongnya dan berdiri. Erland pun menutup wajahnya dipundak Kayana, seolah benar-benar tidak mau melihat Aksa.
“Mohon, maaf, Mas Aksa. Saya harus pulang dulu untuk antar Erland anak saya. Kalau ada kepentingan mengenai kerjasama kemarin, Mas Aksa bilang langsun menyampaikannya pada Shasy. Nanti saya yang pikirkan. Tapi kalau memang harus dengan saya, silahkan tunggu sebentar.”
“Baik, Kay. Nggak apa-apa silahkan. Saya tunggu kamu aja. Oh iya, ini putramu ya?” Tanya Aksa mencoba untuk mendekati.
“Iya, Mas. Ini putra kesayanganku, semata wayangku, namanya Erland. Erland mau kenalan sama Om Aksa teman mama?” lagi-lagi Erland menggeleng, tangannya semakin erat memeluk Kayana. Kayana mengerti dan tidak mau berlama-lama melihat Erland ketakutan. “Maaf ya, Mas, lain kali aja kenalannya sama Erland. Aku pamit pulang dulu.”
“Nggak apa-apa, gimana baiknya aja. Kasihan putramu.”
Kayana bergegas jalan pulang ke rumah, pelukan Erland belum juga dilepas hingga sampai rumah. Anandita yang melihat bahwa cucunya meminta gendong langsung menghampiri dan berusaha untuk gantian menggendong.
“Kok Erland minta gendong? Kasihan dong mamanya, sini sama oma.”
Erland menurut, menyambut tangan omanya.
“Kay, kenapa ini? Erland habis nangis ya?”
“Nggak tau, Ma. Tiba-tiba aja dia ngajakin pulang, padahal tadi mainan baik-baik aja. Malahan dia seneng banget.”
“Erland haus? Atau ngantuk, pengen bobok?” semua pertanyaan oma lagi-lagi hanya dijawab dengan gelengan.
“Tuh kan, Ma! Kayana juga bingung kenapa.”
“Oma buatin s**u ya!”
“Nggak mau oma.”
“Ya udah kalau nggak mau, tapi kok Erland nangis tadi? Coba cerita sama oma, Erland kenapa?”
Erland mencari-cari mainannya, namun tidak ia temukan, “Ma, mainan Erland mana?”
“Oh iya, mainannya ketinggalan di toko ya? Mama ambilin dulu ya, sekalian nemuin tamu Mama tadi. Kasihan kan nungguin Mama. Erland di rumah sama oma dan bibi. Oke?”
“Nggak mau, mama di rumah aja. Erland mau sama mama aja.”
Kayana semakin tidak mengerti apa yang terjadi dengan Erland. Mendadak ia begitu rewel dan manjanya tidak mau ditinggal oleh Kayana barang sedetik pun.
“Sayang, kan katanya nyariin mainan. Makanya mau mama ambilin dulu terus mama pulang lagi. Kan Cuma sebentar, Er.”
“Nggak mau mama.”
“Terus mainannya?”
“Mama suruh Tante Shasy aja yang antar kesini.”
“Erland sayang, tadi udah lihat sendiri kan kalau Tante Shasy sibuk banget tadi. Kasihan kan? Nggak apa-apa ya, mama tinggal bentar aja!”
“Nggak mau, Erland nggak mau.” Tiba-tiba Erland berteriak dan menangsi.
“Kay, udah lah kamu mengalah dulu. Telepon Shasy suruh antar mainannya kesini bentar apa susahnya sih daripada Erland menangis sampai kayak gini. Lagian ada tamu siapa sih yang nungguin?”
“Ada Mas Aksa, Ma.”
“Siapa itu Mas Aksa?”
“Itu lho, Ma. Owner hotel Noe yang kemarin minta tanaman hias.”
“Oh, memangnya ada perlu apa, Kay? Penting banget? Apa nggak bisa bahasnya sama Shasy aja?”
“Nggak tahu, Ma, tadi baru mau bilang keperluannya apa, Erland udah nangis aja minta pulang.”
“Ya udah, suruh Shasy kesini bawa mainan Erland. Udah sekarang gimana nyamannya Erland aja, kamu nggak usah ke toko dulu kalau Erland masih kayak gini. Erland lebih penting dari pada apa pun, Kay.”
“Iya, Ma, Kayana telepon Shasy dulu.”
Dengan cepat Kayana mengambil ponsel di saku celananya, mencari nama Shasy dikontak telepon.
“Halo, Shas.”’
“Iya, Bu Kay.”
“Pak Aksa masih disitu?”
“Masih, Bu.”
“Kamu sibuk?”
“Baru aja selesai tiga buket, gimana bu?”
“Ya udah, sekarang kamu ke rumah dulu. Sekalian bawain mobil mainan Erland di sofa ya!”
“Baik, Bu Kay.”
“Sekarang ya, Kay. Jangan lama-lama.”
“Siap, Bu Kay.”
Tidak menghabiskan waktu yang lama untuk Shasy sampai dirumah. Gadis cantik itu tergesa-gesa, sampai napasnya terdengar ngos-ngosan. Langsung masuk ke dalam yang sebelumnya sudah mengucap salam dulu. Begitu kagetnya melihat Erland menangis dan tengah dipangku omanya.
“Ini sayang, mainannya. Tapi lupa nggak dibawa ya, makanya nangis gini?” menyodorkan mobil mainan warna biru pada Erland. “Lain kali jangan nangis lagi ya?”
Erland mengangguk dan menerima mainannya.
“Shas, Mas Aksa di florist?”
“Masih, Bu Kay. Sepertinya masih nungguin Bu Kay.”
“Gini lho, Shas, Erland kan nggak mau saya tinggal. Kamu tolong sampaikan permintaan maaf saya, maaf saya nggak bisa menemui lagi. Kalau semisal ada perlu apa pun, bilang aja kalau kamu siap menghandle semua pekerjaan. Paham?”
“Iya, Bu Kay, saya paham.”