35

1064 Kata
“Ya udah, kalau gitu kamu boleh balik lagi ke florist, Shas.” “Siap, Bu Kay. Erland, Tante Shasy ke florist dulu ya. Jangan nangis lagi, nanti mobilnya mogok lho kalau nangis terus.” Ucap Shasy. Shasy mendekati Erland yang saat itu mukanya masih terlipat. Gemas sekali. Tiba-tiba mendengar perkataan Shasy, ia pun tertawa dan melihat mainannya. “Tante lucu, mobilnya kok bisa macet gara-gara Erland nangis?” Erland kali ini justru tertarik dengan lelucon Shasy. “Ya bisa dong, Er. Kan nanti mobilannya bisa basah kena air mata Erland. Iya nggak?” “He he he, iya ya Tante.” “Iya dong, makanya Erland nggak boleh nangis lagi. Nanti Tante Shasy ikut sedih jadinya.” “Iya, Erland besok nggak nangis lagi.” “Bener?” “Iya, tante.” Erland mengangguk dan mengusap matanya. “Sip, ini baru namanya anak keren. Tos dulu dong.” Shasy membuka telapak tangannya dan mengajak Erland untuk tos. “Oke, anak keren, Tante Shasy pergi dulu, ya! Da da.” “Da da Tante.” “Shas, makasih ya. Karena kamu Erland jadi nggak nangis lagi.” “Sama-sama Bu Kay.” Shasy tersenyum lega melihat Erland berhenti menangis, lalu memandang Kayana dan Anandita yang tidak kalah leganya. Melihat pemandangan itu, Shasy beranjak pergi dan kembali ke florist. Rasa penasaran masih menganggu Kayana. Alasan apa yang membuat Erland menangis ketakutan begitu. Padahal sebelumnya baik-baik saja. Kayana mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya pada Erland. Melihatnya bisa tertawa lagi seperti tadi sudah cukup membuatnya tenang. Karena itu ia tidak ingin merusak suasana hati Erland lagi. Benar apa kata Anandita, Erland lebih penting dari apa pun. Kali ini Kayana ingin menghabiskan waktunya hanya untuk bersama dengan Erland. Meluruskan tubuh di sandaran kursi, kayana berusaha mengatur napasnya agar terasa lebih rileks. Memperhatikan Erland yang tengah bermain-main dengan mobilannya. Bibi Ana pun datang, membawakan sebotol s**u untuknya. Dengan cekatan bocah kecil itu dipangku dan diberi botolnya tadi. Diusap-usapnya kening yang tertutup rambut, juga dinyanyikan lirih lagu nina bobo. Erland terlihat tenang dan menurut, begitu susunya habis mata itu tertutup, ternyata ia tidur. “Pantas tadi rewel ya, Bi. Ternyata ngantuk, aku sampai nggak hafal gitu.” “Tapi biasanya juga nggak begitu rewel kok, Bu. Malah sekarang Erland sudah bisa bilang sendiri kalau mau bobok.” “Iya kah, bi? Terus kenapa ya? Tadi histeris banget lho, sampai-sampai tadi dia sembunyi digendoganku.” “Mungkin lagi pengen dimanja-manja kali, Bu. Biasa lah, anak kecil kalau minta perhatian kan seringnya gitu. Seperti nggak bisa dinalar sama orang dewasa.” “Bisa jadi sih, Bi. Ya semoga aja nggak ada apa-apa lah, Cuma ngantuk aja.” Kayana menyerah dan hanya bisa berdoa bahwa ini adalah hal biasa untuk anak kecil seusia Erland. Melihat Erland yang sudah tertidur, Kayana berniat untuk kembali ke toko untuk sekedar memastikan bahwa disana cukup aman dan bisa untuk ia tinggal sehari ini. “Kay, ke florist dulu ya, Ma.”’ “Sekarang?” “Iya, mumpung Erland udah tidur. Takut pada kelabakan kalau nggak Kay bantu.” “Hm, udah lah Kay, kamu istirahat dulu temeni Erland di kamarnya. Tahu sendiri kan tadi Erland bilang apa, dia lagi mau bareng-bareng sama kamu. Mama yakin karyawanmu sudah cukup cekatan, Kay. Shasy juga bisa diandalkan. Kamu tenang aja ya, berpikir positif dan jangan terforsir. Yakin mereka pasti bisa menghandle semuanya. Kay, mama tahu gimana kamu berkerja keras demi masa depan Erland. Tapi kamu juga harus memikirkan dirimu sendiri, jangan sampai pekerjaanmu membuatmu lupa menjaga diri. Apalagi dengan kesehatan kamu, antara pekerjaan, keluarga dan kepentingan pribadimu harus seimbang. Pintar-pintar bagi waktu ya, biar waktu untuk istirahat juga terpenuhi.” “Iya, ma. Kay ngerti itu. Kayana Cuma takut nggak maksimal buat Erland, Ma. Kay juga Cuma pengen memberikan yang terbaik, tanpa kekurangan dan bisa bikin dia bahagia. Makanya sebisa mungkin Kay mengusahakan yang terbaik.” “Mama percaya, Kay. Tetapi untuk saat ini kehadiranmu buat Erland lebih penting dari apa pun itu. Perhatianmu lebih ia butuhkan daripada materi yang kamu kejar. Jadi sekarang jangan begitu sibuk dengan florist sampai lupa waktu, bahwa ada yang menunggumu di rumah.” “Apa selama ini Kay terlalu sibuk, Ma?” “Ya, bisa dibilang begitu, Kay. kan kamu bisa pulang dulu ke rumah pas jam makan siang atau jam Erland tidur, setidaknya ia tidak merasa cemburu, Kay.” “Baik, Ma. Kay bakalan rubah sikap Kay selama ini. Maafin Kay ya, Ma.” “Kay, kamu harus ingat, kamu adalah anak mama satu-satunya, meskipun saat ini kamu juga sudah menjadi seorang ibu. Kamu masih tetap seperti anak kecil mama yang lucu, yang mama sayangi melebihi diri mama. Karena itu mama adalah orang yang pertama kali terluka saat kamu kenapa-napa, begitu sebaliknya, saat kamu bahagia, mama adalah orang yang pertama kali paling bahagia. Jadi jangan kamu kira, mama nggak khawatir saat kamu bisa kesana kesini dengan usahamu yang baru ini, Kay. Yang kurang istirahat, yang sering banget kecapekan sampai kurang makan. Mama juga ingin yang terbaik buat anak Mama, mama juga nggak mau kamu kenapa-napa akibat dari kesibukanmu, Kay. Sekarang kamu udah punya karyawan, kamu berhak memerintah mereka untuk urusan pekerjaan. Jadi kamu nggak capek dan nggak sibuk sendiri.” Kayana mengangguk, mengerti betapa khawatirnya mamanya sama seperti ia mengkhawatirkan Erland. Rasa yang berlebihan akan berujung tidak baik. Yang dikatakan mamanya banyak benarnya. Untuk apa bekerja mati-matian jika anak akan kurang kasih sayang dan perhatian. Dipeluknya tubuh Anandita dan menangis dalam pelukannya. Bisa ia rasakan kasih sayang itu untuknya. Setelah menjadi seorang ibu, Kayana paham betapa ia akan rela melakukan apa saja untuk anaknya tanpa memikirkan lagi bagaimana kondisi dirinya sendiri. Apa yang mereka rasakan itu sama. Mereka sama-sama ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun terkadang Kayana lupa bahwa Mamanya akan memiliki kekhawatiran yang lebih ketika ia berjuang mati-matian untuk Erland. Kayana pikir, kedewasaan akan membuatnya mampu melakukan apa pun demi Erland, tanpa berpikir lagi bahwa ia juga punya ibu yang juga tengah mengawasinya. Yang merasa sakit saat ia sedang tidak baik-baik saja. Ini membuatnya sadar, mungkin ia pernah egois terlalu mengkhawatirkan masa depan Erland. Hingga ia mempersibuk diri agar lebih sukses dan bisa diandalkan. Namun kesibukannya justru membuat hati Anandita iba, ia begitu kasihan melihat Kayana mengesampingkan kebahagiaannya untuk Erland. Meskipun semua ibu juga pasti akan melakukan hal yang sama. Karena itu, ia ingin merubah pola pikirnya. Erland memang harus diperjuangkan, namun hati dan perasaaan Anandita juga harus ia jaga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN