36

1005 Kata
Pov Kayana [Kay, besok siang aku ke florist ya. Aku ingin bertemu denganmu. Aku rindu Erland dan kamu.] Tiba-tiba sebuah chat masuk di aplikasi hijauku. Sebuah nama yang membuat hatiku berdesir, namun ingin aku lupakan. Apa yang harus aku lakukan, untuk menghindari pertemuan yang sebenarnya selalu aku harapkan. Belajar melupakannya adalah hal yang menyakitkan dan menghilangkan rasa cinta untuknya adalah suatu kepahitan. Aku belum tahu apa yang harus aku lakukan, bertahan atau melupakan. Pesan dalam ponselku itu masih aku pandangi, aku baca berulang-ulang. Tidak ada yang berubah dari pesannya namun terasa sama seperti pertama kali aku membacanya,lagi, lagi dan lagi hatiku bergemuruh. Ku ketik untuk membalas, namun setelah kalimat demi kalimat sempurna kutulis, jariku justru menghapusnya, ku ketik dan ku hapus lagi hingga berkali-kali. Sampai pada akhirnya aku berniat untuk tidak jadi membalasnya. Aku tidak tahu jawaban apa yang akan aku beri untuk pesan itu. Ingin rasanya ku jawab dengan kata ya, namun mulut berkata jangan. Sama sekali tidak sinkron. Aku sadar, saat ini hatiku sedang bergemuruh. Ku akui, Mas Dion adalah laki-laki pertama yang bisa membuat hatiku sembuh atas luka yang parah, yang kukira dulu tak akan ada obatnya. Dia yang membuat aku berani untuk berharap lagi. Menjadi laki-laki pertama yang bisa sabar menghadapi Erland, anak kesayanganku. Yang selalu ada disaat aku berada pada posisi paling terpuruk. Yang sering memprioritaskan Erland demi kebersamaannya. Pantas saja Erland juga sangat menyayangi laki-laki itu. Dan ketika aku ingin memulai semuanya, benteng besar menjadi sebuah penghalang. Aku seperti sedang berada dalam taman yang indah, disuguhi bunga-bunga yang beragam, namun tidak satu pun bisa aku sentuh. Ardiansyah Dion, pribadinya yang baik dan penuh dengan kasih sayang juga sangat menghargai seorang wanita. Dia adalah laki-laki yang pertama kali aku harapkan, meski pada awalnya aku bersikeras hanya akan menganggapnya kakak. Namun perlakuannya yang baik setiap waktu membuatku menyerah, aku perlahan juga menyukainya. Bukan karena profesinya, ketampanannya, dan kemapanannya namun karena hati dan perlakuannya. Meskipun secara fisik Mas Dion mendekati sempurna, namun kujelaskan sekali lagi, fisiknya bukanlah alasan utama yang membuat hatiku jatuh. Mungkin benar kata pepatah, cinta datang karena terbiasa. Dan kurasa aku contoh nyatanya. Caranya memperlakukanku sama seperti Mas Julio dulu, penuh cinta, lembut dan perhatian. Namun caranya mengubah mindsetku yang berbeda, membuatku bersyukur berada ditahap ini yaitu, menjadi pribadi yang jauh lebih baik daripada dulu. Dan itu harus aku buktikan padanya, jika nanti aku tidak bisa bersanding dengannya, aku sudah siap untuk berdiri sendiri. Mas Dion memang baik, membuatku lebih baik. Namun ternyata aku memang tidak pantas untuknya. Pertentangan ini harus aku terima, mau atau pun tidak. Dan untuk kedua kalinya, aku kehilangan orang yang aku sayangi. Sama-sama sakit. Bedanya saat ini aku masih bisa selalu melihat matanya yang indah, aku juga akan mempersiapkannya agar aku tidak terlanjur hancur lagi. Dan jangan sampai luka itu lebih parah. Ponselku berdering, sebuah panggilan telepon masuk. Masih aku pegang tanpa ku lihat siapa yang memanggil, berharap nama Mas Dion yang tengah muncul dalam layar. Meskipun akan lebih bingung lagi bagaimana aku menjawabnya. Ketika ku lihat ternyata bukan nama itu yang memanggil. Aku justru begitu kecewa dan malas sebab nama Aksa yang ada dalam panggilan itu. kali ini aku masih enggan memikirkan pekerjaanku, Aksa menelepon pasti ingin membicarakan tentang tamannya. Dan aku sebenarnya ingin sebentar saja melepas beban itu. Tentang pekerjaan biar lah aku kembali berpikir setelah hari ini. Dan aku mulai esok saja. Dua kali panggilan baru aku angkat. “Halo, Kay.” “Ya, Mas Aksa. Ada apa?” “Kamu baik-baik aja?” “Baik, alhamdulillah.” “Anakmu baik-baik aja?” “Iya, kami baik. Oh iya, maafkan aku tadi anakku nggak mau aku tinggal ke florist lagi.” “Dia sakit?” “Nggak kok, Cuma lagi manja aja.” “Syukurlah.” “Gimana mas, tadi pagi ada apa? Apa ada yang salah atau kurang dari tanaman kami?”’ “Oh nggak ada kok, Kay. Justru aku mau berterima kasih berkat kerjasama denganmu proyek taman saya jadi cantik dan selesai tepat waktu.” “Sama-sama, Mas. Ini memang pekerjaan saya yang kalau pembeli merasa puas dan senang maka itu kebanggaan saya. Jangan kapok ya, Mas.” “Tentu saja nggak kapok lah, Kay. Aku akan menggunakan red flo untuk setiap event yang ada di hotel nantinya.” “Terima kasih banyak, Mas.” “Sama-sama.” “Ada lagi?” “Nggak ada, Kay.” “Ya sudah, kalau gitu telepon saya tutup ya, Mas, saya mau istirahat dulu.” Kalau hanya sekedar berterima kasih tidak harus repot-repot datang ke red flo atau telepon malam-malam begini. Banyak pembeli bungaku yang mengambil banyak, juga tidak seperti dia. Menurutku ini berlebihan. Aku masih memikirkan Mas Dion, sedang apa dan bagaimana perasaan hatinya saat ini. Apakah ia sedang memikirkan aku? Atau ia sudah lupa karena aku abaikan? Ah sudah lah. Ternyata membohongi diri sendiri itu adalah tahap paling menyakitkan. Dimana aku harus sekuat tenaga meyakinkan diriku bahwa aku masih sanggup biasa saja. Sebenarnya aku ingin mengiyakan permintaan itu, namun aku takut perjuangannya akan sia-sia. Karena aku yakin, sekuat-kuatnya kita mempertahankan jika hati orang tua tidak tersentuh maka berhentilah. Mana mungkin aku berani menembus benteng itu. Semesta seperti mengiringi kesedihanku, hatiku yang tengah pecah hampir berkeping-keping ditemani derasnya air hujan di luar sana. Aku bangkit dari dudukku, berdiri menepi di depan jendela kaca kamarku. Seandainya saja ada alasan untukku keluar sana, maka sudah kulakukan saat ini juga. Menyatu dengan alam, menyambut hujan dengan hatiku yang lapang. Dengan begitu mungkin air mataku tidak akan terlihat oleh satu orang pun. Sehingga ia bisa dengan bebasnya mengucur deras, tidak ada yang melarang dan menahan. Mungkin cara itu bisa sejenak melunturkan sakit di hatiku. Meski tidak ada mudah hilang, namun setidaknya bisa sedikit terasa ringan. Seperti hujan, kata demi kata ketakutan menyerangku belum ingin berhenti. Kunikmati itu semua sebagai pelajaran berharga, biar mereka menyerang dengan gagahnya dan akan aku terima. Bila seandainya nanti aku sudah tak sanggup melawan, maka aku memilih untuk pasrah dan menyerah. Lalu ingin aku menghilang, jauh untuk pertama kalinya. Agar tidak banyak yang terluka, biar aku saja. Cukup aku saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN