37

1640 Kata
[Kay, pesanku dari kemarin nggak ada balasan? Bisa aku ketemu kamu hari ini?] send to Kayana Eveline. Sebuah tanda terbaca sudah terlihat, namun tidak ada balasan hingga terlalu lama. Dion masih terdiam dalam kemudinya, mobil pribadinya belum bergerak dari tempat parkir rumah sakit. Selesai jam visite beberapa pasiennya, ia ingin segera datang ke florist menemui Kayana. Melihat senyum ayunya dan membicarakan banyak hal dengannya seperti dulu. Sebelum pertentangan itu terjadi. Bisa dengan bahagianya menemani Erland bermain dan membawakan mainan kesukaannya. Menjadi pendengar setia untuk Kayana di masa terpuruknya dan menjadi penghibur kala ia menangis. Menjaganya ketika sakit dan berusaha mencarikan solusi di setiap permasalahannya. Dion benar-benar rindu dengan kebersamaan itu. Ia pandangi fotonya dalam galeri ponsel. Ada dia, Kayana dan Erland dalam beberapa foto yang sempat ia abadikan. Foto dengan pakaian senada, tersenyum lepas dan kedekatan yang membuat siapa saja yang melihat akan merasa iri dibuatnya. Kala itu, foto dalam kenangan grand opening red flo. Dengan suasana yang masih hangat, manis dan menyenangkan. Tiba-tiba Dion merasa rindu, rindu pada dua orang yang menurutnya sangat penting dalam hidup. Andai saja keadaannya masih sama seperti dulu. Mungkin mengatakannya lebih awal tanpa harus memberitahu orang tuanya, hubungan Dion dan Kayana masih baik-baik saja. Namun kenyataan adalah kenyataan, dimana sebuah penyesalan akan datang belakangan. Ia merebahkan tubuhnya di kursi mobil. Merasakan cintanya yang dalam, telah tersampaikan namun tidak dapat sepenuhnya memiliki. Dion memejamkan mata, teringat dengan Julio, saudara sepupunya yang hubungannya selama ini sangat dekat seperti saudara kandung bahkan. Teringat ketika ia benar-benar janji akan selalu menjaga Kayana dan Erland. Sudah ia jaga semampunya seperti yang Julio inginkan. Namun disaat sudah benar-benar ingin sepenuhnya menjaga, kenapa terlalu sulit untuk melanjutkannya. Entah kenapa melakukan hal baik terasa susah berjalan. Tidak mudah bagi Dion untuk menghilangkan rasa cintanya, setelah bertahun-tahun ia memilih untuk tidak membuka hatinya. Ia pun sama sekali tidak punya niat untuk melupakan dan meninggalkan Kayana. Sebab ia tahu, sejauh apa pun ia melangkah untuk melupakan, cintanya justru semakin dalam dan tetap berujung pada Kayana. Ketika berjuta pilihan datang dan tak ada yang mampu menggetarkan hatinya. Sosok Kayana menari-nari dalam benak dan pikirannya, sampai ia bertekad akan menurut rapat-rapat. Sebab nantinya hanya akan ia buka untuk Kayana. Dan disaat ia benar-benar menemukan cintanya, untuk menggapainya terasa jauh dan tidak mungkin. Namun baginya, bagaimana akhir dari perasaan ini ia akan tetap mencintai Kayana dan Erland sampai kapan pun. Keberaniannya membuat Dion memutuskan untuk datang ke florist. Dia harus lebih kuat berjuang demi cintanya, sebab ia yakin sebenarnya mereka yang ia perjuangkan juga mencintainya. Apalagi Erland, bocah kecil yang tidak mau berpisah dengan Dion setiap kali bertemu. Dia pasti akan bahagia melihat Dion datang menemuinya. Ia mulai mengemudi mobil, bertekad untuk dapat melihat wajah mereka. Tak satu pun pikirannya luput dari mereka, membuatnya hampir saja menerobos lampu merah. Klakson beberapa mobil berbunyi tanda memberikan Dion peringatan. Ia terlihat sangat frustasi sampai tidak melihat rambu-rambu di jalan. Memang sangat berpengaruh sekali keberadaan dua orang itu dalam hidupnya. Yang sebenarnya begitu pun sebaliknya posisi Dion dalam hati Kayana. Ia segera keluar dari mobil saat tempat yang ia tuju sudah sampai. Melepas jas putih kebanggaannya dan meletakkannya di samping kursi kemudinya. Menyambar ponsel dan memasukkannya ke dalam saku kemeja. Berjalan dengan begitu semangat menuju florist yang sudah ada di depan mata. Menyiapkan deretan kata untuk Kayana lebih yakin pada dirinya. Namun baru saja ia akan masuk ke dalam, langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan di dalam sana. Ia melihat Kayana sedang mengobrol dengan seorang laki-laki, ia pun mengurungkan niat untuk masuk. Memilih berdiri dan bersemunyi dari vas bunga keramik dengan ukuran besar di depan pintu. Mencoba mendengar percakapan-percakapan dua orang itu. “Sebenarnya kemarin waktu karyawanmu mengantarkan tanaman ke hotel, aku nunggu kamu. Kukira kamu ikut.” “Oh, aku banyak kerjaan di toko, Mas. Kita bagi-bagi tugas biar nggak kosong disini. Lagian biasanya aku juga begitu kalau kirim-kirim barang. Yang penting perjanjian kemarin sudah deal, jadi aku rasa cukup karyawanku yang antar kesana, Mas.” “Hm, iya juga sih. Tapi memang itu yang aku rasakan, berharap untuk bertemu kamu lagi. “Maksudmu, Mas?” “Ya, aku rasa aku tertarik denganmu, Kayana.” “Maaf, Mas. Nggak sepantasnya kamu bilang seperti itu pada orang yang baru saja dikenal.” “Mungkin benar, Kay. Tapi memang aku bukanlah tipe orang yang suka basa-basi, dan memang benar, sejak pertama kali bertemu aku sudah tertarik denganmu.” “Tapi kamu kan sudah memiliki keluarga, Mas. Bukankah ini tidak pantas.” “Ya, dulu aku memang pernah memiliki keluarga, dulu sekali dan sudah beberapa tahun yang lalu. Kita terpisah karena belum memiliki keturunan.” “Oh, maaf.” “Nggak apa-apa, tidak kamu bertanya pun pasti akan aku ceritakan perihal ini. Hanya saja kebetulan kamu tanya lebih dulu.” “Tapi demi Tuhan aku nggak bermaksud untuk bertanya lebih dalam.”’ “Lupakanlah, Kay, setidaknya hari ini aku bisa bertemu denganmu lagi, ngobrol dan penyampaikan perasaanku padamu sudah cukup membuatku tenang dan lega.” “Aku nggak ngerti, Mas, apa maksudmu. Kukira kamu datang kesini untuk membicarakan tentang pekerjaan. Maaf aku sibuk, tidak ada banyak waktu untuk membicarakan tentang hal ini.” “Kay, aku minta maaf mungkin aku terlalu lancang dan terlalu cepat. Tapi ini yang aku rasakan, Kayana. Terserah kamu punya perasaan yang sama atau tidak. Aku hanya ingin jujur. Toh kita sama-sama sendiri kan? Nggak ada salahnya.” “Mas Aksa, sekali lagi aku katakan. Aku sedang sibuk, sudah ada beberapa orang yang ingin bertemu denganku membahas pekerjaan. Kalau hanya membahas tentang ini, mohon maaf aku tidak mau, aku tidak suka dan aku tidak nyaman.” “Baik, mungkin hanya masalah waktu. Nanti aku akan datang lagi kesini untuk menemuimu lagi.” “Maaf, silahkan datang jika itu keperluan kerja dengan red flo. Selebihnya saya tidak menerima dengan alasan apa pun.” “Niatku baik, Kayana.” “Baik, simpan saja niatmu itu tuan Aksa. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya tinggal masuk dulu. Silahkan jika masih ada perlu disini, ada Shasy yang bisa anda ajak bicara.” “Kayana, aku memiliki rasa ini bukan aku sendiri yang minta. Semua datang dengan tiba-tiba dan aku hanya ingin jujur.” “Ya, saya tahu dan saya sudah dengar kejujuran anda. Untuk saat ini saya tidak bisa memikirkan tentang hal itu, jadi silahkan pada perasaan anda tapi jangan memaksa saya. Paham tuan Aksa? Saya permisi.” Kayana terlihat begitu kesal dengan pegakuan Aksa, dengan wajah sedikit sinis ia melenggang masuk menuju ruangannya. Meninggalkan Aksa sendiri disana, dengan kekecewaannya. Tidak ada yang salah, hanya saja bagi Kayana terasa tergesa-gesa. Dia merasa terhina, tidak semudah itu memiliki perasaan terhadap orang asing, apalagi untuk percaya. Hati seorang wanita tidak secepat itu memiliki rasa. Di depan pintu, Dion masih menyimak. Ingin saat itu juga masuk ke dalam menghampiri lelaki yang berani menyatakan perasaannya pada kayana. Agar ia tahu bagaimana posisi dan keadaan Kayana saat ini. Ia sendiri yang sudah lama memiliki perasaan namun masih bertahan untuk menyimpannya, menghargai Kayana yang masih dalam keadaan terpuruk. Dan lelaki itu dengan mudahnya menyampaikan perasaan yang baru berapa detik ia punya pada Kayana. Sungguh hal yang menyebalkan. Namun ia tahan, sebab ia sendiri bukanlah siapa-siapa bagi Kayana. Dion pun kembali ke tempat parkir, masuk ke dalam mobilnya. Ia semakin pusing dengan keadaan ini. Memikirkan Kayana yang pastinya sedang tidak baik-baik saja. Ia paham betul yang Kayana rasakan saat berbicara dengan Aksa dan memutuskan untuk meninggalkan lelaki itu. Tak selang berapa lama, lelaki itu keluar dengan raut wajah yang kecewa. Berjalan dengan lemas menuju ke arah dimana mobil Aksa berada. Ternyata mobil Aksa berada tepat di samping mobilnya. Lalu seorang laki-laki keluar dari pintu kemudi lengkap dengan seragam layaknya sopir, mungkin memang sopir pribadinya. Ia hendak membukakan pintu untuk Aksa, namun ia tidak segera masuk. Mereka terlibat perbincangan, saking penasarannya Dion diam-diam menurunkan kaca mobilnya sedikit, agar bisa mendengar obrolan mereka. Lagi-lagi Dion begitu penasaran, sampai dengan sengaja mendengar perbincangan yang sebenarnya tidak sopan pun ia lakukan. “Pak Aksa kenapa?” tanya sopir itu pada Aksa ketika melihat bosnya terlihat lemas. “Saya ditolak, Mang.” “Pak Aksa sudah bilang tadi?” “Iya, tadi saya sampaikan perasaan saya ke dia, eh dianya malah marah. Dia bilang ini terlalu cepat.” “Mungkin ini terkesan tergesa-gesa, Pak.” “Iya mungkin, tapi kan saya nggak suka basa-basi Mang. Mang Asep tahu sendiri kan siapa saya, kalau suka saya pasti bilang suka, kalau nggak ya nggak suka.” “Tapi tidak semua perempuan mengerti dengan karakter Pak Aksa, apalagi memang baru kenal.” “Hahhh, saya nggak mau tahu. Pokoknya Kayana harus jadi milik saya apa pun caranya. Kalau harus pakai dukun pun saya berani.” “Wah, Pak Aksa ko ngeri sekali. Tenang Pak, kalau jodoh nanti nggak kemana kok. Pasti ada jalan untuk bersatu.” “Mang, saya nggak butuh ceramah kali ini. Yang saya butuh pokoknya gimana caranya saya bisa nikahin Kayana, si cantik itu, Mang.” “Baik, Pak. Nanti kita pikir lagi.” “Ya sudah, kalau Mang Asep nggak punya solusi, kita langsung pulang. Capek banget saya butuh hiburan.” Akhirnya kedua lelaki itu masuk mobil dan bergegas pergi. Dion bersungut-sungut, merasa marah dan tidak terima lelaki itu punya niat yang tidak baik untuk Kayana. Jelas itu bukan rasa cinta dan sayang, namun hanyalah nafsu. Dion memukul kemudinya dengan kasar, merasa sangat marah. Ingin rasanya saat ini juga menghampiri Kayana di dalam. Menjelaskan tentang apa yang ia dengar saat ini. Namun apa Kayana akan percaya dan terima, atau justru ini tidak akan mempengaruhi dirinya mengingat perlakuan Kayana terhadap Aksa tadi sudah menunjukkan bahwa Kayana tidak suka. Dion juga tidak ingin menambah pikiran Kayana dengan hal ini. Takut wanita itu sakit dan menangis. Pikiran Dion begitu penuh, apa yang harus ia lakukan untuk saat ini. Hanya bisa diam, menyesali kediamannya yang tadi tidak turun tangan langsung. Juga memikirkan bagaimana kondisi Kayana saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN