Anna membelakan mata dan secepatnya turun dari mobil, merasa ketakutan kalau orang itu akan terluka parah!
Jantungnya bertalu kencang, sambil menatap seseorang yang tengah mengaduh menahan rasa sakit pada bagian kepala dan buku bahu belakangnya.
Ana langsung berlutut di samping gadis yang tergeletak itu dengan panik. Beberapa orang serempak menghampiri mereka. Namun, gadis asing yang tertabrak segera berkata bahwa ia baik-baik saja.
"A-Aku antarkan kau ke rumah sakit sekarang. Kau juga menyeberang jalan tidak melihat sekelilingmu." Wajar, bukan, Anna juga menjadi merasa kesal? Padahal ia mengendarainya perlahan-lahan.
Abaikan, bukan saatnya Anna berpikir demikian. Anna lantas membantunya berdiri dan memapahnya agar duduk di kursi pinggir jalan.
Anna dengan pakik memeriksa bagian dahi untuk memastikan separah apa lukanya.
"Kau membuatku ketakutan setengah mati. Oh Tuhan, untunglah lukamu tidak parah dan hanya memar saja," gumam Anna, sambil menghela napas panjang. Dia berlari kedalam mobil mengambil tisu dan kembali lagi duduk disebelah gadis seusianya itu dan perlahan-lahan menyeka darah.
"Aku yang bersalah karena berjalan sambil melamun. Ini hanya akan meninggalkan memar ringan dan untunglah kau masih perlahan-lahan mengendarai mobil itu," sahut gadis di sebelahnya sambil tersenyum tipis. Namun, tatapannya menghujam tajam ke arah Ferarri merah muda itu dan menyembunyikan kedua tangannya yang mengepal kuat di tepian tempat duduk.
"Benarkah tidak perlu ke rumah sakit? Aku akan mengganti rugi biayanya," ujar Anna, bersama tatapan yang dipenuhi rasa bersalah dan bersungguh-sungguh. Dia kemudian mengambil dompetnya yang berada di atas dashboard mobil.
Lantas gadis bernama Eve itu tersenyum lebar. "Aku baik-baik saja dan hanya sedikit terasa pegal. Aku baru tiba di kota ini dan karena lapar, aku mencari restoran cepat saji lalu tersesat," ujarnya sembari memiringkan kepalanya kemudian menatap Anna dan mengamati wajah itu lekat-lekat.
Mulai dari sepasang mata Hazel milik Anna yang cemerlang, alisnya melengkung rapi, rambut panjang Anna yang tergerai sedikit pirang sangat berkilau aman terawat.
Dia menelisik penampilan Anna dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Dress terusan bermerk mahal dunia. Bahkan, sandalnya pun sepasang itu seharga motor balap.
Sesaat Eve menatap Anna tidak suka. Semua yang ada di diri Anna membuatnya sangat cemburu. Namun, berkebalikan dengan senyumannya. Dia tersenyum ramah.
"Oh Tuhan. Kau tersesat? Kau bisa menghubungi keluargamu di rumah," ujar Anna yang membulatkan matanya terkejut. Kasihan juga kalau di pikir-pikir. Berada di tempat asing tanpa mengenal siapapun dan tersesat.
"Ponselku mati dan aku tinggal sendirian. Sungguh sebuah kesialan yang sempurna," sahut Eve, sembari tertawa sumbang. Namun bukankah ini lebih baik? Ia sangat penasaran dengan gadis manja yang mengemudikan Ferarri sialan ini.
"Aku juga baru tiba di kota ini semalam, Uncle Rei ku yang tersayang, memintaku meneruskan kuliah di salah satu universitas Los Angeles," ujar Anna sekenanya. Dia menatap ke arah langit yang cerah dan melihat arlojinya. Jam menujukkan pukul sepuluh siang dan itu berarti ia sudah dua jam berada diluar mansion
"Perkenalkan namaku Evelyn, panggil aku Eve. Bolehkah kita berteman? Itu juga jika kau tidak keberatan." Eve tersenyum, seraya mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Anna.
"Aku Anastasia Verishkova. Kau cukup memanggilku dengan nama Anna." Dia balas tersenyum tipis dan menjabat tangan Eve.
"Kau begitu ramah padahal aku hanyalah orang asing." Eve berujar tak enak hati. Dia lantas berdiri dan berpamitan, akan tetapi Anna mencegahnya karena kasihan sampai langkah Eve terhenti.
"Sebaiknya kau ke rumahku dulu. Biat dokter keluargaku yang mengobati cedera di dahimu," ujar Anna tulus. Dia melangkah masuk kedalam mobil dan di ikuti Eve di belakangnya dengan tatapan yang dipenuhi kebencian.
"Terima kasih. Maaf aku jadi merepotkanmu," Eve berujar lembut. Dia duduk di kursi penumpang tepat berada di samping Anna.
"Sudahlah, bukan masalah." Anna mulai melajukan kendaraan beroda empat itu sambil mengenakan kacamata hitam bermerek dunia. Tanpa Anna ketahui. Eve meliriknya sekilas lalu diam-diam mengulas senyuman penuh rencana.
______________
Dua puluh menit kemudian, Anna melajukan kendaraan itu memasuki gerbang mansion. Dia segera turun dari dalam mobil, sambil memapah Eve yang katanya pening. Mereka berdua melangkah masuk dan mengedarkan pandangannya ke penjuru ruang utama tersebut.
"Eve kau tunggu sebentar ya, aku akan meminta Uncle untuk menghubungi dokter keluarga." Anna meminta Eve duduk di ruang tamu nan luas itu. Sampai-sampai Eve berusaha sekuat yang ia bisa untuk tak terpesona.
"Oke, Anna." Eve tersenyum menenenangkan Anna dan menghujani punggung Anna dengan tatapan menusuk, saat Anna masuk lebih dalam ke area mansion.
"Uncle, where are youuuuu!" Anna memanggil Andrei yang sejak tadi dikuasai kegelisahan karena Anna terlalu lama test Drive.
Dia hendak menaiki undakan tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Namun sebuah suara berat itu membuatnya tersentak, hingga ia menelan ludahnya gugup.
"Kau dari mana saja?"
Anna enggan menjawab, ia malah lebih memilih memandanginya; Setelan kerja tiga lapis itu sudah tersingkirkan dan hanya menyisakan kemeja putih, dengan dua kancing teratas yang sengaja dibiarkan terbuka, dasi yang tadinya melingkar rapi kini telah ia tarik longgar.
Andrei semakin mendekati Anna dan mempersempit jarak antara mereka. Tatapan yang tadinya hangat berubah menjadi berkilat tajam. "Apakah kau tidak tahu, jika aku sudah menunggumu hampir tiga jam lamanya seperti orang bodoh?" desisnya, kesal.
Pikiran buruk sontak memenuhi benaknya sejak tadi.
Bahkan Anna berada disini masih bisa terhitung belum dua puluh empat jam dan sekarang gadis itu membuatnya kesal.
Mendengar nada suara yang dipenuhi amarah itu, Anna pelan berucap. "Tadi aku tanpa sengaja menyerempet seseorang. Ternyata dahinya sampai berdarah. Aku panik dan membawanya kemari . Tolong hubungi Dokter-mu, Uncle." Anna menelan ludahnya ktakutan, saat mengamati wajah Andrei yang terlihat merah padam dipenuhi amarah. Bahkan Andrei tak peduli mata Anna yang sekarang tergenangi air mata, hampir menangis.
Oh, yang benar saja dia membawa orang asing kesini? Ke mansion-ku?
"Apakah kau sudah gila membawa orang asing kedalam rumah kita? Kau hanya cukup memberikan dia uang ganti rugi atau antarkan dia ke rumah sakit terdekat!" tukasnya dengan meninggikan intonasi suara.
"Tetapi kasihan Uncle. Dia tinggal sendirian dan tidak mengenal siapapun," cicitnya menjawab pertanyaan Andrei, lalu menundukkan kepalanya memandangi lantai.
"Dan kau percaya begitu saja? Itu bukan urusanmu. Kau seharusnya--" rentetan protes itu hampir dilontarkan oleh Andrei. Namun semua perkataan yang sudah berada di ujung lidahnya terhenti, saat ia mendapati wajah Anna yang memerah sembari mengusap air matanya dengan kasar.
Sontak ia membuang napasnya keras. Berusaha menormalkan detak jantungnya yang masih saja berdegup kencang dikuasi rasa khawatir dan gelisah.
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah ada yang terluka?" Suara itu berangsur-angsur menjadi lembut.
Andrei meletakkan ujung jari telunjuknya di bawah dagu Anna, lalu mendongakkannya ke atas. Sampai wajah mereka saling berhadapan. Menelisik keadaan Anna dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan saksama dan teliti. Namun syukurlah, Anna tidak terluka.
Andrei bernapas lega.
"Kau berlebihan. Aku hanya tidak ada kabar selama tiga jam, lalu kau marah-marah seperti ini? Kau sendiri bagaimana Uncle? Tidak ada kabar selama beberapa tahun!" Anna mencecar dengan kesal. Andrei sangat mengecewakannya, sungguh.
Oh Lord. Apa sebenarnya yang baru saja ia lakukan pada Anna? Dia tak bermaksud membentak dan marah-marah. Lihatlah gadis didepannya ini, tubuhnya mulai gemetar karena ketakutan, wajahnya sepucat kapas dan ia memilin jari-jemarinya dengan gelisah. Sesekali menengok ke arah ruang tamu utama.
"Uncle, aku tak pernah meminta tolong padamu selama ini. Tetapi untuk kali ini saja, bolehkah kau memanggil dokter untuknya? Setelah itu aku takkan mengganggumu lagi, sungguh." Anna memberanikan diri mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya Andrei saat ini melihat kondisi Anna-nya.
Andrei membuang napas kasar, kemudian menghubungi seseorang yang akan mengobati tamu tak diundang itu. Namun, Andrei tak tahu menahu, bahwa orang yang tertabrak oleh Anna adalah ....