Prologue
LOS ANGELES
11.20 p.m
_____________
Gairah semakin menggelegak panas di antara sepasang manusia yang tengah bermesraan di atas ranjang, dalam sebuah kamar hotel yang temaram dan luas. Terlihat seorang wanita duduk di pangkuan pria tampan bertubuh atletis, mereka saling berhadapan, telanjang dan berpeluh. Sesekali sang wanita seksi itu mendesah, saat Andrei membelai kaki jenjangnya, menciumi lehernya dan menyesap puncak payudaranya.
"Say my name, ..."
Andrei berbisik serak, lidahnya masih menjilati puncak d**a sekal itu dan sesekali menggigitnya gemas, membuat wanita itu mendesahkan namanya, sembari melumat bibir maskulin milik Andrei, lalu menciumi d**a bidang itu, perlahan-lahan menuju ke arah bawah, hingga ia berlutut dan memasukkan kejantanan gagah itu kedalam mulutnya yang hangat nan basah.
Namun, pikiran Andrei tetap mengingat sosok gadis lain yang selalu memenuhi hati dan pikirannya. Dia bahkan, sungguh tak sanggup melupakannya.
"Rei, i love you." Wanita itu mempermainkan kejantanan milik Andrei dengan mulutnya yang terlatih. Sesekali menjilatinya dan memandangi wajah seksi Andrei yang bersemu merah.
"... Anna."
"Anna?"
Sang wanita itu memekik protes dan ia sangat membenci nama Anna. Mengapa selalu Anna yang di ingat oleh Andrei?
Tak bisakah pria itu sekali-kali mengerangkan namanya? Sontak, wajah cantik yang sejak tadi terlihat b*******h, dalam sekejap berubah penuh amarah sampai napasnya menderu berat. Akan tetapi, sorot mata itu tak memancarkan kebencian ada yang ada disana perasaan sedih dan kecewa yang bercampur menjadi satu.
Wanita berbibir s*****l itu mendecih kesal.
Apakah ia pantas dikalahkan oleh sosok Anna yang bahkan tidak pernah sekalipun terlihat batang hidungnya? Dia kemudian menatap Andrei tepat di kedua bola matanya. "Kau selalu saja menyebut namanya.Anna, Anna dan selalu Anna?
"Siapa sebenarnya wanita itu?!"
"Kenapa setiap kali kita b******a, aku harus mengenakan rambut palsu bodoh dan contact lens biru memuakkan ini?!" tukasnya dengan suara yang gemetar, lalu merenggut rambut palsu dan melemparnya tepat ke arah Andrei yang melangkah perlahan menghampiri wanita itu, dengan sepasang mata biru kelam berkilat tajam. Andrei memutus jarak antara mereka dan mulai kehilangan kesabaran, dalam menghadapi wanita ini.
"Kau tak bisa memperlakukan 'ku seperti ini! Kau tidak boleh meneriakkan nama wanita lain jika sedang meniduriku! Aku mencintaimu!" rintihnya penuh keputusasaan, sembari terisak dan memukuli d**a bidang milik Andrei sekuat tenaga.
Kenyataan bahwa ia tak dicintai, sangat melukainya. Tetapi, ia tak menampik jika dirinya sendiri pun ikut andil melakukan kesalahan.
Yeah ...
Kesalahan terbesar pertama, menandatangani lembar kesepakatan tanpa memedulikan isinya. Kesalahan kedua, ia telah melibatkan perasaan kedalam hubungan yang hanya sebatas ketertarikan fisik belaka.
"Seluruh hakmu sudah tak berlaku, setelah kau menyetujui kontrak itu. Singkirkan perasaan konyol dalam hatimu, karena aku hanya milik gadis itu, mengerti?" Andrei mencengkeram rahang wanita itu dan mendongakkannya ke atas. Dengan terpaksa, wanita itu mengangguk.
"... dan kita akhiri semuanya disini. Uang ganti rugi akan di atur dan diberikan oleh sekretarisku," Andrei berujar datar, seraya melepas cengkeraman tangannya dengan kasar.
Mendengar semua penuturan Andrei, ia semakin terisak-isak. Wanita itu memunguti dan mengenakan pakaian yang berhamburan di lantai dengan hati hancur lebur, lalu melangkah pergi sambil mengumpat."b******k!" teriaknya kesal, menghempaskan pintu kamar hotel sekerasnya, hingga suara bedebum itu menggema ke penjuru kamar. Diam-diam wanita itu berjanji pada dirinya sendiri, ia akan membalas perbuatan Andrei padanya berkali-kali lipat!
Wanita bertubuh semampai itu makin kecewa, saat ia menoleh ke belakang, ternyata Andrei tak mengejarnya. Andrei bahkan lebih memilih membiarkannya pergi.
Sementara dalam kamar hotel itu, Andrei tercenung.
"Anna,"
Andrei menggumamkan nama seseorang berulang kali, karena Anna merupakan satu-satunya gadis yang ia cintai, Anna seorang gadis cantik yang terpaut 12 tahun lebih muda dari dirinya dan Anna yang telah Andrei tinggal pergi begitu saja.
Andrei menghembuskan napas panjang, "Anna pasti sangat membenciku. Tapi jika waktunya tepat, aku akan kembali dan menjadikanya milikku seutuhnya."
Dia beralih menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas untuk menghubungi seseorang. "Hallo, selamat malam bagaimana kabarmu?" Ia menyapa, lalu beralih berdiri di depan kaca jendela dan memandangi lampu perkotaan yang membosankan dari lantai dua puluh gedung itu.
"Anna baru saja lulus dari high school. Aku ingin dia melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas Los Angeles," ujarnya kepada seseorang. Namun, permintaannya barusan langsung ditolak mentah-mentah, membuat Andrei mengusap wajahnya.
"Aku akan menjaganya dengan baik dan aku takkan mengecewakanmu," ungkapnya meyakinkan sang Ayah yang selama ini membesarkan Anna. Dia menganggukkan kepalanya sekilas, lalu memutuskan sambungan telepon itu, sambil meluruskan tatapannya ke arah lampu perkotaan.
Sebentar lagi.
Dia hanya harus menunggu sebentar lagi.