Dua minggu kemudian ...
Seorang gadis berambut pirang, menoleh ke arah jendela kaca. Dia memandangi lampu-lampu di kawasan Los Angeles dari ketinggian ribuan kaki, sembari menyamankan duduknya di dalam jet pribadi milik Grandpa Ivan yang selama ini telah merawatnya.
Namun, gadis itu berpikir ada satu hal yang jauh lebih menarik.
Untuk apa Uncle Andrei memintanya meneruskan kuliah di Los Angeles, bahkan setelah sekian lama pria itu tak memberi kabar dan tak pernah lagi sekali pun menemuinya di Russia? Anna mengingatnya, ketika Grandpa mengajaknya duduk bersama ; situasi mansion milik Ivan yang megah mengusung bangunan bergaya Eropa. Mereka duduk di bagian belakang mansion, seraya menikmati segelas teh hangat. Di seluruh penjuru mansion memiliki para bodyguard yang berjumlah puluhan, lengkap dengan membawa sejata api yang diselipkan di pinggang mereka.
Anna meraih cangkir mungil itu dan meminum teh hitam hangat, sembari menegakkan punggungnya. Dia tidak berhenti menatap penuh keheranan ke arah Grandpa Ivan yang duduk di depannya."Kenapa Uncle memintaku berkuliah di Los Angeles?" Anna bertanya, sambil mengerutkan dahinya, ia tak habis pikir dengan keinginan Uncle Andrei . Bukankah Uncle Andrei telah membuangnya dan tak menginginkan dirinya?
"Mungkin ia sudah tidak sibuk." Ivan mencondongkan tubuhnya kedepan setelah meletakkan majalah bisnis itu ke meja.
"Grandpa...," Anna menyela, ingin melontarkan protes. Namun, ia mengurungkannya. Dia merenggut ujung rok nya sampai kisut, menyalurkan seluruh perasaannya. Rasa kesal dan banyaknya pertanyaan dalam benaknya mengenai Uncle Andrei yang meninggalkannya begitu saja.
"Sebenarnya. A... Aku juga ingin menemui Uncle Rei. Aku penasaran, kenapa beberapa tahun ini ia tidak pernah menemuiku. Apakah ia membenciku atau ia telah melupakanku? Aku tahu ia yang membawaku dari panti asuhan itu saat usiaku lima tahun. Di usiaku yang kedua belas tahun, ia mengantarku ke Russia dan memberiku sebuah keluarga sehebat kalian." Anna berujar dengan pandangan yang menerawang dan ia sangat beruntung memiliki keluarga besar seperti sekarang ini. Walau pun sosok Rei sungguh menganggu pikirannya.
"Dia hanya sedang sibuk mengurus cabang perusahaan keluarga kita yang berada di sana. Namun, aku pun tidak tahu alasan mengapa ia berhenti berkarir di dunia tinju yang melambungkan namanya dan pada akhirnya lebih memilih mengelola perusahaan.” Ivan menganggukkan kepala. Diluar hal itu, ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi putranya. "Keputusan berada di tanganmu karena aku takkan pernah memaksamu.” Pria paruh baya itu menatap wajah Anna yang terlihat penasaran.
"Tetapi ingat. Kau dibesarkan olehku untuk menjadi seorang yang mandiri, walau pun selama ini semua kebutuhanmu terpenuhi," ungkapnya penuh kesungguhan."Kehidupan diluar itu tidak dapat di prediksi. Kau boleh memakai nama keluargaku dibelakang namamu. Namun demi keamananmu, aku sarankan jangan memakainya." Lanjutnya panjang lebar karena ia tidak ingin gadis itu memandang segala sisi dengan kebaikan seutuhnya.
"Kau tahu kita memiliki banyak musuh, bukan? Baik itu di persaingan bisnis atau pun dalam jalur perdagangan senjata. Mengerti?" cetus Ivan, sembari mengamati gerak gerik Anna yang terlihat gugup.
"Mengerti, Grandpa. A… Aku akan pergi kesana tetapi jika aku tidak betah bolehkah aku kembali kesini?" Anna mengenggam tangan lelaki setengah baya itu dengan tatapan penuh kesungguhan.
"Tentu boleh. Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu. Namun Jangan lupa, beritahu Kevan Nodokov bahwa kau akan pergi dari Russia. Dia selalu saja bertanya padaku mengenaimu dan jika ia bukan putra kolega bisnisku, aku ingin memotong lidahnya." setelah mengatakan hal ini dengan ringan, Ivan terkekeh pelan.
"Aku akan memberitahunya." Anna tersenyum. Lamunannya buyar ketika terjadi guncangan kecil dan ia kembali merutuki dirinya sendiri yang sejak tadi tidak sabar ingin segera tiba di bandara.
Anna menyalakan ponsel miliknya, dengan cepat membuka folder video. Disana banyak terdapat hasil unduhan yang sengaja ia simpan. Jika sedang merindukan Uncle Andrei, ia pasti akan menonton video pertarungan Uncle Andrei di atas ring. Bahkan, banyak foto Uncle Andrei mengisi sebagian besar memori ponselnya.
Anna menepuk dahinya, ia pasti sudah gila. Rasa senang ini memberi harapan yang terlampau tinggi dan ia takut akan terjatuh. Bahkan Anna tahu bahwa Uncle Andrei tak menginginkan dirinya, karena Anna tahu, Uncle Andrei mencintai kebebasan dan tak ingin terbebani dengan keberadaan Anna, dengan alasan sedang sibuk berkarier. Lalu sekarang untuk apa menginginkan Anna kembali ke sisinya?
Namun, Anna penasaran mengenai kehidupan Uncle Andrei selama ini. Dan Anna memang gadis bodoh, rasa benci dan rasa kecewanya pada Uncle Andrei begitu saja menghilang sekarang. Meski dalam hatinya yang terdalam, Anna selalu mengharapkan Uncle Andrei dayang. Anna sangat menyayngi Uncle Andrei dan menganggapnya seperti malaikat yang telah memberinya sebuah keluarga angkat yang luar biasa dan sangat mencintainya.
Gadis berusia sembilan belas tahun itu mulai merapikan diri dan mematikan peralatan elektronik setelah mendengar pengumuman persiapan mendarat di LAX, Bandara Internasional Los Angeles. Akan tetapi, jantung Anna berdebar gugup. Bayangkan saja, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Uncle Andrei. Oh, apa yang seharusnya ia lakukan nanti?
Setelah pesawat pribadi itu mendarat. Dengan tidak sabar, ia segera menuruni anak tangga dan setengah berlari menuju pintu keluar bandara dengan penuh semangat sembari menyeret kopernya. Namun seketika, langkahnya terhenti dan bahu mungilnya dalam sekejap meluruh lemas.
Dia tidak datang, gumamnya dalam hati, seraya menghela napas kecewa.
Seharusnya Uncle Andrei datang dan bukankah Uncle Andrei yang menginginkan dirinya datang kemari? Sorot mata Anna yang penuh bahagia itu, seketika lenyap.
Mungkinkah pria itu lupa?
Anna menghela napas panjang.
Dia mengerjap, lalu menatap penuh pertanyaan ke arah pria berpakaian serba hitam dengan papan nama dirinya yang di angkat tinggi-tinggi. Dia melangkah mendekatinya. "Kau yang menjemputku?" Suara itu mengalun bergetar dan pandangannya mulai buram oleh genangan air mata. Anna hanya sanggup tersenyum hambar, berusaha menyembunyikan kekecewaan yang melilit hatinya, hingga ia kesulitan bernapas.
Namu, ia tak menyerah. Anna lagi-lagi mengedarkan pandangannya ke penjuru area penjemputan di bandara itu, demi mencari-cari sosok yang ia rindukan. Mungkin saja 'kan Uncle Andrei ingin memberi kejutan padanya dan tiba-tiba datang dengan sebuket bunga mawar merah? Hahaha! Namun nihil, rupanya pria itu takkan pernah datang, membuat Anna mengatupkan bibirnya kesal.
Kau berharap terlalu tinggi, Ann.