Kau berharap terlalu tinggi, Ann.
"Tadi sedang ada meeting, Nona. Aku hanya diperintahkan menjemputmu." Pria latin itu kemudian menundukkan kepalanya formal di depannya, seraya meraih koper milik Anna.
"It's okay," jawab Anna dengan pelan, bahkan teramat pelan, hingga mungkin hanya ia sendiri yang mendengarnya. Setelah mengatakan itu, Anna tersenyum lebar dan melangkah menuju parkiran mobil, berkebalikan dengan hatinya yang murung karena terlalu berharap Uncle Andrei akan datang menjemputnya.
Dia duduk dengan nyaman dalam kursi penumpang belakang dan ketika mobil itu melaju, ia memandangi keindahan malam hari di negara bagian California, menuju Beverly Hills. Yeah..., setidaknya keindahan ini dapat mengobati kekecewaan dalam hatinya.
Beverly Hills merupakan daerah yang mewah di kawasan Los Angeles dan tidak begitu jauh dari kawasan Hollywood yang terkenal dengan industri perfilman. Butuh menghabiskan waktu satu jam dalam perjalanan, hingga mobil yang ia tumpangi sampai di depan sebuah mansion yang mengusung konsep modern minimalis. Gerbang putih menjulang tinggi itu terbuka secara otomatis, seiring mobil merah tersebut melaju memasuki pelataran mansion.
"Kita sudah sampai, Nona."
Suara supir membuyarkan lamunan Anna. Sontak, gadis itu perlahan turun dari dalam mobil, seraya mengedarkan pandangannya.
Sesaat ia tertegun. Mansion ini mengusung tema desain minimalis modern, terlihat mewah dan transparan, karena sebagian besar bangunannya menggunakan material kaca tembus pandang. Di samping pelataran, ia melihat tiga buah mobil dan ia yakin, salah satu kendaraan beroda empat itu milik Uncle Andrei. Berarti pria ini pasti berada dalam mansion dan tebakannya membuat kedua tangannya terkepal kuat; bahwa Uncle Andrei tak menganggapnya orang yang penting.
Bayangkan saja. Selama bertahun-tahun ia memikirkan Uncle Andrei, pria itu menjauhinya dan menghilang tanpa kabar begitu saja. Sangat jarang pulang ke Russia hanya untuk sekedar menemuinya. Apakah Anna telah berbuat salah sehingga Uncle Andrei sampai membuangnya seperti sampah? Lalu kenapa tiba-tiba tanpa penjelasan memungutnya kembali?
Uncle, aku sangat membencimu!
Lamunannya buyar dan ia beralih menatap Enzo yang tengah mengambil koper miliknya dari dalam bagasi mobil. "Terima kasih telah menjemputku," ujar Anna.
"Sudah menjadi tugasku, Nona. Namaku Enzo dan aku yang bertugas mengantarmu kemana pun." Enzo menjawab gadis cantik didepannya dengan sangat sopan. Enzo Montenegro, berusia dua puluh lima tahun dan sudah bekerja kepada Rei cukup lama. Mata pria itu berwarna hijau emerald dan memiliki kulit yang kecokelatan eksotis.
"Oh begitu ya, Enzo. Nama yang unik. Sepertinya Uncle Rei telah mempersiapkan segalanya." Anna berkata, seraya melangkah hingga ia tiba di pintu utama. Namun, disini terlalu sepi dan hanya ada beberapa security. Berbeda seperti di Mansion Grandpa Ivan, security hampir berada di setiap sudut dan tentu saja mereka membawa pistol demi keamanan.
"Iya Nona, kami diberitahu bahwa keponakan Tuan akan datang kemari dan sepertinya saat ini Tuan berada didalam. Tuan juga telah menyiapkan sebuah kamar untukmu, terletak di lantai dua, pintu berwarna merah muda." Enzo menjelaskan semuanya, seraya membuka pintu utama itu dan mempersilahkan gadis ramah di sampingnya untuk masuk.
"Hm ya, aku keponakannya." Anna meringis ketika mengatakan hal ini dan bolehkah ia berharap lebih? Ah menyebalkan. Tempatkan dirimu dimana seharusnya, Ann! Kau tak mungkin pernah bisa menjadi kekasihnya!
Dia mengedarkan pandangannya lagi ke penjuru tempat itu dengan keheranan. "Disini sepi dan hanya ada beberapa penjaga. Dimana para bodyguard yang lainnya?" tanya Anna, dengan tatapan mata yang menelisik wajah Enzo.
Oh ayolah, sangat tak mungkin anggota keluarga Romanov tidak memiliki para bodyguard yang menjaga mansion. Ini sama saja dengan memberi peluang kepada musuh agar dapat dengan mudahnya melumpuhkan pertahanan.
"Tuan lebih menyukai suasana sepi, hanya ada empat penjaga disini dan yang lainnya diberhentikan." Enzo melangkah didepan Anna kemudian setelah sampai di anak tangga pertama, ia mempersilahkan Anna untuk duluan menuju lantai dua.
"By the way, bagaimana dengan keamanan di kawasan Beverly Hills ini?" tanya Anna, seraya mengamati mansion itu yang bahkan dindingnya pun bersih dari pajangan foto. Apakah kehidupan Uncle Andrei begitu sangat membosankan, hingga momeniIndah tidak di abadikan dalam lembaran potret dan bingkaian figura?
"Sejauh ini, aman." Enzo tersenyum dan menghentikan langkahnya setelah gadis didepannya terhenti.
"Baiklah. Terima kasih untuk informasinya Enzo. Aku ingin beristirahat. Kamarku sudah dekat, kau boleh pergi," ujar Anna sambil meraih kopernya bersamaan dengan Enzo yang pergi menuruni undakan tangga. Dia sekarang berada di koridor panjang lantai dua. Di kedua sisi terdapat jajaran pintu dan kata Enzo tadi, pintu kamarnya sengaja di cat warna merah muda agar ia dapat dengan mudah menemukannya.
Dia mulai melangkah, matanya menatap waspada. Dimana pria itu berada sekarang? Namun, seketika langkahnya terhenti, saat tanpa sengaja ia melewati pintu kamar yang terbuka sehingga tercipta celah. Dia mencuri tatap dari celah pintu itu, tetapi ruangan terlihat gelap, sampai membatasi pandangannya. Dia merutuki dirinya sendiri, saat tangannya tidak berhenti terangkat dan mendorong pintu itu perlahan-lahan sampai setengah terbuka. Cukup baginya untuk masuk menyelinap kedalam sana.
Langkah pertama, Anna berusaha meredakan degup jantungnya yang berdetak kuat dan seolah siap menerobos keluar dari rongga-rongga dadanya karena sungguh, ia belum siap bertemu dengan lelaki ini.
Langkah kedua, sekarang ia telah berada dalam kamar luas ini, lebih tepatnya berdiri di tengah-tengah ruangan. Hanya penerangan temaram dari lampu nakas yang berpendar keoranyean membuat sebagian besar ruangan masih terkesan gelap.
Dia lantas menahan napas, membulatkan matanya terkejut, dengan punggung yang menegang kaku, saat mendengar derasnya air shower dari arah kamar mandi dan melihat bayangan seseorang dari celah bawah pintu.
Ah apakah itu dia?
Anna tidak ingin berspekulasi dan ia berharap telah salah memasuki kamar. Jika ia tertangkap. Oh, mau di simpan dimana wajahnya? Apakah harus dilipat dan dimasukan kedalam saku?
Langkah ketiga, ia memberanikan diri, berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. Kali ini ia menelan salivanya gugup sekaligus terkesiap, ketika air shower itu sudah dimatikan. Siapapun orang yang berada didalam sana pasti hendak keluar. Suara kunci di buka, membuat ia berjengit mundur sampai-sampai ia bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Oh tidak! Jangan sampai aku ketahuan! Hah, ini memalukan. Bisa-bisa aku dituduh menguntit!
Dalam sekejap, ia segera melangkah keluar secepatnya dengan tergesa-gesa. Namun sial! Salah satu kakinya tersandung tepian karpet bulu tebal, hingga ia jatuh tersungkur dan menimbulkan suara bedebum yang cukup keras. Untunglah ia berhasil menahan jeritan, karena ia membungkam mulutnya dan terjatuh dengan posisi yang sangat memalukan ; menelungkup dengan ujung dress yang tersingkap sampai pangkal pahanya.
Anna memejamkan mata sambil meringis menahan sakit pada bagian dahinya yang menghantam lantai kayu. Dia meletakkan kedua tangannya, demi menopang tubuhnya kemudian berdiri dan berlari keluar, bersama jantung berdegup kuat, seiring pintu kamar mandi yang terbuka perlahan, sehingga bias lampu itu membuat kamar yang temaram semakin terlihat jelas.
Dia bersandar di dinding koridor untuk meredakan jantungnya yang masih saja bertalu keras. Dia melirik ke arah samping, melihat sebuah bayangan yang kian mendekat dan ukurannya bertambah besar, pertanda seseorang didalam sana tengah melangkah mendekati pintu dan mungkin hendak memeriksa suara gaduh yang ia timbulkan tadi.
Mati aku! Mati aku! Rutuknya tanpa suara, dengan keringat dingin yang sudah membasahi sisi pelipisnya.