Mati aku! Mati aku! Rutuknya tanpa suara bersama keringat dingin yang sudah membasahi sisi pelipisnya.
Dia semakin melekatkan diri ke dinding lalu melirik lagi ke arah samping. Ah demi apapun! Seharusnya dia segera masuk saja kedalam kamarnya. Namun kedua kakinya sulit untuk digerakkan!
Sedetik kemudian ia menghela napas lega saat akhirnya Rei menutup pintu kamar, kemudian ia meraih koper pakaian lalu mengangkatnya tergopoh-gopoh seraya mengendap masuk kedalam kamar yang berpintu merah muda
Anna menepuk dahinya sambil memejamkan mata. Seharusnya ia bersikap biasa saja dan tidak perlu gugup seperti ini, tetapi sungguh. Tadi ia tidak dapat menahan rasa penasaran karena Enzo telanjur bilang kepadanya bahwa kamar lelaki itu dan dirinya hanya terpaut dua pintu.
Dia berjalan mondar-mandir dan kembali mengumpat. "Bodoh. Bodoh! Seharusnya kau tidak perlu masuk kedalam kamar itu!" Dia menghela napas panjang.
Anna menempelkan telinganya ke permukaan pintu. Namun hening. Dengan meragu ia membukanya perlahan-lahan sampai tercipta celah kecil. Dia lantas membukanya lebih lebar agar cukup bagi kepalanya untuk di julurkan keluar.
Dan ia melakukannya kemudian menolehkan kepalanya ke arah kanan. Bersamaan dengan lelaki itu yang juga membuka pintu tetapi menoleh ke arah sebaliknya dengan hanya tubuh terbalut sehelai handuk yang menggantung rendah di pinggulnya.
Sontak Anna menganga lalu segera menutup pintu sambil meringis bersama jantung yang menderas kencang. Oh ini gila! Ketegangan yang terjadi barusan melebihi saat ia menonton film horor. Seperti ini saja sanggup membuat wajahnya terasa panas dan bersemu ketika tanpa sengaja melihat punggung lebar nan kokoh itu.
Kenapa dia terlihat seksi? Seperti pria yang tanpa sengaja aku lihat di majalah mode. Memikirkan hal itu, ia terkikik geli. Namun ia sangat penasaran dan ingin melihat langsung wajah Rei.
Anna menguap lebar dan mengusap matanya. Sontak ia tersenyum lega, ketika mendapati sebuah ranjang yang luas dan empuk yang berada di hadapannya.
Tatapannya kemudian beralih ke arah lantai kayu terbalut karpet bulu tebal, gorden yang menjuntai dan warna keseluruhan kamar didominasi warna ungu. Kesan yang ditimbulkan adalah modern, girly dan nyaman.
Anna melepas sepatunya lalu melemparkannya sembarang. Dia menerjang tempat tidur itu sambil menelungkup dan menenggelamkan wajahnya ke bantal. Menghirup aroma laundry bercampur parfum yang lembut. Oh ini sedikit bisa membuat tidurnya lebih nyenyak!
Tak lama kemudian ia terkesiap lalu mengambil benda persegi putih yang bergetar didalam tas selempang mungil miliknya.
Dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan lagi-lagi notifikasi beruntun itu membuat ia mengernyit alisnya keheranan. Untuk apa lelaki ini menghubunginya di jam satu malam?
Anna memutar kedua matanya jengah saat mengetahui yang menghubunginya ialah putera dari sahabat Grandpa Ivanov. Seorang putera dari keluarga pengusaha besar yang menguasai bisnis telekomunikasi raksasa di seantero Russia.
Siapa lagi jika bukan Kevan Nodokov yang hanya memiliki satu obsesi gila di dalam hidupnya; menikahi Anatasia Verishkova. Namun, Kevan bukan pembohong. Kevan bersikap baik pada Anna. Selalu perhatian, hangat dan lembut. Persis seperti tipe pria yang di inginkan semua wanita.
Namun ia terlalu lelah dan malas meladeni Kevan, jadi ia hanya membaca chat itu tanpa ada keinginan untuk membalasnya. Biarkan saja. Salah siapa Kevan tidak berhenti mengejarnya.
Kevan.
Sepertinya kau sudah tiba di Los Angeles dan kau tak mengabariku saat kau pergi dari Russia. Baiklah, Honey. Secepatnya aku akan menyusulmu. Kebetulan aku ingin berlibur musim panas di Los Angeles. Bukankah disana pantainya Indah?
Kevan.
Aku mengirim fotoku. Jika kau merindukanku, lihatlah foto ini.
I miss you...,
Kevan gila! rutuk Anna dalam hati dengan setengah menganga, kemudian segera menghapus foto lelaki itu yang telanjang d**a, sekujur tubuhnya basah dan berlatarbelakang pantai. Apalagi tubuh atletis Kevan yang sempurna; delapan kotaknya sangat seksi dan v-line pada celana yang menggantung rendah di pinggul, sungguh sempurna. Anna pikir, tak sedikit perempuan yang menyukai Kevan, tetapi kenapa Kevan selalu menempel padanya? Kevan ada-ada saja!
"Dia ingin menyusulku? Ada-ada saja!" Anna melemparkan kepalanya ke bantal sambil mengerang kesal.
Tidak bisakah Kevan meninggalkannya sendirian dan tidak perlu mengejarnya lagi seperti ini? Ugh! Sejak dulu Kevan tak pernah berubah dan sering datang tiba-tiba ke Mansion Grandpa Ivan. Dengan santainya berkata bahwa ia menjemput Anna dan ingin mengajaknya berkencan!
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. gumamnya sembari mengerucutkan bibirnya kesal dan mengatur pengalihan telepon bila Kevan sampai menghubunginya kembali