Malam itu Anna tertidur pulas.
Gadis itu bergerak pelan dan tidur menyamping di atas ranjang empuk, seraya mendekap bantal dengan napas yang sudah teratur.
Rasa lelah selama dalam perjalanan dari Russia menuju Los Angeles, membuat ia terlelap. Bahkan sekarang ia bermimpi, ada yang membelai rambut panjangnya dengan lembut, kemudian beralih mengelus garis rahangnya seringan bulu.
Ini sungguh terasa menakjubkan dan sangat nyata.
Di sisi lain, ia ingin membuka kedua kelopak matanya untuk memastikan sesuatu hal, tetapi ia terlampau mengantuk berat.
Beberapa detik kemudian, ia merasakan sesuatu yang basah menyapu tengkuknya, dingin, serta lembab. Membuat Anna melenguh v****r dalam tidurnya dan tiba-tiba inti tubuhnya bereaksi aneh yang belum pernah ia rasakan dalam kehidupannya selama ini.
Sentuhan yang sangat berhati-hati itu, bahkan sekarang beralih merapikan anak-anak rambut di sekitar area dahi dan pipinya. Rasanya sangat menggelitik, sampai-sampai ia tersenyum kecil dalam tidurnya, apalagi ketika sesuatu yang hangat mengecup sudut bibirnya, lalu diseret ke ceruk leher, menuju pundak mungil yang hanya tertutupi sehelai tali baju tidur.
Apakah ini mimpi?
Tunggu!
Jika hanya sebatas mimpi, ini terlampau nyata. Bahkan aroma mint maskulin yang menyegarkan, menguar lembut ke penciumannya. Membuat ia terlelap lebih dalam dan nyaman.
Aroma ini pernah ia kenali sebelumnya dan sanggup membuat detak jantung berdebar-debar. Sontak, kedua bola matanya membeliak lebar, dengan keringat dingin membasahi sisi pelipisnya.
Dia menelan saliva, kemudian mengedarkan pandangan ke penjuru kamar dengan penasaran, kondisi kamar pun masih gelap karena gorden yang masih tertutup sempurna. Penerangan pun hanya dari lampu nakas yang berpendar temaram keoranyean.
Dia menyipitkan mata dan melihat jam yang telah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, seketika ia melemparkan punggungnya menekan busa empuk ranjang karena tubuhnya masih terasa lelah.
Namun tunggu dulu, ia terdiam sesaat sembari menoleh ke arah samping dan menatap pintu kamar yang sudah sedikit terbuka.
Terbuka sejak kapan? gumamnya dalam hati dan mengernyitkan alisnya keheranan.
"Aku sangat yakin. Semalaman sudah menutup pintu dan menguncinya. Lalu ke... kenapa sekarang seperti itu?" ungkapnya terbata, ia menjatuhkan kedua kakinya dan menginjak karpet bulu tebal kemudian dengan dipenuhi rasa penasaran ia mulai melangkah perlahan-lahan.
Kini ia berdiri tepat didepan pintu.
Tangannya terangkat dan mencengkeram handle dengan napas yang ditahan. Lalu pintu itu kini sudah terbuka lebih lebar dan ia menjulurkan kepalanya keluar.
Anna menoleh ke arah kanan dan kiri. Namun nihil. Koridor panjang lantai dua ini sepi dan pintu kamar Rei juga masih tertutup. Seolah-olah dalam mansion ini tidak memiliki kehidupan.
Setelah dirasa aman, ia mengembuskan napasnya dalam-dalam dipenuhi kelegaan. "Mungkin ini hanya kebetulan. Bisa saja aku lupa menutup pintu. Hah! Tapi aku bukan nenek-nenek pelupa!" erangnya berusaha mengingat-ingat.
Lantas ia berbalik, hendak menutup pintu. Namun seketika, ia terlonjak saat ada yang menepuk bahunya dari arah belakang bersamaan Anna yang menjerit histeris sambil menutup wajahnya rapat.
"Selamat pagi," ujar suara hangat seorang wanita sambil terkikik geli melihat tingkah Nona muda didepannya yang terkejut karena dirinya.
Anna membuka jemari yang masih menempel di wajahnya. Menelisik pakaian seragam pelayan warna hitam perpaduan putih dan ia baru bisa menghela napas lega. Oh lama-lama jantungku kacau!
"Ya Tuhan! kau membuatku terkejut! Aku sedang dalam mode serius memikirkan suatu hal," ungkap Anna seraya mengusap wajahnya dengan cepat, kemudian melipat kedua tangannya menyilang didepan dadanya.
"Tunggu. Semalam aku tidak melihatmu." Anna berujar pelan sambil menelisik wajah wanita yang diperkirakan berusia empat puluh tahun yang malah masih saja tersenyum lebar padanya.
"Saya bekerja dirumah ini sebagai pelayan dan saya yang sekarang akan menjadi pelayan pribadi Anda, Miss." suara ramah itu menelusup ke pendengaran Anna. Suara yang menjanjikan sebuah pertemanan, sehingga Anna mengerjap setelah mendengar dua kata terakhir dan spontan menggelengkan kepalanya kencang.
Oh ayolah, ia tidak suka bila selalu saja ditemani atau di ikuti oleh wanita didepannya setelah menjadi pelayan pribadinya nanti. Anna merasa bosan karena selama di Russia pun sama saja. Grandpa Ivanov memberinya dua orang pelayan pribadi. Bayangkan! Betapa ia tidak bisa menikmati kehidupan masa mudanya!
Demi apapun ia sudah beranjak dewasa dan tidak memerlukan lagi seorang pengasuh yang akan membantunya berganti pakaian!
Ini terasa menggelikan.
"Tidak. Aku bukan anak kecil yang harus dilayani. Aku ingin membiasakan diri melakukan semua hal tanpa bantuan orang lain, tetapi terima kasih telah memerhatikanku," ungkap Anna, tegas. Namun, masih terdengar lembut. Membuat wanita yang berada didepannya, lagi-lagi tersenyum riang.
"Tapi Miss," sanggah pelayan itu hendak menjawab, tetapi perkataannya segara terputus saat gadis di hadapannya menatapnya dengan tajam.
"Tidak ada tapi-tapian. Siapa yang menyuruhmu?" tanya Anna sembari menggoyangkan jari telunjuknya tepat didepan wajah wanita itu.
"Mr. Rei." Pelayan itu menjawab Anna seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam dan merasa kurang nyaman setelah melihat banyak bercak kemerahan di leher jenjang gadis itu.
"Uncle Rei? Dia sudah bangun?" tanya Anna ingin tahu.
Mendengar nama lelaki itu, perlahan membuat hatinya terasa perih. Anna mengulas senyuman tipis dan sedetik kemudian ia menekan bibirnya geram, saat mengingat Rei yang telah mengabaikannya selama bertahun-tahun lamanya.
Oh, bukankah ia harus terlihat baik-baik saja, bukan? Ia malas memperlihatkan kesedihannya dan kalau hal itu sampai terjadi, ia hanya berakhir terlihat seperti seorang gadis patah hati yang menyedihkan.
"Sudah sejak pagi ia bangun dan sekarang berada di area ruang makan. Biasanya setelah sarapan, ia akan pergi ke perusahaan dan pulangnya tidak tentu," ungkap pelayan itu menjelaskan tanpa berani mengangkat kepala menatap Anna.
"Tidak tentu bagaimana? By the way, dia sering membawa kekasihnya kemari?" selidik Anna seraya mengangkat alisnya tinggi-tinggi, penasaran.
"Tidak pernah ada wanita yang ia bawa kemari. Tetapi ia sering pergi berlatih kick boxing. Pulang ke mansion hanya untuk istirahat saja." Pelayan itu mencuri tatap dari sela-sela bulu matanya dan seketika langsung menundukkan kepala.
Sementara itu, Anna yang mendengar penjelasan wanita ini, kontan dapat menghela napas lega. Namun dalam hatinya ia berkata, lupakan saja dia, Ann! Kau tidaklah penting baginya. Bahkan ia tidak menemuimu hanya untuk mengucapkan selamat datang. Mungkin ia membencimu diam-diam.
"Maafkan saya Miss. Saya harus segera pergi." Pelayan itu melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa dan meninggalkan Anna bersama rasa penasaran yang tak pernah habis.
Anna mengerjapkan mata dan menggigit bibir bawahnya keras. Berusaha menyingkirkan pemikiran yang memenuhi benaknya seraya menyeka kasar air matanya.
Dengan langkah malas, ia pergi menuju kamar mandi dan mulai menanggalkan helaian pakaiannya satu persatu, kemudian memutar karan air shower hangat.
Dia sudah tidak sabar bertemu dengan lelaki itu. Lelaki yang telah mengabaikannya dan hal itu membuat dadanya seolah ditusuk.
Dia ingin bertanya. Apakah ia telah melakukan kesalahan? Tetapi, bila di ingat-ingat, ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Bahkan ia sangat ingin tahu, alasan dibalik itu semua.
Setelah beres, ia meraih handuk dan melilitkan ke tubuhnya seraya berdiri didepan cermin. Namun, ia terdiam sesaat dan semakin semakin mendekatkan wajahnya ke cermin sembari mengerutkan dahi penasaran.
Sedetik kemudian, mulutnya sontak terbuka setengah menganga, kedua matanya membulat terkejut, seraya menyentuh pada bagian leher, kemudian beralih mengusap dadanya.
Namun, noda merah keunguan itu tidak juga menghilang. Dia lantas kembali mengusapnya dengan lebih keras dan lagi-lagi noda itu tidak kunjung menghilang.
"Apakah ada serangga yang menyengat leherku?" gumamnya keheranan.
Dia sungguh tak menyangka, kamar senyaman ini ternyata masih ada makhluk menjijikan itu! Oh, ini membuat harinya menjadi buruk seketika.
Anna menggerutu. Dengan langkah malas ia mengambil pakaian yang masih berada dalam koper dan mulai memilih beberapa helai berwarna merah muda.
Di sisi lain, ia langsung menepuk dahinya dan kembali mengingat perkataan pelayan tadi, bahwa Rei, saat ini berada di ruang makan dan tengah sarapan.
Setelah beres, ia berlari menelusuri koridor lantai dua menuju undakan tangga dengan napas yang terengah-engah saking semangatnya dan memikirkan reaksi Andrei atas kedatangannya ke. Namun, langkahnya terhenti tepat di depan sebuah pintu berwarna putih.
Dia mendekati pintu itu dan menghirup aroma feminin yang menguar lembut dengan memejamkan mata.
Mungkin ini seperti aroma vanila pelembut pakaian bercampur dengan aroma Mawar yang segar. Dia membuka pintu itu dan ternyata dikunci. Anna mengerjap sambil menghela napas dan segera melanjutkan langkahnya, sembari menepis rasa penasaran pada kamar yang terletak tepat di sebelah kamar lelaki itu.
Tak lama kemudian, ia sudah sampai di undakan tangga dengan mengedarkan tatapannya ke sekeliling untuk mencari-cari sosok Rei. tetapi ia sangat tergesa-gesa sampai tubuhnya terjungkal ke bawah melewati lima anak tangga.
Anna menjerit kuat dan sejak detik ini ia akan sangat membenci tangga bergaya ultra tanpa pegangan ysoirmodern yang terkutuk! Tubuhnya kali ini jatuh dan mendarat dalam posisi menelungkup dengan dahi yang membentur lantai.
"Ugh..., Ini sakit..., pagi yang benar-benar sangat buruk dan apa-apaan ini, tangga yang aneh!" rutuknya kesal, sembari meringis dan mengusap dahinya yang berdenyut nyeri. Lalu beralih mengusap punggungnya. Rasa sakit itu lebih bertambah terasa karena berkali-kali membentur undakan tangga.
Apalagi bagian pergelangan kakinya seolah terasa terkilir. Lengkap sudah deritanya pagi ini! Lengkap sudah kesialannya pagi ini karena terlalu bersemangat! Saking semangatnya, rasanya otak cerdas Anna, terjun bebas sampai ke dengkul.
Dia mengabaikan langkah kaki yang mendekatinya. Paling itu Maid yang tadi dan ingin membantunya. Namun untuk beberapa saat ia terkesiap, ketika seseorang mengangkat tubuhnya dengan ringan. Hingga spontan ia mengalungkan lengannya ke leher kokoh itu.
"K... Kau...," cicitnya terbata-bata. Dalam sekejap, ia membulatkan matanya dengan setengah menganga. Degup jantungnya saat ini bertalu dengan sangat keras hingga membuat Anna kesulitan bernapas, ketika lelaki ini merunduk dan sepasang mata biru kelam menatapnya lekat-lekat.
"Lorenz! Bawakan es batu dan kain tipis. Cepat!" suara dalam menggelegar itu menggema di penjuru ruangan makan. Sesekali lelaki ini menatapnya, dengan sorot mata khawatir dengan rahang terkatup gelisah, membuat Anna nyaris tidak memercayai penglihatannya saat ini!
Uncle Andrei saat ini sedang mengkhawatirkan dirinya?
Sialnya, ia malah tak sanggup mengalihkan tatapannya dari wajah tampan ini ; rahang yang bersiku dan dihiasi bakal-bakal bulu halus. Alisnya yang tebal Serapi busur panah dan hidung mancung, serta bibir berlekuk maskulinnya.
Anna menggelengkan kepalanya kencang dan menatapnya lagi. Memastikan bahwa matanya tidak salah melihat. Jelas-jelas yang menggendongnya adalah Uncle Rei. Namun, mengapa setampan ini? Bahkan, Kevan the most wanted saja kalah tampan.
Ketika sibuk dengan semua yang berada dalam benaknya, Anna bertambah menundukkan kepala, saat lelaki itu duduk di sofa dengan diri Anna yang masih duduk manis di atas pangkuannya.
Lengan kekarnya menopang punggung Anna dan tangan lain, mulai mengompres memar di kening Anna dengan sangat berhati-hati, lebih tepatnya bahkan, Andrei memperlakukannya bak boneka porselen yang tidak boleh retak
"Angkat kepalamu, agar aku bisa memeriksa lukanya." Suara dalam nan berat itu, sontak membuat darah Anna mendesir merangkak naik di wajahnya, ia tersipu, menjadi bersemu merah muda.
Seharusnya ia tak boleh dengan mudahnya terpesona seperti ini. Seharusnya Anna membenci Andrei dengan segenap jiwa.
Mata Anna menyipit, lalu berubah berubah berkilat dipenuhi amarah.