05 | Uncle menyebalkan yang seksi!

1284 Kata
"Are you okay, Anna?" Andrei berbisik, tepat di depan bibir Anna. Sorot matanya yang teduh, tetapi menyelinap binar kekhawatiran disana, membuat Anna memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tidak ingin melihat Uncle Rei. Namun, bodohnya Anna terlalu merindukannya. Anna lantas meringis menahan sakit saat Adrei mengompresmya lagi. Namun, ia terhenti saat Anna memekik kesakitan.  "Pelan-pelan Uncle. Sakit..." Wajah Anna memucat dan menggigit bibir bawahnya, matanya basah dibanjiri bulir bening yang menelusuri pipi, membuat Andrei dengan sigap, memindahkannya duduk di sofa. Dia perlahan berlutut dan membawa kaki Anna ke atas pahanya. Well, sebenarnya ini hanyalah luka memar yang tidak terlalu parah. Dia hanya ingin menjahili lelaki ini saja karena masih merasa sangat kesal. "Terjatuh lagi, hm?" Andrei bergumam, sekonyog memecahkan kesunyian, seraya melirik Anna dari ekor mata dengan penuh arti, kemudian mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Menyiratkan bahwa, dirinya telah mengetahui sesuatu hal yang pasti akan membuat Anna malu. Menyadari ekspresi geli di wajah Uncle Rei, Anna melebarkan matanya terkejut. Damn! Semoga saja Uncle Rei tidak menyadari aksi Anna semalam. Jika ketahuan, akan sangat berbahaya! Mau disimpan dimana wajah Anna yang cantik ini? Memalukan! Anna sekarang melipat kedua tangannya didepan d**a dengan masih menatap ke arah lain. "Apa maksud Uncle dengan kata lagi? Aku baru saja terjatuh kali ini dan salahkan saja tangga aneh yang tidak memiliki sisi pembatas." dia lantas memberengutkan wajahnya kesal, sembari melirik tajam ke arah Uncle Rei yang masih berkonsentrasi mengompres memar di kaki Anna. Andrei terkekeh-kekeh. "Berarti semalam yang menyelinap kekamarku adalah seorang pencuri. Dia ketakutan kepergok, lalu terjatuh sebelum berhasil melarikan diri." Andrei mengangguk pakan, saat mengatakan hal ini. Andrei menghentikan kesibukannya merawat Anna yang cantik. Dia mengangkat kepala sejurus wajah Anna. "Hm, mana mungkin seorang pencuri berhasil menerobos security system tercanggih mansion ini?" Mendengar analisis Uncle Rei, membuat kulit Anna menganga. Rahangnya terjatuh begitu lucu, wajah pucat itu merona merah sampai menjalari ke telinganya. Anna berdehem dengan tenggorokan yang terasa mendadak kering seperti dilanda musim kemarau. Anna gelagapan. "Mu-Mungkin saja itu seekor tikus. Mereka biasanya sangat berisik," sanggahnya, berusaha meyakinkan lelaki ini. Dalam hatinya ia merutuki dirinya sendiri. Kau ketahuan dan sebaiknya kau segera menyembunyikan diri di bawah selimut! Sontak wajahnya sekarang ini jauh lebih terasa panas, seolah terbakar sampai degup jantungnya bertalu kencang! Keringat dingin pun langsung memenuhi dahi Anna, sampai ke sisi pelipisnya. Rei kembali mengangkat satu alisnya. "Disini aman. Takkan mungkin hewan pengerat itu berkeliaran," ujarnya asal, sembari sesekali menatap wajah Anna yang terlihat jauh lebih cantik dari jarak sedekat ini. Anna mengerjap. "Tetapi kalau hewan lain sepertinya masih ada." Anna menganalisis dengan serius kejadian semalam. "Buktinya, semalam serangga menjijikkan menggigit leherku sampai bertebaran bekas keunguan," sahut Anna kesal, ia mengusap sisi lehernya dan menggosoknya dengan kasar. Sayangnya, hal ini tidak luput dari semua pengamatan Andrei yang sekarang sedang menatap intens leher jenjang Anna yang halus mulus. "Aku akan menyemprot kamarku menggunakan obat pembasmi serangga, agar mereka menggelepar keracunan lalu mati," sambungnya, sambil terkikik. Dia membayangkan saat serangga-serangga itu melemas, lalu pada akhirnya mati di lantai. Terkapar tidak terselamatkan. Anna menyeringai puas. "... dan hatiku menjadi lega." lanjutnya dengan binar mata yang penuh semangat. Namun, kemudian ia menjerit kesakitan, saat Rei menekan luka memar itu dengan sedikit lebih keras. Hell! Padahal Anna hanya mengatakan apa yang ia pikirkan saja! Serangga menyebalkan itu pasti akan mati ditangannya! "Arghhh! Sakit Uncle!" Anna memekik menderita, sengaja menendang perut Andrei yang keras, sambil memelototkan matanya. Namun, dengan tangkas, Andrei menahan kaki Anna agar behenti bergerak, lalu meniup memar itu dengan pelan. "Sakit?" Andrei menghadapkan wajahnya ke Anna dengan gurat kekhawatiran yang terlihat nyata. Dan Anna tak menyukai ekspresi Uncle Rei seperti ini. Untuk apa mengkhawatirkan Anna, jika selama ini tak menghubunginya. Andrei beranjak berdiri setelah dirasa memar itu sedikit demi sedikit mereda. Dia duduk di ujung meja makan berbentuk persegi panjang, lalu mengetukkan sesuatu ke atas meja bermaterial kayu dengan teratur. "Kasihan, kesakitan," ujarnya datar, tetapi ujung bibirnya tertarik kesamping, membentuk seringaian tajam. "Padahal aku membelikanmu mobil baru. Tetapi, karena kakimu memar, sebaiknya test drive kapan-kapan saja." Andrei menggoyangkan kunci itu di depan wajahnya, sengaja membuat Anna kesal. Oh ayolah, Anna pastinya tak akan bertahan lama. "Tidak. Tidak! Memarnya sudah tidak terasa sakit. Uncle, please. Kemarikan kuncinya," Anna memohon dan memasang puppy eyes andalannya. Lelaki mana yang tega membiarkan melihat ekspresi imut ini? "Siapa yang membutuhkan kunci ini?" Andrei terkekeh-kekeh. Tanpa memutuskan pandangannya dari diri Anna yang selang tengah mengerjakan mata berulang kali. Mungkin gadisnya ini telah menyerah. "Aku akan mengambilnya," ujar Anna yang tersenyum setengah hati, seraya menghampiri Andrei dengan gerakan melesat. Tetapi, Andrei sangat menyebalkan! Dia malah mengerjainya; sengaja mengangkat tinggi-tinggi tangannya, supaya Anna tak berhasil mengambil kunci mobil itu! "Tunggu. Tunggu! Lusa kau mulai kuliah dan aku telah mengurus semuanya. Kau mengambil fakultas hukum," ungkap Andrei menjelaskan yang tak Anna dengar. Dalam hati dan pikiran Anna tertulis jelas; ambil kunci mobil. Sekarang juga! Cepat ambil! Namun, berbeda dengan diri Andrei yang tiba-tiba menjalar panas gairah di sekujur pembuluh darah, karena tadi sedang bermain dengan Anna dan gadis itu tanpa sengaja menenabrak tubuh Andrei. Sepasang bulat yang sintal menekan tubuh bidangnya, terasa lembut. Napas Anna yang berhembus hangat ke wajahnya sungguh memikat diri Andrei untuk langsung melumat bibir Anna. Andrei mengangkat tinggi kedua tangannya, ia tersenyum riang. "Oke, oke. Aku menyerah padamu." Dia menggoyangkan kunci mobil, tepat didepan wajah Anna yang hendak disambar oleh tangannya. Namun, Andrei menyipit tidak suka. "Seharusnya kau bilang apa padaku?" Andrei menjulang didepan Anna, sampai-sampai Anna harus mendongaj saat menatap wajah itu. "Thank you, Uncle. Thank you very much. Kau sangat baik." Anna memutarkan kedua bola matanya jengah, secepatnya berlarian ke arah parkiran mansion super mewah itu. Andrei mengulum senyuman, saat menyaksikan gadis berambut panjang itu tidak berhenti berjingkrak kegirangan, seperti takjub dengan hadiah mobil darinya. Jesus Christ, ini hanyalah mobil. Andrei bahkan ingin memberikan Anna yang jauh lebih dari sekedar mobil mewah. "Apa kau senang?" Entah sejak kapan Andrei berada dibalik punggung Anna. Namun, gadis itu sempat terlonjak kaget. Anna memandangi kendaraan beroda empat itu dan tanpa sengaja ia berbalik menghadap Andrei, kemudian berhambur memeluknya dengan erat, sembari meloncat-loncat. Dan untuk sesaat, Andrei terkesiap. Namun, ia berusaha bersikap biasa saja, lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Anna dan balas memeluk gadis itu dengan erat. Menghirup rakus aroma rambut panjang Anna yang menguarkan harumnya shampoo. Deg. Deg! Oh, tidak. Tidak boleh seperti ini. Kontan, Anna membentang jarak di antara mereka; melangkah mundur dan memandangi pinky car miliknya itu dengan mengulum senyuman. "Sebenarnya ini mobil impianku. Warnanya sangat cute. Thank you, Uncle Rei." "Tetapi aku ingin mencobanya!" seru Anna yang melangkah masuk kedalam mobil, lalu menekan tombol untuk menyalakan mesin mobil Ferrari. Derum yang menderu dari knalpot memenuhi area mansion bergaya modern itu, seiring Anna yang melaju perlahan, melewati gerbang. "Pasti dia sedang menyogokku agar aku tidak marah padanya karena telah mengacuhkanku beberapa tahun belakangan ini," gumamnya sembari menelusuri jalanan lurus yang berkelok, lalu berhenti saat lampu merah menghadang dirinya. Dia mengecek kaca spion samping dan tengah. Begitu jalanan dirasa aman untuk dilalui, ia pun memutar kemudinya di belokan kedua memasuki kawasan Rodeo Drive dengan kedua sisi trotoar yang diapit pohon palem. Merupakan area pusat perbelanjaan dari brand terkenal dunia. Dia lantas menoleh ke arah samping dan tak bisa melepaskan tatapannya dari sebuah mobil keren yang berwarna oranye perpaduan hitam itu. Apalagi di sisi badan kanan jalan ini berjajar deretan mobil sport kesukaannya. Namun pada belokan selanjutnya, tiba-tiba ada yang menyeberang mendadak, tanpa menoleh ke sekelilingnya dan Anna yang keasikan menikmati pemandangan jajaran Mobil sport itu tiba-tiba menganga. "Tidaak!" Anna menekan pedal rem dengan dalam, sembari menjerit panik dan menekan klakson berulang kali, sehingga suaranya menggema dan membuat terkejut siapa pun yang berada disana! Sontak ia membungkam mulutnya dengan telapak tangan, saat tubuh itu terpental beberapa meter jauhnya. Darah menelusuri kening yang tertutupi helaian rambut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN