10 | Uncle Andrei yang seksi.

1284 Kata
Anna sudah sampai di mansion megah milik Andrei. Namun, tiba-tiba terdengar teriakan dari mulut Lorens karena melihat memar di wajah Anna yang cantik, Anna secepatnya menempelkan jari telunjuk di bibir Lorens. "Ssssttt... jangan memberitahu Uncle mengenai luka memar yang tak seberapa ini. Janji?" Dia mengajak Lorens janji kelingking yang tak Lorens raih. Lorens menggeleng kencang, pertanda ia menolak keinginan Nona muda untuk merahasiakan hal sepenting ini. Lorens segera mengambil kompresan agar bengkaknya mengecil. "Nona, tapi tetap saja, Tuan pasti mengusut tuntas hal ini." "Dan juga, ini jelas-jelas luka tamparan atau pukulan. Siapa pelakunya? Beraninya dia menyentuh Nona muda seperti ini!" ujar Lorens sambil mendekatkan wajahnya, mengamati memar itu. Anna meringis kesakitan. Ada gadis gila yang tiba-tiba menamparku." Anna berujar malas. Namun rasa kesal masih terdengar dari setiap kata yang ia lontarkan barusan. "By the way, apakah Uncle Rei sudah memiliki kekasih atau pernahkah ia membawa seorang wanita kemari?" tanya Anna penasaran. Dia melirik sekilas kepada Lorens dan penasaran dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh wanita berusia empat puluh lima tahun ini. "Sepertinya saya tidak pernah melihat ia mengajak wanita dateng kemari. Apalagi sejak Nona berada disini. Dia sering pulang lebih awal." Lorens tersenyum dan malah membuat imajinasi Anna tidak pada tempatnya lagi. Membentuk berbagai harapan indah mengenai perasaan Uncle Rei pada dirinya. Sontak membuat permukaan kulit wajah Anna bersemu merah. "Benarkah?" Anna menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menyembunyikan rona merah yang menjalari wajahnya, sulit untuk disembunyikan begitu saja. "Dia terlihat sangat menyayangimu." Lorens menimpali Anna, sambil mengompres memar itu dengan telaten dan perlahan. "Menyayangiku?" Anna menoleh ke samping, memandangi Lorens dan mengamati saat Lorens menyampaikan hal ini, tidak terdapat keraguan di wajahnya yang bersih alami tanpa riasan. "Iya Nona. Walau pun dia tidak banyak bicara. Namun saya sering melihatnya diam-diam memerhatikanmu." Lorens tersenyum, membuat Anna menganga seolah tak memercayai semua perkataanya. Loten yakin betul karena sering tanpa sengaja memergoki Andrei yang biasanya dingin, setelah kedatangan Anna, berubah menjadi lebih manusiawi. Lorens sangat senang dengan keberadaan Anna di mansion ini yang memberikan dampak positif bagi sang Tuan yang selama beberapa bulan terakhir menjadi lebih murung, karena memikirkan seseorang yang masih di rawat di salah satu rumah sakit di Los Angeles. "Kau bisa saja, aku jadi malu sendiri," cicit Anna, seraya merapikan helaian rambut panjangnya yang menjuntai. "Kenapa harus malu? Nona Anna kan keponakannya dan sesama anggota keluarga pastinya akan saling menyayangi," sahut Lorens dengan lembut. "Apakah kau tahu kamar yang berada tepat di samping kamar Uncle milik siapa dan kenapa selalu terkunci rapat?" Anna menyela, rasa penasaran itu setiap hari semakin menguasainya, membuat ia bertanya-tanya tanpa mendapatkan jawabannya dan terkadang hal ini membuat Anna kesal bukan main. "Maaf, saya kurang tahu." Leorens menegang sesaat, ia telah berjanji kepada Tuan Andrei untuk menutup mulutnya dan tidak mengatakan hal apapun. Tuan Andrei bilang, ia akan mengatakan perihal ini kepada Anna jika situasi dan kondisi sudah memungkinkan. "It's okay. Terima kasih sudah mengobati lukaku. Sekarang aku ingin berenang. Sepertinya akan menyegarkan." cetus Anna yang tahu bila Lorens takkan pernah memberinya sebuah jawaban. Tapi ya sudah lah, nanti diam-diam ia akan mencoba mencungkil kunci kamar rahasia itu. Senyuman penuh dengan rencana, kini mengulas di bibir Anna. Dia melirik ke arah Lorens dan melemparkan senyuman ramahnya. "Oh, ayolah cepat kau pergi, Lorens. Begitu kau pergi ke lantai satu, aku akan segera mengendap-endap ke kamar itu," gumam Anna dalam hati dengan bibir berkedut menahan tawa. **** Tubuh Anna sudah terbalut pakaian renang dibalik jubah berpotongan kimono yang memperlihatkan perut, lengan, kaki dan pahanya yang seksi. Rencana membobol pintu kamarerah muda itu gagal, karena Lorens dan Uncle Rei berada di mansion. Anna menuruni undakan tangga dan melangkah ke area kolam renang yang terletak di bagian belakang mansion, sembari melirik sekilas ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore. Menjelang memasuki musim panas, matahari masih terasa segar menyinari Los Angeles. Namun kemudian, langkahnya terhenti saat ia mendengar keciprak air. Mulutnya sontak setengah menganga, begitu melihat pemandangan yang berada di sana, jantungnya menjadi bertalu kencang! Deg! "Le-Lebih baik aku pergi saja!" Anna menggigit bibir bawahnya gugup, hendak melangkah mundur dan pergi secepatnya, karena belum menyiapkan diri berhadapan dengan lelaki tampan bertubuh atletis ini. Bisa-bisa ia hanya sanggup menelan salivanya gugup sambil melongo dan itu akan sangat membuatnya terlihat seperti seorang gadis remaja yang bodoh. Bagaimana tidak ia terpaku dan salah tingkah begini. Didalam kolam renang ada tubuh setengah telanjang yang basah! "Ann, Anna! Kemarilah!" Suara berat dan dalam itu memanggilnya, sampai-sampai membuat langkah Anna seketika terhenti, dengan punggung yang menegang. Bahkan hanya mendengar suara Uncle Rei yang memanggil namanya saja, sanggup membuat kedua tungkai kakinya mendadak melemas. Untung saja, tubuhnya tak langsung melumer, seperti lilin yang dibakar panasnya api. "Anna, come here!" Suara itu lagi-lagi memanggilnya dengan cukup keras. Namun tentu saja, Anna lebih memilih berpura-pura mengacuhkan suara yang membuatnya berdebar. "A-Apa sih Uncle? Mendadak kepalaku pening karena mendengarmu memanggilku terus menerus." Anna memutar tubuhnya dan hendak kabur. Dia hanya ingin menyelamatkan diri dari situasi yang mendebarkan ini. "Temani aku berenang hanya untuk satu putaran saja, please." Mohonnya, sembari naik ke permukaan, hendak menghampiri Anna. Dengan santainya, Andrei menyugar rambut yang basah perlahan-lahan ke belakang dengan jari-jemari. Seolah-olah semua gerakkan lelaki itu sangat memesona dan menguarkan aura maskulinitas yang sulit untuk di abaikan begitu saja. Melebihi model pria profesional melenggang dengan percaya dirinya di atas catwalk dengan hanya terbalut celana dalam ketat dan basah. Anna semakin menelan ludahnya kesulitan, saat ia memandangi tetesan air yang bergulir menelusuri leher kukuh itu, lalu jatuh merambati kedua bingkahan bidang. Dalam pikirannya yang terliar, ia ingin jemarinya yang lentik meraba tubuh menggiurkan itu. Merasakan dinginnya kulit basah ditelapak tangannya. Kemudian, tatapan Anna perlahan-lahan menurun, ke arah perut keras berotot yang juga basah. Apalagi pinggul ramping dan bertebaran tatto. Anna semakin meneguk saliva, saat celana renang itu menggantung rendah di pinggulnya, sehingga tercetak jelas V-line seksi dan merambat turun mendapati bulu-bulu halus milik Uncle Rei yang membuat Anna dimabuk kepayang. Ini merupakan pemandangan dahsyat dan membuat Anna hampir saja mimisan. Anna menundukkan kepalanya dalam-dalam, karena demi apa pun! Ia tidak kuat lagi memandangi keindahan yang terpahat sempurna dan terpampang nyata di hadapannya sekarang. "Tapi aku tak jadi berenang, Uncle." Anna menolak yang membuat Andrei tak senang. Tetapi entah sejak kapan, tiba-tiba Andrei sudah berdiri tepat didepan Anna. "Tidak ada tapi-tapian." Andrei tersenyum miring, menarik Anna perlahan ke arah kolam renang. Di sisi lain, Anna memandangi lengan Andrei yang menggenggamnya, lalu menatap bisep kekar yang terkesan kuat untuk melindunginya dari hal apapun. Kemudian ia terpaku menikmati pemandangan punggung lebar yang terasa nyaman, saat ia merebahkan kepalanya di sana seperti saat dulu ia masih kecil. "Sudah puas memandangiku?" Uncle Andrei mengguman, sambil menoleh ke arah Anna, seraya mengulas senyuman miring yang memukau. Kau ketahuan! rutuk Anna dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya kesal. "Aku hanya sedang melihat air kolam. Air kolamnya—" Anna kehilangan kata-kata. "Air kolamnya sangat bening. Iya, sangat bening." Anna meringis, langsung mengedarkan pandangannya ke penjuru area kolam renang dan tak lama kemudian terdengar kekehan pelan dari Uncle Rei yang sudah berada di dalam air. Andrei meletakkan kedua telapak tangannya di pinggang ramping Anna, lalu mengangkat tubuh itu kedalam kolam renang, hingga tubuhnya terbenam sampai sebatas dagu. "Dua putaran atau hanya satu kali putaran? Aku pasti akan mengalahkanmu." Uncle Rei merunduk, memandangi wajah Anna dengan sangat dekat dan mereka sekarang saling berdiri berhadapan. "Oh, dua putaran, Uncle." Anna mendongak dan jarak mereka semakin dekat; puncak hidung saling bersentuhan, napas yang saling menderu. Tangan lebar Andrei sudah hinggap di pinggul Anna, tepat di bawah air dingin yang tiba-tiba menjadi terasa panas. "Hmm, dua sesi, Anna." Dia tersenyum dan menarik lepas jalinan tali pita jubah Anna. "Bathdrobe-nya harus dibuka supaya tidak berat saat kau berenang." Deg! Tangan Andrei mulai menyingkap lengan jubah di bahu Anna dan meluruhkannya hingga terjatuh hanyut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN