Spontan, Anna mendorong tubuh Uncle Rei menjauh sekuat tenaga.
Dia mengumpat dalam hati dengan semua kedekatan di antara mereka. Dia tidak tahu apa yang ia harus lakukan sekarang, sehingga untuk kesekian kalinya, Anna hanya sanggup menghembuskan napasnya dengan panjang, lalu sengaja melangkah mundur, membentangkan jarak dari lelaki ini.
"Siapa takut?" Anna mengangkat dagunya menantang. Sementara itu, Uncle Rei yang mendengar tantangan Anna semakin terkekeh pelan, sembari merentangkan tangannya lebar-lebar dan melangkah mundur, mengambil jarak dari gadis itu, mengambil ancang-ancang untuk berenang.
"Dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!" tukasnya seiring mereka yang melaju maju.
Mereka saling mendahului, sampai mencapai jarak maksimal dan menekan kedua kaki mereka ke dinding kolam, sambil mendorong maju tubuh mereka, hingga meluncur sempurna, sampai mereka tiba ke tempat melakukan start.
"Aku menang! Aku menang!" Anna menyeru senang, sambil mengangkat kedua tangannya yang terkepal ke atas.
Senyuman yang mengulas lebar di bibirnya membuat Uncle Rei terhenti beberapa meter di depan Anna, lalu memandangi wajah Anna lekat-lekat.
"Well, aku sengaja mengalah," Uncle Rei berujar, sambil mengangkat ringan bahunya lalu tersenyum miring, seraya mengusap wajah untuk menyingkirkan sisa-sisa air yang menghalangi pemandangan indah Anna.
"Bilang saja, kau tidak mengakui kekalahanmu. Payah kau, Uncle!" cetus Anna yang dalam sekejap melipat kedua tangannya menyilang. Menyipitkan mata ke arah Uncle Rei yang sekarang malah semakin mendekat pada dirinya dan memutus jarak di antara mereka.
Sontak, Anna melangkah mundur dan punggungnya menyentuh dinding kolam itu. Dia tidak bisa melarikan diri kemanapun, saat Uncle Rei memerangkap di antara lengannya yang kukuh.
Uncle Rei mendekatkan wajahnya.
Hembusan napas hangat itu menerpa permukaan kulit wajah Anna yang basah sekaligus dingin. Namun, setelah sekian lama Anna menunggu, ia tidak merasakan apapun pada bibirnya
Dammit, Anna! Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat ia mendekatimu seperti ini? Rutuknya dalam hati, tetapi sesaat kemudian ia terkesiap, Uncle Rei berujar dengan dingin. Sedingin es di kutub Utara.
"Memar ini pasti terasa sakit." Punggung jari Uncle Rei meraba dengan selembut bulu. Sorot matanya dari hangat berubah menjadi menyala berkilat amarah, saat melihat bekas memar yang masih terlihat samar di pipi Anna.
Apakah ini ulah Eve si rubah betina itu? Andrei merutuki dirinya sendiri. Karena jika benar, maka ia akan secepatnya melempar Eve keluar negeri sekalian.
"Aku hanya tersandung dan terjatuh di area parkiran kampus," Anna menjawabnya dengan suara yang pelan, berusaha menolehkan ke arah lain, tetapi Uncle Rei menahan dagu Anna, supaya dapat melihatnya dengan lebih jelas.
"Buka matamu dan katakan sekali lagi," desis suara itu, tepat berucap didepan bibir Anna.
"Aku terjatuh," Anna mencicit seperti tikus yang ketahuan mencuri makanan.
Namun, Uncle Rei malah semakin mendekatkan tubuhnya dan saat Anna memberanikan diri menatap wajah Uncle Rei, Anna tersentak kegaet mendapati wajah tampan memabukakn itu sudah merah padam. Napasnya pun semakin menderu berat. Amarah memenuhi diri Uncle Rei.
"Terjatuh? Kau berbohong." Punggung tangannya membelai pipi Anna dengan lembut.
Tergurat rasa khawatir pada sorot matanya, membuat Anna menebak-nebak apakah Uncle Rei memang benar mengkhawatirkan nya?
Lalu, mengapa bertolak belakang dengan sikapnya dulu yang menjauhinya begitu saja tanpa alasan yang jelas?
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Anna keheranan.
"Saat bicara, kau menghindari tatapanku. Kau tak berani menatapku. Katakan siapa yang yang telah menyakitimu?" desisnya, memburu jawaban. Namun, Anna masih saja bungkam. Bahkan, Anna lagi-lagi menghindari tatapannya.
Anna mengerjap. "Sakitnya memar ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan saat kau menjauhiku selama beberapa tahun. Itu lebih menyakitkan, Uncle!"
Dia mencengkeram tangan Uncle Rei yang masih memegang dagunya. "Mengapa Uncle mengacuhkanku, lalu setelah sekian lamanya kau tiba-tiba menginginkanku kembali?!" sentak Anna dalam satu kali tarikan napas, sembari menghempaskan tangan Uncle Rei dari dagunya.
Dia mendongak, balas menatap sepasang mata biru kelam milik Uncle Rei, dengan kesal. Sampai-sampai sekarang ini, pandangannya berubah menjadi buram karena digenangi air mata yang hampir tidak terbendung lagi!
Anna tertawa pelan menyadari kebodohannya, karena berharap terlalu tinggi bahwa Uncle Rei akan menjawab pertanyaannya.
Satu ingatan lagi yang sangat mengganggu dirinya akhir-akhir ini. Dia ingin menghentikan rentetan pertanyaan itu.
Namun, ia tidak sanggup menahannya lebih lama lagi.
"Kenapa kau berhenti dari karier tinju yang melambungkan namamu beberapa tahun silam dan kenapa pada akhirnya kau lebih memilih mengelola perusahaan? Dan milik siapa kamar itu, Uncle? Milik siapa?!" sentaknya geram, tanpa memedulikan tubuhnya yang gemetar kedinginan, saat hembusan angin sore hari itu, menyapu setiap pori sel kulitnya.
Anna menghentikan pertanyaan yang sejak tadi dilontarkan dengan emosi yang menggebu, bersama napas terengah-engah.
Kamar sialan itu sungguh menganggu diri Anna sampai tahap seperti ini!
Akan tetapi, Uncle Rei membungkam perkataan Anna. Secepat kilat, ia menekan tengkuk Anna, melumat bibirnya dengan keras dan dipenuhi emosi. Tangannya yang lain lain, berada di pinggang Anna dan meremasnya, meraihnya mendekat.
Oh, posisi ini terasa sangat rentan dan Anna tak ingin jika Uncle Rei sampai berhasil menghancurkan dinding yang sudah lama ia pertahankan; jangan tergoda dengan diri Uncle Rei!
Anna berusaha mendorongnya sekuat tenaga.
Demi apapun! Saat ini ia hampir saja kesulitan bernapas, karena Uncle Rei tidak sedetik pun menghentikan ciumannya. Bahkan dengan gilanya, Uncle Rei menelusupkan lidah kedalam mulut Anna dan tangannya menyelinap ke balik bikini, kemudian meremas bagian tubuh belakang Anna dengan kuat.
Anna sontak terkesiap dengan semua sentuhan Uncle Rei di tubuhnya, hampir saja kehabisan napas karena Rei masih saja melumat bibirnya.
Dia tak menyerah.
Dia mendorong kedua bahu kukuh itu dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang memerah, sampai akhirnya Uncle Rei sengaja mundur beberapa langkah. Bersamaan dengan semua sentuhannya di tubuh Anna yang terlepas, hingga membuat Uncle Rei menggeram menahan sesuatu hal yang sejak lama ia inginkan.
"Aku hanyalah keponakanmu dan jangan menciumku seperti ini!" Setetes bulir bening bergulir menelusuri pipi Anna.
Dia melangkah pergi, setelah menatap Uncle Rei dengan binar mata yang sayu tersakiti. Dan jangan sampai Uncle Rei melihatnya menangis, karena ia tak ingin terlihat lebih menyedihkan dari ini.
Disana Andrei hendak mengejarnya dan menjelaskan sesuatu. Namun, detik berikutnya terdengar dering ponsel yang telah lelaki itu setting khusus.
Dia kemudian membuang napas kasar dan ia tahu, siapa yang menghubunginya.
"Hallo, Dok. Bagaimana keadaannya? Apakah ia sudah bangun dari koma?" Andrei bertanya dengan perasaan khawatir, tetapi kedua kakinya tak bisa dikendalikan, ia mengejar Anna dengan masih tersambung dengan telepon dari sang Dokter.
"Akhirnya dia menggerakkan jemarinya, Rei. Kau harus secepatnya kemari," ujar sang Dokter dengan senang.
"Aku akan kesana secepatnya. Lakukan yang terbaik untuk gadisku. Kau tahu, ia sangat berarti untukku," lirihnya kemudian dan Andrei terus menerus mengejar Anna.