Sepeninggal Rei, Anna segera berlari pergi kedalam mansion dan menaiki undakan tangga lalu melangkah dengan cepat menelusuri koridor lantai dua yang mendadak menjadi menyebalkan! Karena dari belokan itu, letak kamarnya harus melewati tiga ruangan lain terlebih dahulu.
"Menyebalkan. Kenapa dia menjadi sangat menyebalkan! Aku membencinya!" umpatnya, sembari menyeka air matanya dengan kasar. Hatinya masih berdenyut perih saat lelaki itu memanggil sweetheart pada seseorang yang entah siapa dan yang paling membuatnya kesal, dengan ringannya Rei mengecup dahinya dan pergi meninggalkan ia seperti gadis t***l saja!
Anna berdiri di bawah shower setelah menanggalkan pakaian renangnya sembari memutar kran itu, bersamaan dengan air yang menghujani seluruh tubuhnya, sehingga menciptakan uap hangat yang mengembun ke permukaan kaca di sekelilingnya.
***
Hari sudah menjelang malam. Setelah ia mengisi perutnya dan merasa kenyang, Anna melangkah mondar-mandir dalam kamarnya sembari memandangi ponsel yang berada dalam cengkeraman tangannya dipenuhi kekesalan.
Dia lantas melirik ke arah dinding yang sudah menujukkan jam menujukkan pukul dua belas malam.
"Belum pulang juga," gumamnya menggerutu sambil menyibakkan gorden dan melihat ke arah ke pelataran mansion. Namun Bugatti Veyron milik Rei masih tidak terlihat.
Anna kemudian merutuki dirinya sendiri. "Kenapa aku harus merasa kesal dan marah seperti ini? Biarkan saja dia bersama sweetheart, honey, baby atau sugarnya itu!" desisnya seraya menghempaskan dirinya duduk di atas sofa.
Seharusnya ia biasa saja menanggapi hal ini, tetapi salah Rei juga yang menciumnya tiba-tiba dan seperti memberikan harapan padanya. Dasar lelaki! Pemberi harapan palsu!
"Membosankan. Aku akan membobol pintu kamar saja," ujarnya sambil mengambil sesuatu di atas meja lalu melangkah dan membuka pintu kamarnya dengan perlahan-lahan, sehingga menciptakan celah kecil yang cukup baginya untuk menjulurkan kepalanya dan mengamati situasi di sebelah kanan dan kiri koridor itu.
Anna berdiri diluar sambil menutup pintu dengan sangat pelan. Saking pelannya, ia meringis dan harus selalu berhati-hati. Siapa tahu ditengah aksinya, tiba-tiba Rei memergoki dirinya dan hal itu akan sangat memalukan!
Jantungnya berdebar-debar, keringat dingin mulai membasahi sisi pelipisnya dan ia tetap meneruskan melangkah dengan posisi dirinya yang menempel di sisi dinding.
Ayolah tinggal beberapa meter lagi Anna. Ayo semangat! serunya dalam hati menyemangati diri. Setelah sampai di depan pintu itu, ia merunduk dan mengamati lubang kunci.
"Berpikirlah dan gunakan otak cerdasmu," gumamnya kemudian.
Sedikit lagi, come on. Dia mengutak-atik lubang kunci itu dengan kedua klip kertas yang berada di tangannya dan salah satunya ia tekuk atasnya untuk menarik ke atas nanti ketika ia sudah memasukannya ke lubang kunci.
Beberapa menit kemudian, ia menghela napas lega-lalu mendorong pintu itu dengan sangat perlahan-lahan. Semerbak aroma vanilla ini lagi-lagi menyegarkan penciumannya dan ia mengintip dari celah pintu itu, melihat ruangan yang memiliki perpaduan warna biru langit dengan merah muda.
Dia mendorongnya lebih lebar lagi. Namun sebuah suara berat membuat ia berjengit terkejut. Anna yang masih membungkuk mengendap, hampir saja tubuhnya terjugkal ke arah belakang.
"Anda tidak boleh masuk kedalam kamar ini." Enzo, sang security berpakaian khas serba hitam itu merunduk dan menatap Anna sambil mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, kemudian menutup pintu kamar itu.
Anna lantas menoleh ke belakang setelah menggerutu kesal. "Astaga! Kau mengagetkanku!" cetusnya berbisik dan berdiri menegakkan punggungnya sambil melirik malas ke arah lelaki ini yang terlihat malah sedang mengulum senyuman.
Memangnya ada yang lucu ya? rutuk Anna dalam hati.
"Mau apa kau kemari?" Anna bertanya sambil mengenyahkan gugup dengan cara merapikan juntaian rambutnya ke belakang bahu mungilnya.
"Alarm bisu berkedip yang berarti ada seseorang menerobos kamar ini." Enzo tersenyum sopan, sedikit memiringkan tubuhnya ke samping sembari mengamati dua klip kertas yang masih menancap kedalam lubang kunci pintu itu.
Alarm bisu?! Geezzz..., yang benar saja! kesal Anna yang merasa sudah terpergok basah.
"Uhmm..., aku hanya sedang berjalan-jalan karena bosan," cetus Anna mengalihkan pembicaraan kemudian mengulas senyuman lebar sampai-sampai memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih.
Akan tetapi, Enzo malah mengulum senyuman geli karena Nona muda itu saat ini terlihat sangat gugup dengan permukaan kulit wajah yang sudah bertemu merah karena menahan malu.
"Iya. Ponselnya mati, Enzo. Apakah kau tahu sesuatu? Mungkin ia memberitahumu kemana akan pergi?" Anna meringis sembari bertanya kepada Enzo.
"Tidak, Miss. Mr. Rei tidak memberitahuku...," jawab Enzo sembari memandangi Anna yang sekarang ini mundur teratur.
"Okay. Lebih baik aku masuk kedalam kamarku dulu." Anna berucap pelan, ia mengangkat bahunya ringan dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Padahal dalam hatinya, ia ingin segera masuk kedalam kamarnya.
"Silahkan. Selamat malam." Enzo kembali menundukkan kepalanya formal. Namun langkah Anna terhenti saat Enzo malah masih tetap berdiri disana!
"Ya sudah. Kau pergilah," ujar Anna singkat
"Tidak bisa pergi sebelum memastikan Anda masuk kedalam kamar." Enzo tak menyerah. Dia bahkan menunggu kepergian Anna tanpa bergeming pergi dari tempatnya berdiri saat ini, sampai-sampai Anna memelototkan matanya ke arah Enzo. Karena Enzo haruslah melaksanakan semua tugas dari sang Tuan, tanpa banyak bertanya.
"Saya hanya melaksanakan tugas dari Mr. Rei." Enzo kemudian berujar sambil tersenyum.
"Okay aku pergi sekarang. Puas?!" sinis Anna melontarkan perkataannya yang terakhir, kemudian menutup pintu dengan membantingnya keras.