"Dua malam ia tidak pulang!" desis Anna, seraya memandangi wajahnya yang sudah dibubuhi make-up bergaya flawless, kemudian memoles bibirnya dengan lipstik merah muda.
Dia mencoba mengulas senyuman, tepat di depan kaca spion tengah mobilnya. Namun bukannya terlihat cantik, malah terkesan seperti senyuman yang dipaksakan dan masih nampak kekesalan disana.
Anna menghela napas panjang.
Bagaimana ia tidak kesal pada lelaki itu?
Sejak kejadian di area kolam renang tempo hari, Rei bahkan menghilang begitu saja dan tidak bisa dihubungi. Lelaki itu benar-benar membiarkan ia menunggunya seorang diri di dalam Mansion super megah seperti gadis t***l saja dan membuat Anna tanpa pikir panjang, menerima ajakan Eve untuk menghadiri acara ulang tahun di salah satu night club terkemuka Beverly Hills.
Dia mencebikkan bibirnya kesal, sembari turun dari mobil dan melangkah ke pintu masuk dengan masih menggerutu. "Menghilang saja kau untuk selamanya! Dasar Uncle menyebalkan!" geramnya, seraya merapikan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai.
***
Dan disinlah ia berada, tepat berdiri didepan sebuah pintu setelah salah satu bodyguard night club mengantarnya kelantai dua, ke area private Party.
"Ini private room-nya," ujar sang bodyguard lalu Anna menganggukan kepalanya perlahan setelah mengucapkan terima kasih.
"Daripada memikirkan seseorang yang belum tentu memikirkanku. Lebih baik aku bersenang-senang malam ini," ucapnya seraya mengetuk pintu itu tiga kali, seyakah bodyguard tadi berlalu pergi.
Sempat ia meragu untuk bergabung dalam pesta ini. Namun sekali lagi ia berpikir, tidak ada salahnya mencoba lingkungan baru yang masih terasa asing baginya.
Pintu itu dibuka dari dalam dan menampilkan sosok Clara yang tersenyum riang ketika melihat Anna lalu meraihnya kedalam dekapannya.
Dia mengedarkan pandangannya dan banyak orang yang sedang berdansa mengikuti hentakkan musik yang menggema, berdentum hingga merambati dinding sampai bergetar, bersama kerlip cahaya meremang di tengah gemerlap lampu yang silih berganti, membuat suasana private room yang lumayan luas itu bertambah meriah.
Lantas ia menoleh ke arah samping dan mendapati tiga orang bartender tengah beraksi dengan botol dan cairan gemerlap yang menguarkan aroma manis nan menggoda.
Dia menelan ludahnya gugup karena baru pertama kalinya menjejakkan kakinya di night club, tetapi sebisa mungkin ia terlihat biasa saja ketika menyaksikan sepasang kekasih yang asik bermesraan sambil saling menyentuh walaupun saat ini ia hampir saja setengah menganga dengan jantung yang berdetak kencang.
"Come on, masuklah. Kami sudah menunggumu sejak tadi. Well…, well…, well…, lihatlah Ann, kau sangat cantik malam ini," ujar Clara sembari menelisik penampilan Anna dari ujung kaki hingga ke ujung kepala sambil setengah menganga takjub dengan gaun hitam itu yang melekat pas di tubuh Anna.
"Hy Ladies," sapa Anna yang melangkah ke arah mereka berdua sambil merentangkan lengannya lebar-lebar dan memeluk mereka satu persatu.
"Jadi siapakah pemilik acara ini?" tanya Anna yang mengedarkan pandangannya ke penjuru private room itu yang memiliki interior modern perpaduan warna biru dan hitam dengan pencahayaan yang memukau di bagian langit-langit.
Di belakang mereka adalah kaca yang memenuhi dinding dan dari dalam sini terlihat pemandangan lantai satu yang tidak kalah serunya.
"Dialah yang berulang tahun malam ini. Bukankah begitu, Jo?" Eve tesenyum ke arah lelaki berambut pirang yang duduk di seberang Eve dan mengenakan kemeja hitam berlengan panjang. Parasnya juga lumayan tampan. Memiliki rahang yang bersiku maskulin dan postur tubuh atletis.
"Hy, aku Jonathan. Cukup panggil Jo saja dan terima kasih telah datang kepestaku yang sederhana ini," ujar Jonathan yang melangkah menghampiri Anna sembari mencium punggung tangan Anna dan tersenyum lebar.
"Aku Anna. Happy birthday," ucap Anna yang memeluk Jonathan sebagai salam perkenalan pertama mereka.
"Bersenang-senanglah Anna. Aku kembali bergabung bersama temanku disana," ucap lelaki itu seraya berbalik pergi dan meninggalkan Anna bersama rasa kesalnya pada Rei yang sekarang ini entah sedang berada dimana.
"Kau terlihat kesal sejak tadi. Kenapa?" cetus Eve yang sedang duduk sambil menumpukan satu kaki menyilang di atas lututnya dan gaun hitam yang membalut tubuhnya membuat Anna bedecak kagum. Terkesan seksi dan liar.
"Tidak apa-apa Eve. Tapi karena ada kalian semuanya bersamaku, aku menjadi baik-baik saja." Anna duduk di sebelah Eve dan kedua temannya yang lain juga sedang memandanginya.
Ah, lebih tepatnya menelisik penampilan Anna malam ini yang terlihat elegan juga berkelas.
"Minumlah Ann. Lupakan semua kekesalanmu." Eve mengambil segelas mungil meinuman beralkohol lalu memberikannya kepada Anna sambil tersenyum senang.
"Bagaimana bila kita bertiga bermain? Mari kita bersulang, Soobrazitnatroikh!" seru Anna sambil meminum habis gelas ketiga, sampai-sampai membuat ketiga temannya yang lain langsung mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan perkataan Anna.
"Apa itu?" sela July yang mengenakan gaun berwarna hijau toska.
"Ini adalah undangan untuk minum bersama sampai mabuk. Kalau bisa habiskan satu botol ini hingga tetesan terakhir. Minum tanpa jeda," ujar Anna menjelaskan yang sontak membuat ketiga temannya menganga.
Oh tidak. Jangan sampai mereka mabuk karena mereka lah yang bermaksud membuat Anna mabuk berat lalu akan menjalankan rencana selanjutnya. Sontak Eve, July dan Clara saling menatap panik. Karena bisa-bisa hal ini berbalik kepada mereka dan bisa saja mereka sendiri yang malah terkapar.
"Kau sering minum?" tanya Clara terperangah.
"Di Russia sudah tidak aneh lagi. Jika kami mengadakan pesta. Minuman akan tumpah ruah. Kau bisa menemukan vodka, wiski, cocktail atau pun cognac dengan mudah." Anna terkikik geli. Jangankan hanya menghabiskan satu gelas mungil minuman beralkohol, beberapa gelas pun ia sanggup dan takkan mabuk.
"Kami ingin berdansa dan bergabung dengan yang lain dulu." sesaat kemudian, Clara dan July berpamitan dan sekarang hanya ada Anna serta Eve saja. Bahkan Anna tidak turun ke lantai dansa seperti yang lainnya dan tidak tergiur untuk melenggokkan tubuhnya disana. Ini semua hanya karena ia sedang tidak ingin sendirian saja di mansion itu.
"Kau tidak minum Eve?" tanya Anna sambil mengamati Eve yang saat ini terdiam sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kau sakit?" tanya Anna bersungguh-sungguh setelah melihat Eve yang sejak tadi lebih banyak terdiam.
Terselip kekhawatiran dari intonasi suara Anna. Dia menatap wajah Eve yang sedikit pucat. Namun Eve tidak menjawab pertanyaan itu, ia malah menundukkan kepalanya sambil menghela napas dalam-dalam, seolah sedang bersedih.
"Eve," Anna menangkup punggung tangan gadis berambut gelap itu lalu menggenggamnya erat dan ia takkan sampai hati bersenang-senang bersama temannya yang lain, sementara itu Eve duduk disini sendirian?
"Aku tidak sakit. Aku malah sedang bahagia. Sampai-sampai aku menyangka semuanya hanyalah mimpi saja." Eve berujar parau, lalu menyeka air matanya dan mengulas senyuman tipis ke arah Anna yang saat ini mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi dipenuhi keheranan juga rasa penasaran.
"Aku tidak sabar mendengar kabar bahagia darimu. Beritahu tahu aku, please," sahut Anna bersamaan dengan Eve yang menggeser duduknya lebih dekat kepadanya.
Eve mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Anna. "Aku sedang mengandung benih dari lelaki yang aku cintai dan kami akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini," bisiknya senang, kemudian kembali duduk dengan kedua mata yang berbinar bahagia.
"Oh my, selamat ya Eve!" seru Anna yang seketika menutup mulutnya terkejut menggunakan telapak tangan dan masih menganga, tak memercayai dengan kabar yang baru saja Eve katakan padanya.
Akan tetapi, Eve yang berusaha meyakinkan Anna kemudian menganggukan kepalanya cepat dan mengambil sesuatu dari dalam tas hitam mungil bermerek Gucci.
"Apakah kau ingin melihat hasil tes kehamilanku?" Eve lagi-lagi tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia. Membuat Anna turut tersenyum mendengar kabar baik ini.
"Tentu saja aku ingin melihatnya," ujarnya sambil tersenyum dan mengambil selembar kertas hasil tes itu dari tangan Eve lalu mengeluarkannya dari dalam amplop dengan semangat.
"Disana tertera nama kekasihku." Eve melirik Anna dan senyuman miring itu tersungging di sudut bibirnya. Oh, ia ingin memastikan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri reaksi Anna beberapa detik lagi.
Ah, Ayolah, ini merupakan kabar bahagia dan kenapa sekarang Anna menunjukkan raut wajah bersedih? Bahkan mata Anna sekarang berkaca-kaca seperti menahan tangisan lalu menatap lagi untuk membaca tulisan di kertas itu.
"Maksudmu? Nama ini," Anna berujar terbata-bata dan sungguh, ia tak memercayai nama yang tertulis jelas di kertas bagian atas ini. Seolah-olah tenggorokannya mengering dan jantungnya seperti ditusuk ribuan jarum. Terasa sakit dan perih. Bahkan ia yakin, sebentar lagi dirinya akan jatuh tak sadarkan diri.
Ya Lord, tolong katakan bahwa ini merupakan kebohongan yang terkejam dan sebuah kenyataan yang sungguh tidak terpikirkan olehnya sama sekali!
Anna mengatupkan bibirnya. Senyuman lebar yang sejak tadi ia perlihatkan, dalam sekejap lenyap dengan kedua tangan yang mulai bergetar. Pandangannya mulai buram oleh air mata yang bersiap mendesak keluar.
"Itu nama Ayah dari calon anakku kelak. Ada yang aneh? Kenapa wajahmu pucat seperti itu?" Eve mengernyitkan alisnya keheranan dan ia mengusap lengan Anna perlahan. Namun diam-diam saat ini hatinya bersorak gembira. Ah lihatlah, Nona manja yang berada di sampingnya sekarang terdiam seribu bahasa.
Rasakan Anna. Inilah yang aku maksud dengan kejutan. Lalu akan ada lagi satu kejutan dariku yang menantimu, ucap Eve dalam hati dan dipenuhi rasa senang ketika menyaksikan wajah Anna yang berubah menjadi pucat.
Anna berhehem mencoba menyamankan tenggorokannya yang terasa kebas.
"Tidak apa-apa. Selamat ya Eve, sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu." Anna mengerjap. Berusaha menahan air matanya yang hampir saja menetes tak terbendung seraya memeluk Eve.
Dia melepas pelukannya bersamaan dengan Clara dan July yang duduk di sampingnya. "Beritahu kami siapa nama lelaki itu? Kami sangat penasaran!" seru July yang terlihat tidak sabar san begitu bersemangat.
"Okay. Namanya," Anna menelan ludahnya kelu.
Haruskah ia menyebut nama lelaki itu? Apakah ia sanggup? Anna ingin segera pergi dari tempat ini sekarang juga. Namun bukankah melarikan diri akan membuatnya terlihat seperti pengecut?
Dia menahan napasnya sesaat, kemudian menghembuskannya perlahan—sembari menatap satu persatu ketiga temannya yang sekarang ini mengulum senyuman geli.
"Namanya Andrei Victor Romanov."Anna berujar cepat. Dia menunduk sembari memandangi hasil tes kehamilan itu dengan tangan yang masih bergetar dan membaca setiap kalimat disana yang menyatakan bahwa kandungan Evelyn berusia dua bulan.
Dia masih tidak percaya dan membacanya sekali lagi. Namun tutisan itu tetap tidak berubah, nama lengkap lelaki itu tertera disana tepat di atas nama Evelyn Hillary.
Dia lantas menggigit bibir bawahnya dengan keras dan sebisa mungkin meredam gejolak hatinya. Kekesalan, sakit hati dan amarah itu bercampur menjadi satu. Membuat kepalanya mendadak menjadi pening dan berdenyut nyeri.
"Aku ke toilet sebentar." Anna meletakkan selembar kertas itu di atas meja kemudian berjalan dengan cepat sampai nyaris jatuh tersungkur.
Dia berdiri didepan cermin kamar mandi dan berulang kali menyeka air matanya yang kali ini tidak sanggup lagi ia bendung. Anna mencengkeram kuat tepian wastafel sambil menundukkan kepalanya.
"Uncle kau telah menyakitiku. Aku membencimu! Apa maksudmu melakukan hal ini padaku?" lirihnya.
Calon anak Eve dan Rei? Oh Lord, Anna benar-benar tak menyangka Rei akan seperti ini. Lalu kamar itu mungkinkah milik Eve dan sweetheart, jangan-jangan Eve juga?
Anna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis terisak-isak seorang diri. Namun untuk kesekian kalinya ia menyeka air mata itu dan berusaha terlihat baik-baik saja.
Dia menekan dadanya. Apakah seperti ini rasanya patah hati? Sungguh membuat dadanya terasa sesak dan perih. Dia tak ingin lagi mengalami jenis perasaan seperti ini dan takkan meminta penjelasan kepada Rei. Dia akan pastikan hal itu takkan pernah terjadi dan lebih baik ia pergi saja selamanya.
Dia membasuh wajahnya dan merapikan make-up kemudian meraup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, kemudian kembali ke tempat teman-temannya berada.
Tersenyumlah Anna. Kau hanya harus tesenyum dan meminum segelas lagi lalu segera pergi dari sini, ujarnya dalam hati berusaha menguatkan dirinya.
Anna duduk disana. Didepan ketiga temannya.
"Kau tinggal dengan Uncle mu ya? Seperti apa dia?" tanya July dengan ringannya sambil meminum cocktail.
"Dia terkadang menyebalkan." Anna tersenyum samar walau pun hatinya saat ini sudah hancur berkeping-keping saat mengetahui satu kenyataan mengenai Rei yang misterius. Anna benar-benar tidak lagi mengenali Rei nya yang dahulu dan semuanya memang mulai berubah sejak beberapa tahun silam.
"Bagaimana jika ia telah memiliki seorang kekasih? Apa yang akan kau lakukan?" sela July sambil menatap Anna lekat-lekat dan hal ini membuat Anna mengerutkan dahinya karena seolah ketiga temannya ini tahu, Rei adalah kekasih Eve. Namun ia segera menyingkirkan kecurigaannya ini lalu kembali meminum tandas gelas ke empat.
"Aku pikir tidak masalah jika dia memiliki seorang kekasih." Anna berujar pelan di antara dentuman musik yang mengalun dan memenuhi ruangan private itu.
"Mungkin saja dia terobsesi kepada seseorang dan menjadikan wanita lain sebagai pelampiasannya. Jika hal itu terjadi, ia sangat kurang ajar dan harus di musnahkan." Eve terkikik geli saat mengatakan hal ini kemudian mendengus jengah.
"Jangan-jangan ia memiliki imajinasi liar mengenai keponakannya sendiri? Oh my…, itu sangat menjijikkan." Clara menimpali sambil melirik senang ke arah Eve karena telah berhasil membuat Anna menagis seperti ini.
"Tidak mungkin dia berpikiran seperti itu," sergah Anna yang merasa terganggu ketika Ave mengatakn bahwa Rei menjijikkan.
"Namun seandainya iya. Apa yang akan kau lakukan?" Eve mencondongkan tubuhnya ke samping sambil mengulas senyuman lebar sehingga deretan giginya nampak putih dan rapi.
Anna terdiam, ia hanya sanggup saling menautkan jemarinya dengan gugup dan tidak mau menjawab pertanyaan Eve yang Anna rasa kurang pantas menjadi bahan perbincangan.
"Lupakan perkataanku. Ayo kita minum lagi." Eve menuangkan smapanye itu ke dalam gelas mungil yang langsung Anna sambar lalu menghabiskannya dalam satu kali tenggak.
Oh damn! Anna tidak tahan dengan situasi yang seperti menyudutkan dirinya. Namun beberapa menit kemudian, ia mengerang dengan permukaan wajah yang bersemu merah dan ia merasa seluruh tubuhnya terasa panas terbakar bercampur perih.
Anna mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya dan mengibaskan lengannya didepan lehernya. "Aku merasa tidak enak badan. Aku pulang duluan dan tolong sampaikan terima kasihku pada Jonathan," ujarnya seraya berdiri dan melangkah pergi. Sekuat tenaga ia bertahan agar tetap bisa berjalan tidak sempoyongan.
"Anna kau baik-baik saja? Aku antarkan kau pulang." Eve meraih lengan Anna ketika ia sudah membuka pintu private room itu.
"Tidak perlu. Aku hanya ingin sendirian," sahut Anna dengan penglihatan yang sudah berbayang.
Dia menutup pintu itu lalu bersandar pada dinding sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis lagi untuk kesekian kalinya.