Kerja

1137 Kata
"Hari yang sama Rindu yang sama Perdebatan yang sama Namun rasa yang mulai sedikit berubah. " *** Keberangkatan Agal untuk bekerja di daerah perbatasan membuat Nana sedih, apalagi mereka belum lama bersama. "Emang kalo diperbatasan engga bisa telepon Nana ya? " "Sinyal kan agak susah di sana. " "Kan Agal bisa naik bukit untuk cari sinyal, kalo Nana kangen sama Mas Agal gimana? " "Jangan kaya anak kecil. " "Ah Nana mau ikut aja ke sana." "Kerjaan kamu mau ditinggal? " "Tapi nanti Nana di marah Bu Gendut kalo cuti dan dimarah negara." "Nah itu kamu cerdas, jangan jadi anak kecil deh Na, kamu itu udah besar, udah jadi istri jadi lebih dewasa dalam menyikapi. " Nana akhirnya diam dan cemberut, "Awas aja kalo nanti Nana selingkuh biar Mas Agal nyesel udah menyia-nyiakan perempuan cantik kaya Nana. " "Selingkuh aja! " Muncul lah inisiatif Nana untuk membuat Agal cemburu, awas saja nanti dia akan berfoto dengan Reygan biar Agal cemburu salah siapa selalu saja cuek kepada Nana. "Yaudah Mas Agal pergi aja, Nana mau berangkat ke kantor, hati-hati di jalan Bye," ucap Nana memilih berangkat saja ke kantor tidak ingin mengantar Agal, karena percuma laki-laki itu juga tidak menyukai keberadaan Nana. Nana memilih melanjutkan langkah kakinya dan menaiki motor kesayangannya untuk berangkat bekerja. Sebuah panggilan menghentikkan Nana, "Kamu engga mau antar saya? " tanya Agal melihat Nana yang hanya pergi tanpa berniat melihat ke arahnya, jujur saja Nana kesal karena Agal tidak mau menghubunginya padahal LDR mereka akan lama. Nana menggelengkan kepalanya pelan, "Mas Agal kan engga suka Nana. " "Kalo mau nyerah sama saya masih mudah, kamu mau ce,-" "Ceramah, di mana bagusnya Nana ceramah, " potong Nana cepat, sambil tersenyum sangat manis, dari pada Agal mengeluarkan kata-kata mutiara lebih baik dia potong kan tidak baik kata-kata adalah doa pikirnya. "Ya udah anter saya dulu baru berangkat kerja, " balas Agal tegas. Mereka memilih menaiki motor bedua membelah jalanan yang tidak terlalu padat namun memang lebih baik menggunakan motor karena kalo mobil juga sulit untuk cepat. Pemandangan pagi yang masih segar dengan kicauan burung beramai-ramai terbang di langit biru dengan gelombang awan yang menemani pago ini menandakan mereka sudah siap menyambut hari yang akan dilewati. Nana diam saja di atas motor, hingga Agal sengaja melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata lalu mengambil ke dua tangan Nana untuk memeluk pinggangnya. Nana yang masih kaget terlihat senang. "Modus mau dipeluk nih, " ucap Nana senang sendiri. "Kalo kamu jatuh, saya juga yang di marah, tanggung jawab sebagai suami." "Nana suka kok dipeluk, sambil nyandar juga ya biar Agal enggak kangen nanti, " ucap Nana sambil mengeratkan pegangannya, memang pacaran setelah sah itu menyenangkan. "Kamu itu panggil Mas, " tegur Agal yang tidak suka dipanggil dengan sebutan nama saja. "Nana pikir-pikir dulu ya, kalo lagi mau, " balas Nana tertawa, menggoda Agal merupakan hal favorit yang disukainya. "Saya turunin di sini. " Agal memberhentikan laju motornya karena Nana tidak mau memanggilnya dengan sebutan Mas, menurut Nana lucu saja jika pria dingin ngambek, dia punya hal yang berbeda untuk menunjukkan ketidak sukaannya. "Kalo di daerah sini enggak ada ojek, agak depan sedikit Nana kenal tukang ojeknya, Pak Rakhmad, dia seneng beli bubur." "Kenapa kamu lebih tau tentang tukang ojek." "Abis kalo cari tahu Gagal, suka cuek jawabnya kalo tukang Ojek ditanya satu mereka jawabnya banyak." Agal menggelengkan kepalanya dan tetap melanjutkan laju sepeda motornya tidak akan tega juga meninggalkan Nana sendiri di sini. Di lampu merah Agal dengan seragamnya sudah siap untuk berangkat, ada sesuatu yang aneh hari ini, meninggalkan orang-orang tersayang, biasanya tidak seberat ini karena dia memang sudah biasa hidup merantau, tapi meninggalkan Nana ada sesuatu yang berat entah itu karena tanggung jawab atau rasanya sudah agak berubah? "Na, kamu tinggal sama bunda aja kalo saya lagi tugas, " peringat Agal yang memang sudah pamit kepada mama mertuanya, bunda, ayah dan papa Hanif sebelum berangkat. "Iya Mas, " balas Nana patuh. Agal memang tidak tahu apakah dia sudah jatuh cinta atau belum dengan Nana tapi menurutnya ini hanya sebuah rasa tanggung jawab. Mencintai adalah proses jatuh bangun, siap menyelami rasa harus punya pertahanan kuat juga jika nanti jatuh, karena patah hati dan jatuh cinta adalah dua hal yang tidak bisa dipastikan arah jalan pulangnya. "Gagal, kalo di sana jangan selingkuh ya. Ingat hati Nana," peringat Nana sambil menikmati setiap waktu yang tersisa. Mungkin memang ini adalah resiko ketika kita mengingkan seseorang untuk terus bersama tapi ada beberapa hal yang kadang kala mengaharuskan untuk berpisah. "Na, saya enggak pernah mau nyuruh kamu untuk bertahan di sisi saya." Jawaban Agal sama sekali tidak relevan dengan pertanyaan Nana tetapi namanya si keras kepala Nana semakin dilarang maka akan semakin gencar dan semangat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. "Emang Nana bilang apa tadi?" "Kan kamu bilang jangan selingkuh." "Emang Gagal udah niat mau selingkuhin Nana ya?" "Bukan gitu Na." "Gagal selingkuh itu dosa, masa Gagal sama kaya Kucing pindah-pindah tempat berubah pasangan, emang enggak mau setia kaya Merpati aja?" "Udah ah saya malas jawab." "Tapi itu Gagal jawab." Nana memang selalu saja membuat Agal rasanya darah tinggi menghadapi Nana karena memang ada-ada saja jawaban Nana. "Na, kamu yakin masih mau sama saya?" "Ini kan Nana udah naik motor sama Gagal berarti kan udah sama Agal." "Enggak gitu konsepnya Na." Ternyata berdebat dengan Nana tidak akan ada habisnya. Lagian, salahnya Agal selalu saja membantah ucapan Nana. "Ternyata bahu Agal enak untuk bersandar Nana suka," ucap Nana tiba-tiba sambil tersenyum dibalik punggung Agal. "Udah berapa bahu emang yang kamu singgahi?" "Oh, Nana suka juga bersandar sama Reygan, Aji kalo pulang kantor," balas Nana enteng tanpa merasa bersalah. Agal langsung saja melepaskan genggaman tangan Nana yang melingkar di perutnya. "Kenapa di lepas?" tanya Nana kecewa. "Ya udah sana mintak bersandar sama Aji sama Reygan aja," balas Agal terlihat biasa saja tetapi memang dia kesal dengan Nana. "Ihh kan itu dulu waktu Nana sakit emang di suruh peluk sama mereka berdua biar enggak jatuh," jelas Nana memberengut sebal. Kenapa Agal harus marah padahal kan itu hanya sekali pada saat Nana sakit. "Jadi pengen ketemu Deri. Kemarin Nana dibuatin puisi sama adik lucu itu," ungkap Nana tersenyum bangga. Sejak tadi Agal sudah kesal, kalo misalnya Nana memang mau menyebut nama banyak pria lebih baik memang dia pikirkan terlebih dahulu untuk bersama dengan Agal. "Ini kenapa gasnya Agal kenceng banget?" tanya Nana yang mulai panik. Agal hanya diam karena sejak tadi Nana ternyata cerewet sekali membuat dia kesal kalo memang masih pecicilan dengan banyak lelaki tidak perlu diceritakan dengan Agal. "Sebenarnya Gagal itu ganteng banget tapi suka irit senyum padahal kan kalo suka senyum pasti aja tambah manis." "Hm." "Gagal kok balesnya cuma singkat, kan Gagal bukan dosen Nana yang harus jawab singkat." "Biarin." "Biarin jatuh cinta sama Nana, biarin Nana buat bahagia." Agal yang diucapkan begitu hanya bisa terdiam dan tersenyum tipis, Nana memang meresahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN