"Jangan berasumsi dari katanya sebab yang kelihatannya baik-baik saja bisa jadi kenapa-kenapa, Kesal dengan orang-orang yang ucapnya tidak bermaksud menyinggung tapi melukai, Jika tidak bisa menjadi dekap jangan menjadi tusuk. "
***
Sore hari Nana sedang sibuk memasak berbagai hidangan di dapur, dia senang sekali pisang molen mini yang tadi dibuatnya habis dilahap oleh Agal.
Sambil sibuk memasak dia melihat Agal yang tengah bermain PS dengan seru, ternyata lucu melihat suami di rumah asik bermain game sementara istri memasak, sebuah hal yang selalu Nana idam-idamkan.
Dia iseng untuk mengerjai Agal dengan pura-pura terluka, "Argh! Agal tangan Nana berdarah, lihat darahnya mengalir deras," teriak Nana sambil seperti orang menahan perih.
Agal yang tengah asik bermain menghentikkan aktivitasnya dan melihat Nana, "Mana yang luka? "
"Ini, " tunjuk Nana pada hatinya.
Agal yang sudah panik mulai terlihat kesal, "Kamu kaya anak kecil, hal-hal kaya gini engga lucu buat dijadikan bahan candaan. " Langkah kakiknya menjauh, setelah berlalu Nana mulai mengejar Agal.
"Kan Nana cuma mau menarik perhatian Agal, abisnya Agal sibuk banget sama game, " keluh Nana gusar sendiri.
"Na, kamu itu udah 23 tahun seharusnya lebih dewasa jangan kaya anak kecil begini," ucap Agal terlihat kasar.
Tapi Nana hanya tersenyum mendengarkan keluhan Agal, menurut Nana apapun yang diucapkan Agal seperti nyanyian yang merdu.
"Kenapa senyum-senyum? "
"Seneng, bisa denger suara Mas Agal panjang lebar kaya gini, apalagi untuk ukuran orang yang irit bicara, besok Nana mau buat ulah lagi ah, " balas Nana dengan senyuman yang tidak henti.
Mungkin cuma Nana orang yang dimarah dan disindir malah senang dan dicaci masih bisa menebarkan bahagia, karena kata Nana cinta itu harus diperjuangkan, kalo kita hanya menunggu dan tidak pernah berlari untuk menggapai maka ketika dia hilang kita tidak pernah benar-benar merasa berjuang.
"Saya mau ngasih makan ikan dulu," balas Agal cuek.
Kapan ya Agal bisa mengerti perasaan Nana?
Nana melanjutkan masakannya dengan semangat, besok dia sudah mulai bekerja lagi dan menyelesaikan banyak sekali laporan, apalagi sebentar lagi akan ada seminar kebahasaan yang dia isi.
Mungkin banyak sekali yang berpikir untuk apa mempelajari bahasa Indonesia, itu kan bahasa sehari-hari tapi yang perlu diketahui kadang kita terlalu menyepelekan bahasa Indonesia hingga keberadaannya hampir kalah dengan bahasa Asing.
Bekerja di balai bahasa membuat Nana menyukai apapun yang berkaitan dengan Bahasa, tidak ketinggalan Linguistik dan sastra adalah makanan sehari-harinya namun, jika boleh memilih Nana lebih menyukai bidang Sastra.
Hari ini Bunda katanya ingin berkunjung ke rumah sambil memberikan kue untuk Nana sekalian mengobrol, kalo Ayah Beni hari ini bekerja di salah satu badan pemerintahan negara.
"Agal!!! " panggil Nana dengan suara cukup keras.
Padahal baru beberapa menit ditinggalkan tapi Nana sudah berulah kali ini dia melihat ada tikus yang berjalan di dinding rumah.
"Kenapa? "
"Itu, ada tikus, " tunjuk Nana sambil berlari memeluk Agal.
Mendapatkan perlakuan yang berbeda dari perempuan membuat Agal mematung dia tidak pernah sekaku ini tapi Nana berhasil membuat dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Udah meluknya? "
"Belum, masih nyaman," jawab Nana jujur.
Sementara Agal menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Nana, memang dia pria dingin tapi berhadapan dengan Nana membuat hidupnya yang kaku menjadi sedikit aneh.
"Modus. "
"Gapapa yang penting bisa meluk suami. "
"Na, gimana saya mau nangkap tikus itu? "
"Engga usah ditangkap, Nana udah engga takut, Agal peluk kaya gini terus ya sambil Nana masak. "
"Enggak. "
Agal langsung melepas pelukan Nana karena ini tidak bagus untuk kesehatan jantungnya, entah kenapa jantungnya menjadi sangat cepat berbunyi.
"Ih engga asik, besok Nana kalo masak mau cari pelukan laki-laki lain aja," balas Nana melanjutkan memasak.
"Cari aja. "
Agal memilih lari dari dapur, karena melihat tikus itu sudah tidak ada, lagian Nana pikir laki-laki mana yang tidak deg-deg kan jika dipeluk.
"Awas aja kalo berani minta peluk laki-laki lain, mana boleh istri orang meluk laki-laki yang bukan mahramnya, " keluh Agal pelan sambil berjalan ke arah kolam ikan.
Dia kesal saja kepada Nana yang malah berniat memeluk lelaki lain, kalo masih mau ganjen dengan orang lain kenapa menyetuji menikah dengannya, pikir Agal kesal.
Tapi tiba-tiba saja Agal teringat dengan Dinda--mantannya yang sudah lama menjalin hubungan--tetapi ternyata tidak bisa dipungkiri banyak kejadian yang pernah Agal lewati, ditinggal dengan Dinda yang mengajarkan banyak hal dan belajar untuk mencintai dengan tulus. Dulu Agal percaya akan bisa bersama dengan perempuan yang ia sayangi, namun sekarang dia sulit untuk memeprcayai hatinya untuk orang lain lagi, meskipun banyangan Dinda masih ada di dalam ruang hatinya.
***
Bunda memasuki Apartemen itu dengan membawa berbagai kue masakkannya.
"Assalamualaikum, wah Nana masak apa Nak? "
Melihat hidangan di meja makan yang sangat banyak membuat Bunda Lily kaget dan senang, ternyata dia tepat memilih Nana untuk menjadi istri dari anaknya.
"Waalaikumsalam Bunda, heheh ini Bun masak makanan yang masih ada stok di kulkas Mas Agal, ternyata dia suka belanja sampe banyak gitu barang di kulkasnya," ucap Nana menceritakan hal yang ditemuinya di sini.
"Agal baik kan sama kamu? "
"Baik lah Bun, masa Mas Agal jahat, paling penyakitnya irit bicara. "
"Emang orangnya gitu Na, terlalu serius. "
"Gapapa Bun yang penting serius juga sama Nana. "
Mereka berdua tertawa setelah mendengar ucapan Nana. Lily melihat ke sekeliling rumah tapi tidak melihat Agal di sana.
"Agal ke mana?"
"Tadi katanya mau ambil paket di luar Bun, sebentar sih tapi udah lama belum juga sampe. "
"Kamu pinter masak ya ternyata, nanti kapan-kapan main ke rumah Bunda, masakin makanan ya Na. "
"Siap bundaku. "
"Agal kapan katanya berangkat ke perbatasan? "
Jujur saja Nana bingung harus menjawab apa, Agal tidak pernah cerita akan berangkat ke perbatasan, berarti Nana akan ditinggal lama.
"Belum cerita Mas Agalnya Bun. "
"Kebiasaan anak itu, kalo mau ninggalin orang enggak ngabarin. "
Sebagai Perwira Pertama atau Pama dan Kapten di Timnya tentu saja Agal tidak boleh lama-lama libur.
Tidak lama suara pintu terbuka dan menampilkan sosok Agal dengan dua buket bunga yang besar, entah untuk apa.
"Assalamualaikum bunda. " Agal memberikan salam kepada perempuan kesayangannya itu.
"Ini Agal beliin bunga untuk dua perempuan tersayang Agal. "
Melihat itu membuat Nana kaget, apa tadi yang Agal sebut, perempuan tersayang, baru kali ini Agal bersikap sangat manis. Apa Agal telah menyukainya.
"Makasih Nak, kamu sama Nana baik-baik aja kan? "
"Sama-sama bunda, iya baik-baik aja bun. Nana pinter masak, " Agal mendekat ke arah Nana dan merangkulnya.
Nana yang kaget rasanya sudah ingin pingsan, diperlakukan manis oleh Agal membuat dia benar-benar bahagia.
"Iya Ma, kita baik-baik aja. Mas Agap selalu perhatian sama Nana. "
Agal membalasnya dengan senyuman manis, bisa diabetes Nana kalo begini.
"Ini buat istriku tercinta. " Agal memberikan bunga dan mengelus kepala Nana dengan sayang.
Nana kaget dengan perlakuan manis Agal, benar-benar berubah 360• dari yang Nana kenal.
Obrolan hangat itu berlanjut, Agal menceritakan apapun hal yang dia rasakan kepada Bunda, baru kali ini Nana bisa melihat sisi lain dari Agal, ternyata dia sangat menyayangi bundanya.