"Bersabarlah, semua yang lahir pasti akan mati. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Dan kasih sayang nenek untuk kita tak akn berubah, meski sudah terbenam terkubur di bawah bumi, tak akan pernah musnah. Percayalah." Kata Paman Heru pada Kinanti. Kinanti tersenyum masih enggan beranjak dari pusara bertuliskan nama nenek Fatimah. Tanah merah bertabur aneka bunga warna-warni, yang beberapa jam lalu meregang nyawa tanpa Kinanti ketahui. "Ayolah, Kinan. Nenek akan terbebani jika kau terus-terusan meratapi kepergiannya. Ikhlaskan dia. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya," celoteh sang Paman. "Nggeh, Paman." "Ayo, Davin." Lelaki itu menggandeng Davin. Kinanti dan Davin pun beranjak dengan terpaksa. Melangkah, meninggalkan area pemakaman yang berbaris nisan-nisan itu. Masih

