Masih terlihat keraguan di wajah Kinanti saat Sadewo mendekapnya erat. Tiba-tiba pintu diketuk dari arah luar. Sadewo mengusap rambutnya, ia kesal karena dekat dengan Kinanti membuat aliran darahnya mengalir deras. Sadewo lalu melepaskan pelukannya dan Kinanti berjalan ke arah pintu. Lalu pintupun terbuka. Sorot mata mak Tini terlihat bahagia, Kinanti menyambut mereka dengan begitu lembut, lalu menyuruhnya masuk. "Masuk, mak." "Nggeh, Non." Mak Tini datang bersama Dini membawakan makanan untuk Kinanti dan Sadewo. "Mak sudahlah jangan manggil, Non. Risih aku." "Jangan, Non Kinanti. Gak boleh itu." Kata mak Tini. "Iya deh, kalau gitu, Mbak Saja." Jelas Kinanti. Sadewo tersenyum. "Mbak saja, mak. Bagus juga kok." "Ngeh, Den." Sesaat Kinanti menoleh pada Sadewo. Saat melihat Sad

