"Kinanti, please diamlah sebentar saja!" Entah berapa lama mereka saling terdiam, Dekapan hangatnya, entah mengapa terasa bak tikaman yang mampu mengoyak rindu. Rasa untuk Kinanti yang kembali membara. Kinanti merenggangkan pelukan namun tangan kekar Sadewo menahannya. "Kumohon, Kinanti." Kinanti melepaskan paksa pelukan itu dengan canggung. "Harusnya kita sudah bahagia?" Kinanti terdiam ia enggan berdebat kali ini. "Harusnya kamu tak pergi meninggalkanku, Kinanti. Bertahun-tahun aku mencarimu sampai aku seperti orang gi*a karena merindukanmu." Sadewo menatap Kinanti lekat dengan sorot menuntut. Tatapan yang sedari dulu berhasil membuat Kinanti bertekuk lutut setiap kali berdekatan dengannya. Mata memerah Sadewo menatap Kinanti tajam. Sebuah kegetiran tercetak jelas di sana.

