"Maaf, Ruka ... aku capek. Lain kali saja," tolak Sadewo waktu itu perlahan. Sadewo merenggangkan pelukan Haruka di tubuhnya. Wajah tampannya sedikit ditarik saat Haruka berusaha mengecup pipinya. "Terus kapan, Mas ... aku rindu." Haruka bangkit dari tempat tidur dan menggigit bibir dengan rasa kecewa yang dalam. Haruka menyibak rambut yang menutupi kening dan separuh matanya. Sebelum tidur dia sengaja menggeraikan rambut. Saat perempuan itu menyibaknya, tak terasa ujung jarinya menyentuh sesuatu yang hangat di kelopak matanya. Haruka menangis. Serapuh inikah? Dirinya perlahan bangkit bersandar di ranjang. Lama Haruka menutup wajah yang kini akrab dengan kesunyian dan kesendirian. Wajah yang akrab dengan kesepian dan rasa hampa. Rasa yang perlahan menggerogoti jiwanya, karena cinta t

