Menikmati Hari

1661 Kata
Pagi harinya, seperti biasa Mbak Dini datang membawa sarapan roti juga teh hangat, waktu istirahat Kinanti semalam menjadi berkurang. Saat adzan tubuh berkumandang, matanya begitu sulit terbuka karena kerjaan Sadewo semalam, sampai akhirnya kepalanya sedikit berat dan masih ada sisa kantuk yang menggelayut. Semalam, setelah makan sisa Sadewo pun, Kinanti tidak bisa langsung terlelap. Ia merenung, bingung. Mengapa ia bisa begitu terikat dengan masa lalu. Perlakuan Sadewo semalam sukses membuat Kinanti kesal. "Kinan, ini tehnya." Mbak Dini datang dengan membawa secangkir teh hangat. "Hemm, makasih, Mbak jadi merepotkan." Dia meletakkannya di atas meja. "Tak apa, Kinanti." Kinanti tersenyum. "Makasih, Mbak." "Ya sama-sama." Selesai sarapan roti juga teh hangat, Kinanti menuju kamar Letta, menyibak korden mahal itu lalu mengancingnya disamping. Letta masih menggeliat dengan malas, kedua matanya memicing, silau menatap sinar mentari dari jendela kamar. Letta mencoba menutupi wajahnya dengan bantal. "Bangun, sekarang sudah jam lima. Ayo Salat dulu!" Kinanti menarik selimut yang menutupi tubuh Letta. "Letta capek, Mbak." Letta menguap sambil menggosok-gosok matanya. "Letta harus Salat dulu ya, Mbak ajarin. Setelah itu masuk sekolah supaya pintar," tegas Kinanti. "Emm." Letta beranjak dari tempat tidur sambil menggerutu malas. "Katanya mau jadi anak soleha." "Iya, iya." Letta menuruti perintah Kinanti masuk ke kamar mandi gosok gigi lalu wudhu. Selesai Kinanti mengajari Letta menjalankan Salat Subuh. "Cepetan mandi lalu sarapan, Non!" "Iya, Mbak. Bisa gak manggilnya jangan, Non." "Yah gimana ya, nanti Nyonya Astuti marah, Non." Letta manyun. "Gak asik ah." Kinanti membantunya menyiapkan keperluan sekolah. Kinanti melirik jam dinding di kamar sudah pukul enam pagi waktunya Letta sarapan. Namun, memang pekerjaan sangat banyak dan Kinanti harus segera menyelesaikannya merapikan kamar tidur, dan membantu Mbak Sari membersihkan kamar Letta. "Sudah siap, Mbak Kinan." Kinanti menghentikan aktivitas membersihkan kamar tidur. Dan berjalan mendekati Letta. "Ok, kita sarapan ya?" Ajak Kinanti. "Hu um." Sampai di ruang makan semua sudah berkumpul. Kinanti cemas, ini saatnya ia bertemu dengan nenek sihir itu ai Haruka. Dia terdiam menarik kursi untuk Letta. Dan mengambil nasi juga lauk lalu menyuapi Letta dengan pelan. "Haruka kenalin ini, Kinanti. Pengasuh Letta yang baru." Bu Astuti memberi tahu Haruka yang sedang makan juga. Haruka terkejut menatap wanita yang tak asing buatnya. "Oh ya, aku Haruka." Kinanti hanya mengangguk dan tersenyum. "Saya, Kinan." Sadewo terus menatap sinis ke arah Kinanti, dan Kinanti menunduk. Hidup itu memilih dan memiliki, dipilih dan dimiliki. Adalah dua sebab akibat yang Kinanti dapatkan ketika ia membuat suatu keputusan. Diantara dua pilihan itu adalah Kinanti memilih untuk pergi meninggalkan Sadewo kala itu. "Wah, Letta cantik sekali, jadi rajin bangun pagi ya." Bu Astuti bermonolog memuji Letta cucu pertamanya. "Iya Eyang. Karena ada, Mbak Kinanti yang bangunin." Bu Astuti terlihat senang. "Ya sudah habiskan sarapannya ya." "Siap, Eyang. Eyang boleh gak sih, Mbak Kinanti manggilnya jangan, Non Letta malu tahu." Pintanya. Bu Astuti mendengus pelan. "Terus?" "Letta saja." Bu Astuti mendengus kesal, selama ini di rumah ini semua mengikuti aturannya. Apalagi tentang kedudukan bebet dan bobot. Bagaimana bisa Letta memintanya begitu. "Eyang boleh ya please." Mohon Letta lagi. "Baiklah hanya untuk, Mbak Kinanti ya." "Emm makasih, Eyang." Letta bangkit dan memeluk Bu Astuti lalu menciumnya. "Eyang yang terbaik." "Ya ya kalau ada maunya." Semua tertawa kecuali Haruka dan Sadewo. Wanita itu kesal duduk agak jauh di hadapan Kinanti, ada yang berbeda dari senyumnya hari ini. Seperti ada sesuatu yang membuatnya begitu bahagia. "Mas Dewo .... " Tangannya Haruka mengelus pundaknya lembut. "Hmm?" Sadewo melirikkan mata Kinanti dengan tatapan yang entah. "A--aku telat datang bulan sudah satu minggu." Jelas Haruka. Nyaris Sadewo tersedak. Entah mengapa kopi yang diminumnya tersembur keluar. "Uhuk ...." "Pelan-pekan, Dewo." Kata Ayuning kakaknya. "Wah benarkah?" Sahut Bu Astuti. "Sepertinya, Bu." Jelas Haruka. "Sudah di tes?" Haruka menggeleng. "Belum." "Di tes dulu saja pakai testpack, kalau hasilnya positif baru, Ibu antarkan ke Dokter." "Iya, Bu." "Yakin gak lagi pencitraan nanti zonk lagi? Kayak yang sudah-sudah," tanya Ayuning menyindir. "Ayuning." Tekan Bu Astuti. "Biasanya kan gitu, Bu. Suka ngarang cerita, Haruka." Kesal Ayuning yang memang agak malas dengan Haruka dan tak pernah cocok. Bu Astuti menggeleng. "Sudah-sudah." Sadewo sedikit canggung. Apakah benar dia hamil? Harusnya kabar ini menjadi kabar bahagia untuknya, sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah. Namun, kepala Sadewo semakin berat saat memikirkan semua itu secara bersamaan. "Mas senang kan?" tanya Haruka manja. Sadewo terdiam. Sadewo kembali melirik Kinanti, ia menangkap ada sesuatu diwajahnya entah apa itu. "Mas." Sadewo masih diam. "Are you okay?" "Hmm, i'm okey." Haruka mengembuskan napas, lega. Menatap tak suka ke arah Kinanti "Syukurlah, kita akan punya baby sayang." Kinanti mengajak Letta berangkat sekolah tanpa menghiraukan ucapan Haruka, diantar oleh Pak Mus mobil mengantarkan mereka ke sekolahan Letta. "Hmm … aku mau makan mie ayam kayak teman-temanku, Mbak Kinan." Ucapnya saat sampai di depan gerbang sekolah. Kinanti mengangguk paham. "Baiklah, nanti pulang sekolah, Mbak belikan ya." "Serius?" "Iya, asal diam ini rahasia kita berdua ya." Letta tersenyum. "Ok, makasih, Mbak Kinanti." "Iya sama-sama, sana masuk." Letta mencium pipi Kinanti dan berlalu pergi, membuat netranya mengembun haru merindukan anaknya di kampung. - Dua tahun sudah Sadewo menikahi Haruka. Sampai detik ini mereka belum dikaruniai anak. Mungkin karena Haruka yang terlalu sibuk. Perempuan keras kepala. Sudah dibilang suruh berhenti kerja, eh malah ngeyel. Haruka bekerja di perusahaan Mamanya. Membuatnya terlalu sibuk dan nyaris tak ada waktu berduaan dengannya. Sadewo mengerjapkan mata berkali-kali sembari menggelengkan kepala berusaha untuk menghapus ingatan tentang Kinanti yang akhir-akhir ini begitu mengganggu konsistensi hidupnya. Sejak kemunculan mantannya di rumahnya beberapa hari lalu, membuat sedikit mengalami gangguan di otaknya. Kehadirannya sungguh meresahkan bagi Sadewo. Apalagi Kinanti sendiri yang mengakhiri hubungan mereka secara tragis. Harusnya dia bisa melupakan dengan mudah, tapi faktanya Kinanti seperti luka yang membekas di hatinya. Setelah sekian lama nyatanya perasaan itu masih sama namun kebenciannya terhadap Kinanti makin membuncah. Bukannya Sadewo masih cinta. Hanya saja, Sadewo merasa Kinanti terlihat baik-baik saja sementara setelah bertemu dengannya sikap Kinanti juga acuh dengannya. "Hei, Dewo lo oke?" tanya Lingga sepupunya bingung melihatnya melamun sedari tadi. "Hah? Apa?" Sadewo menjawab menatap Lingga bingung. Lingga menghela napas, hanya mengangkat kedua bahunya acuh. "Lingga, gimana menurut kamu kalau ada mantan yang pernah lu disakiti, tiba-tiba muncul dihadapan mu bagaimana?" tanya Sadewo ditengah pekerjaannya. Lingga tertawa. "Nggak gimana-gimana. Lagian bukankah hidup lo enak sudah ada si Ruka." Bahu Sadewo melemah. "Jadi siapa mantan kamu?" tanya Lingga. Sadewo terdiam. Lingga mengerjitkan dahi. "Sophia?" "Bukan." "Hati-hati, Dewo. Dari rasa itu bisa jadi terulang kisah cinta yang belum kelar, ingat ya, udah ada, Haruka juga," tandas Lingga. "Hmm." Jemarinya memainkan bolpoin diatas meja Sadewo masih tak habis berpikir kenapa bayangan mantan selalu menghantuinya. Belum lagi mereka yang sekarang menjadi pekerja di rumahnya. Kemungkinan bertemu setiap hari terjadi dan bisa membuat goyah hati Sadewo. "Ohya, katanya hari ini ada meeting dengan perusahaan kontraktor," kata Lingga mengingatkan Sadewo. "Emangnya jadi?" "Jadi lah." "Baiklah akan ada renovasi di berbagai kantor ini." Jelas Sadewo. Tak lama, telepon dimeja Sadewo berbunyi membuat Lingga memandangnya. "Angkatlah siapa tahu penting!" "Ya?" Sadewo kembali meletakkan telepon ditempatnya, lalu mengembuskan napas berat. "Rekan kerja kita sudah datang," ucapnya sambil berdiri bersiap untuk menemui tamunya. "Yups. Ayo." Mereka mulai memasuki lift, Sadewo begitu semangat. Sadewo bahkan merasa suasana lebih panas dari sebelumnya. Berkali-kali lelaki itu menarik napas dan mengembuskannya perlahan untuk menghilangkan kegelisahannya. *** Kinanti berjalan mendekati mak Tini yang lagi memetik sayuran. "Mak aku mau jemput, Non Letta tadi pesan jika pulang aku di suruh ikut jemput." "Iya hati-hati, Kinan." "Nggeh, Mak." Pak Mus mengantarkan Kinanti ke sekolahan Letta, dengan perasaan senang Kinanti menatap gedung bertingkat andai saja putranya bisa ikut melihat pasti ia akan sangat senang. Entahlah Kinanti tiba-tiba teringat Davin. Kinanti akui, hidupnya sebenarnya hanya untuk putranya, lebih enak tinggal bersamanya. Kedua netra Kinanti mengembun, membayangkan senyum putranya yang begitu tampan memenuhi pikirannya. "Mbak Sudah sampai." "Nggeh, Pak Mus." "Saya beli pesanan buat, Nyonya dulu, Non. Tolong tunggu di sini sebentar." "Baik, Pak." Pintu gerbang sekolah Letta itu terbuka. Kinanti berdiri, mencari Letta keluar. Kinanti berjinjit, matanya menerobos lalu lalang anak-anak berlari keluar. Senyum Letta mengembang saat melihat Kinanti melambaikan tangan. "Mbak jadi?" Kinanti mengangguk. "Jadi lah." "Asyik." "Yuk ke sana." Kinanti mengajak Letta ke arah jualan mie ayam di pinggir jalan lalu memesan dua porsi mie ayam lengkap dengan ceker ayam. Letta bercerita tentang banyak hal tak terasa pesanan mereka sudah tersedia di atas meja. Tak butuh waktu lama mereka menyantap mie ayam hingga habis tak tersisa setelahnya mereka meminum es jeruk. Selesai Letta yang membayar mie ayam dan segera ke depan sekolahan lagi menunggu Pak Mus datang. "Enak banget, Mbak Kinan." "Ya. Lain kali. Mbak buatkan sendiri di rumah ya." Letta mengangguk. "Serius, Mbak bisa?" "Bisa donk." "Baik di tunggu, gak sabar pasti kalau di rumah boleh sama, Eyang." "Hu um semoga ya." Tak lama mobil milik Pak Mus datang. Pak Mus keluar membukakan pintu untuk Letta dan juga Kinanti. "Maaf, Non agak telat antre." Letta dan Kinanti saling pandang. "Gak papa, Pak," jawab Kinanti. Mobil mengantar Kinanti dan Letta menuju rumah mewah itu. Sampai dirumah besar itu Kinanti membantu Letta Berganti pakaian setelah Salat dzuhur berjamaah Kinanti menyuruhnya tidur. *** Kinanti berjalan mendekati lift, ia menombol pintu lift kotak itu. Lift terbuka Kinanti terpana saat melihat Sadewo ada di dalam sana. Kinanti bernapas sesak, akhirnya dia masuk namun Sadewo tidak keluar dan masih bergeming di dalam sana. Suasana kembali mencekam Kinanti memencet tombol angka satu. Dan mereka sama-sama terdiam. "Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali," ucap Sadewo asal, perempuan itu terkekeh, tapi tidak dengan lelaki itu. Kinanti terdiam "Kinan ..." Sadewo menarik tangan Kinanti hingga tubuh Kinanti terjatuh di d**a bidang Sadewo. "Kinan ..." panggil Sadewo lirih. Sedikit mendongak Kinanti menatap lelaki yang tingginya diatasnya, lalu sadar dan mendorong tubuh Sadewo. Lengannya ditarik dari belakang, lalu Sadewo menenggelamkan Kinanti dalam pelukannya. "Lepaskan, Den Dewo." Kinanti nyaris berteriak sambil meronta. "Silakan jika bisa." Kinanti memukul dadanya sekuat yang ia bisa. Akan tetapi, gerakan itu terhenti saat ia mengeratkan dekapannya. "Apa kau tak pernah merindukanku dan mencintaiku." Hati Kinanti sangat sakit mengingat semuanya. Ketika keadaan memaksanya untuk berhenti mencintainya, ketika Kinanti dipaksa melupakan akan rasa untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN