Tak Bisa Melupa

1587 Kata
Pintu lift terbuka, dengan cepat Sadewo menarik tangan Kinanti dan memojokkan ke dalam sana lagi. Lalu ia membungkam tangisan Kinanti dengan kasar, lalu Sadewo mencium bibir Kinanti dengan kasar. "Mmphhh...." Sekuat tenaga Kinanti mendorong tubuh Sadewo. "Kau keterlaluan." Dengan cepat Kinanti berlari. Sadewo membeku. ''Bahkan aku tak bisa melupakanmu Kinanti,'' bisik Sadewo. Ayuning yang baru pulang melihat Kinanti berlari membuatnya curiga. "Kinanti." Panggil Ayuning. Kinanti berhenti berharap kejadian tadi tak ada yang melihat. "Apa ada masalah? Kenapa berlari-larian?" tanya Ayuning penasaran. "Non Ayuning." "Kenapa?" "Emm, Non Letta baru saja tidur siang. Saya buru-buru mau mencuci baju saya, Non." Bohong Kinanti gugup. "Kinanti, kan ada Mbak Sari." "Jadi, Saya kebiasaan mencuci sendiri, Non." "Ya sudah lain kali gak usah lari ya. Takut kamunya jatuh." "Nggeh, Non." ''Astaghfirullah, apa yang dilakukan Sadewo tadi.'' Kesal Kinanti *** Kinanti masuk kamar dan mengunci pintu, badannya gemetar kali ini. Tinggal dan hidup di rumah besar itu mengajarkan banyak hal dan pengalaman, tentang sabar, tentang ikhlas. Awalnya memang Kinanti sulit terima, bahkan nyaris tak tahan. Mengapa Kinanti berada di posisi ini. Beruntung, Mak Tini dan teman-teman kerja sangat sayang dan peduli padanya, Namun, kini Kinanti sudah bisa ikhlas dan menerima. Mungkin jalan takdir yang tertulis untuknya memang seperti ini harus bertemu lagi dengannya lagi. Dia yang Maha Tahu segalanya, sementara Kinanti hanya bertugas menjalaninya saja. Apalagi, Ayuning juga sangat baik, tak ada yang membuatnya betah, kecuali anaknya di kampung yang membutuhkan biaya. Kinanti mengangkat jemuran membantu Mbak Sari, lalu menaruhnya ke dalam keranjang dan membawanya ke dalam ke tempat dimana Mbak Dini menyetrika. Mereka duduk menemani Mbak Dini menyetrika pakaian. Semetara Kinanti memisahkan mana baju-baju mana celana. "Aku malas kalau harus setrika milik, Non Haruka." Kesal Dini. "Kenapa?'' tanya Kinanti penasaran. "Suka rewel kurang ini kurang itu lah. Hah kenapa tak ia kerjakan sendiri." "Sabar, Mbak Dini." "Sabar juga ada batasnya. Kinan." Kinanti tersenyum ia tahu sekali bagaimana sikap jahat Haruka itu. "Aku sih ya berdo'a semoga saja dia keluar dari rumah ini." "Hust gak boleh gitu, Mbak." Jelas Kinanti. "Habisnya sebel." "Benar kata Dini, Kinan. Non Haruka memang menjengkelkan. Minta ini itu gak jelas." "Ya sudah sih, memang begitu kan orangnya." "Kasihan sekali itu, Den Dewo dapat istri begitu." Kinanti hanya diam. Ia masih ingat, bagaimana cara Sadewo memperlakukannya tadi bukan ciuman tapi lebih ke pelecehan karena ia benci dengan Kinanti saat ini. Kinanti masih ingat tawa, caranya bicara, caranya makan, dan bagaimana cara lelaki itu memperkakukannya saat lembut. Tapi tadi sangat kasar. Saat pikiran Kinanti masih sibuk pintu ruangan itu berbuka Ayuning muncul dengan senyum mengembangkan terlihat di wajahnya. "Kinan." Mbak Sari menyenggol lengan Kinanti yang masih terbengong. "Di panggil, Non Ayu tuh." Kinanti langsung berdiri. "Eh iya, Non." "Temani aku dan Letta belanja ya." "Sekarang, Non." "Hu um bersiap-siaplah." Kinanti mengangguk ragu. *** Kinanti duduk di depan cermin menampilkan bibir yang baru saja ia oles lipcream berwarna baby pink pemberian Ayuning beserta bedak dan kaosnya. Setelah memoles riasan tipis di wajah, celana jeans dengan kaos putih panjang membuat tampilan Kinanti terlihat biasa namun ia memiliki wajah yang sangat cantik. "Mbak Kinan. Sudah siap." Kinanti menoleh. "Iya, Letta. Siap." "Mbak Kinan cantik." "Letta juga." Kinanti memakai flatshoes membuka pintu dan keluar menemui Letta. Mereka berdua bergandengan berjalan menuju halaman depan. Kinanti dan Letta sudah siap tinggal menunggu Ayuning datang. Saat Kinanti dan Letta mengobrol terlihat Sadewo sedang menatapnya di kursi yang tak jauh dari Kinanti juga Letta. "Om, bikin kaget saja ngapain di situ?" tanya Letta kaget. "Kenapa orang dari tadi aku duduk di sini." Letta tertawa. "Oh, kok gak kelihatan ya." "Gak kelihatan hantu kali." Letta tersenyum jahil. "Mirip sih." Ejek Letta. Sadewo menatap Letta kesal. Kinanti menatap ke arah Sadewo sekilas lalu terdiam. Dan … itu sukses membuat Kinanti terlihat makin menjenuhkan. "Mau kemana?" tanyanya. "Healing lah." Letta nyengir kuda. Sadewo menghela napas. Ia hanya diam sambil menatap Kinanti tanpa kedip. "Gimana sudah siap?" tanya Ayuning yang baru saja datang. "Siap, Ma. Ayo." Mereka masuk ke dalam mobil, namun saat masuk mobil Pak Mus bannya kempes terpaksa mereka turun lagi. Sedangkan mobil milik Ayuning dibawa oleh Rama suaminya kerja. "Dewo. Bisa minta tolong?" tanya Ayuning. "Apa?" "Antarkan kami, please." "Gak." "Ayolah, Om." "Tadi ngatain mirip hantu." Letta tertawa. "Bercanda kali, Om. Masa tampan begitu mirip hantu sih. Ayolah please." "Ya ya." Di mobil Sadewo menatap Kinanti yang sedang bercanda dengan Letta. Kinanti tertawa saat Letta menggodanya itu sukses membuat Sadewo kesal. Bayangkan saja kisah lama itu kembali dan baru dimulai. Setelah nyaris sepuluh tahun tidak bertemu, bukankah akan ada banyak hal baru yang ingin Sadewo ketahui sebenarnya? Kenapa Kinanti bekerja? Di mana Hariz? Sadewo dan Kinanti sudah menikah dulu. Karena saat remaja mereka berdua digrebek oleh warga saat mereka kecapean lalu ketiduran habis mendaki ke salah satu gunung bersama-sama dengan ke lima temannya. Pas kejadian pengrebekan para temannya sudah tidak ada di tempat dan sudah pergi al hasil hanya mereka berdua yang ketahuan dalam rumah itu, dan mereka di nikahkan siri saat itu oleh seorang Ustadz. Karena paksaan dari warga. Di usia muda membuat mereka berdua saat itu shock karena pernikahan dini mereka yang sama-sama masih kuliah. Bahkan baik keluarga Kinanti hanya Paklik Tria yang hadir sebagai saksi juga Sadewo tak ada yang mengetahui pernikahan siri mereka. "Saya terima nikah dan kawinnya Kinanti Dewi Binti Almarhum Burhan dengan uang senilai tujuh ratus ribu rupiah dibayar tunai." "Sah." Kenangan itu kembali memeluk kesepian Sadewo, bayangkan saja saat itu di dalam dompet Sadewo hanya ada tujuh ratus ribu saja, dan itu untuk mahar karena tak ada persiapan. Setiap kisah yang sudah hilang kini kembali lagi. Rindu itu sungguh terlalu mengetuk ingatan Sadewo begitu menyayat nyeri bertubi-tubi di d**a. Tiada lagi ada tempat untuk bisa memeluknya. Sadewo tersenyum miring saat menatap Kinanti dari spion kaca mobilnya, tak bisa di pungkiri jika kecantikan Kinanti makin bertambah. *** Pemandangan pertama yang Kinanti lihat adalah gedung mall yang cukup besar. Yang sering Kinanti lihat lewat sebuah televisi, di kampungnya ada namun tak sebesar di kota itu. Gedung itu berdiri menjulang beberapa meter di depannya. Kinanti mengikuti arah Ayuning dan Letta melangkah. Satpam pintu mengangguk ramah saat mereka sampai di depan mall. "Ma kita beli bahan untuk mie ayam dong. Mbak Kinan janji mau masakin buat Letta." "Oh ya. Bisa memang, Mbak Kinan?" "Katanya sih bisa, Ma." "Hemm baiklah." Kinanti hanya tersenyum sementara Sadewo mengikuti langkah Kinanti, Letta juga Ayuning sang kakak. "Dewo. Tumben ikut masuk." "Pengen beli sesuatu, Mbak." "Oh biasanya, Ruka yang ngajakin juga kamu gak mau." Tekan Ayuning. Sadewo terdiam. "Kamu temani Kinanti beli bahan mie ayam ya. Biar Letta sama Mbak Belanja baju di atas." Kinanti menatap ke arah Sadewo gugup. "Ya baiklah." Kinanti mengekor Sadewo menuju belanjaan sayur mayur. Sadewo tidak bicara sepatah kata pun. Tidak berhenti sedetik pun membawa troli dan melihat-lihat. Kinanti sudah selesai membeli perlengkapan mie ayam. Lalu ia mengekor Sadewo yang masih berbelanja makanan ringan juga parfum. Saat bersamaan tangan mereka berdua sama-sama mengambil Silverqueen kesukaan mereka dulu. Dengan cekatan Kinanti menarik tangannya kembali. "Mau ambil?" Kinanti menggelengkan kepala. "Kamu takut, padaku?" Sadewo bertanya datar setelah melirik sekilas. Hanya dengan melirik saja, Sadewo langsung menangkap keberadaan keringat yang sudah memenuhi kening Kinanti, begitu pun telapak tangan perempuan itu. "Maaf." Kinanti berjalan kembali. Sadewo tersenyum kecil. Ia sadar itu akan terjadi, cepat atau lambat, Kinanti pun tak pernah lupa kebiasaan mereka dahulu. Senyum di antara kedua pipi Kinanti berkali-kali tersungging saat berbicara dengan Letta. Bertambah mengembang tiap kali ia tertawa, Sadewo hanya melihat dari kejauhan saat ia membayar di kasir. ''Ia bahagia. Seperti dulu.'' Guman Sadewo dalam hati. Setelah memasukkan belanja dalam bagasi, Sadewo menyusul mereka yang telah menunggunya di resto mall. Kali ini Ayuning memesan steak and seafood panggang. Kinanti menelan saliva. Gugup sendiri sebab makanan yang di depannya ini makanan ke sukaan anak laki-lakinya. Kedua netra Kinanti mengembun dengan cepat ia mengelapnya, namun Sadewo tahu apa yang sedang terjadi dengan Kinanti. "Kinan ayo dimakan?" "Nggeh, Non." "Mbak Kinan suka?" tanya Letta. Kinanti melirik sekilas ke arah Sadewo. Dalam hati sungguh ingin memaki dirinya sendiri, karena ia telah masuk dalam kehidupan Sadewo lagi. "Kinan ... ditanya kok nggak jawab?" "Eh iya, Non." "Emm. Mbak Kinanti suka?" Kinanti mengangguk. "Hu um. Suka." "Nanti malam buatkan mie ayam ya, Mbak." "Boleh. Nanti kita masak berdua ya." "Yah aku ada les, Mbak." "Baiklah, Mbak masak sendiri saja." Sadewo tersenyum sinis. "Paling juga gak enak." Kinanti diam. Merasa kalah telak. "Dewo. Gak boleh begitu." Kegiatan di meja makan berlanjut tanpa banyak percakapan. Semua lebih banyak bungkam dan menikmati hidangan. Setelahnya Kinanti terdiam sebab bibirnya yang gagal mengeluarkan suara, akhirnya ia membisu. Hening yang cukup lama kembali membuat hidung Kinanti yang memerah. Ia mendongak dan mengerjap saat lagi-lagi matanya mengembun mengingat putranya. "Non, izin ke toilet ya." "Iya." Kinanti pergi ke toilet. Sementara Ayuning kesal dengan adiknya Sadewo yang tak sopan dengan Kinanti. "Dewo gak boleh begitu ketus banget sama, Kinan." Sadewo terdiam. "Dia juga manusia. Kamu sadar gak dia cantik dan baik." "Cantik hanya luarnya saja apa bagusnya." Ayuning tertawa. "Hah, lagakmu kayak si Haruka baik saja. Kakak jamin jika Kinanti dandan kelar tuh si Haruka dapat saingan. Sekarang saja Kinanti cantik banget kan?" "Benar tuh, Ma. Guru Letta saja tanya, siapa yang suka nganterin kamu, Letta begitu?'' "Hah serius?'' "Hu um. Minta di kenalin lagi." Sadewo telihat sangat kesal. "Terus?" "Aku gak setuju kalau, Pak Fahmi sama, Mbak Kinan, Ma." "Kenapa?" "Gak suka saja. Aku maunya Mbak Kinan terus yang jaga Letta." "Hmm, ada udang dibalik batu nih." Letta nyengir kuda. "Iya lah." Sadewo mendengus kesal, dari dulu Kinanti mampu membuat semua orang suka padanya hanya dalam hitungan hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN