"Apa yang kau lakukan dengan Kinanti. Mas Dewa?" Haruka bertanya keras.
Sadewo berdecak malas. "Aku hanya mengantar, Mbak Ayuning karena mobilnya bannya kempes, saja, Ruka."
"Hah, you're lying, Mas Dewo."
"Haruka."
"Tidak dengan matamu, Mas Dewo."
Sadewo yang merasa terpojok oleh pertanyaan Haruka mendecih. "Terserah."
Haruka tahu Sadewo tak mungkin tertarik lagi pada Kinanti lagi, setelah apa yang dilakukan Haruka meracuni pikiran Sadewo agar membenci Kinanti. Kinanti juga bukan jenis w*************a Haruka tahu itu. Namun, kekhawatirannya bukan tak beralasan. Apa saja bisa dilakukan seseorang bila merasa di perhatikan. Dan, saat ini Haruka dalam keadaan sangat terusik.
''Tidak, aku tak akan biarlan Kinanti merebut Sadewo.''
"Kau takut aku mencintainya lagi?" Sadewo bertanya balik.
Haruka membalik paksa tubuh Sadewo yang memunggunginya, membuat posisi mereka berhadapan. Haruka menatap lekat-lekat wajah yang selama dua tahun ia nikahi. Haruka berpikir jika akhir-akhir ini Sadewo sedikit berubah.
"Aku yakin kau mencintaiku. Tapi aku juga takut dengan Kinanti, Mas Dewo."
Sadewo tersenyum pelan. "Kau bercanda, Ruka?"
Hati Haruka bagai disayat belati. "Aku hanya takut."
Yang sebenarnya Haruka menelan kesedihannya.
"Maafkan aku." Sadewo menarik istrinya dalam dekapan.
Haruka berdiam di d**a suaminya dan membiarkan lelaki itu akan menjadi miliknya satu-satunya. Haruka akan menunjukkan seperti apa wanita berkelas, sekaligus memberi pelajaran pada Kinanti gadis ingusan itu, bahwa Haruka jauh lebih segalanya. Haruka ingin menunjukkan bahwa secantik apa pun Kinanti tidak akan mampu menggeser posisi Haruka di dalam hati Sadewo.
''Ayo kita lihat seberapa cantik dirimu, Kinanti, akulah pemenangnya sekarang dan selamanya." Gumamnya dalam hati.
Haruka mendorong tubuh Sadewo ke atas ranjang king size kini posisi Haruka berada di atas tubuh Sadewo, Haruka mencoba mencium kening Sadewo beralih ke pipi dan terakhir ke bibirnya. Dengan cantik Haruka memainkan jemarinya membuka kancing kemeja Sadewo satu persatu. Kali ini Sadewo merasa tak ber**gair*ah sama sekali ingin rasanya ia menghentikan aksi Haruka.
Namun tiba-tiba ponsel milik Sadewo bergetar dan itu sukses membuat Sadewo menghentikan aksi Haruka yang kian merambat naik.
"Maaf ini penting dari, Bapak."
Haruka begitu kesal. "Mas, kau menolakku?'' tanya Haruka kesal.
"Ini penting, Ruka. Please."
Haruka merasa di abaikan kali ini. "Pasti karena, Kinanti kan?''
"Omong kosong." Sadewo berjalan ke arah balkon dan menerima panggilan telepon.
"Mas!"
"Aku akan pergi di tunggu sama, Bapak."
Seketika wajah Haruka menjadi merah padam. Ia marah dan kecewa akan sikap Sadewo yang menolaknya. Haruka akan memberi pelajaran pada Kinanti.
***
Sepulang menemui Pak Wijaya di kantor, Sadewo merebahkan tubunya di atas sofa depan televisi. Sadewo tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya saat itu kenapa bisa menikahi Haruka beberapa tahun yang lalu. Luapan kegembiraan juga cinta buta benar-benar menyumbat akal sehatnya dan membuat lelaki itu lupa karena telah di sakit i oleh Kinanti.
Akan tetapi, ia benar-benar tidak dapat menjauhkan diri dari perempuan itu. Terlebih, saat ini Haruka makin posesif padanya, Sadewo mendesah lelah. Sadewo sadar akhir-akhir ini sikap Haruka begitu berlebihan, kecemburuannya tak beralasan, apa itu karena hormon kehamilannya. Ah tapi Sadewo tak yakin jika wanita itu mengandung sudah tiga kali Haruka sukses membuat Sadewo dan keluarganya kecewa karena bohong soal kehamilannya.
Sadewo mendengar suara Kinanti dan Letta, disusul bunyi berisik dari arah dapur. Sadewo mengernyit, kenapa malam-malam begini, Kinanti di dapur?
Seketika Sadewo bangkit dari duduknya, lalu menyusul Kinanti ke dapur.
"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya penasaran.
"Makan mie ayam bikinan, Kinan? Kamu mau?"
Sadewo menggeleng.
"Yakin enak banget lo ini." Jelas Bu Astuti.
Tapi sialnya Sadewo menginginkan itu. Sesekali ia menelan ludah saat Letta menikmati makanannya itu dengan lahapnya. Dan menunjukkan ke arah Sadewo.
"Kinan ambilkan untuk, Den Dewo ya."
"Nggeh, Nyah."
Terpaksa Sadewo ikut bergabung duduk, menit berikutnya mie ayam buatan Kinanti sebentar lagi ada di depan meja Sadewo.
Aroma wangi masakan menyambut penciuman Sadewo. Selalu begitu memperlakukannya dengan sangat istimewa. Kinanti tahu selama ini Sadewo juga sangat menyukai mie ayam.
"Kenapa harus mie, Ma?"
"Lagi pengen saja, sudah lama tak makan mie ayam. Lagian buatan, Kinanti tak kalah sama yang di resto." Bu Astuti bermonolog.
Kinanti menggeleng, dua tangannya sudah membawa satu mangkuk mie ayam lengkap dengan sayuran lengkap dengan kecap juga sausnya.
"Silahkan, Den."
Sadewo terdiam.
Kinanti mengembuskan napas seraya menatapnya kesal. Lelaki itu kadang bertindak menyebalkan di luar akal sehat.
"Mbak Kinan ayo ikut makan."
"Nanti saja, Non Letta."
"Ayo gabung sama kita, Kinan." Jelas Bu Astuti.
Lagi-lagi, Kinanti harus menelan kekesalan ketika Sadewo bertindak sesuka hati. Dengan malas ia ikut duduk lagi di depannya dan memakan satu mangkuk mie ayam buatanya sendiri. Kinanti menatap Sadewo yang sedang mencoba mie buatannya. Satu suapan terasa biasa, dua suapan rasanya makin nagih dan satu mangkuk habis dilahab oleh Sadewo.
Dalam hati Kinanti berucap. 'Lapar apa doyan?'
"Enak kan, Dewo?" tanya Bu Astuti.
Sadewo menarik napas. "Emm, biasa."
"Kinan, ini mie terenak, saya suka." Jelas Bu Astuti.
Kinanti tersenyum. "Makasih, Nyah."
Kinanti melangkah mengangkat magkuk dan membawanya ke wastafel dibantu Mak Tini membersihkan mangkuk-mangiuk itu. Kinanti membuatkan teh hangat untuk semua.Kinanti hanya tersenyum dan kembali berjalan.
"Kinanti, masih ada satu porsi untuk, Tuan."
"Nggeh masih, Nyah."
"Biar, Mak Ti yang racik ya kamu istirahat."
"Nggeh. Saya permisi menidurkan, Non Letta dulu Nyah."
"Ya, baiklah selamat tidur, Letta."
Letta tersenyum. "Eyang, Om dan Mama juga. Good night."
"Malam sayang."
Kinanti dan Letta berjalan ke arah kamar Letta di sana Kinanti menidurkan Letta, tak berselang lama saat Kinanti menceritakan tentang dongeng Malin kundang Letta sudah tertidur. Kinanti menutupi tubuh Letta dengan selimut dan berjalan ke arah luar lalu menutup pintu. Kinanti berjalan menuju lift kotak itu ia menekan tombol ke lantai satu saat pintu mau tertutup Sadewo menahan pintu itu dan ikut masuk ke dalam lift. Kinanti merasa takut oleh sikap lelaki itu.
"Aku bisa membiayai kebutuhanmu, tanpa kamu harus bekerja seperti ini. Kamu cukup menjadi wanita baik dan menurutiku," tuturnya.
"Maksudmu menjadi simpananmu?"
Sadewo tertawa. "Kenapa tidak."
"Kau gil*a."
"Enak kan tanpa harus bekerja cape-cape."
Kinanti begitu kesal, kini harga dirinya diinjak-injak lagi oleh lelaki itu. "Bukan urusanmu."
"Kinanti, kau akan tersakiti oleh Haruka."
"Jangan mendebatkan hidupku. Bukan hakmu. Memangnya siapa kamu?"
"Aku mantan suamimu!"
"Mantan macam apa yang meniduri terus pergi?! Kamu bukan suamiku! Aku nggak punya suami yang tak pernah tanggung jawab!" teriak Kinanti frustasi.
"Aku bertanggung jawab!" ucap Sadewo setengah berteriak.
"Tidak."
"Kinan."
"Kamu hanya nikmatin tubuhku! Apa kamu lupa?" Entah kenapa suara Kinanti bergetar.
"Aku menghormatimu sebagai istriku, Kinanti! Aku bahkan tak pernah menyentuhmu karena paksaan, kita melakukannya atas dasar suka sama suka kan! Aku hanya ingin menjagamu."
"Omong kosong."
"Aku menderita, Kinanti ...." Nada suaranya tak lagi tinggi, lebih seperti memohon pengertian.
"No! Kamu nggak pernah bener-bener cinta sama aku! Aku tahu, kamu hanya kasian, kan? Atau kamu hanya memanfaatkanku untuk memenuhi kebutuhanmu?" Kinanti tersenyum sinis.
"Tapi bukankah Hariz juga menyentuhku! Dan mungkin juga banyak lelaki selain aku!"
Kinanti menginjak kaki Sadewo dengan keras.
"Auhhh. Sakit tahu."
"Aku membencimu dan membenci diriku sendiri jika aku terbukti serendah itu."
Sadewo terdiam.
Kinanti menggeleng dan terlihat biasa saja. "Kamu hanya ingin menutupi kesalahanmu dengan memasukkan orang lain di dalamnya! Oke kau kaya raya tapi tidak dengan hati dan pikiranmu." Tunjuk Kinanti ke d**a Sadewo.
Sadewo terdiam.
Pintu lift terbuka, Kinanti mendorong tubuh Sadewo yang ingin mendekat, ia pergi mengabaikan perih yang menjalari diri, Mendengar perkataan Sadewo, yang sejujurnya d**a Kinanti bagai diiris pisau yang tajam. Entah mengapa rasanya harus sesakit itu.
***
Kinanti masuk ke dalam kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan shower air mengalir bersamaan dengan air mata Kinanti. Ia tak habis pikir jika Sadewo begitu kejam dan jahat menuduhnya telah tidur bersama banyak laki-laki. Merasa tubuhnya dingin Kinanti mematikan Shower dan berjalan ke arah ranjang kamarnya, mengeringkan rambut dengan handuk.
Kinanti mengemasi pakaiannya ke dalam tas, ingin rasanya ia pergi. Kinanti tak sanggup menahan pilu yang mengimpit d**a, lalu segalanya menjadi nyata tatkala menjadari bahwa Sadewo menuduhnya dengan kejam. Ingin rasanya Kinanti marah menuntaskan segala kesal dalam hatinya, namun semua berubah jadi nelangsa saat telepon dari putranya dari kampung memenuhi layar ponselnya.
Kinanti tersenyum melihat putranya menelpon.
Davin: Bunda.
Kedua netra Kinanti mengembun.
Kinanti: Sayang bagaimana kabarmu, Nak?
Kinanti :lhamdulillah baik, Bunda.
Davin: Sekolah sama ngajinya lancar kan?tanya Kinanti sedih.
Davin: Lancar, Bunda.
Kinanti harus bertahan, dia bekerja di sini agar kebutuhan anaknya bisa tercukupi. Kinanti menarik napas dalam. Toh keluarga di sini sangat baik kecuali Haruka dan Sadewo yang membuat Kinanti malas. Ya ia harus berjuang demi kebahagian putra semata wayangnya.
Davin: Bun, Mbak Elfa ke sini ngasih sepeda. Makasih ya Bunda. Aku sayang, Bunda.
Kinanti: Sama-sama sayang sudah tidur sudah malam besok sekolah kan.
Davin: Hu um. Bunda jaga diri ya, Assalamu'alaikum.
Kinanti: Wa'alaikumsalam.
Kinanti menangis sejadi-jadinya, ia harus bertahan. Beruntung Elfa putri Mak Ti memberikan pinjaman uang untuk Kinanti dengan membelikan sepeda untuk putranya. Kinanti tersenyum ia harus bangkit dari rasa malasnya.
***
Haruka kesal menatap Sadewo yang berdiri di depan kamar Kinanti.
"Apa yang akan kau lakukan, di depan kamar Kinan malam-malam begini. Mas Dewo?" Haruka bertanya kesal.
Sadewo berdecak malas. "Aku hanya lewat di depan kamarnya, saja, Ruka. Gak ada yang lain"
"Hah, lagi, Mas Dewo."
"Ruka."
"Kau membohongiku, Mas Dewo."
Sadewo yang merasa terpojok oleh pertanyaan Haruka mendecih. "Terserah."
Sadewo berjalan menjauh dari kamar Kinanti.
Haruka tahu jika Sadewo mungkin saja masih tertarik pada Kinanti. Apa saja bisa dilakukan seseorang Kinanti untuk merebut Sadewo lagi dari sisinya. Dan, saat ini Haruka dalam keadaan sangat terusik.
"Mas."
Sadewo masuk dalam kamarnya dan malas mendengar ocehan Haruka.
"Kau meninggalkanku tadi hanya untuk Kinanti."
"Kau berlebihan aku habis dari gazebo dan meminta, Mak Ti membikinkan kopi. Tapi kamar, Mak Ti juga sudah dikunci." Bohong Sadewo.
Haruka menggelengkan kepala. "No."
"Kau takut aku mencintainya lagi?" Sadewo bertanya balik.
"Ya."
Sadewo tersenyum pelan. "Kau bercanda, Ruka?"
Yang sebenarnya Haruka menelan kesedihannya. Hati Haruka bagai disayat. "Aku hanya takut."
"Maafkan aku." Sadewo menarik istrinya dalam dekapan.
Haruka berdiam di d**a suaminya dan tak akan membiarkan lelaki itu pergi, Haruka janji Sadewo harus menjadi milik dirinya seutuhnya.